logo text

Bab 13 Hope it Never Happens

Sebenarnya ada sedikit penyesalan ikut Keyren karena ternyata membawa Lexy ke sebuah
pemakaman. Tapi apa boleh buat, ini adalah keputusannya sendiri. Sekarang hanya berdiri
tepat lurus didepan makam, sementara Keyren berlutut memberikan. sebuket bunga lili yang ia
letakkan didepan batu nisan.
Pasti ini makam kakaknya itu. Pikir Lexy. Siapa lagi? Setelah menunggu beberapa menit terlihat
Keyren berdiri.
"Apa dia kakakmu?" Keyren mengangguk kemudian melangkah pergi, sementara Lexy masih
menatap makam itu sesaat kemudian mengikuti Keyren.
Tanpa bicara, Lexy menjalankan mobil meninggalkan makam. Keheningan pun menemani
perjalanan mereka sampai Lexy memasukkan mobilnya kedalam area sebuah resort mewah.
Mata Keyren terbuka lebar sembari bertanya-tanya kenapa masuk ke tempat yang sangat
mewah ini. Menoleh kearah Lexy mencari jawaban "Kenapa kita masuk sini?"
Menoleh dengan tatapan dingin "Aku mau berenang sebentar." jawabnya membuat Keyren
hanya mengedip-ngedip kan mata bingung. Saat ingin bertanya lagi tiba-tiba mobil pintu dibuka
oleh seorang pelayan, Keyren tidak langsung turun tapi berniat menengok kearah Lexy yang
ternyata sudah turun terlebih dahulu. Bibir Keyren hanya menganga nggak tau mau berkata
apa, lalu ia pun turun dari mobil dan menyusul Lexy yang sedang berbicara dengan seseorang.
"Anggap aku tidak disini...kasih tahu semuanya." sepenggal kata terakhir Lexy terhadap salah
satu manajer resort sebelum akhirnya Keyren menubruk punggung Lexy karena tidak
memperhatikan jalan sangking terkagumnya dengan bangunan mewah ini.
Mata Lexy menoleh sekilas kearah cewek yang sedang berdecak kagum kemudian ia berjalan
masuk diikuti Keyren yang mengekor dibelakang. Kemudian mereka masuk lift sampai berada di
atap gedung yang ternyata di sulap menjadi kolam renang yang sangat amat indah dan
menajubkan. Bahkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit beserta bangunan kecil
dibawah bisa langsung dinikmati dari kolam renang.
Byyuur!! suara deru air itu cukup nmengalihkan perhatian Keyren yang langsung terperana
melihat ciptaan Tuhan yang satu ini. Betapa sempurnanya laki-laki ini, oh...siapa yang bisa
menolaknya. Pikirnya kemudian terbubarkan karena tiba-tiba disamping sudah ada pelayan
yang menyajikan minuman dan beberapa snack.
"Siapa yang pesan, mas?" tanya Keyren polos.
Pelayan itu hanya tersenyum manis kemudian berlalu tanpa jawaban. Idih, ditanya malah diam.
Pikir Keyren monyongin bibir lalu sesaat menengok sekelilingnya, dia baru sadar kalau tidak ada
siapa-siapa lagi kecuali dirinya dengan Lexy. Betapa bego'nya dia saat bertanya sama pelayan
tadi, pantes pelayan itu cuma tersenyum. Malu-maluin aja.
Daripada mikirin rasa malunya, Keyren pun melahap snack dan minuman itu tanpa
memperdulikan Lexy yang sedang menikmati berayun -ayun didalam air. Keyren mengambil
handphone di saku celana lalu sibuk berpose-pose. Jeprat jepret, jeprat jepret mencari
pemandangan yang indah dan ia lakukan berkali-kali. Sampai lupa diri dan tidak melihat jalan
ketika berjalan ditepi bibir kolam hingga kakinya terpeleset lalu masuk kedalam kolam.
Byuurr!! awalnya Lexy tidak memperdulikan suara deru air itu, dia terus saja berenang dari arah
berlawanan sehingga dia tidak tahu kalau Keyren terpeleset. Mungkin Keyren juga ingin
berenang. Pikirnya saat itu tetap tenang menikmati air yang menenggelamkan dirinya dalam
ayunan yang berirama. Bahkan didalam air Lexy juga sempat berpikir kalau Keyren adalah
perenang yang sangat buruk karena irama air yang dimunculkan terdengar kasar dan
berantakan seperti tidak pernah berenang saja.
Lama-lama suara berisik itu mengganggu ketenangan Lexy yang akhirnya harus menegur cara
berenang Keyren. Ketika berbalik badan mata Lexy langsung terbelalak kaget karena apa yang
dia lihat tidak seperti apa yang dia pikirkan. Ternyata Keyren sedang berjuang didalam air, dia
hampir tenggelam. Segera Lexy berenang cepat menolong Keyren.
Saat Lexy berhasil meraihnya, Keyren langsung mendekap erat-erat ke tubuh Lexy sambil
terbatuk-batuk dan terengah-engah hampir kehabisan napas. Lexy membiarkan Keyren
tenggelam dalam dekapannya mungkin saja bisa membuat Keyren tenang.
Beberapa menit setelah Keyren merasa tenang dia baru sadar kalau dirinya mendekap erat
tubuh Lexy. Lalu ia mendorong bahu Lexy "Apa yang kamu lakuin?" Lexy tidak menjawab, dia
hanya menatap Keyren "lepasin gue!!" tanpa banyak bicara Lexy merenggangkan pegangannya
yang melingkar dipinggang Keyren dan membuat tubuh Keyren mulai tenggelam sontak wanita
ini mendekap lagi ke tubuh Lexy.
"Sudah sadar apa yang kamu lakukan?" ucap Lexy yang terdengar datar sambil melingkarkan
kembali tangannya di pinggang Keyren. Sebenarnya hal itu membuat Keyren tidak nyaman tapi
apa boleh buat, jika Lexy melepasnya pasti dia akan tenggelam. "Kamu tidak bisa berenang?"
dengan polos Keyren gelengin kepala sekali.
"Aku mau keluar dari sini..." ujarnya pelan karena harus menahan malu.
"Kalau gitu keluarlah sendiri." Lexy berniat melepas tangannya.
"Jangan dilepas!" teriak ketakutan.
"tapi kamu bilang mau keluar dari sini..." goda Lexy.
"Aku kan nggak bisa berenang. Gimana aku bisa keluar?" sahutnya mulai meninggikan suara.
"Kamu harus berjalan berenang." ujar Lexy membuat Keyren melongo "kamu bisa mati tadi
kalau tidak siapapun." tutur Lexy dengan nada dingin. "Aku nggak akan ngeluarin kamu dari sini
sebelum kamu bisa berenang sendiri." melepas kedua tangannya kemudian menariknya lagi.
Mereka berdua saling menatap begitu dalam. Lalu Lexy tersenyum tipis menatap kagum Keyren
"pelayan akan mengantarkan sesuatu untukmu. Masuklah ke ruang ganti." nada Lexy benar-
benar terdengar lembut.
Dalam pikiran Keyren menumpuk pertanyaan-pertanyaan siapa sebenarnya lelaki yang
bersamanya sekarang ini. Sampai-sampai diperlakukan se-istimewa ini. Siapa dia?
******
Perhatian Lexy terpecahkan saat berbicara dengan seoarang manajer resort ketika Keyren baru
saja keluar dari lift dan berjalan kearahnya dengan mengenakan dress selutut bewarna hijau
pupus yang terlihat smoothy dikenakan Keyren dengan riasan tipis diwajah dan high heels yang
menyempurnakan penampilannya.
Enggak kalah dengan Lexy yang mengenakan setelan jas yang pas dengan postur tubuhnya
lengkap dengan dasi yang serasi dengan jas-nya. Dalam batin Keyren terus saja bertanya dan
sangat penasaran. Siapa sebenarnya laki-laki yang sedang bersamanya dan kenapa selalu
mempermainkan perasaannya? Sesaat laki-laki ini membuat Keyren begitu bahagia namun
dalam sekejap bisa membuat Keyren patah hati.
Ketika berdiri tepat dihadapan Lexy, dengan mata menyipit penuh tanda tanya Keyren menarik
dasi sampai membuat leher Lexy ketarik. Sontak manajer disebelahnya tertegun sembari
berpikir berani sekali wanita ini.
Kepala Lexy sejajar dengan kepala Keyren, mereka berdua saling melempar tatapan yang tajam
"Apa kamu mau mempermainkanku lagi?" tanya Keyren lantang.
Kedua alis Lexy terangkat lalu berkata "Iya" jawab Lexy dengan entengnya. Menganga nggak
percaya mendengar jawaban Lexy. "Apa yang akan kamu lakukan, ha?" tantang Lexy dengan
nada dingin.
Sangking jengkelnya, Keyren melepas dasi tersebut terus menginjak keras salah satu kaki Lexy
yang terbungkus sepatu hitam mengkilap. Dengan tenang menahan sakit menatap Keyren yang
mengeluarkan seluruh tenaga "Apa cuma ini kemampuanmu?" caci Lexy mengangkat kakinya
yang masih diinjak. Tenaga sekuat itu tentu saja Keyren bukan tandingannya, ia pun tergelincir
dan jatuh ke lantai.
Menggosok-gosok pinggang nyengir kesakitan. Lexy merunduk menatap dingin "Jangan
bertindak diluar kemampuan." deliknya kemudian kembali berdiri tegap. Keyren menyipitkan
mata kesalnya sembari bangkit dan berdiri tegap dihadapan Lexy berniat membalas ucapan
cowok dingin ini.
Namun Lexy mengacuhkannya, ia malah menoleh ke luar lobi yang sudah terparkir mobil sport
mewah berwarna hitam metalik dengan atap mobil yang terbuka lebar. Menengok kearah
Keyren lalu tanpa bicara Lexy melangkahkan kaki sedangkan Keyren celingukan melihat cowok
itu berjalan keluar. apa yang akan dilakukan disini? pikir Keyren, lalu ia berjalan membuntuti
dari belakang.
Langkah kaki Keyren terhenti saat Lexy masuk kedalam mobil super keren itu. Lexy yang sudah
duduk di kursi kemudi menengok kearah Keyren yang malah bengong.
Mata Keyren kelayapan memperhatikan body dari mobil didepannya lalu menyipitkan mata
menatap Lexy dan berkata "Mobil gue kemana?" malah membuat Lexy tersenyum simpul.
"Masuk dulu." perintahnya dingin, namun Keyren masih saja berdiam diri "kamu bakal
kehilangan mobilmu kalau kamu tidak masuk." ancam Lexy membuat mata Keyren terbelalak.
"Apa?"
Lexy tidak merespon, ia malah mengegas mobilnya. Seketika Keyren memutar bola matanya
dan memutuskan untuk masuk kedalam mobil. Lexy tersenyum tipis sembari memasukkan
perseneling sambil melihat Keyren masuk kedalam mobil dan duduk disampingnya.
Hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat rambut Keyren berkibar selayaknya bendera,
karena sangking kencangnya angin membuat rok Keyren sedikit terangkat diatas lutut dan tidak
sengaja terlihat Lexy. Segera Keyren menahan rok-nya dengan pipi yang memerah salah
tingkah, Lexy yang menyadari hal itu menjadi tersenyum geli.
Disebuah restoran berlatar belakang klasik membuat Keyren yang duduk disebuah meja
berdecak kagum melihatnya. Sementara Lexy baru saja selesai memilih menu yang disediakan
pelayan. "Kita ngapain disini?" nada suara Keyren terdengar lirih.
Menengok kanan kiri lalu berkata "Kamu pikir kita ngapain disini?" balik tanya Lexy bikin Keyren
terbelalak.
"Kamu tahu, aku tidak membawa uang. Gimana bisa membayar makanan disini?" cemas Keyren
yang memperjelas lekuk bibir.
Tertawa "Kita berikan saja mobil yang kita bawa." goda Lexy.
Keyren memukul kecil lengan Lexy karena malah menertawainya padahal dia serius. Restoran
semewah ini, gimana cara bayarin kalau nggak bawa uang ditambah lagi ini restoran mewah
pasti semua mahal. Pikirnya.
"Biarin aku makan dengan tenang. Aku sudah lama tidak makan disini semenjak kamu datang
dan mengacaukan kehidupanku." ujar Lexy.
Seorang pelayan datang sebelum Keyren membuka mulut. Melirik pelayan yang dengan sopan
menyajikan menu makanan di meja membuat Keyren mengurungkan niat protesnya karena
aroma makanan itu begitu menggiyurkan.
Benar-benar enak dan nikmat sekali makanan ini, sampai-sampai Keyren terus ingin melahap
dan melahap tanpa henti. Sementara Lexy hanya geleng-geleng kepala dengan tenang
menyantap makanannya.
"Kamu yang harus menanggung semua makanan ini. Karena kamu yang mengajakku kesini."
seru Keyren dengan mengunyah makanan.
Menghela napas. Tidak sopan sekali bicara saat mulut penuh dengan makanan. Batin Lexy.
"Eh, kenapa diam?" tanya Keyren.
Kesabaran Lexy pun habis,ia memejamkan mata sembari menelan makanan terakhirnya.
"Bisakah kamu bicara setelah menghabiskan makananmu?" meletakkan pisau dan garpu diatas
piring.
Bibir Keyren tertutup rapat setelah mendengar teguran itu. Ada benarnya juga, apalagi
ditempat yang berkelas seperti ini. Etika makan sangat dijaga. Menghela napas kemudian
bangkit dari duduk. Mata Lexy mengikuti gerak gerik cewek ini dan bertanya "Mau kemana?"
ingin tahu.
Menoleh sinis "Toilet. Apa kamu mau ikut?" berbalik badan kesal
Masuk kedalam toilet pun Keyren terus saja menggerutu, nggak peduli ada wanita disebelahnya
yang sedang bersolek. "Bener-bener tuh orang bikin ngeselin. Rasanya pengen banget gue
cekik, remes, lipet-lipet terus gue buang ke laut. Biar dimakan hiu sekalian." omelnya sendiri.
Monica yang sedang melipstiki bibirnya melirik wanita disampingnya sembari tersenyum kecut.
"Ggrr, kenapa juga aku ikut dia kesini. Bikin baper aja! Dasar orang nggak punya hati! Kenapa
sih dia selalu mainin perasaan gue..."omelannya terhenti saat wanita disebelahnya memberikan
sebutir obat putih didepannya. Menoleh dengan penasaran.
Senyum cantik keluar dari bibir Monica kemudian berkata "Ambil."
Mengerutkan kening mengambil obat itu sambil memperhatikan setiap bentuknya "apa ini?"
"Kamu akan tau kalau kamu sudah memasukkannya kedalam minuman orang yang kamu maki-
maki sekarang."
Menganga setelah sadar apa yang dia pegang itu adalah racun "Racun??"
Monica hanya terseringai sembari berjalan keluar toilet, sedangkan Keyren masih memegang
obat dengan terperanga. Setelah beberapa saat kemudian barulah ia tersadar lalu menyusul
keluar toilet. Celingukan mencari sesosok wanita cantik yang baru saja memberi racun.
Melihat Monica yang berniat duduk di mejanya. Segera Keyren menghampiri kesana dan
langsung menegurnya "Excuse me." Dengan angkuhnya menoleh kearah Keyren. "Apa kamu
memintaku buat racunin dia?" tanya Keyren "Apa kamu mau aku benar-benar
membunuhnya??" meninggikan nada suara.
Monica tersenyum manis menatap Keyren dan berkata "Aku hanya membantu memudahkan
niatmu membunuhnya."
Keyren tambah menganga tidak percaya begitu entengnya wanita elegan ini berkata sadis
seperti itu. "Ap, apa?? Kamu pikir aku ini apa?" Keyren mulai terbawa emosi hingga mulai
memancing perhatian para pengunjung lainnya. Pengawal Monica mulai bersiaga jika terjadi
sesuatu.
"Jangan menguji kebaikanku." mata Monica berubah dingin.
Berdecak kesal "Kamu pikir memberiku racun itu sebuah kebaikan?"
Kesabaran Monica sudah mulai habis, lalu dia meminta salah satu anak buahnya untuk
mengusir Keyren. "Apa aku harus meracunimu juga." menatap tajam Keyren "bawa dia pergi
dari sini." lanjutnya.
"Dia bersamaku." suara paruh yang tak asing itu mengalihkan perhatian Monica.
"Lexy??" kejut Monica. Sementara Keyren hanya terdiam seakan tak dianggap lagi.
Monica berdiri mendekat kearah Lexy dengan penuh kelegaan "Kenapa kamu tidak
mengabariku dulu. Malah kamu keluar dengan mainan baru mu yang berniat membunuhmu"
melirik rendah Keyren yang belum mengerti. "Kamu tahu, dia berniat membunuhmu." lanjutnya
membuat Keyren ternganga kebingungan. Pandangan dingin Lexy langsung tertuju kearah
Keyren.
"Ap, apa?! aku tidak berniat membunuh dalam arti yang kejam seperti itu. Tapi kamu malah
memberiku racun untuk meracuninya." bela Keyren menyodorkan sebutir obat berwarna putih
"Oh ya,aku hanya memudahkan niatmu. Itu artinya aku udah baik hati membantumu, dasar
mainan baru." cerca Monica menyadarkan Keyren bahwa dia adalah orang yang dimaksud
mainan baru.
"Hentikan, Monic." tegur Lexy.
"Kenapa Lexy? Aku sudah mengenalmu lama. Kamu hanya menganggap mereka mainan dan
setelah kamu bosan kamu akan kembali kepadaku." jelas Monica sambil memandang rendah
Keyren yang cukup shock mendengar hal itu segitukah Lexy menganggap diirnya. Pandangan
kecewa Keyren membuat Lexy tak enak hati meski terlihat tetap dingin dan angkuh.
"Stop, Monic." lekuk bibir Lexy terlihat jelas tapi Monica malah tersenyum kecut sembari
melipat kedua tangan.
"Ok, honey. Aku mengerti. Mainanmu ini memang masih terlihat baru. Jadi aku bisa
memakluminya, toh aku masih akan tetap menunggumu kalau kamu sudah bosan." ucapnya
begitu menggoda sekaligus menjengkelkan, lalu merapikan dasi Lexy begitu lembut dan mesra
sembari berkata "kamarku masih tetap terbuka untukmu." mendengar itu tanpa permisi Keyren
memutuskan keluar dari restoran itu.
Rasa didalam dirinya begitu aneh bercampur aduk. Mual, pusing, marah, jengkel entah apalagi
mengaduk dalam dirinya. Sementara Lexy masih memperingatkan Monica "Aku peringati kamu
Monic, jangan pernah mengganggu dia lagi. Kita bicara lagi nanti."tegurnya lalu mengikuti arah
Keyren pergi.
Ternyata hari sudah gelap, nggak terasa harinya dihabiskan dengan laki-laki menjengkelkan itu.
Batinnya dengan perasaan campur aduk berjalan dibibir jalan. Ucapan perempuan yang
dipanggil Monica itu sangat merendahkannya, tapi apa benar yang dikatakan cewek itu. Apa
Keyren hanya barang mainan aja? sepertinya memang betul kalau diingat Lexy selalu blak-blak
an berkata kalau hanya mempermainkan hatinya saja.
Ditengah lamunannya, Lexy memanggil namanya namun Keyren tidak menjawab, ia terus saja
berjalan. Melihat cewek itu tidak merespon, Lexy memutuskan mempercepat jalannya.
"Kenapa kamu tidak menjawab saat aku panggil." tekannya menarik lengan Keyren sampai
tubuhnya yang lemah itu menubruk dada bidang yang kekar.
"Apa mau mu??" menjauhkan diri.
"Masuk mobil, dan kita pulang."
Melihat mobil mewah itu berhenti tak jauh dari Lexy. "Dimana mobilku?"
"Mobilmu akan kembali kalau kamu pulang bersamaku, sekarang" tekannya dengan tatapan
dingin. "Kenapa kamu pergi begitu saja?" tanya Lexy dengan angkuh.
Menatap kesal sambil mendesah "Seharusnya aku tidak menolongmu malam itu." ucapnya
melemah dengan tatapan datar.
Pandangan Lexy berubah lembut dan melepas cekalannya saat mendengar Keyren berkata
seperti itu. Melihat lengannya terlepas, Keyren melanjutkan ucapannya "Andai saja malam itu
tidak terjadi, maka aku tidak akan mengenalmu apalagi jatuh cinta denganmu." tatapan mata
Keyren begitu dalam "aku tidak masalah kamu tidak bisa menerima cintaku, karena aku
menyadari siapa diriku.”tatapan kekecewaan tersirat dalam raut muka Keyren. Lelaki ini tidak
mau memperpanjang masalah, dengan arogansinya dia berkata “masuk mobil.”
******

Komentar Buku (328)

  • avatar
    FuiFAUZI

    sangat bagus

    05/12

      0
  • avatar
    ZahariFyra

    Baguss

    26/10

      0
  • avatar
    WulandariSusan

    setelah baca bbrp bab.. ni novel cukup membingungkan. entah arahnya mo kemana

    18/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru