logo text

Bab 39 Bermalam Bersama

"Ethan, aku ga suka ah makan disini," gumam Anna meraih lengannya, dia menoleh lalu menggenggam jemari Anna yang dingin.
"Kenapa sayang?" Dia bertanya lembut, Anna terkesiap, dia suka...dia sangat suka saat Ethan memanggilnya sayang. Karena dia begitu lembut dan tampan, Anna tidak jadi protes dan hanya merangkulnya lalu berjalan masuk bersamanya.
Seperti biasa, efek kedatangan Ethan selalu sama, wajah para pelayan menjadi tegang, semua menunduk hormat dan memandang Anna dengan tatapan mencibir.
Tapi Ethan tidak peduli, dia menjelaskan padanya tiap menu yang ada dengan sabar. Sepanjang makan malam, dia bersikap terlalu baik, sampai Anna merasa janggal.
"Bagaimana, kamu suka makanannya? Aku berencana meminta mereka untuk menjadi catering pernikahan kita?" Anna menatapnya dengan senang, kini setiap mendengar kata pernikahan dia begitu semangat.
"Aku suka makanannya, namun,-" Ethan mengerutkan keningnya tidak suka dengan kata 'namun' yang Anna ucapkan.
"Namun kenapa?" Ethan meraih tangannya.
"Kamu tahu kan, kalau undangan dari pihak aku, tidak biasa makan makanan seperti ini." Anna menatap makanan lezat yang aku baru santap. Ethan menatap Anna dan mengangguk.
"Benar juga, tapi disini ahlinya masakan barat," Dia berpikir, Anna memandangi wajah tampannya, terpesona, dia tidak percaya pria setampan ini bisa mencintai dirinya yang bukan siapa-siapa.
"Aku akan mencarikan katering yang terbaik untukmu, sayang." Anna tersenyum lebar. Dia menatap Anna dengan heran.
"Kenapa?" tanyanya menyentuh wajah Anna lembut.
"Nggak, aku hanya senang saja setiap kamu memanggilku sayang." Anna terkikik sendiri, Ethan mendengus geli, sehingga lesung pipinya terlihat.
"Kamu sudah selesai makan? Aku mau mengajakmu ke suatu tempat?" Anna mengangguk lalu Ethan memberikan tangannya yang segera Anna gandeng.
"Kita mau kemana?" tanya Anna, ketika dia membawanya keluar dari restoran menuju halaman belakang restoran. Udara segar langsung menerpa Anna, langit cerah sehingga bintang-bintang terlihat jelas.
Kami berjalan di sebuah taman bunga indah dengan lampu yang bersinar temaram. Anna merangkul tangannya dengan senang menikmati kebersamaan mereka. Saat sampai di ujung jalan, di hadapan kami penuh dengan lampu-lampu kota Jakarta yang indah, karena mereka berada di lantai paling atas gedung ini.
"Waw, cantiknya!" pekik Anna senang. Dia menatap Anna sambil tertawa.
"Kamu senang sekali?" Ethan merangkulnya.
"Aku senang, karena aku bersamamu," jawab Anna jujur. Senyumannya semakin lebar, Ethan mengelus rambut Anna dengan lembut.
"Anna," panggilnya dengan begitu lirih.
"Hmm?" Anna yang sedang memperhatikan kelap kelip lampu gedung menoleh sambil tersenyum. Tapi saat dia menatapnya, Ethan sudah mengeluarkan sekotak kecil berwarna biru muda dari kulit, bagian dalamnya berwarna gelap dan ada sebuah cincin bermata satu di tengahnya.
Anna terkesiap, jantungnya berhenti berdetak seketika karena terkejut melihat cincin itu. Cincinnya cantik sekali, Anna seketika merasa seperti sedang berada di drama Korea, ini romantis sekali! Anna memandang sambil tersenyum melihatnya.
"Maukah kamu menikahiku, untuk sebenarnya?" Bukan untuk kontrak konyol itu, bukan untuk warisan, tapi untuk sebenarnya?" Air mata Anna mengalir karena bahagia. Dia mengangguk pelan dengan senang. Ethan meraih tangan kiri Anna lalu memasukkan cincin itu dijari manisnya. Anna terisak dan langsung memeluknya karena terharu.
"Hari ini begitu indah, Aku begitu senang… tidak aku begitu bahagia sehingga aku bisa terbang ke bulan," pikirnya dengan hati melambung. Kini Anna resmi menjadi tunangannya, Anna menatap cincin cantik di jari manisku dengan tidak percaya, "Oh jangan bangunkan aku kalau ini mimpi," pekiknya dalam hati.
"Cincinnya pas sekali, kamu pintar pilih cincinnya," ujar Anna sambil memandang kilau pada cincin itu. Tapi Ethan terbatuk pelan.
"Oh… Daniel ya?" Ada sedikit rasa kecewa menyusup di hatinya. Bagaimana bisa, dia menyuruh orang lain untuk memilih cincin tunangannya?
"Dia pandai mengira-ngira ukuran, aku tidak pandai, syukurlah ukurannya pas, tapi aku yang memilih modelnya," jelasnya meraih Anna masuk dalam pelukannya.
Anna menghirup aroma tubuhnya yang dia suka, ah kenapa dia kembali memusingkan siapa yang memilih ukuran atau model cincin, yang penting kami akan segera menikah, semua itu tidak penting nantinya, pikirnya dalam hati berusaha mendorong kekecewaan dalam hatinya.
"Ayo kita pulang, ajaknya?" Anna mengangguk senang. Saat kami sampai di mobil, Anna baru berpikir, pulang ke rumah masing-masing kan?
Anna masih sibuk memandangi cincinnya di mobil, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ethan. Pria itu tahu sebentar lagi Anna akan masuk ke dalam pelukannya dan tertidur. "Oh Anna aku sangat mengenalmu, kekasihku ini sungguh polos dan terlalu naif. Kira-kira apa yang dia pikirkan ketika tahu mantan kekasihnya sudah aku singkirkan ke balikpapan? Dia tak perlu tahu, aku akan menjaganya agar dia tidak perlu tahu," pikir Ethan dalam hati sambil mengecup keningnya dengan mesra.
Tubuhnya yang hangat begitu harum di pelukannya, "Mengapa aku begitu mencintainya, aku tidak tahu, kini aku begitu takut kehilangannya," batin Ethan.
Anna yang tertidur pulas di dada Ethan, mengigau sedikit, kata maaf terucap di bibirnya yang memerah. "Astaga, apa yang aku lakukan tadi? Apakah aku begitu menyakitinya tadi?" tanya Ethan lagi dalam hati.
Saat kami sampai ke rumah, Ethan segera mengangkatnya ke kasur kamarnya lalu dia pergi mandi. Daniel menunggu saat Ethan kembali ke ruang tengah.
"Pernikahan, di akhir minggu ini, aku tidak mau terjadi kejadian seperti tadi lagi. Pastikan pria tadi tak akan bisa kembali ke Jakarta." Daniel membungkuk. Ethan tersenyum tipis.
"Oh, pastikan ada makanan … yang biasa mereka makan, aku tak tahu jenis makanan apa yang mereka bisa makan, namun kata Anna, mereka tak akan bisa makan, makanan yang aku biasa makan., Cih!" ujar Ethan sambil berjalan ke dapur mengambil segelas air. Daniel kembali menunduk menandakan kalau semua permintaan Ethan akan terpenuhi besok.
"Menurutmu jika kami ke Jepang untuk bulan madu sekalian aku menghadiri rapat pemegang saham PT Himistu, bagaimana?" Ethan menatap penasehatnya yang paling dia percaya, tapi seperti biasa Daniel hanya diam. "Aish Daniel, kadang aku butuh penasehat yang bisa berbicara, tidak hanya cepat," keluh Ethan dalam hati.
"Besok aku akan berangkat sendiri ke kantor." Dia menunduk dan mengerti kalau ethan menyuruhnya pulang.
Ethan mengambil sisa air minumnya tadi lalu masuk ke kamar. Wanita itu kembali merajalela seluruh tempat tidur, dengan masih memakai baju seragam kantor kebanggaanya itu, mungkin sebaiknya sebagian baju Anna sudah ada di rumah ini. Lama-lama bosan juga Ethan melihat seragam itu.
"Oke google matikan lampu tengah," pinta Ethan pada kontroler. Lalu masuk ke dalam selimut, akhirnya dia bisa tidur bersamanya hari ini, tidak usah sempit-sempitan seperti kemarin, walaupun Ethan tidak akan pernah menyesal akan adegan pergulatan mereka.
"Oke Google, turn off my bedroom light." Dan ketika lampu mati, Ethan menghela napas lalu menariknya masuk dalam pelukannya. Wanita itu tersenyum tipis lalu bergelung mengikuti tarikan tangannya masuk dalam peluknya
Di kepala Ethan masih terbayang saat Anna menerima lamarannya. Wajahnya yang cantik berbinar saat Ethan memasukkan cincin pertunangan mamanya di jarinya. Diw berbohong tadi, entah kenapa mengatakan kalau cincin itu adalah cincin mamanya terasa aneh. Seperti biasanya, jika bersamanya ethan langsung merasa mengantuk, dan jatuh tertidur dengan cepat.

Komentar Buku (926)

  • avatar
    LestariIndah

    bagus cerita nya

    11/06/2025

      0
  • avatar
    erika fera septiana

    bagusss

    03/05/2025

      0
  • avatar
    NRoman

    bgus

    27/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru