Beranda/Istriku Cacat, Istriku Malang/
Bab 35 Murkanya Ellard
“Argghh,,” Naura menjerit kesakitan. Secara tiba-tiba Ellard menarik rambutnya. “Sakit,” rintihnya namun Ellard tidak peduli. Semakin Naura bersuara semakin ia menarik rambut wanita itu hingga kulitnya tertarik. Dan percayalah, rasa sakitnya itu luar biasa.
“El, apa kau lakukan?” tangisnya mulai pecah. “Aku kekasihmu, Naura.”
“Aku sedang bermimpi, sayang. Sstt.” Meletakkan jari telunjuknya di bibir Naura. “Aku ingin berbagi mimpiku denganmu. Bukankah kau sangat peduli padaku, hmm? Biarkan aku menceritakan seperti apa mimpi yang kualami.” Menarik rambut Naura hingga tubuhnya terseret ke bawah.
“Ssa-sakit,”
“Saat itu aku tidak boleh menangis. Jangan menangis dulu, ini belum seberapa.” Masih dengan tubuh yang sempoyongan, Ellard menyeret Naura ke dalam kamar mandi. “Naiklah ke bathup,” perintah Ellard.
Naura menggeleng ketakutan, ia sudah menduga ada yang tidak beres pada pria itu sejak Ellard mengadakan pesta mendadak. Peter meyakinkan bahwa tidak akan ada yang terjadi, dan ia memilih percaya.
“Ba-bagaimana aku bisa masuk ke sana?”
“Berdiri dan langkahkan kakimu,” Ellard menatapnya dengan wajah datar.
“Aku,,”
“Tidak.” Menggelengkan kepala dan menggoyangkan jari telenjuk. “Aku sudah melihatmu berdiri.” Senyum sinis terpatri di wajahnya. “Permainanmu selesai dan sekarang ikuti permainanku,” Menggunakan ekor matanya, memberi isyarat agar Naura masuk ke dalam bathup.
Naura tetap bergeming. Ia tetap pada lakonnya sebagai wanita cacat yang tidak bisa berdiri. Meski ia sudah dirundung ketakutan tapi ia harus mampu mengendalikan dirinya. Ia yakin Ellard akan luluh padanya.
Tidak sabar dengan diamnya Naura, pria itu mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam bathup dengan kasar lalu mengisi airnya dengan air panas yang seketika membuat Naura menjerit dan berdiri.
“Astaga, kau sudah bisa berdiri?” sinis Ellard dengan senyum mengejek.
“Apa maumu?” Naura menatapnya dengan nanar. “Kau ingin membunuhku?”
“Itukah inginmu,” seketika Ellard sudah mencekik lehernya dan menarik keluar dari dalam bathup. Mengangkat tubuh mungil Naura ke atas hingga kakinya melayang di udara. “Inikah inginmu, sayang?”
“Le-lepaskan aku,” pintanya dengan susah payah, menahan tangan Ellard agar tidak semakin mencekiknya.
“Apa yang bisa kau tawarkan, wuueek!” Ellard memuntahkan isi perutnya ke tubuh Naura. Tentu saja ia sengaja melakukannya. Naura merasa mual seketika. Bau menyengat itu memenuhi tubuhnya.
“Le-lepaskan aku!”
Mengabulkan permintaan Naura, ia pun melepaskannya.
“Katakan semuanya. Apa pun itu,” Ellard mencengkram wajahnya dan menatapnya penuh intimidasi. “Menyerahlah dengan mematuhi apa yang kukatakan jika tidak aku akan benar-benar membuatmu tidak bisa berjalan.”
“Aku tidak mengerti maksudmu,” bibir Naura bergetar ketakutan. Ellard yang selalu menatapnya penuh cinta kini benar-benar terlihat berbeda. Tidak ada tatapan lembut mendayu yang biasa ia tunjukkan hanya di hadapan Naura. Kini netranya menatap dingin dan penuh kebencian. Yang tersisa hanya rasa muak yang menjijikkan.
“Besok kau akan melihat berita, Almero-dokter yang merawatmu akan menjadi perbincangan hangat di media. Jeruji bukan tempat yang layak baginya, tapi untuk sementara biarkan dia disana bermain-main dengan tikus hitam. Aku penasaran, apakah kau ingin bergabung dengannya.” Ellard menarik kepala Naura agar mendongak. “Kau menipuku, memanfaatkan kebaikanku dan perasaan tulus yang kuberikan. Apakah kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan, Naura?”
“Aku tidak menipumu, aku berani bersumpah. Aku,,aku mencintaimu kau tahu itu.” Naura mengiba, memasang wajah memelas, upaya terakhir yang ia lakukan dan berharap Ellard tersentuh, mengingat cara itu selalu berhasil dulu.
Naura lupa bahwa cara itu selalu berhasil karena di mata seorang Ellard, dulu dirinya begitu manis dan tulus, tidak dengan sekarang. jangankan tersentuh, ia justru ingin melihat wanita itu memohon dan memohon. Dan tentu saja sekali Ellard kecewa ia tidak akan pernah memberi kepercayaan lagi sekalipun Naura menangis darah, ia akan menikmati hal itu sama seperti saat ia menikmati penderitaan Emily.
Akh, mengingat Emily mendadak hatinya merasa sakit seperti ada tangan besar yang mencengkram tepat di ulu hatinya. Mendadak ia merasa kesepian. Ellard tersenyum, detik berikutnya ia tertawa sumbang dan detik selanjutnya ia terbahak dan menjerit seperti orang gila. Tawa dan air matanya menjadi satu. Ia terlihat sangat mengerikan dan rapuh dalam satu waktu. Naura bahkan tercengang melihatnya.
“Argghhh!!” Prang! Tangan yang belum sembuh sepenuhnya akibat pecahan gelas yang menancap di tangannya kini luka itu semakin menganga tatkala ia meninju cermin yang ada di dalam toilet.
Naura bergidik ngeri, sebaiknya ia pergi menyelamatkan diri. Merangkak perlahan menjauh dari Ellard, jantungnya memacu tidak karuan. Kakinya bergetar, begitupun dengan seluruh tubuhnnya, ia benar-benar ketakutan. Pria yang ia anggap bisa ia permainkan ternyata bisa menjadi seorang monster.
“Kau fikir kau mau ke mana?” tepat berada di depan pintu toilet suara dingin tak bernada itu membuat bulu romanya berdiri seketika.
_______________________
“Lepaskan aku,”
Disaat Ellard meluapkan kemarahannya pada Naura. Emily terjebak bersama Peter.
Tidak hanya menghubungi Edward, sialnya bartender tersebut juga menghubungi Peter. Ia datang setelah Edward lima menit lebih dulu. Akhirnya yang ia lakukan adalah mengawasi pergerakan keduanya. Dari pembicaran mereka yang ia tangkap Ellard sudah mengetahui semuanya termasuk peran Naura yang ikut serta di dalamnya.
“Bukankah kau mencintaiku. Kita hanya perlu memulainya dari awal dan melupakan semuanya yang terjadi.” dengan tidak tahu malunya Peter mengemukakan hal itu.
“Cinta? Aku tidak tahu apa aku benar-benar mencintaimu dulu. Tapi satu yang pasti, aku menyesali kebersamaan itu.”
Peter tertawa renyah, “Dulu kau sangat manis,”
“Dulu atau sekarang kau tetap terlihat seperti pecundang,” sinis Emily.
“Jangan memancingku, Em,” seru Peter masih dengan tawa. “Bisa saja aku melupakan kenangan kita dan bertindak kasar. Kau tahu aku tidak ingin melukaimu sama sekali.”
“Kau sudah melukaiku, kau tahu itu.”
Peter menghela napas panjang. “Karena kau tidak ingin memberi kesempatan kepada hubungan kita, apalagi yang bisa kulakukan selain memanfaatkanmu sampai akhir.” Peter mengeluarkan ponselnya dan mengambil video Emily yang sedang terikat di dalam satu bangku.
“Tidak ada yang tersisa dariku.” Lirihnya dengan mimik sedih. Yang ia katakan benar, tidak ada apa pun yang tersisa selain hatinya yang luka dan semakin menganga setiap ia mengingat apa yang Ellard dan Naura lakukan beberapa jam yang lalu di dalam kamarnya.
“Mari kita lihat,” Peter pun mengirimkan video tersebut ke ponsel Ellard. Menunggu apakah ada respon dari pria itu. Tiga puluh menit berlalu, tidak ada reaksi atau pun respon sama sekali. Tiga puluh menit berubah menjadi dua jam tetap saja Ellard tidak menaggapi video yang ia kirim.
“Sepertinya kau memang tidak diinginkan, Em. Aku tidak tahu harus berbahagia atau kasihan terhadapmu. Andai dia menawarkan perceraian, mintalah tebusan yang banyak. Aku tidak akan keberatan menerima jandamu.”
“Tapi aku tidak sudi menyerahkan diriku padamu.”Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (628)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
aku suka banget ceritanya. di bab2 hampir akhir membuatku hampir mellow. top banget👍
13/01/2022
2sangat terharu
11/09/2025
0sedih
01/07/2025
0Lihat Semua