“Dijodohin?” Mata Runa terasa pedih saking lebarnya dia terbeliak. Sedangkan seluruh badannya terasa makin berat seakan-akan gaya tarik bumi telah bertambah. “Aku sama cowok mes—nyebelin itu?” Nora manggut-manggut. Runa mencoba tertawa, meskipun yang terdengar justru seperti bunyi dengus orang yang sedang pilek. “Apa-apaan tuh dijodohin? Jaman sekarang? Memangnya aku ini Siti Nurbaya? Lagian, apa hubungannya coba dijodohin sama mimpi Kakak? Ngaco banget sih.” “Berhubungan dong. Kan kalau kamu nikah sama Jiho, kamu bakal ikut dia ke Korea Selatan. Bisa saja perginya naik kapal bukan pesawat. Iya kan?” “Nggak usah ngarang. Apa buktinya aku dijodohin sama dia?” “Tuh. Jiho saja disuruh nempatin kamar di depan kamar kamu—” “Itu karena Kakak pindah ke kamar bawah pas lulus SMA. Makanya kamar atas jadi kamar buat tamu.” “—dan kamu juga disuruh jadi guide Jiho selama di Jakarta. Pasti biar kalian bisa deket kan?” “Deket nggak berarti dijodohin kan? Lagian aku yang disuruh Papa karena Kakak mesti KKN dan nggak bisa nemenin tuh cowok.” “Tapi sejak awal Papa nggak pernah nyuruh aku kok. Entah aku pergi atau nggak, aku rasa memang kamu yang diminta.” “Masa?” Runa menyipitkan mata. “Kakak pasti bohong.” “Berani sumpah deh. Papa nggak pernah ngomongin soal nemenin Jiho ke aku kok. Nggak salah lagi, pasti kalian berdua mau dijodohin. Karena setau aku, ibunya Jiho dulunya teman akrab Mama sama Papa.” “Ogah. Aku nggak mau dijodohin sama dia.” “Kenapa?” “Karena aku masih SMA.” “Tapi Jiho cakep lho, Na.” “Aku nggak suka.” “Lama-lama kamu bakalan bisa suka juga sama dia.” “Kalau gitu Kakak saja yang jadi jodoh dia.” “Nggak bisalah. Masa iya aku dapat berondong.” Dahi Runa mengerut. “Dari mana Kakak tau kalau dia berondong?” “Minggu lalu kan dia baru ultah yang ke dua puluh satu.” Minggu lalu? Dalam Runa aku menghitung bulan kelahiran Kak Nora. “Yaelah, Kakak kan cuma lebih tua tujuh bulan. Masih sepantaran kok.” “Tetap saja di berondong buat aku. Cocoknya sama kamu. Kan katanya pasangan ideal tuh yang jarak umurnya tiga sampai lima tahun dan cowoknya yang mesti lebih tua, sebagai calon kepala keluarga.” “Kata siapa? Papa sama Mama saja seangkatan. Cuma beda dua bulan doang. Dan itu artis-artis banyak yang nikah sama berondong. Malahan umurnya beda bertahun-tahun. Nggak ada masalah juga, kan?” “Aku nggak suka berondong.” “Aku juga nggak suka sama cowok di kamar seberang itu.” Nora menghela napas. “Kenapa sih kamu nggak mau terima nasib saja kalau emang mau dijodohin sama Jiho?” “Terima nasib? Mana bisa? Info Kakak saja belum tentu akurat.” “Mau taruhan? Gimana kalau kita tanya ke Mama langsung saja?” “Ogah. Kurang kerjaan amat.” Nora menyunggingkan senyum angkuh. “Kamu takut kalah, kan? Pasti dalam hati kamu juga setuju kalau ada alasan tertentu kenapa Jiho nginap di rumah kita. Bisa jadi soal perjodohan, kan?” Runa tertegun mencermati ucapan kakaknya. Masa iya dirinya dijodohkan dengan laki-laki mesum itu? “Pokoknya aku nggak mau!” pekik Runa keras-keras menjawab pertanyaan di batinnya. “Setau aku Papa sama Mama bukan orang yang kolot. Mereka nggak bakal ngejodohin aku ataupun Kakak. Buktinya Kakak bawa pacar ke rumah pas SMA dulu kan mereka welcome meski akhirnya Kakak putus juga sama tuh cowok. Jadi nggak mungkin aku dijodohin. Apalagi Kakak masih jomblo sampai sekarang.” Mencapai titik, napas Runa terengah-engah. Mungkin karena dia berbicara panjang-lebar tanpa jeda. Nora sudah membuka mulut lagi, namun Runa menahannya sebelum kakaknya itu sempat mengucapkan satu kata pun. “Aku nggak mau denger apa-apa lagi. Mendingan Kakak keluar deh, tidur di kamar Kakak sendiri.” “Tapi, aku—” “Aku nggak mau denger,” ulang Runa. Mengabaikan rasa sakit di lututnya, dia turun dari tempat tidur dan menarik lengan kakaknya agar turun juga. “Sana pindah ke kamar Kakak sendiri.” “Tapi aku mau tidur sama kamu.” “Aku nggak mau.” “Ayo dong jangan ngusir. Besok aku pergi lho. Pelit amat sih.” “Jangan ngerengek kayak balita. Malu sama umur.” “Tapi—” Runa menarik gagang pintu hingga terbuka dan mendorong punggung kakaknya agar keluar. Kemudian menutupnya kembali dan menguncinya. “Oi, buka dong. Aku masih mau ngobrol,” kata Nora mengetuk pintu. Runa, yang sudah kembali ke tempat tidur, mendekati pintu lagi dan membukanya. “Nah, gitu dong.” Nora, yang sudah mengangkat kaki untuk melewati pintu, tertahan oleh bantal dalam pegangan Runa yang didorong ke arahnya. “Selamat malam,” katanya dan segera menutup pintu lagi. Tak lupa menguncinya. Di luar, Nora masih terus berbicara, namun Runa mengabaikannya dan kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. “Perjodohan? Huh, itu lelucon yang sama sekali nggak lucu. Siapa yang mau percaya hal begituan? Mending aku tidur.” Meskipun tekadnya sudah bulat, ternyata sulit bagi Runa untuk memejamkan mata. Dan ketika bangun keesokan paginya, dia merasa telah berubah bentuk menjadi panda dengan lingkaran hitam di sekeliling mata yang gagal ditutupi dengan bedak. Runa merasa hidupnya semakin sial saja. Tidak cukup dengan laki-laki mesum itu, kini kakaknya juga ikut memperburuk suasana hatinya. Dia melempar lirikan kesal pada Nora di seberang meja. Dan rupanya gadis itu juga sedang memandangnya. Secara tiba-tiba kedua sudut bibir Nora melengkung ke atas, entah dengan alasan suasana hatinya memang bagus atau berniat mengejek adiknya. Akan tetapi, saat mereka bertatapan, mata Nora kemudian mengerling ke samping, yang ditanggapi Nora dengan melebarkan mata sebagai isyarat bertanya. Dan lagi-lagi Nora mengerling ke arah samping. Kali ini Runa mengikutinya dan menangkap sosok Jiho yang sedang memakan nasi gorengnya dengan campuran kimchi (Anita bahkan sengaja menyiapkan makanan khas Korea itu setelah mempelajarinya dari internet). Mengamati rambut berantakan di sekeliling wajah tirus laki-laki itu, Runa seketika teringat perasaan yang muncul saat mereka berada di pelabuhan, setelah berguling menghindari peti yang jatuh. Pada detik itu, Jiho Kim merupakan malaikat penolongnya. Tiba-tiba saja Jiho mendongak ke arah Runa, yang otomatis membuat gadis itu menunduk untuk menghindar. Entah mengapa wajahnya langsung terasa panas dan jantungnya berdenyut lebih cepat. Sekali lagi Runa melirik sebal pada Nora. Pasti karena omongan kakaknya semalam yang sudah menjadi penyebabnya. “Ada apa, Runa?” “Huh?” Runa menoleh pada Anita di sebelahnya. Dan dia harus menunduk karena tanpa sadar tubuhnya sudah berdiri. “Ng... anu... Runa mau berangkat sekolah, Ma,” lanjutnya karena tidak bisa menemukan alasan masuk akal atas tindakannya yang tiba-tiba. “Itu roti kamu belum habis.” Runa mengambil roti selai cokelat yang masih tersisa seperempat dan memasukkannya ke dalam mulut. Setelah mengelap bibir menggunakan tisu, dia mencium pipi ibunya. “Berangkat dulu, Ma, Pa,” ujarnya dengan mulut penuh hanya pada orang tuanya dan mengabaikan dua orang lainnya. “Kamu nggak berangkat bareng Papa saja, Runa?” “Nggak usah, Pa, naik bus saja. Runa pergi dulu.” “Hati-hati!” seru Anita saat aku meninggalkan ruang makan. Baru saja dia melangkahi ambang pintu, sebuah klakson mengagetkannya. Dahi Runa mengerut, merasa mengenali sedang ungu yang terparkir di luar. Tetapi, apa iya itu milik... “Viola?” Gadis yang baru saja beranjak keluar dari pintu di bagian pengemudi itu melambai padanya. “Kok kamu bawa mobil?” tanya Runa seraya mendekat. “Tadaaa!” seru Viola menunjukkan benda pipih persegi panjang di tangannya saat menyongsongku di pintu pagar. “Kemarin Mami ngajak aku ambil SIM.” “Jadi kamu ke sini pagi-pagi cuma mau pamer SIM? Atau pamer sudah boleh bawa mobil ke sekolah?” “Idih, sinis amat komentar kamu. Aku kan mau jemput kamu biar kita berangkat bareng.” “Ya sudah ayo pergi.” Runa melingkarkan tangannya pada lengan Viola yang hendak memasuki pekarangan. “Tunggu dulu. Aku kan belum pamit sama Om dan Tante.” “Nggak perlu. Mereka juga nggak tau kalau kamu ada di sini.” “Tapi kan—” “Kamu bilang mau berangkat bareng, kan?” tukas Runa menyela. “Aku sudah siap pergi.” “Aku pamit sebentar deh, Na.” “Aku bilang nggak usah.” Runa menyeret Viola kembali ke mobil. Dia tahu niat sebenarnya gadis itu adalah ingin bertemu Jiho, bukan ayah dan ibunya. Dan Runa sedang tidak ingin melihat wajah laki-laki itu lagi sekarang. Viola menyalakan mesin dengan bibir agak mengerucut. “Masih pagi jangan manyun. Kan kamu bisa ketemu dia pulang sekolah nanti.” Mendengar kalimat Runa, ekspresi Viola seketika berubah sumringah dan mulai rileks. “Oke deh.” “Betewe,” lanjutnya saat mobil mulai berjalan. “Kenapa muka kamu? Habis begadang atau gimana?” “Nggak bisa tidur aku semalam.” “Kenapa? Galau ya tinggal serumah sama cowok cakep?” Runa mendengus. “Iya kali aku nggak bisa tidur gara-gara masalah sesepele itu. Nasib aku lebih dari sekadar apes punya tamu cowok mesum kayak dia.” “Kamu masih saja antipati sama Jiho. Dia nggak sejahat itu, kali. Aku rasa dia nyium kamu waktu itu bukan karena sengaja. Maafin sajalah, Na.” Barangkali Viola benar. Akan tetapi, yang dilakukan laki-laki itu di kapal tidak mungkin tidak sengaja. Dia sudah menjatuhkan harga dirinya. Viola pasti sependapat dengannya jika dia tahu. “Sejak ketemu dia, hidup aku jadi ribet, tau. Aku sial terus. Dan kenapa juga aku mesti dijodohin sama dia, coba? Beneran bikin keki.” Viola menghentikan mobil sangat mendadak sampai-sampai tubuh Runa terempas ke depan. Untung dia memakai sabuk pengaman. Kalau tidak, bisa-bisa dahinya menghantam dasbor atau kaca depan. “Kamu kenapa sih, Vi? Pelan-pelan dong kalau mau ngerem.” Tidak langsung menjawab, setengah badan Viola justru berputar ke arah orang di sampingnya. “Apa maksud kamu soal kamu dijodohin sama dia?” Seketika Runa menyesali bibirnya yang keceplosan bicara.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (104)
Christin Sicilia Blandina AnsanayFere
Saya suka., tapi kalau bisa dibuat cerita lanjutan sampe mereka nikah🤭
Saya suka., tapi kalau bisa dibuat cerita lanjutan sampe mereka nikah🤭
10/05/2024
0😍😍😍
18/04/2024
0bagusss
09/04/2024
0Lihat Semua