logo text

Bab 59 Jam Istirahat Lagi

“Waktu kalian telah habis,” kata Bu Yanti memecah keheningan di dalam Kelas 3-Bahasa 1 setelah memeriksa arloji di tangan kirinya. “Silakan kumpulkan lembar jawaban dan lembar soal ke depan.”
Dan kemudian tidak ada yang berbicara lagi. Hanya terdengar bunyi gesekan kertas yang dioper dari meja paling belakang ke depan. Murid yang duduk di meja terdepan lantas menumpuknya di atas meja guru.
“Ibu harap kalian mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi tes semester minggu depan,” kata Bu Yanti mengakhiri pelajaran. “Selamat siang.”
“Siang, Bu...!”
Runa sedang memasukkan buku dan alat tulis lainnya ke dalam tas saat telinganya menangkap suara pesawat yang terdengar berasal dari atas atap sekolah. Tanpa sadar dia menoleh ke luar jendela.
“Ngapain kamu nyengir kayak kuda?” tanya Viola menaikkan alis. “Kangen ya?”
“Ng-nggak. Siapa bilang aku kangen Jiho?”
“Rasanya aku nyebut nama Jiho~Oppa deh.”
Runa langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
Yah, sudah terhitung hampir tiga puluh lima jam sejak Runa dan Viola menyusul Jiho ke bandara. Laki-laki itu kemudian pergi dengan perbangan tadi malam dan pada akhirnya Rendy tidak bisa mengantar karena pekerjaan, sedangkan Nora ada kegiatan di kampus. Jadi hanya Anita, Runa dan Viola yang pergi menunggakan sedan ungu milik Viola.
“Berhenti cengengesan,” hardik Runa agak mendelik saat dilihatnya Viola sedang memandangnya sambil senyum-senyum.
“Idih, suka-suka. Kamu saja boleh cengengesan kok pas tadi dengar suara pesawat terbang.”
“Aku nggak cengengesan,” bantah Runa membuang muka. Tunggu dulu, apa dia memang melakukannya? Tidak mungkin. Apakah dia sudah melakukannya tanpa sadar.
Mata Runa bergerak ke sudut untuk melirik Viola. Sialnya, temannya itu sedang mengamatinya dengan seringai lebar di bibirnya.
“K-kenapa? Kalau aku memang cengengesan, itu nggak masalah, kan?” kata Runa untuk menutupi rasa gugupnya.
Viola menggeleng. “Nggak, sama sekali nggak masalah.” Dan masih saja seringainya melebar.
“Entah kenapa lihat kamu sekarang bikin aku pengin jitak kepala kamu.”
“Eh? Kenapa? Memangnya aku salah apa?”
“Berhenti cengar-cengir.”
“Oke. Oke.”
Viola merapatkan bibir dan memutar badannya ke depan.
Akan tetapi, berselang hitungan detik, secara tiba-tiba dia bernyanyi, “Aku merindu... kuyakin kau tau... tanpa batas waktu... uuuh... aku meminta... walau tanpa kata... cinta berupaya... engkau jauh di mata... tapi dekat di doa... aku merindukanmuuu....”
Sambil menjulurkan badannya ke samping, Runa benar-benar menjitak puncak kepala Viola.
“Aduh! Ini buat apa? Aku kan nggak cengengesan lagi,” sungut Viola mengerucutkan bibir sambil mengelus bekas jitakan Runa.
“Karena suara kamu fals, jadi nggak usah nyanyi segala.”
“Ih, kenapa nggak boleh? Aku kan lagi pengin nyanyi. Lagian pas paduan suara sebagai pembuka pentas drama ultah sekolah kemarin nggak ada yang bilang kalau suara aku fals tuh.”
“Mereka ngerasa nggak enak saja mau jujur ke senior macam kamu.”
“Memang cuma kamu satu-satunya yang bilang suara aku fals. Pasti ada masalah tuh sama kuping kamu.” Viola menjulurkan lidahnya.
Runa mengabaikannya dan membuka buku Matematika yang jam pelajarannya dimulai setelah jam istirahat nanti.
Melihat Runa sibuk dengan bukunya, sekali lagi Viola menyenandungkan lagu yang sama. Akan tetapi, baru saja dia mencapai kata tanpa, tiba-tiba Runa bangkit berdiri. Spontan Viola merapatkan bibir, bahkan melindungi kepalanya dengan kedua tangan juga.
“Ngapain kamu?”
Mendengar pertanyaan Runa, Viola akhirnya mendongak. “Aku pikir bakal kena jitakan lagi.”
Runa mendengus, meskipun sebenarnya merasa geli. “Ge-er banget,” katanya sebelum beranjak pergi.
“Mau ke mana?”
“Makan siang.”
“Ikut.” Viola menyusul dan melingkarkan tangan di lengan Runa.
Cukup lama berjalan dalam diam, Viola merasa tidak tahan dan bernyanyi lagi.
“Bisa nggak sih kamu diam?” desis Runa menggertakkan gigi.
“Maaf deh, nggak sadar. Nggak tau kenapa tiba-tiba aku suka lagu itu.”
“Dasar korban sinetron.”
“Idihh, aku nggak pernah nonton sinetron. Tapi lagunya bagus, tau.”
Di luar dugaan, Runa mengangguk setuju. “Iya juga sih. Memang bagus.”
Dan lagi-lagi keduanya berjalan dalam diam sampai kantin.
“Jadi sekarang kalian gimana?” Viola memulai. Dia dan Runa sudah menduduki salah satu bangku panjang dan menghadapi makanan masing-masing; Viola dengan semangkuk nasi soto, sedangkan Runa memesan mi goreng. “Pacaran jarak jauh?”
“Huh?”
“Kamu sama Jiho~Oppa.”
“Nggak. Aku sama dia nggak pacaran.”
“Eeeh? Seriusan?” Viola menghela napas panjang. “Sejak Jiho~Oppa nunda jadwal pulangnya, aku pikir kalian bakal ada progres.”
“....”
“Masa iya sih nggak ada kejadian apa-apa?”
Runa bergumam, “Bukannya nggak ada.”
Malam itu . . .
“Saya suka kamu,” kata Jiho mengulangi.
Seketika wajah Runa pun memerah. “Eeeeh?”
Saling bertatapan, Runa merasa pandangan Jiho seperti sedang menelanjanginya isi kepalanya. Tidak bisa menahan rasa malu sekaligus gugup, dia langsung membuang muka.
“Jangan ejek aku.”
Jiho menangkup kedua pipi Runa, membuat mereka berdua saling beradu pandang lagi. “Menurut kamu saya sedang mengejek kamu?”
“Memangnya apa lagi kalau nggak?” balas Runa dengan sikap berani, namun tidak bertahan lama dan segera berpaling lagi.
“Saya tidak sedang mengejek.”
“Terus apa? Kamu selalu bikin aku jengkel. Kamu suka nyium aku kapanpun kamu suka. Kamu terus manggil pabo-pabo meski itu bukan nama aku. Aku nggak tau apa yang sebenarnya kamu mau dari aku.”
“Runa....”
Runa mendongak. Untuk kali pertama, laki-laki itu menyebut namanya.
“Saya suka kamu.”
“....”
“Saya sungguh-sungguh suka kepada kamu.”
Terus terang Runa merasa senang mendengar pengakuan Jiho, namun saat ini air matanya ingin sekali mengalir.
“Buat apa kamu bilang itu sekarang? Kamu bakal pergi.”
“....”
Tidak mendengar adanya bantahan dari Jiho, Runa menunundukkan wajahnya.
“Kamu pergi saja. Aku bakal anggap aku nggak dengar apa-apa dari kamu hari ini.”

Runa beringsut melepaskan diri dari Jiho yang masih memegangi kedua pipinya. Akan tetapi, saat dia berbalik, Jiho menarik bahunya dan melingkarkan kedua tangannya dari belakang.
“K-kamu ma—?”
“Saya akan datang lagi.”
“Huh?”
“Saya akan datang menemui kamu lagi.”
Runa hanya terdiam cukup lama sebelum bertanya, “Kapan?”
“Saya tidak bisa mengatakan kapan. Tapi mungkin akan membutuhkan waktu agak lama sampai saya bisa datang kemari lagi.”
“Kalau nggak tau, mestinya sejak awal kamu nggak usah bilang mau datang lagi.”
Tiba-tiba Jiho memutar badan Runa. Kedua tangannya memegangi bahu gadis itu dan menatapnya dengan ekspresi sungguh-sungguh. “Saya pasti akan datang lagi. Saya berjanji.”
Kepala Runa tertunduk lagi. Dia tidak ingin memperlihatkan air mata yang sudah mengambang di pelupuk matanya.
“Kamu....” katanya mencengkeram bagian depan kemeja Jiho. “Harus datang ke sini lagi.”
“Saya akan datang.”
Sekali lagi Jiho mengangkup kedua pipi Runa, mengangkat wajah gadis itu, lalu secara perlahan menggerakkan wajahnya sendiri ke depan.
Dalam sekejap jantung Runa berdegup kencang. Ditelannya ludahnya sendiri dan memejamkan mata. Dia tahu saat ini Jiho akan menci—
Bunyi ketukan pelan membuat Runa terbeliak. Baik dia maupun Jiho menoleh ke arah sumber suara dan melihat Nora berdiri di tengah ambang pintu yang memang sudah terbuka sejak awal. Secara refleks keduanya bergerak mundur. Kikuk dan salah tingkah.
“Maaf ganggu kalian,” kata Nora tanpa ekspresi. Dia kemudian melemparkan sesuatu ke arah Runa. “Barusan Viola datang buat balikin itu. Katanya ketinggalan di mobil dia.”
Runa berhasil menangkap dan mengenali benda itu sebagai dompetnya sendiri.
“Saya akan pergi ke kamar. Selamat malam.”
Setelah Jiho keluar ruangan, Nora beranjak mendekati adiknya. “Kalau mau pacaran hati-hati. Mama sama Papa bisa jantungan kalau lihat adegan tadi.”
“Huh? Aku nggak pac—”
“Aku heran Jiho nggak ilfeel lihat kamu kucel begini,” lanjut Nora menyela, menjepit lengan kemeja seragam Runa menggunakan ujung telunjuk dan ibu jari sambil mengernyitkan hidung dengan ekspresi jijik.
Runa menunduk mengamati pakaiannya dan kembali terbeliak. Tidak mungkin. Saat Jiho memeluknya tadi, pasti laki-laki itu bisa mencium bau keringatnya. Dan seketika Runa membeku bagaikan patung batu yang kemudian hancur berkeping-keping.
. . .
Begitulah. Jika saja Nora tidak muncul, mungkin sudah ada kejadian. Dia yakin waktu itu Jiho berniat menciumnya lagi.
“Tunggu, tunggu. Kenapa muka kamu jadi merah?”
Runa mendongak dari piring berisi mi gorengnya. “Huh?”
“Pasti ada sesuatu, kan? Apa? Apa?”
“Nggak ada apa-apa.”
Runa menundukkan kepalanya lagi. Akan tetapi, hal itu justru membuat jawabannya semakin tidak meyakinkan.
“Nggak mungkin nggak ada apa-apa. Ayo dong, cerita.”
“Nggak ada.”
“Jangan bilang kamu sama Jiho~Oppa ngelewatin adegan dramatis seperti Kapten Ri sama Yoon Seri pisahan di perbatasan?”
“Huuuh?”
Tiba-tiba Viola menggeleng. “Eh, nggak mungkin. Pas kalian pisahan di bandara kan ada aku juga di sana. Aah, mestinya hari itu kalian pelukan kayak Kapten Ri sama Yoon Seri.”
Runa yang sedang mengisap es teh melalui sedotan seketika terbatuk-batuk.
“Aish, ngapain sih kamu? Pelan-pelan saja minumnya. Jam istirahat masih lam—”
Viola menggantung ucapannya saat melihat wajah Runa yang sudah berubah merah padam.
“Ap—kenapa? Kalian benar-benar pelukan?” Viola menutupi mulutnya dengan kedua tangan. “Ah, jangan-jangan kalian ciuman juga?”
“Nggak ada ciuman!” tukas Runa membantah.
“Jadi pelukan? Kapan? Kok aku nggak lihat sih?”
“Itu....” Runa mengerling sekeliling lebih dulu sebelum menjawab, “.. dua malam lalu. Waktu kita pulang dari bandara yang pertama.”
“Eh? Kok bisa? Gimana ceritanya kalian bisa pelukan?”
“Panjang ceritanya.”
“Eeh, aku mau dengar.”
“Intinya dia bilang suka aku, terus meluk aku dari belakang gitu.”
“Aw, kamu yakin? Itu bukan sesuatu yang kamu tonton di drama Korea, kan?”
“Maksud kamu, aku halu gitu?”
Viola memamerkan cengiran lebar. “Eh, kalau Jiho~Oppa bilang suka, berarti kalian pacaran dong? LDR.”
“Nggak gitu juga. Aku sama dia nggak jadian atau semacam itu.”
“Loh, kok gitu? Kalian kan sama-sama suka, kenapa nggak jadian?”
“Waktu itu ada gangguan.”
Yah, setelah momen di kamarnya itu, dia tidak pernah lagi mendapatkan kesempatan untuk berdua saja dengan Jiho. Ssandainya tidak ada gangguan....
“Eh? Diganggu? Sama siapa?”
“Sama....”
Suara Runa menghilang. Saat memikirkannya lagi sekarang, kakaknya mendadak muncul untuk memberikan dompet yang dikembalikan oleh Viola, kan? Itu artinya....
“Sama siapa? Kok nggak dilanjutin?”
Runa menyipitkan mata dengan pandangan menuduh. “Gara-gara kamu, kan?”
“Ih, kok jadi aku yang disalahin?”
“....”
“Apaan sih? Memangnya aku salah apa? Kenapa aku dibilang pengg—”
Runa sudah lebih dulu memasukkan irisan sosis dari mi gorengnya ke dalam mulut Viola sebelum ucapan temannya itu selesai.
“Makan dulu. Kalau ngobrol terus entar waktu istirahatnya keburu kelar.”

Komentar Buku (104)

  • avatar
    Christin Sicilia Blandina AnsanayFere

    Saya suka., tapi kalau bisa dibuat cerita lanjutan sampe mereka nikah🤭

    10/05/2024

      0
  • avatar
    Cammy Lysa

    😍😍😍

    18/04/2024

      0
  • avatar
    MumtazahNabila

    bagusss

    09/04/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru