“Berhati-hati saat mengemudi,” nasehat Emily pada Frans. Frans dan Rena memutuskan untuk pulang malam itu juga, sengaja memberi ruang untuk pasangan suami istri yang baru dipertemukan setelah beberapa bulan lamanya. “Jangan lupa untuk segera menemuiku,” Frans menatap Emily penuh arti. Emily tersenyum membuat pria di sampingnya yang tidak lain adalah suaminya-Ellard merangkul bahunya dengan posesif. “Ya, aku akan menghubungimu dengan segera,” ucapnya sembari melambaikan sebelah tangannya. “Ajak aku jika ingin menemuinya,” Ellard menunjukkan kecemburuannya secara terang-terangan begitu Frans dan Rena sudah pergi. Emily mengangguk sembari tersenyum, bergelayut manja di lengan Ellard dan meletakkannya di bahu suaminya itu. Nyaman, sangat nyaman sekali. “Mau segelas teh atau kita langsung ke kamar?” tawar Emily yang membuat wajah Ellard merona seketika begitu pun dengan kedua daun telinganya. “Wajahmu merona, apa kau baik-baik saja?” Emily meletakkan punggung tangannya di dahi Ellard, menatap pria itu penuh khawatir. “Tidak demam, kau merasakan sesuatu yang tidak nyaman?” Ellard menarik tangan Emily dari dahinya, menggenggamnya dengan lembut lalu memberikan kecupan di sana, “Apa kau keberatan jika kita langsung ke kamar?” tanyanya penuh hati-hati. Emily menggeleng, “Tentu saja tidak.” Keduanya pun berjalan menuju kamar dengan senyum indah terpatri di wajah keduanya. “Kau membeli banyak pakaian,” Emily memungut paper bag yang tergelatak begitu saja di kamar saat mereka berciuman beberapa saat lalu. “Aku membeli sesuatu untukmu,” Ellard salah tingkah. Ia menggaruk lehernya yang tidak gatal tatkala Emily menoleh ke arahnya, menatapnya dengan tatapan bertanya namun tersirat godaan di sana. “Untukku?” Emily mengulum senyumnya. Ini hadiah pertama dari Ellard tentu saja ia sangat bahagia. “Aku tidak tahu apa kau menyukainya atau tidak,,” “Tentu saja aku menyukainya,” Emily menyela dengan cepat dan segera memeriksa paper bag untuk melihat apa yang sedang dibelikan pria itu untuknya. Emily terpekik kaget, sebuah dress putih yang sangat anggun. “Aku pasti akan terlihat cantik jika mengenakannya,” Emily melekatkan gaun tersebut di tubuhnya dan berputar-putar di depan kaca seperti seorang anak kecil yang sangat bahagia setelah mendapatkan mainan kesukaannya. “Kau selalu cantik, Emily.” puji Ellard tanpa berniat untuk menggoda. Emily tersenyum lebar dan menghampiri Ellard, berjinjit dan mendaratkan satu kecupan basah di pipi berbulu itu. “Terima kasih, hadiahnya sangat indah. Aku akan mengenakannya besok.” Ellard tidak bisa berkata-kata. Perasaannya berbunga-bunga, matanya berbinar cerah, jantungnya berdegup tidak karuan, ia seakan dibawa terbang oleh ribuan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya. Akh! Betapa indahnya jatuh cinta. “Hm, aku akan mandi.” Pamit Emily dan segera berlari ke dalam toilet. “A-aku bi-bisa membantumu jika kau mau. Mi-misal menggosok..” “Masuklah Ellard,” sahut Emily dari dalam kamar mandi. Lagi dan lagi Ellard merasakan lututnya lemas tak bertenaga. Emily sudah berada di dalam bathup saat Ellard masuk ke dalam toilet. Degan langkah pelan, Ellard mendekat. “Sebaiknya buka bajumu jika ingin ikut bergabung denganku,” Emily mendongak menatap tepat di manik Ellard. Emily menggigit bibirnya, menahan kegugupannya. Baik ia atau pun Ellard sama-sama merasakan gugup yang luar biasa. Wajar saja mengingat ini akan menjadi malam penuh sejerah bagi keduanya. Malam indah penuh keringat setelah menikah beberapa bulan lamanya. “Bo-bolehkah aku?” Emily menawarkan diri untuk membuka baju Ellard. Wajah wanita itu merona di bawah sinar lampu yang tidak begitu terang. Ellard tidak kuasa menjawab, yang mampu ia lakukan hanya menganggukkan kepala. Glek! Ellard menelan salivanya kasar begitu Emily berdiri. Tubuh itu terlihat indah dan bersinar. Dag dig dug! Keduanya bisa mendengar debaran jantung masing-masing. Sama-sama menggila tak terkendali. Emily pun mengangkat tangan, mulai melepaskan satu persatu kancing baju milik suaminya dengan kepala mendongak menatap manik suamianya. Ya, keduanya saling menatap penuh rindu. Ada hal yang memang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun mampu diungkapkan oleh mata. Itulah yang dilakukan kedua insan tersebut. Menyampaikan penyesalan yang teramat dalam, kerinduan yang menyiksa dan hasrat yang bergelora. Ellard tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan baik seperti ini dari Emily mengingat apa yang sudah dilakukannya. Emily seakan menegaskan inilah ketulusan dan kau berhak mendapatkannya. Emily menjelaskan melalui sikapnya cinta itu tiada bersyarat. Nyatanya setelah kekerasan yang ia dapatkan dari suaminya tidak lantas membuatnya membenci Ellard, tidak juga membuatnya meninggalkan pria itu. Emily menunjukkan inilah kesetiaan, menunggu dan yakin bahwa yang sudah ditetapakan menjadi milik kita akan kembali dengan sendirinya. Emily juga menjawab bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Bersabar, maka akan menuai hasil yang begitu manis di akhir. Akh! Betapa beruntungnya Ellard menemukan sosok seperti Emily. Wanita yang ia anggap iblis ternyata adalah sosok bidadari yang sesungguhnya. Tuhan, aku merasa tidak layak namun aku tidak akan kuasa melepaskan wanita ini lagi dan aku tidak akan pernah melepaskannya, tidak akan. Ellard membatin. Tangan Ellar terulur mengusap wajah Emily dengan lembut, menatapnya dalam penuh arti. “ Terima kasih untuk semuanya,” mendekatkan wajah dan mengecup dalam puncak kepala Emily. Emily tersenyum hangat, memejamkan mata meresapi ciuman penuh makna yang ia dapatkan dari Ellard. Kecupan di kepala turun ke dahi, ke mata, ke hidung dan ke pipinya. Emily terharu, ia kembali mendapatkan suaminya seutuhnya. Inilah Ellard, pria yang sesungguhnya memiliki sisi lembut dan penuh kasih. “Ke-kenapa kau menangis, hmm? Apa aku melukaimu lagi?” Ellard mendadak panik melihat buliran air mata Emily. Mendengar kata lagi membuat air mata Emily semakin tidak berbendung. “Maafkan aku, di-di mana, dimana yang sakit?” Ellard semakin panik. Emily menggeleng lemah, “Tidak, kau tidak menyakitiku. Aku hanya merasa bahagia kau kembali. Bukankah sudah kukatakan lupakan yang sudah terjadi. tidak ada kata lagi, kau tidak pernah menyakitiku, sungguh.” Emily menangkup waja Ellard menyakinkan pria itu dengan tatapan lembutnya. Ellard bernapas lega, “Aku hanya takut,” lirihnya dan kembali mendekatkan bibirnya ke wajah Emily, membersihkan wajah Emily dengan menghisap air matanya. “Rasanya pasti asin?” Emily mendorong tubuh Ellard. “Manis,” tukas Ellard sembari tersenyum. “Aku suka melihatmu tersenyum. Kau terlihat lebih mempesona,” puji Emily dengan tulus. “Aku akan tersenyum setiap hari untukmu,” janji Ellard dengan pasti. Emily mengangguk dengan tatapan haru, “Kau sudah berjanji dan jangan mengingkarinya. Selalu lah tersenyum dan bahagia,” “Ya, aku berjanji,” Ellard menarik Emily ke dalam pelukannya, merengkuh istrinya dengan pelukan hangat. “Kau sudah menggigil, sebaiknya bersihkan tubuhmu,” Ellard pun mengangkat tubuh Emily ke bawah shower dan seketika tatapannya tertuju pada bekas luka di balik bahu Emily yang kembali menghantam ulu hatinya. Luka atas perbuatan biadan Naura. Merasakan tubuh Ellard yang tegang seketika membuat Emily menoleh ke arahnya, ”Lukanya sudah tidak sakit,” tukasnya dengan lembut begitu menyadari arah tatapan Ellard. Ellard hanya tersenyum miris, ya luka fisiknya memang sudah tidak sakit tapi bagaimana dengan luka hatinya. Ellard menyadari bahwa apa yang ia lakukan bahkan lebih buruk dari apa yang sudah dilakukan Peter dan Naura. Jika ia berhasil membuat Naura lumpuh dan memasukkannya ke dalam tahanan bersama Peter, lalu hukuman apa yang pantas untuknya? “Hei,” Panggil Emily menyadarkan lamunannya. Senyum Emily kembali membuatnya tertampar, kenapa dari dulu ia tidak melihat ketulusan wanita itu. Ellard mengusap lembut bekas luka tersebut lalu menyapunya dengan bibirnya dan semuanya pun berawal dari situ. Tirai surga itu mulai disingkap satu persatu, menikmati dan mencicipi yang sudah menjadi hak bagi dua insan yang sudah dipersatukan dalam ikatan suci. Lagi dan lagi, mereka menjelajahi keindahan-keindahan yang membuat mabuk kepayang, kecanduan yang sulit untuk dihentikan. Rasa sakit, penyesalan, dan kerinduan terhempas begitu saja. Semuanya terobati dengan hal indah yang baru saja mereka lakukan. “Kau sangat indah, Emily. Sempurna.” Ellard kembali menjatuhkan air mata tatkala menyadari bahwa ia adalah satu-satunya pria yang menyentuh istrinya. “Terima kasih.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (628)
CitraSandra
aku suka banget ceritanya. di bab2 hampir akhir membuatku hampir mellow. top banget👍
aku suka banget ceritanya. di bab2 hampir akhir membuatku hampir mellow. top banget👍
13/01/2022
2sangat terharu
11/09/2025
0sedih
01/07/2025
0Lihat Semua