logo text

Bab 63 Tak Sengaja Menyentuh

“Bagaimana penampilanku?” tanya Max yang berdiri dengan setelan biru tua di hadapan Gabriella. Wanita bertampang datar itu pun mengangguk.
“Bagus.”
“Bagaimana jika dibandingkan dengan yang sebelumnya?” tanya pria yang mengharapkan jawaban lebih.
“Sama-sama bagus.”
Decak kesal tak lagi tertahan. Setelah berkacak pinggang dan mendongak sejenak, Max kembali menatap sang istri. “Dari semua setelan yang telah kucoba, mana yang terbaik?”
Bibir Gabriella mengerucut sementara bola matanya bergerak-gerak mencari jawaban. “Tidak ada. Semuanya sama saja.”
Dengan menghela napas, Max memadamkan kekesalan dalam hatinya. “Apakah kau mau kita menginap di sini? Cepat, pilihlah satu untukku,” ucapnya penuh penekanan.
“Hitam,” sahut Gabriella tanpa pikir panjang.
Sang pria langsung menoleh ke arah setelan yang belum dicobanya. Keheranan langsung memenuhi benaknya. “Kenapa? Bukankah itu terlalu biasa?”
“Karena warna itulah yang paling cocok denganmu. Sama seperti cat kukumu.”
Pelayan toko yang menunggu di luar ruang ganti spontan menyemburkan tawa. Mendengar reaksi tak terduga itu, Max cepat-cepat menyembunyikan ibu jari yang telah diwarnai dengan spidol tanpa sepengetahuannya.
“Baiklah! Aku pilih yang hitam.” Tanpa mengganti pakaian, Max duduk di sebelah istrinya.
Selang beberapa detik, pelayan toko bergegas masuk bersama dengan rak dorong yang penuh dengan gaun. Mata Gabriella spontan melebar melihatnya.
“Ada apa ini?”
“Tolong bantu kekasihku menemukan gaun terbaik,” ujar Max memperjelas situasi.
Belum sempat sang wanita melancarkan protes, dua orang pelayan toko telah menyeretnya ke balik tirai.
“Tunggu dulu. Max?”
Gabriella tidak berdaya di hadapan orang lain. Ia tidak mungkin memberontak dan membongkar statusnya. Dengan alis berkerut, wanita itu menerima pelayanan yang tidak diharapkan.
Namun, setelah mengenakan gaun kelima, Gabriella tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalan. “Harus berapa banyak gaun yang kucoba?” protesnya dengan kerucut bibir yang khas.
“Sebanyak mungkin. Aku penasaran mengapa tidak ada yang terasa benar.”
“Jujur saja kalau aku memang tidak cocok mengenakan gaun-gaun indah ini,” timpal Gabriella dengan sudut bibir berkedut.
Tanpa terduga, Max menggeleng santai. “Justru kau terlalu cantik sehingga tidak ada gaun yang bisa mengimbanginya.”
Perkataan sang CEO sontak mengundang pekikan gemas dari para pelayan. Kedua wanita muda itu saling berbisik dan menutupi lengkung bibir yang mengandung iri.
Mendapat respon semacam itu, pipi Gabriella mendadak merah. “Lalu, apa yang harus kukenakan nanti?” tanyanya mengalihkan perhatian.
Max menatap para pelayan lalu mengangguk. “Sejujurnya, aku sudah memilih sebuah gaun untukmu,” terang pria itu selagi seorang wanita muda bergegas keluar.
Ketika sang pelayan kembali dengan sebuah gaun hitam berkilauan, Gabriella tak mampu menyembunyikan kekaguman.
“I-ini gaun untukku?” desahnya tak percaya.
“Ya, dan aku senang kau memilih warna yang sama untukku. Dengan begitu, kita akan terlihat lebih kompak,” timpal Max dengan senyum miring yang menawan.
“Haruskah Nona mencoba gaun ini?” tanya sang pelayan menyita perhatian.
Tanpa berpikir panjang, sang pria menjawab, “Tidak. Aku yakin gaun itu akan sempurna di tubuh kekasihku.”
Gabriella pun tersentak. Kekesalan kembali mendesak dalam dada. “Lalu, untuk apa kau mengajakku datang kemari kalau sudah menentukan pilihan?” tanya wanita itu tak lagi peduli dengan telinga di sekitarnya.
“Seperti yang sudah kukatakan. Agar kau bisa memilih setelan yang tepat untukku.”
Bibir sang wanita sontak mengerucut. “Kau mengelabuiku lagi.”
“Hei, jangan cemberut begitu,” timpal Max seraya bangkit berdiri. “Bolehkah kami meminta privasi?” tanya sang pria seraya menatap para pelayan secara bergantian.
Hanya dalam beberapa detik, ruangan itu menjadi sepi. Gemuruh napas Gabriella yang terdengar samar spontan membuat Max berdecak. 
“Apa kau sudah gila? Kau mau membongkar penyamaran kita sebagai pasangan kekasih yang romantis?” bisik pria itu seraya menaikkan alis dan memiringkan kepala.
“Aku tidak peduli. Kaulah yang mencari masalah. Lebih baik aku bersantai bersama Snowy daripada membuang waktu seperti ini.”
Helaan napas lelah berembus dari mulut sang pria. “Apakah salah jika aku meminta bantuanmu untuk memilih setelanku?”
“Lihatlah! Kau selalu saja memutar-mutar kalimat. Sudahlah, aku lelah berdebat denganmu. Kau tidak akan pernah mengerti.”
Tanpa memperhatikan langkah, Gabriella berbalik hendak menuju tirai. Wanita itu lupa bahwa ia sedang berada di atas podium kecil. Hanya dalam sekejap, kakinya kehilangan tumpuan dan menyerah pada gravitasi.
“Aaak!”
Pekikan sang wanita terhenti karena Max dengan sigap menahan tubuhnya.
Selama beberapa saat, pasangan itu bergeming meredakan detak jantung yang menggila. Namun, begitu pandangan mereka kembali jelas, keduanya terbelalak menyaksikan tangan sang pria meremas sesuatu yang tak seharusnya disentuh.

Komentar Buku (252)

  • avatar
    Katrin Chaka Khan

    bagus banget aku suka aku suka... lanjut terus y semoga karyanya semakin banyak lagi...

    26/01/2022

      3
  • avatar
    Susan Utami

    Cerita yg bagus,,, menarik, gak bosan,,happy ending,, the best author good job 👍👍😊

    22/12/2021

      5
  • avatar
    SariRatna

    bagusss bangettttt,di awal Uda kerasa daddigugnyaaa. suka banget tentang ceo CEO Kya giniijiii

    07/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru