Walau kesedihan terus bergulir, kehidupan Anna harus terus berjalan. Anna sudah memasuki minggu-minggu untuk melahirkan, tanpa terasa sudah sebulan lebih dia melarikan diri. Pinggangnya semakin nyeri dan anaknya semakin aktif dalam kandungan. Anna sangat merindukan mamanya, andai mamanya masih ada, pasti mamanya bisa membantunya melewati ini semua, melahirkan tanpa mama sangat menyakitkan hati. Yang lebih menyakitkan hatinya adalah kenyataan bahwa Ethan sama sekali tidak merindukannya, dia tidak peduli, apakah dia tidak menghitung kalau sebentar lagi anaknya akan lahir? Atau, apakah dia sudah sama sekali tidak peduli, karena dia sudah kembali bersama Leona? Anna sempat menelpon ke rumah, karena rindunya kepada suaminya, dia menekan rasa gengsi, dan meninggalkan nomor telepon biara, namun setelah sebulan, tetap tidak ada tanggapan. Hati Anna semakin pilu dan bahkan mulai timbul kebencian kepada Ethan. Anna tidak akan bisa memaafkannya. Bayi ini, tidak akan bertemu dengan papanya. Dia bertekad akan kembali berdiri sendiri, dia akan melakukan apa saja demi anaknya. "Anna, sudah waktunya makan, ayo turun kebawah." Suster Maria tersenyum lembut kepadanya. Sungguh miris, suster yang menyelamatkannya memiliki nama yang sama dengan mamanya sendiri. Anna menoleh dan tersenyum tipis, setidaknya di biara ini dia aman. Dia mendapatkan kamar kecil untuk dirinya sendiri atas kebaikan dari kepala biara. Dia cukup nyaman, dia dapat tidur nyenyak dan tidak kesepian, seperti di rumahnya sendiri. Semua orang sangat baik dan ramah terhadapnya. "Bagaimana kabarmu hari ini, nak?" tanya suster kepala dengan ramah, dia menepuk pundak Anna dengan lembut. Anna tersenyum terpaksa, entah kenapa dengan perlakuan suster kepala, dia selalu merasa bersalah. Suster kepala tak pernah bertanya apapun tentang kehamilannya, atau mengapa dia kabur dari rumah, sama seperti suster Maria. Mereka hanya menunggu sampai Anna siap untuk menceritakannya sendiri. "Baik, suster kepala." Wanita tua itu tersenyum mendengar jawabannya. "Makan yang banyak, hari ini kami khusus buat sop iga untukmu, suster Maria bercerita katanya kamu suka sekali sop iga." Anna terdiam dan sekonyong-konyong teringat malam terakhirnya bersama Ethan, hatinya tiba-tiba pilu. Sop Iga keparat itu, seharusnya dia tidak bersikeras makan sop iga. Andai waktu bisa berputar seharusnya, dia diam saja dan makan roti itu saja. Suster kepala membaca perubahan air mukanya, dan segera menepuk pundaknya lagi. Kali ini lebih perlahan. "Sayang, kami menemanimu selalu, jika bercerita bisa meringankan hatimu, berceritalah." Hati Anna yang begitu berat tersentuh, lalu Anna masuk ke dalam pelukan wanita tua itu dan menangis. "Saya merindukannya, suster." Anna memeluk erat menumpahkan perasaannya. "Suami saya, mengapa dia bisa…, disaat saya begitu mencintainya, dia malah berselingkuh." Akhirnya Anna membuka hatinya. "Bagaimana saya bisa merindukannya padahal dia begitu, saya bodoh sekali, suster! Saya sulit tidur, tak selera makan, padahal dia sendiri sudah tak peduli padaku." Segala kepedihannya tertumpah dalam tangisnya. Dia tak bisa mengerti mengapa Ethan begitu? Disaat dia begitu mempercayainya, pria itu malah kembali ke Leona. "Kuncinya adalah maaf, maafkan dia, dan kamu akan bisa lebih tenang, anakku." Selepas bercerita dengan suster kepala perasaan Anna menjadi lebih baik, dan bisa makan lebih banyak. Namun, saat malam tiba, kerinduan terhadap suaminya kembali memuncak, dia ingin bergelung di sampingnya, menghirup aroma tubuhnya, dan meletakkan kepalanya di dada Ethan yang bidang. Tapi hatinya masih tak bisa menerima kenyataan kalau Ethan telah mengkhianatinya. Sakitnya begitu pedih sampai rasanya tubuh Anna mati rasa. Airmatanya tak berhenti mengalir, Anna menangis tersedu-sedu malam itu, lalu tiba-tiba perutnya terasa kejang dan air keluar tak henti-hentinya. Anna menjerit panik dan bawah perutnya terasa ngilu sekali. Suster Maria datang dengan tergopoh-gopoh, Anna menatapnya dengan panik. "Aku ngompol, maafkan aku suster," dia merasa malu tapi perutnya kembali kejang dan semakin lama sakitnya semakin tak tertahankan. Suster Anna segera memeluk dan membawa Anna ke rumah sakit bersama suster yang lain. Anna ingin bersama Ethan, suaminya, dia menahan sakit sambil terus menangis memanggil suaminya. Sesampai rumah sakit, Anna segera diperiksa dokter dan bersiap untuk bersalin. Sakit yang teramat terus mendera Anna. Dokter dan suster terus menyemangati Anna. Dengan penuh peluh dan air mata bercampur, Anna terus mengejan. "Ayo, Anna dorong! Terus semangat!" Anna terus menahan sakit dan berusaha mengejan sekuat tenaganya. Dengan sisa sisa tenaga, dia mendorong untuk terakhir kalinya dan tak lama terdengar tangisan bayi yang nyaring. Dengan terharu, Anna menerima bayi tampan itu dalam pelukannya. Bayi laki-laki yang sangat dia cintai, menangis dengan sekuat tenaga. Tangis haru terlepas dari bibirnya, Anna kini telah resmi menjadi seorang mama. Ethan semakin lama semakin kurus, wajahnya tirus dan pucat. Ia hampir tidak pernah tidur, dan selalu bekerja. Jika pun dia tertidur dia hanya tidur untuk bermimpi buruk. Akhir-akhir ini mimpinya semakin bervariasi, antara ibunya, ayahnya dan Anna, bayangan Anna terus berkubang di alam bawah sadarnya, sehingga walau sekuat tenaga dia berusaha berkonsentrasi dengan pekerjaannya, semua tetap berakhir berantakan. Tidak ada yang dapat dipercaya, semua harus dia yang kerjakan sendiri. Sekilas dia melihat jam di mejanya, ini jam 2.30 siang atau pagi, dia sudah tak tahu waktu. Baginya, waktu sudah berhenti ketika Anna meninggalkannya. Perutnya perih, dia pun tak ingat kapan terakhir dia makan. Dia berdiri, dan berjalan menuju dapur. Di matanya, masih terlihat Anna yang makan roti tawar untuk menahan laparnya, dia mengambil vas bunga dan melemparnya ke arah bayangan Anna. Vas itu pecah berkeping-keping. Dia benci wanita itu, bagaimana dia bisa meninggalkannya begitu saja saat Ethan sangat mencintainya. Dia berlutut di lantai meratapi istrinya yang menghilang. Anna, kembalilah! Jika dia bisa mengulang waktu dia tak akan meninggalkannya malam itu. Anna menimang bayinya dengan penuh haru, dia tak percaya, dia kini seorang mama. Bayinya tertidur dengan pulas setelah kenyang. Anna mengecup kening bayi mungilnya. Maafkan mama sayang, tapi mama akan menjagamu sekuat tenaga, mama akan menjadi mama dan papa bagimu. Anna mengambil keputusan ekstrim, dia tak mau Ethan tahu kalau anaknya sudah lahir. "Jacob sayang, anakku," bisik Anna mengecup ulang kening anaknya. "Nona…" Anna terkejut mendengar suara yang dia kenal dan segera menoleh. Pria itu berbeda sekali sekarang, rambutnya yang biasa rapi sekarang panjang dan gondrong tak beraturan, wajahnya yang biasa licin kini dipenuhi rambut. Dia tak lagi mengenakan setelan jas hitam, melainkan hanya jeans gelap dan kaos hitam. Pria itu "Daniel." Anna menatap horor ke arah pria itu, apakah Ethan menyuruh pria ini untuk mengambil anaknya darinya? Apakah tidak cukup dia sudah pergi dan meninggalkannya, kini dia juga mau mengambil anaknya?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus cerita nya
11/06/2025
0bagusss
03/05/2025
0bgus
27/04/2025
0Lihat Semua