logo text

Bab 8 Tamu Tak Diundang

Runa masih tidak bisa mempercayai kemampuan indera penglihatannya dan sangat berharap apa yang dilihatnya sekarang merupakan halusinasinya belaka.
Akan tetapi, mana mungkin sekadar halusinasi jika semua orang bisa melihatnya. Lalu, mengapa Jiho Kim ada di sini? Sedang apa dia di rumahnya? Mengapa dia tiba-tiba muncul dan mengobrol, bahkan tertawa, bersama ayah dan ibunya?
Seketika Runa merasa pening mendengar pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya.
Oke, tadi ayahnya mengatakan bahwa dia, si mesum itu, merupakan anak dari kenalannya. Akan tetapi, tidak perlu diajak makan malam bersama segala, kan? Bagi dia dan kakaknya, laki-laki itu tetaplah orang asing. Sama sekali tidak kenal. Kenapa sekarang harus makan satu meja?
Runa melirik tamu di seberang meja. Sejak pertama kali mereka bertatap muka di dalam rumah ini, wajah laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun yang menjadi pertanda kalau dia pernah melihatnya sebelum malam ini. Begitu pula saat Rendy memperkenalkannya setelah Runa mengambil kembali baki yang dijatuhkannya dan mengendalikan diri. Laki-laki itu memberi salam dan tersenyum sopan seakan-akan sekarang ini memang kali pertamanya berjumpa dengan Runa.
Teringat sikap manis palsunya dengan berkata semoga bisa menjadi teman baik padanya, tanpa sadar Runa mendengus.
Teman baik? Runa memiliki pendapat yang berlawanan. Dia tidak akan dan tidak ingin berteman dengannya. Setelah apa yang dilakukan laki-laki itu padanya, tentu saja dirinya tidak akan memaafkannya dengan mudah. Terlebih lagi, Runa mempunyai sifat pendendam. Hanya berhadapan dengannya saja sudah membuat Runa benci dan kesal bukan kepalang.
Tak pelak lagi matanya terus mengawasi Jiho sementara tangannya sibuk menyapit cangkang kepiting yang dibawakan Rendy. Sekali saja laki-laki itu melakukan hal mencurigakan, Runa tidak akan segan untuk meremukkan jari-jarinya seperti yang dia lakukan pada sebagian tubuh kepiting di piringnya.
Baiklah, jika Jiho ingin berpura-pura menjadi anak baik di depan keluarganya, Runa akan bersikap tak acuh juga. Anggap saja mereka hanya dua orang asing yang saling papasan, meskipun Runa akan selalu waspada dan mengawasinya. Dan dia tidak akan pernah melupakan fakta bahwa laki-laki sudah mencuri ci—
Tiba-tiba Runa merasakan dadanya sesak. Tanpa sadar dia telah menelan sesendok nasi dan irisan daging kepiting sebelum mengunyahnya. Merasa tercekik, dia memukuli dadanya sendiri untuk meloloskan makanan itu ke dalam perut, namun gagal dan justru membuatnya terbatuk-batuk.
“Runa? Ya ampun. Kamu kenapa?” tanya Anita seraya menepuk punggungnya. “Pelan-pelan saja makannya.”
“Nih, minum dulu,” kata Nora mengulurkan segelas air putih, yang segera habis diminum Runa dalam satu tegukan.
“Makasih, Kak,” katanya setelah air putih berhasil mendorong nasi dan daging kepiting melewati tenggorokannya. Di saat yang sama, matanya bertemu dengan tatapan Jiho. Meskipun hanya sekilas, dia yakin melihat bibir laki-laki itu sedikit melengkung ke atas. Apa dia baru saja mencemoohnya, hah?
Runa mencengkeram gagang sendoknya dengan geram. Dia pikir karena siapa dirinya sampai tersedak begini? Gara-gara teringat hal itu, makanya dia....
Runa memejamkan mata untuk menahan kekesalannya. Pada detik ini dia merasa tidak akan bisa mungkin bersikap tak acuh pada Jiho. Si mesum itu... miliknya yang paling berharga... laki-laki itu mengambilnya tanpa permisi. Dua kali.
“Aaaaargh!”
“Ada apa?”, “Kenapa?”, “Kamu sakit?”
Pertanyaan-pertanyaan bernada panik itu membuat Runa mendongak dan segera menyesali kebodohannya sendiri. Siapa sangka dia telah menyuarakan rasa frustasinya keras-keras?
Spontan Runa meringis salah tingkah sambil menggumamkan kata-kata, “Nggak apa-apa.” pada semuanya.
Wajah-wajah di sekeliling meja makan yang tadinya menatap Runa dengan pandangan cemas—bahkan Anita sampai mengelus pundaknya—mulai terlihat rileks. Kecuali... Jiho yang masih bertahan dengan ekspresi sok cool-nya.
Entah mengapa Runa merasa ingin sekali aku mencekik leher laki-laki itu. Jika saja membunuh bukanlah perbuatan dosa dan tidak melanggar hukum, pasti dia sudah mencincang setiap jengkal tubuh Jiho seperti lobster di atas piringnya.
“Kamu ini kenapa sih tiba-tiba teriak begitu?” tanya Nora setelah kembali menyuap makanannya.
“Tenggorokan kamu masih sakit, Runa?” tanya Anita, selalu dengan kebaikannya.
“Um, sudah nggak apa-apa kok, Ma. Runa baik-baik saja.”
Di luar dugaan, tiba-tiba Rendy mengeluarkan tawa keras. “Runa... Runa....” katanya menggeleng-geleng geli. “Anak Papa satu ini pasti merasa grogi karna makan satu meja dengan orang asing seganteng Jiho.”
Sekali lagi, Runa yang baru saja menyuap makanan ke dalam mulutnya, tersedak dan batuk-batuk. Tangannya segera menggapai gelas bening berisi air putih terdekat. Dadanya langsung terasa lega saat nasi dan irisan udang itu bisa tertelan.
“Papa nggak lucu ah. Siapa juga yang grogi? Runa cuma keselek saja kok,” sahutnya agak jengkel, yang mana justru membuat tawa ayahnya semakin keras terdengar.
“Kalau nggak grogi, kamu nggak mungkin salah minum dari gelas Jiho dong,” katanya kemudian.
“Ih, Papa. Siapa yang minum dari gelas di—”
Ucapan Runa menggantung saat matanya terbeliak. Gelas yang dipeganginya menggunakan tangan kanan masih menyisakan sepertiga cairan bening dan di dekatnya ada gelas serupa yang kosong. Dia ingat, gelas itu kosong karena dia sendirilah yang telah menghabiskan isinya. Gelasnya. Lalu, yang ada di tangannya sekarang...?
Runa menggunakan sudut matanya untuk menyapu bagian atas meja. Sisa tiga gelas serupa masih berisi air putih, masing-masing di sisi kanan piring Rendy, Anita, dan Nora. Satu-satunya yang hilang adalah milik laki-laki bertangan kidal yang meletakkannya di sebelah kiri piring. Spontan dia mengangkat wajah dan detik itu juga dia bertatapan dengan mata Jiho.
Laki-laki itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa dan terlihat menikmati makan malamnya. Ketika dia mendongak dan bertemu mata dengan Runa, secara spontan gadis itu melepas pegangannya pada gelas.
“M-maaf, aku nggak sengaja. Biar aku ambil gelas baru.”
Selesai mengatakannya, dia langsung berdiri. Saking terburu-burunya bangkit, pinggulnya menabrak meja dengan keras, menimbulkan bunyi dan beberapa benda terguncang. Bahkan saus asam manis di mangkuk kerang sedikit tumpah.
“M-maafkan aku,” katanya mencoba meraih potongan udang goreng krispi yang nyaris jatuh dari piring. Sialnya, punggung tangannya justru menyenggol gelas Nora dan menumpahkan air putih di dalamnya.
“Ya ampun, Runa, gimana sih kamu ini.” Nora membetulkan letak gelas dan menyeka airnya menggunakan tisu.
“M-maaf....” Suara Runa nyaris tak terdengar. Dia tidak tahu apakah saat ini dirinya lebih ingin menangis atau justru menguburkan diri di bawah meja makan.
Di sisi meja lain, Rendy justru semakin tergelak. Sementara Anita menyuruh putri bungsunya untuk kembali duduk.
“Kamu di sini saja, biar Mama yang ambil gelas.”
Tak punya pilihan lain, Runa kembali mengenyakkan pantatnya di kursi. Kepalanya terus tertunduk menahan malu. Apa yang ada di atas piringnya kini tidak menimbulkan selera. Dia ingin sekali bergegas menyingkir dari tempat ini, namun sedikit takut gerakan sekecil apapun yang dilakukannya bisa menimbulkan kekacauan lain.
Selama beberapa waktu Runa mengunyah makanannya dengan sangat lambat. Entah mengapa nasi di dalam mulutnya terasa seperti batu kerikil. Snagat keras dan susah ditelan.
“Om harap kamu betah di sini, Jiho,” kata Papa setelah suasana meja makan kembali tenang. “Anggap saja di rumah sendiri, jadi nggak perlu sungkan kalau kamu membutuhkan sesuatu. Mungkin kami bisa membantu.”
“Saya sangat berterimakasih Om, juga Tante, yang sudah sangat berbaik hati menerima kedatangan saya di sini.”
“Nora, Runa... Papa harap kalian bisa berbagi sementara Jiho tinggal di sini bersama kita. Tolong bantu dia sebisa kalian ya?”
“Beres, Pa,” sahut Nora. Lalu dia beralih pada orang yang duduk di sebelahnya, “Selamat datang ya, Jiho.”
“Terima kasih, Kak Nora.”
Tunggu dulu. Apakah rasa malu bisa berpengaruh pada kondisi pendengaran seseorang? Runa merasa jika tadi ayahnya menyebutkan tentang tinggal bersama Jiho. Maksudnya, si mesum itu akan tidur, mandi, makan dan sebagainya di rumah ini? Tid—
Mendadak dadanya terasa sesak. Sepertinya ada yang tersangkut di tenggorokanku lagi. Oh, sial.
Terbatuk-batuk, Runa menuang air putih hingga separuh gelas dan meminumnya dalam sekali teguk.
“Runa...?” Dan lagi-lagi Mama menepuk punggungku. “Mama bilang kan pelan-pelan.”
Setelah nasi bagai batu berhasil ditelannya, Runa mengatur napas agar lebih tenang. “Maaf, Runa cuma kaget aja. Kayaknya tadi Papa bilang soal tinggal bareng, mungkin Runa salah denger.”
Runa meringis. Tetapi, rasa gelinya segera memudar saat menyadari keempat di sekeliling meja hanya menatapnya dalam diam.
“Kenapa?” tanya Runa agak bingung.
“Papa memang bilang gitu kok.” Nora yang pertama kali menjawab.
“Apa?!” Sadar telah memekik, Runa menurunkan volume suaranya. “Oh, maaf.”
“Runa....” kata Anita membuat gadis itu menoleh. “Mulai malam ini, Jiho akan menginap di rumah kita selama kunjungannya di Jakarta. Jadi kamu bantu dia ya kalau ada apa-apa?”
Runa berharap ada yang tertawa mendengar penjelasan Mama. Kalau perlu seseorang meneriakkan "April Mop!" padanya.
Ternyata tidak ada. Semua orang berwajah serius. Bahkan Nora dan si mesum memberinya tatapan mencela.
Seketika Runa mencelos seakan-akan jantungnya anjlok ke perut. Kalau saja tiba-tiba terjadi gempa dan bumi terbelah hingga menelannya hidup-hidup, dia akan tahu bahwa apa yang terjadi ini hanyalah mimpi. Sayang, dirinya masih berada di alam nyata. Bahkan guncangan badannya terasa lebih kuat daripada gempa.
“Runa....” Rupanya Anita yang menggoyang-goyangkan bahunya. “Kok bengong? Kamu dengerin Mama nggak?”
“Huh? Iya, Ma. Runa denger.”
Tiba-tiba merasakan tenggorokannya kering, Runa mengisi kembali gelasnya dengan air putih dan langsung menghabiskannya lagi.
“Runa udah kenyang. Runa juga capek banget. Jadi Runa mau istirahat di kamar duluan, Ma, Pa. 'Met malam....”
Runa segera bangkit tanpa menunggu jawaban siapa-siapa. Menaiki tangga menuju lantai dua, waktu berjalan lambat sekali selolah-olah dirinya sedang mendaki gunung. Sesampainya di kamar, dia langsung mengunci pintu dan mengempaskan diri di atas ranjang. Meskipun belum tidur, dia merasa sedang mengalami mimpi buruk. Dan sepertinya ini akan berlangsung untuk waktu yang lama.

Komentar Buku (104)

  • avatar
    Christin Sicilia Blandina AnsanayFere

    Saya suka., tapi kalau bisa dibuat cerita lanjutan sampe mereka nikah🤭

    10/05/2024

      0
  • avatar
    Cammy Lysa

    😍😍😍

    18/04/2024

      0
  • avatar
    MumtazahNabila

    bagusss

    09/04/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru