logo text

Bab 13 Gangster

Arthur membuka perlahan ke dua matanya, menatap berkeliling ruangan serba putih itu dengan saksama. Matanya membulat sempurna saat sebuah ingatan melintas begitu saja. Ia mendudukkan diri perlahan sembari memegang punggung yang masih terasa sakit.
“Aku kehilangannya,” gumamnya lirih. Yang ia pikirkan sekarang bagaimana menghadapi wanita itu, juga jendral Arif. Selang beberapa saat, Anna masuk di susul Anna dan Harry di belakangnya.
“Kau sudah bangun?” tanya wanita itu. Menghampiri Arthur yang menatapnya lekat. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Anna lagi.
“Maaf,” lirih Arthur, menunduk membenamkan wajah sendunya. Anna tersenyum hangat, duduk di sisi ranjang tempat tidur Arthur.
“Itu bukan kesalahanmu.” Arthur mendongak menatap wanita cantik yang kini menaruh tangan rampingnya di atas tangan Arthur. “Aku tahu, kau bahkan tak menginginkan ini terjadi. Meski 2 tahun lalu, ada kata ‘teman’ di antara kalian, aku percaya kau tetap di pihak kami.” Senyuman tulus wanita itu mampu menahan rasa sesal yang memuncak.
Jika saja ia tak lalai selama 2 tahun ini, mungkin ke lima lelaki itu sudah terkurung dalam sel. Menyesal, tak lagi ada arti. Toh, semuanya sudah terjadi. Mulai sekarang hanya perlu kembali berusaha dan mengerahkan tenaga untuk menggantikan perbuatan mereka.
**
Erick menatap makanan yang berjejer di meja makan dengan keadaan masih utuh. Hal aneh baginya, pasalnya selama ini Edward selalu menjadi orang pertama yang makan. Kini, lelaki gempal itu hanya tertunduk membiarkan makanannya dingin. Bahkan Brian dan Jovi yang kerap mengomel di pagi hari, kini diam. Rey pun sibuk dengan seseorang yang menghubunginya sejak 1 jam lalu.
“Apa ada masalah?” tanya Erick memecah keheningan. Edward mendongak, mata sembab itu terlihat jelas. Erick mengerti, masalahnya kini bukan tentang bagaimana harus melarikan diri dan sembunyi, tetapi menyelamatkan nyawa seseorang yang amat berharga.
“Ibu baik-baik saja. Beliau sudah melewati masa kritisnya,” ucap Erick membuat yang lain menatapnya kaget begitu juga dengan Rey yang baru saja kembali duduk.
“Benarkah?” ucap Jovi dan Edward bersamaan. Erick mengangguk tanpa ragu.
“Sekarang kau makan yang banyak. Jika semuanya lancar, besok kau bisa bertemu dengannya,” jelas Erick. Edward mengangguk cepat. Menyendok nasi dan beberapa lauk sekaligus, lelaki itu makan dengan lahap.
“Kau juga harus makan. Wajahmu masih terlihat pucat.” Brian menatap Erick khawatir. Lelaki 20 tahun itu menurut. Memasukkan makanan ke dalam mulutnya perlahan.
Ini bukan hal yang harus ia banggakan, bukan pula hal yang harus ia tangisi. Saat Erick berhasil membawa ibu dari temannya dengan selamat, ia harus siap dengan konsekuensi dari apa yang telah di sepakati.
**
Lagi. Pria berusia 45 tahun itu kembali mengamuk. Merusak apa pun yang terjamah oleh matanya. 2 orang bawahannya telah tewas dengan luka tembak di dada. Sekretarisnya menunduk takut.
Prak!
Sebuah vas kecil melayang dan membentur kepala seseorang yang baru saja masuk. Lelaki itu nampak terkejut, tetapi dengan cepat ia mengondisikan ekspresi wajahnya. Menunduk tepat saat darah mengalir dari pelipis kananya.
“Kau bahkan tak bisa membawa mayat satu orang saja!” geram atasannya.
Dia, Shimon Jems Phatent presiden Amerika Serikat. Terkenal sebagai orang yang ambisius dalam hal jabatan dan kekuasaan. Menjadi presiden jabatan tertinggi yang telah dicapainya, tetapi ia masih ingin menduduki jabatan itu untuk periode selanjutnya. Tak ada yang tahu bagaimana keadaan keluarganya, masyarakat hanya tahu satu hal, dia punya segalanya.
“Bereskan semuanya. Segera laporkan keberadaan anak buah Lucca ke kantor pusat!” seru pria itu.
“Baik, Pak.” Lelaki berseragam polisi itu mengangguk sebelum ia benar-benar pergi. Beruntung dia hanya mendapat luka kecil, tidak dapat peluru panas.
**
Erick menyadari gelagat aneh dari Rey sejak ia sarapan pagi tadi. Tidak seperti biasanya dia termenung sendiri. Biasanya ia akan ikut cerewet saat bergabung dengan Edward dan Jovi. Erick menjatuhkan diri di sofa panjang yang berhadapan langsung dengan sofa tempat Rey duduk. Ia terlentang, menatap langit-langit ruangan berwarna putih. Membiarkan lelaki mungil itu menatapnya heran.
“Apa kau terbiasa menyimpan masalah sendiri?” tanya Erick sedikit pelan. Tak ada siapa pun di sana selain mereka berdua. Brian dan Jovi menemani Edward bertemu ibunya di rumah milik Chan—kakak kandung Erick.
“Lalu kau? Apa kau terbiasa menyelesaikan masalah sendiri?” tanya Rey sedikit takut. Erick menoleh dari posisi tidurnya, tersenyum tipis dan membenarkan posisi tidurnya kembali menghadap langit-langit.
Menghela napas panjang sebelum berujar, “aku pikir, kita punya masalah masing-masing yang tak perlu orang lain tahu. Tapi, entah kenapa tiba-tiba aku peduli pada masalah kalian. Aku hanya ingin membantu agar semuanya selesai.”
“Erick .... “ Rey tak tahu apa yang akan ia katakan. Nyatanya, tak ada alasan untuk meninggalkan lelaki di depannya ini. Sikap dingin yang berubah hangat, kepedulian yang tiba-tiba saja tampak nyata.
“Jadi .... “ Erick menoleh, menatap Rey. “Apa masalahmu?” tanya Erick lagi.
Rey tampak ragu, tetapi ia harus mengatakannya. “Ketua gangster itu mengancam keluarga yang tinggal di belakang gedung rumah sakit JSc untuk segera pindah.” Mendengar itu, Erick bangkit dari tidurnya dan menatap Rey tak percaya.
“Bisa-bisanya mereka melakukan itu,” geram Erick. Mereka tetap ingin memperluas wilayah ternyata. Erick tak akan tinggal diam, tentu saja karena ini sudah menyangkut masalah temannya.
“Aku tidak ingin mereka kehilangan tempat tinggal yang selama ini sudah di pertahanan dengan susah payah. Bagaimana jika .... “
“Kau tenang saja. Aku akan mengurus semuanya,” ucap Erick penuh keyakinan. Rey menatapnya haru. Meski ia percaya Erick bisa menyelesaikan masalahnya, tetap ia tak bisa terus menyusahkannya. Masalah Erick pun tak kunjung selesai.
**
“Aku benar-benar hampir gila!” rutuk Wild menjambak rambut hitamnya kasar. “Kita tidak menemukan Erick dan tidak menemukan seseorang yang bernama Lucca itu. Aku sangat frustrasi!”
“Wild, tenanglah.” Seorang polisi bernama Jeje menepuk pundak lelaki itu lembut, mencoba menenangkan emosi sahabatnya karena mereka tidak menemukan apa pun.
“Je, aku masih belum yakin jika kita bisa membawa Erick Ke hadapan ketua. Tapi, perasaanku tidak enak. Hatiku terus saja menyuruhku untuk tidak menemukannya.”
“Sudahlah, Wild. Bagaimana pun ini tugas kita. Kita harus tenang dan mencarinya pelan-pelan.”
“Bagaimana aku bisa tenang jika kita tidak bisa membawanya maka kita berada dalam bahaya? Aku ingin segera menemukannya dan menyelesaikan tugas.”
Jeje tidak mengeluarkan suara apa pun lagi. Ia hanya memandangi wajah sahabatnya lirih. Dia terlihat sangat khawatir. Bahkan wajahnya sudah berubah menjadi pucat akibat masalah ini. Seharian mencari Erick dan Lucca tidak membawa hasil apa pun untuk mereka.
Entah.
**
Setelah membawa Edward ke tempat Chan, Jovi dan Rey meninggalkan apartemen Jack mereka menuju gang kecil yang tak jauh dari sana. Butuh menempuh jarak 150 meter untuk sampai di depan gang yang hanya cukup di lewati 1 mobil.
Tiba-tiba kawanan orang berbaju serba hitam menghadang langkah mereka, membuat Jovi dan Rey saling pandang bingung pasalnya tempat komplotan gangster masih jauh dari tempatnya kini.
“Ada apa?” tanya Rey.
“Jika kalian tidak ingin terluka. Ikutlah dengan kami”
“apa?” Mata Jovi membulat saat melihat seseorang mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Ia menarik tangan Rey dan menggiringnya untuk berdiri di belakangnya.
Salah satu orang dari kawanan itu maju menghampiri Jovi sambil memain-mainkan pisau lipatnya.
“Kalian tentu tidak mau terluka, kan?”
“Tentu saja. Karena itu singkirkan benda itu,” ujar Jovi sedikit keras.
“Kau tuli? Kau harus ikut dengan kami!”
“Maaf paman. Tapi ibuku selalu bilang aku tidak boleh berbicara dengan orang asing. Kami hanya .... ”
Orang itu langsung menodongkan pisau yang dipegangnya saat Jovi berujar santai. Pisau itu kini sudah menyentuh kulit leher Jovi. Nyaris tidak ada jarak lagi yang tercipta di antaranya. Di belakangnya, Rey semakin menguatkan genggamannya pada Jovi.
“Jovi, aku mohon jangan melawan,” bisik Rey dengan suara nyaris bergetar.
Sudah menjadi wataknya yang tidak takut dengan apa pun. Jovi justru menentang dua bola mata yang sedang menatapnya tajam itu. Dia tidak gentar walaupun ujung pisau sudah terasa lembut di kulit lehernya.
“Siapa kalian sebenarnya?” desis Jovi tajam.
Orang itu tertawa mendengus, “Kami tidak membutuhkan kalian. Yang kami butuh kan adalah Erick.”
“Erick?”
“Menurutlah. Karena kalian tidak akan bisa melawan kami.”
Jovi tersenyum mengejek, “Benarkah?” Tangan Jovi terulur. Mendorong kasar tubuh pria tinggi yang sedang menodongnya itu lalu memberikan tendangan keras.
“Lari!”
Jovi menarik tangan Dandi dan memaksanya untuk berlari. Tidak tinggal diam, kawanan orang-orang yang menghadang keduanya tadi juga ikut mengejar. Jovi berusaha menyamakan langkah-langkah panjang lelaki di depannya. Dia tidak berani menoleh ke belakang.
“Jovi, bagaimana? Di depan hannyalah jalan buntu!” seru Rey disela lari mereka.
Jovi baru tersadar. Benar juga. Di depan hanya sebuah jalan buntu. Kembali ke sana juga tidak mungkin karena itu hanya akan membuat masalah lebih besar. Akhirnya lari mereka terhenti saat tembok semen tinggi menjadi akhiran lari mereka.
Jovi dan Rey berbalik, langsung mendapatkan senyuman menyeringai dari pria besar yang menjadi pemimpin kawanan itu. Dalam hati, Jovi menghitung jumlah kawanan orang itu. 10. Jumlah mereka ada 10.
“Kau benar-benar membuatku marah, anak muda, ” desis orang itu tajam. “serang dia!”
Jovi memasang kuda-kuda. Terus berusaha mempengaruhi pikirannya bahwa ini hanya sebuah pertarungan biasa seperti yang dilakukannya. Ya, walaupun kali ini tidak hanya balok dan kayu yang menjadi senjata. Adanya pisau dan benda tajam lain memang membuatnya sedikit menciut.
Perkelahian itu terjadi. Jovi melawan beberapa orang dengan kemampuan material artnya. Sedangkan Rey juga berusaha melawan dengan kemampuan berkelahi yang pernah ia pelajari sewaktu SMA meski hanya lewat sebuah tawuran pelajar.
BUGG
BUGG
BRAKK
Dua tinjuan dan pukulan kayu berhasil membuat Jovi tersungkur.
“Jovi! Akh..”
Rey juga mendapatkan pukulan di wajahnya karena kurang memperhatikan gerakan lawan.
“Kau yang membuatku melakukan ini.”
Orang itu menghampiri Jovi dengan memain-mainkan pisau lipatnya. Tangannya terulur, menarik kerah baju Jovi dan memaksanya untuk berdiri.
“Biar kuukir sesuatu di wajah tampanmu, Nak.”
Jovi memejamkan matanya saat pisau itu kini menuju kearahnya. Pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
BUGG
Jovi membuka matanya dan mendapati Erick berada di sampingnya. Ia muncul dari sisi kanan dan menendang orang yang ingin menusuknya tadi.
“Urusan kalian denganku. Bukan dengan mereka,” geram Erick dengan penuh penekanan.
**
Seorang polisi berlari menghampiri Richee dan Harry yang tengah sibuk dengan dokumen di meja mereka.
“Pak!” Ia membungkuk memegang lututnya terengah. Mencoba mengatur napasnya yang tak beraturan.
“Ada apa?” tanya Harry, menghampirinya dan menepuk pundak polisi itu pelan. “Tenang dulu, bicara pelan-pelan. Ada apa?” tanya lelaki itu lagi.
“Mereka ... Erick .... “
“Erick? Ada apa dengannya?” Kali ini Richee bertanya.
“Mereka terlibat perkelahian dengan anggota geng Snake di gang dua perumahan 07,” jelas polisi bernama Boby itu.
Tanpa menunggu lama, ke dua lelaki itu segera berlari keluar. Bahkan mereka tak menghiraukan suara teriakan dari seorang pengacara yang ingin bertemu dengan Richee.
**
Erick menatap nyalang pria tinggi yang baru saja menodong Jovi dengan pisau lipatnya. Mata elangnya sama seperti saat Erick menatap sosok yang paling ia benci. Di belakangnya, Rey menatap berkeliling, berharap ada jalan tuk keluar dari sini. Tepat saat ia melihat lorong sempit yang hanya bisa di masuki satu orang saja, kelompok pria besar itu lebih dulu menyerang.
Rey ter mundur saat Jovi mendorongnya kuat. Rey terdiam, Jovi dan Erick terus berusaha menahan serangan mereka sesekali ke dua lelaki itu menatap Rey, memastikan jika lelaki mungil itu baik-baik saja.
10 orang bukanlah jumlah yang banyak bagi Erick dan Jovi. Hanya saja mereka berbekal senjata tajam sementara mereka hanya memakai tangan kosong.
“Erick, ada gang kecil di sebelah kiri. Kita bisa masuk ke sana saat ... akh! “ satu pukulan membuat Rey meringis. Erick terkesiap dan ....
Bukk!
Sebuah tendangan mendarat tepat di kepala pria besar yang memukul tangan Rey. Ia terjungkal, tak sengaja kepala membentur tembok penghalang membuatnya tak berdaya. Terhitung 5 orang lagi yang masih bisa berdiri, salah satunya pria tinggi besar yang memimpin mereka.
Erick terengah. Melirik sekilas Rey yang memegang tangan kanannya. “Jovi, kau masuk gang kecil itu. Bawa Rey pergi,” ujarnya sedikit pelan. Meski ragu, Jovi tetap mengangguk mengiyakan.
Jovi memegang tangan kiri Rey memasuki gang meski mereka sedikit kesulitan untuk berlari karena gang yang sempit juga gelap.
“Kau menyebalkan!” geram pria besar.
Erick mundur beberapa langkah dengan terburu-buru. Menangkis serangan yang bertubi-tubi datang menghujaninya. Ia berkali-kali mengumpat dalam hati. Lawannya memang sedikit hanya saja Erick sedikit kewalahan karena mereka bersenjata. Semuanya membawa balok kayu dan pisau sedangkan ia hanya bertangan kosong.
Saat salah satu dari mereka akan menyerang Erick dari belakang, tiba-tiba suara sirine polisi terdengar. Seketika semua orang yang ada di sana berlari meski jalan satu-satunya adalah melewati arah datangnya mobil polisi. Erick dengan sigap masuk ke gang kecil dan berlari meski kakinya terasa sakit akibat pukulan keras salah satu pria itu. Beruntung, ia melihat cahaya di ujung gang. Saat ia keluar, seseorang menariknya ke samping.
“Sial!” geram Harry yang tak menemukan siapa pun lagi di sana, sementara polisi lain menangkap beberapa pria besar yang tak bisa lari.
“Sepertinya mereka lewat sini.” Seorang polisi bertubuh tinggi menunjuk sebuah gang kecil tempat Erick melarikan diri.
“Kau masuk ke sana, aku akan tunggu di gang ujung,” ujar Richee. Harry mengangguk, ia masuk ke gang kecil itu bersama 2 orang polisi lain.
Gang kecil yang gelap sedikit membuat Harry kesulitan, tak mungkin mereka bersembunyi di tempat seperti ini. Namun, saat Harry melihat cahaya di ujung gang ia kembali bersemangat. Mempercepat langkahnya di ikuti dua polisi di belakangnya.
Harry berdiri mematung saat ia tak menemukan apa pun di sana. Menoleh ke arah kiri ia hanya melihat tembok tinggi, sementara di arah kanan terlihat mobil polisi yang di bawa Richee.
“Selalu saja,” gumamnya pelan. Harry berjalan ke arah lelaki tinggi yang menunggu di ujung gang.
“Saat aku datang, sudah tak ada siap pun,” tutur Richee membuat Harry mendesah kesal.
“Sial! Kenapa mereka selalu bisa melarikan diri,” Harry masuk ke dalam mobil dengan penuh rasa kesal, sementara Richee menatap beberapa bangunan yang berjejer di sisi gang yang di lalui Harry. Sepertinya ada satu kecurigaan di sana. Mata detektifnya tak pernah salah menilai sesuatu, saat hatinya mencurigai satu hal, maka pikirannya akan tertuju pada targetnya.
Semoga.
.
.
.

Komentar Buku (795)

  • avatar
    MaulidhahRizqi

    novelnya seru dan gak membosankan satu lagi selalu buat penasaran untuk terus membaca

    22/12/2021

      1
  • avatar
    RadenSumantri

    bagus👍

    29/06

      0
  • avatar
    Callista

    keren .. endingnya tebak²an sendiri,😁🔥🔥

    03/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru