Ethan terbangun dengan mencium bau rumah sakit. Sekonyong-konyong kesadarannya kembali, begitu juga rasa kosong di hatinya. Kenangan indah dan menyakitkan kembali dalam kepalanya, air matanya tanpa sadar mengalir. Mengapa dia masih terus terbangun? Bolehkah dia meminta kepada Tuhan untuk membiarkan dia terus tertidur. "Ethan," panggil lirih seseorang di balik bayangan gelap. Anna dia kah itu? Wanita itu maju dan meratap di sampingnya, tapi Ethan segera membuang wajahnya. "Mengapa kamu selalu begitu, begitu dingin denganku, apa bedanya aku dengan dia! Mengapa kamu masih menunggunya? Dia sudah meninggalkan kamu!" jerit wanita itu marah. "Diam kamu Leona, aku sedang tidak mau berbicara denganmu." hardik Ethan dengan seluruh emosi yang tersisa, memunggungi wanita itu. Sejak perceraian, Leona hampir tiap hari datang untuk mendekati Ethan kembali. Namun sikap Ethan selalu dingin. "Anna lagi, Anna lagi, bosan aku. Dia sudah pergi, kembalilah kamu kepadaku," rengek Leona dengan air mata mengalir di pipinya. Sayangnya air mata itu tak mempan pada Ethan. Dengan kesal Leona menarik badan Ethan. "Sayangi aku seperti kamu mencintai dia, cintai aku seperti kamu mencintai dia, kenapa harus dia, bukan aku? bukankah aku cinta pertamamu?" Leona menghentikan tangis palsunya dan kini mulai marah- marah. "Dulu… aku pikir aku mencintaimu, namun ternyata itu bukan cinta, maafkan aku Leona, dulu itu hanya sebuah cinta monyet. Kamu hanya sebagai tropi, yang aku kalah, kembalilah pada suamimu, dia sungguh mencintaimu." Seperti Ethan yang masih mencintai Anna, walaupun wanita itu telah pergi dan meninggalkannya, cintanya tak pernah surut. Cintanya masih sama seperti dulu, tidak pernah berubah. Sudah berapa lama dia pergi, hatinya mencelos, dia baru menyadari kalau sudah berapa lama Anna pergi, bisa jadi anaknya sudah lahir. Kemanakah istrinya itu? "Aku tak akan pergi, jika aku tak datang tadi, kamu masih tergeletak di lantai rumahmu dengan pecahan kristal dimana-mana. Aku menyelamatkan hidupmu!" ujar Leona dengan bengis Ethan tak butuh diselamatkan, yang Ethan butuhkan adalah istri dan anaknya. "Anna tak mencintaimu, jika dia mencintaimu, dia tak akan meninggalkanmu!" ucapan Leona menusuk hati Ethan, sudah terpuruk dia semakin jatuh dalam kubangan kesedihannya, dan Leona masih belum selesai. Leona menatap benci pada Ethan yang benar-benar tidak menggubrisnya. "Kau tau, dia bahkan tak bertanya saat aku mengatakan kamu bermalam denganku, dasar wanita bodoh." Pada awalnya, Ethan tak begitu peduli dengan ocehan Leona, namun lama-lama perkataannya meresap di kepala Ethan. "Kamu apa!" Dia langsung bangkit dan memaki karena kepalanya langsung terasa berputar. Walau begitu dia berusaha untuk fokus melihat Leona yang tertawa sinis sambil melihat jarinya yang ter-manicure sempurna. "Dia tak bertanya apa pun tentang kamu, walau aku bilang kita bermalam bersama, dia tak peduli, dia tak cinta padamu." Ethan bangkit dan memegang kedua pundak Leona dengan emosi. Wanita itu tersenyum manis, senang karena akhirnya dia mendapatkan tanggapan yang setimpal dari Ethan. "Kau tau, malam saat aku mengabarkan perceraianku, aku menelponnya dan menyuruhnya tak usah mencarimu, karena kamu akan bermalam bersamaku." Wanita itu menyentuh kedua pipi Ethan, dan Ethan terperangah dibuatnya, jadi Anna pergi bukan karena Raka, atau karena mengetahui kalau Ethan adalah penyebab kematian ayahnya, tapi karena wanita racun ini. Dia langsung menepis tangan wanita itu, tanpa melihat ada sepasang bola mata coklat yang menangis melihat mereka lalu pergi. Anna menatap Daniel dengan bingung. suster kepala yang awalnya mengira Daniel adalah suami Anna, mempersilahkannya masuk. "Aku tak akan menyerahkan bayiku." Dia memegang Bayi Jacob dengan protektif. Hatinya sangat takut, Anna tahu kekuatan Ethan, dia bisa buat segala apapun mungkin, maka mengambil anaknya sendiri pasti tidak akan sulit, apalagi dari Anna yang bukan apa-apa. Dia harus melarikan diri lagi, meninggalkan biara yang sudah menjadi rumah barunya beberapa bulan ini. "Nona, saya sudah tak bekerja lagi dengan tuan Ethan." Anna yang tadinya ketakutan, menoleh dengan curiga. "Bohong, tak mungkin kamu orang kepercayaannya. Kamu bagaikan kakak bagi Ethan," seru Anna menuduh dan terkejut ketika Daniel menunduk sedih. Sekalinya itu dia melihat adanya emosi di wajah pria itu. Anna lalu mengajak Daniel keluar dari kamarnya, sebaiknya membicarakan semua ini harus duduk, dan kamar Anna terlalu sesak rasanya buat mereka berdua. "Saya dipecat." Dia duduk dengan postur tubuh yang melengkung, hilang semua kepercayaan diri yang dulu Anna lihat, pria di hadapannya merupakan pria yang berbeda. Daniel menghela napas panjang. Udara di luar biara terasa segar karena semalam turun hujan, terdengar alunan nyanyian sayup-sayup dari ibadah pagi. Sungguh damai berada disini. Duduk di taman kecil ini selalu menjadi tempat favorit Anna di biara. Seharusnya Anna akan nyaman tinggal disini, asal hatinya tak terus merindukan suaminya. "Setelah Nona pergi, saya dipecat. Walaupun begitu, saya harus bisa menemukan Nona, saya tahu betapa berartinya nona buat tuan. Sebagai balas budi saya yang terakhir, saya harus menemukan Nona." Anna terperangah, melihat kejujuran dari mata pria itu. Daniel yang pendiam tiba-tiba bercerita panjang, Anna seperti merasakan keajaiban. Daniel menunduk kembali, pria itu terlihat berantakan. "Tuan menemukan sebuah fakta yang mengejutkan, mungkin karena itu dia menjadi takut," gumam Daniel pelan. "Fakta apa?" Jacob terbangun sebentar, Anna menimangnya sebentar lalu dia kembali tertidur. "Kalau… Tuan yang menabrak ayah Nona," jawab Daniel pelan. Anna lagi-lagi terkesiap dan memandang tak percaya, mengapa kenyataan begitu kejam. Papa...meninggal karena Ethan. Pikirannya berkecamuk, antara marah, benci, namun rindu yang teramat sangat, bagaimana dia bisa mencintai pria yang menabrak papanya? Mengapa nasibnya begitu kejam! Anna berdiri dan berjalan mengelilingi taman, mencoba menenangkan diri, menyerap semua berita yang baru dia terima. Menghirup udara segar kali ini tidak bisa membuatnya tenang. "Di hari itu, Tuan kehilangan ayah, yang menyusul mamanya dengan cara minum obat tidur berlebih, Ethan marah dan membawa kabur mercy ayahnya, dia di rumah sakit selama setahun setelah itu." Lalu sebuah pemahaman muncul di kepala Anna, memang sejak pembicaraan mereka di pesawat Ethan berubah, jadi ini maksudnya 'tahu', waktu itu. Di hari yang sama mereka kehilangan ayahnya, kecelakaan itu merenggut ayahnya dan juga Ethan yang sakit selama setahun. Astaga, … apakah karena itu opa terus menanggung pengeluaran kami? Untuk sebagai bentuk tanggung jawab? Semua mulai masuk diakal. "Dia baru tahu ini semua saat itu?" Anna seperti berbicara pada dirinya sendiri, Daniel mengangguk pelan. Seketika hati Anna mencelos, dan menyadari bagaimana perasaan Ethan hari itu, dan yang Anna lakukan adalah malah pergi meninggalkannya, bagaimana kalau Ethan kesepian, siapa yang menjaga Ethan kalau Daniel pun tidak bersamanya? Pria malang itu pasti sendirian.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus cerita nya
11/06/2025
0bagusss
03/05/2025
0bgus
27/04/2025
0Lihat Semua