aksi sang durjana

SAAT DOA SI MISKIN DI IJABAH 
BAB 27
"Pokoknya aku harus mendapatkan uang gimanapum caranya, tapi gimana cara mendapatkan uang sebesar itu dalam satu minggu, apa iya aku harus menggadaikan rumahku ini? Lalu jika aku tidak bisa membayar dimana aku mau tinggal nantinya, ugh, bren*sek, awas aja kau Aliyah, akan ku balas kau nanti, aku tak terima kau buat begini," ucap Rita yang merasa geram sembari mengepalkan tangannya.
****
Hari itu Raka sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Rita sudah mempersiapkan kepulangan Raka sejak pagi.
Setibanya Raka dan Rita, ternyata disana sudah ada Mika.
"Lho, kak Raka kenapa?" tanya Mika dengan kening berkerut, dirinya memang tidak tahu perihal Raka yang masuk rumah sakit lantaran di gebukin anak buah pak Tarjo.
"Huh panjang ceritanya," jawab Rita.
"Kamu udah lama disini?" tanya Rita lagi.
"Lumayan kak, kirain tadi kakak lagi belanja kok ya lama."
"Tolong pegangi dulu mas Raka, aku mau buka pintu," ucap Rita sembari melepaskan Raka pada Mika.
Tanpa di sadari Rita, saat Raka memeluk pinggang Mika justru tangan Raka menggerayang bagian belakang Mika dan meremasnya, sedang Mika yang di perlakukan begitu hanya tersipu.
Setelah pinti terbuka ketiganya pun masuk, Rita yang di bantu Mika memapah Raka untuk masuk ke kamarnya dan berbaring disana.
"Kak, kok bisa jadi begini sih?"
"Panjang ceritanya Mik,"
"Ceritain aja kak mana tau aku bisa bantu."
Akhirnya Rita menceritakan kejadian saat ia dan suaminya menjaminkan sertifikat pada pak Tarjo dan juga saat anak buah pak Tarjo memukuli suaminya.
"Itu pasti ulah kak Aliyah makanya Ibu bisa sampai mengganti sertifikat yang asli dengan yang palsu, kalau enggak mana Ibu tau yang begitu begitu."
"Kakak juga mikirnya begitu, dia itu selalu aja ikut campur urusan kita, apalagi sekarang kelihatannya usaha mereka makin maju, makin besar kepala aja tuh mereka."
"Kak gimana kalau kita kerjain mereka," ucap Mika seketika.
"Kerjain gimana? Kakak lagi kehabisan ide nih."
"Ya kerjain aja gimana caranya bikin usaha mereka rugi kek atau apa kek, emmmm,,,, atau gini, aku punya ide, sini deh aku bisikin," ucap Mika, setelahnya Rita mendekat hingga Mika membisikkan sesuatu pada Rita.
"Ok tuh, biar dia tau rasa udah cari masalah terus sama kita," ucap Rita tersenyum sinis.
"Emmm,,,, kak, ngomong ngomong aku laper nih, tapi aku gak punya duit makanya kesini mau minta makan, hehehehe,"
"Yaudah kakak beli dulu, kebetulan mas Raka juga belum makan dan minum obat, kamu tolong tungguin mas Raka ya, biar kakak beli makan dulu."
"Ok kak, aku tungguin di sini ya," ucap Mika dengan mata berbinar.
Setelah kepergian Rita, Raka bangun dari tempatnya berbaring, kemudian ia mendekap Mita yang masih berdiri di tengah pintu kamar ia dan Rita.
"Kak jangan begini nanti ketahuan kak Rita," ucap Mika sedikit mendorong tubuh Raka.
"Aduh, sakit nih," 
"Eh, maaf, aku gak sengaja, cuma takut ketahuan kak Rita aja."
"Kan dia sedang pergi, sebentar aja, kakak lagi pengen,"
"Tapi nanti kalau kak Rita tau gimana?"
"Gak akan, kakak ngelakuinnya cepat nanti, ayolah."
Dan akhirnya dengan sedikit terpaksa Mika menuruti kemauan kakaknya, bukan karena terpaksa yang sesungguhnya, melainkan lantaran takut kakak nya datang.
*****
25 menit sudah Rita pergi membeli makanan untuknya juga untuk suami dan adiknya, tanpa ia ketahui bahwa dirinya sudah memelihara ular yang sangat berbisa yang siap kapan saja mematuk dirinya dan menyebarkan racun itu hingga dirinya mati.
Selama Rita pergi, Raka dan Mika tengah asik memadu kasih di kamar milik Rita dan Raka, sungguh ironis memang, saudara yang seharusnya saling bantu dan saling mengasihi justru mereka saling menyakiti, mereka telah terbuai kenikmatan sesaat tanpa mereka sadari mereka hanya menunggu waktu saja, maka bom itu akan meledak.
"Mika, mas, ayo kita makan!" seru Rita ketika sampai di rumahnya.
Mika yang mendengar seruan Rita pun dengan tergesa merapihkan dirinya yang terlihat sedikit berantakan, sedangkan Raka meembenarkan resleting celananya.
Setelah selesai dan di rasa cukup, Mika keluar menemui Rita, sepercaya itu Rita pada adik dan suaminya hingga membebaskan adiknya keluar masuk ke kamarnya meskipun sedang ada suaminya di kamar.
"Nih, kamu makan dulu, aku mau suapin mas Raka dulu, oh iya, itu ada makanan juga untuk anak kamu, tadi kakak sengaja beli lebih."
"Wah, makasih ya kak, kelihatannya enak nih," ucap Mika yang langsung duduk dan membuka bungkus makanan miliknya.
"Eh tunggu, itu leher kamu kenapa Mik, kok merah merah, kayak bekas cupang?"
"Eh, emm anu, ini,,,, ini bekas gigit nyamuk kak," ucap Mika berkilah.
"Nyamuk yang lagi berhasrat ya, hahahaha, kakak gak masalah kamu cari kehangatan, kakak tau kamu kesepian, lagian kenapa gak kamu cerein aja sih si Aldo itu, dan kamu cari penggantinya."
"Ya aku kadang mikirnya juga gitu sih kak, tapi nanti aku di kata gak tau diri, suami di penjara kok aku cari yang lain."
"Ya kan kamu butuh di nafkahi, darimana kamu dan anak kamu makan sedangkan suami kamu aja di penjara."
"Hemmmm iya sih kak, tapi belum ada calonnya juga."
"Nanti deh kakak cariin, pastinya banyak duitnya."
"Kalau dia om om gendut aku ogah ah kak, masa iya aku cantik gini sama om gendut."
"Hahahaha ya enggaklah, dia gak om om gendut, ya,,, seumuran mas Raka lah, tapiiii dia udah punya istri."
"Jadi maksudnya aku istri kedua gitu?"
"Ya sejenis itu, tapi kan yang penting uang lancar, daripada kamu kayak gini, kakak juga gak biaa ngasih kamu makan terus uang kakak juga terbatas kan."
"Hemmmm, yaudah deh kak, atur kakak aja, asal jangan yang miskin ya," ucap Mika pada akhirnya.
"Beresss, yaudah kamu lanjutkan makannya, kakak mau kasih mas Raka makan dulu."
Akhirnya Mika meneruskan makannya yang tertunda, begitu jua Rita, ia melayani kebutuhan perut sang suami durjananya.
****
Mika dan Rita kini sudah berada di mall di kota mereka, rencananya mereka berjanjian akan bertemu dengan teman Rita yang pernah Rita janjikan untuk berkenalan dengan Mika.
"Kak, awas aja kalau orangnya jelek," ucap Mika sembari menyerutput es di depannya.
"Kakak jamin kamu bakalan suka, kakak kalau belum ada mas Raka mah udah kakak embat sendiri."
"Oke deh aku percaya sama kakak."
Tidak lama setelah percakapan mereka, orang yang di tunggu tunggu pun tiba.
"Hei, sudah lama? Maaf telat," ucap pria itu, ia mengenakan celana jeans berwarna abu - abu, kaos lengan panjang berwarna hitam, jam tangan di sebelah kiri yang juga berwarna hitam, serta sepatu kekinian menambah kesan jika pria itu orang berduit.
Mika yang melihatnya pun terpana, ia terus melihat pria itu tanpa berkedip, wajah yang tampan, dengan alis tebal, hidug mancung, bibir berwarna merah alami serta kulit yang putih.
"Kak, ini beneran yang mau kakak jodohkan sama aku?" tanya Mika berbisik pada kakak nya.
"Iyalah, gimana? Ganteng kan?"
"Ganteng banget kak, kalau kayk begini sih aku pasti mau," Mika berbicara dengan mata berbinar tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari pria itu.
"Hei, kok pada bisik bisik?" ucapan pria itu menghentikan obrolan Mika dan Rita.
"Eh, maaf, o iya kenalin Ini Mika adik aku, Mik, ini kenalin teman kakak namanya Erwin."
Mika dan Erwin pun bersalaman, cukup lama mereka bersalaman, Erwin juga terpukau dengan Mika, karena Mika juga memiliki wajah yang terbilang cantik persis seperti Aliyah, hanya saja kulit Mika tidak seputih kulit Aliyah.
"Udah pesan makan?" tanya Erwin setelah melepaskan genggaman tangannya pada Mika.
"Belum kak, hehehehe," ucap Mika sembari tersenyum malu.
"Jangan panggil kak dong, panggil aja mas, biar lebih enak dengarnya."
"Iya kak, eh, mas,"
"Yaudah kalian pesan aja, nanti aku yang bayar."
Akhirnya Mika, Rita dan Erwin menikmati pertemuan mereka dengan menyantap hidangan yang ada di mejanya.
❤❤❤❤
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan sub like komen dan follow ya, terimakasih dan selamat membaca🤗🤗

Komentar Buku (1380)

  • avatar
    RianiNori

    nice

    26/01

      0
  • avatar
    ludinjalal

    bagus banget kak

    26/03/2025

      0
  • avatar
    RumsinahRum

    bagus banget 🥰🥰

    17/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru