logo text

Bab 30 Kemesraan dalam Mobil

Selang beberapa menit, Max kembali memeriksa keadaan sang istri. Wanita itu sedang meringkuk membelakanginya. Tubuh yang gemetar tampak jelas sedang berperang melawan hasrat.
“Dia masih menahannya, hm? Hebat juga.”  
Tanpa merasa khawatir, sang CEO mengalihkan fokus ke ponsel. Pesan dari Sebastian langsung menyita perhatiannya.
“Kenapa dia bersemangat sekali menanyakan proyek baru? Padahal, jelas-jelas sudah kukatakan bahwa rancangan gedung masih perlu disempurnakan. Kalau begini, proyek lain yang sedang berjalan bisa lolos dari pengawasan.”
Tiba-tiba, Gabriella merintih seperti orang kesakitan. Sang pria sontak menyimpan ponsel dan memeriksa istrinya lebih saksama.
“Apakah kau baik-baik saja?”
Begitu ia menarik pundak sang istri, matanya terbelalak. Wajah Gabriella sangat pucat dan dipenuhi keringat.
“Jangan sentuh aku!” pinta wanita yang tidak sanggup lagi bersuara kencang. Energinya telah banyak terserap oleh ledakan hasrat yang berusaha diredam.
“Apa kau sudah gila? Aku tidak mau dituduh sebagai pembunuh kalau kau mati di sampingku.”
Dalam sekejap, Max menempelkan telinganya di atas jantung sang istri. Helaan napas kesal pun lolos dari mulutnya.
“Apa kau mau menunggu sampai jantungmu meledak? Kita lakukan sekarang,” ujar sang pria seraya mulai mempreteli kancing baju istrinya.
“Kau yang gila. Mana mungkin kita melakukannya di sini? Di dalam mobil? Bagaimana jika sopirmu mendengar?”
Tiba-tiba, musik mengalun kencang. Gabriella spontan meringis menahan rasa malu.
“Cepat! Kita tidak punya banyak waktu,” desak Max seraya memindahkan sang istri ke atas pangkuan. Desah napas Gabriella kini berembus tepat di hadapannya.
“Kita tidak perlu melakukan ini, Max,” geleng perempuan yang tidak sadar jika suaranya telah ditelan oleh bunyi yang lebih kencang.
Sedetik kemudian, sang pria sudah mulai merengkuhnya, menyapa inci demi inci dengan penuh kelembutan. Selang beberapa saat, Gabriella akhirnya mampu melepaskan udara yang sedari tadi menyesakkan dada.
“Ah, kenapa aku jadi seperti ini? Sangat memalukan,” batin wanita yang tidak bisa menyangkal bahwa tubuhnya menikmati setiap pergerakan.
Sambil mendongak melihat atap mobil yang hampir mengenai kepalanya, Gabriella menyambut bagian dari diri Max melebur bersamanya.
“Semoga ini terakhir kali aku membiarkannya berada dalam tubuhku.”
Selang beberapa menit, tubuh si wanita meleyot bagai tak bertulang. Ia telah melewati getaran keduanya. Tenaganya memang terkuras, tetapi desir dalam nadi masih memompa semangat.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya pria yang berbicara di pintu telinga Gabriella. Wanita itu pun mengangguk tanpa kata.
Tiba-tiba, kendaraan yang mereka tumpangi tidak lagi bergerak dan musik berhenti. Sedetik kemudian, sang sopir berkata, “Maaf, Tuan. Kita sudah tiba.”
Max tanpa sadar berdecak kesal. “Pergilah membeli kopi dan bersantai! Urusan kami belum selesai.”
Gabriella spontan terbelalak. Belum sempat ia bertanya, sang pria sudah melanjutkan permainan. Sebuah erangan hampir saja terlepas.
“Apa yang kau lakukan? Gejolak dalam tubuhku sudah reda. Aku bisa menahannya,” bisik wanita itu di sela napasnya yang terengah-engah.
“Mari membuatnya menjadi adil! Aku sama sekali belum mendapatkan momen puncak,” timpal pria yang juga dibanjiri oleh keringat.
Alis sang wanita sontak berkerut lebih dalam. “Kau benar-benar memanfaatkanku kali ini.”
“Bukankah kau juga memanfaatkanku untuk mengatasi efek dari obat itu?”
Tanpa memberikan aba-aba, Max meningkatkan stamina. Gabriella spontan memekik sebelum menggigit tangannya sendiri. Air mata kini membutir meski hatinya melambung tinggi.
"Max ..., kau terlalu bersemangat."
"Diamlah!"
Sang suami malah menambahkan bara. Ia tahu betul tombol yang harus ditekan untuk mendiamkan istrinya. Gabriella kini hanya mampu bersuara lewat napas yang begitu hangat.
Tepat ketika sang pria hampir mendapatkan yang ia inginkan, kaca jendela tiba-tiba diketuk dari luar. Pasangan suami istri itu pun tersentak dan langsung menoleh ke arah tirai yang masih tertutup rapat.
“Max? Kau masih di dalam? Tumben kau menutup tirai mobilmu. Apakah kau sedang mengerjakan proyek rahasia?”
Max dan Gabriella spontan bertatapan dengan mata bulat. Selang satu kedipan, mereka kompak membetulkan pakaian masing-masing agar kembali rapi dan tidak menimbulkan kecurigaan.
“Tunggu sebentar, Bas!” seru sang CEO takut jika sekretarisnya nekat masuk lewat pintu depan.
Hanya dalam setengah menit, pasangan rahasia itu keluar dari mobil dan menahan deru napas masing-masing. Senyum kaku kini terpasang di wajah mereka.
“Oh, ternyata, Nona Gabriella datang bersamamu?” tanya Sebastian sembari menaikkan alis dan sebelah sudut bibirnya. Dua orang di hadapannya kompak mengangguk.
“Ya, aku memerlukan bantuannya untuk menyempurnakan rancangan gedung hasil pemikirannya itu,” sahut Max sebelum menggaruk hidung. “Jadi, apa ada kabar terbaru?” tanya sang CEO seraya berjalan diikuti oleh dua orang yang lain.
Si sekretaris menggeleng. “Kau sukses membuat Julian marah. Ia masih mengurung diri di rumahnya.”
“Ck, pria itu masih saja belum dewasa,” celetuk Max sembari menggeleng tak habis pikir.
“Omong-omong, beberapa klien sudah menanyakan tentang detail proyek baru. Kapan kau mau membagikan informasi dengan perusahaan? Kau tidak mungkin menahannya sampai rampung, bukan?”
Mata sang CEO sontak menyipit. “Kenapa kau menanyakannya kepadaku, Bas? Tanyakan kepada Gabriella! Dialah yang mencetuskan ide gedung hybrid itu.”
 Wanita yang mengekor pun membuka mata lebar-lebar. Begitu ia menangkap sorot mata Sebastian, sudut bibir terpaksa dinaikkan.
“Maaf, Tuan. Untuk saat ini, saya hanya ingin membagikan informasi kepada Max saja.”
“Max?” ucap Sebastian dengan alis melukiskan tanda tanya.
Gabriella seketika berkedip dan menganga. “Maksud saya, Tuan Max.”
Sang sekretaris mulai mengangguk dan merenung. “Kenapa hanya Tuan Max yang boleh tahu?”
“Mengingat keberadaan musuh yang masih belum diketahui, akan lebih baik jika kita berhati-hati,” jawab Gabriella diiringi anggukan sang CEO. Pria itu diam-diam tersenyum mendengarkan respon istrinya.
“Kalau begitu, kenapa Anda tidak memberitahu saya juga, Nona? Saya ini orang kepercayaan Tuan CEO. Saya tidak keberatan untuk membantu.”
Sang wanita menggeleng dengan anggun. “Belum saatnya.”
Sebastian akhirnya menghela napas pasrah. “Baiklah. Karena Nona tetap menolak, izinkan saya melontarkan pertanyaan lain. Sejak kapan Nona mengerti tentang proyek pembangunan? Bukankah selama ini, Anda hanya mendalami piano?”
Langkah Gabriella mendadak terhenti dan lengkung bibirnya berubah kaku. Dengan kedipan datar, ia membeku memikirkan jawaban. “Aku ... baru mempelajarinya akhir-akhir ini.”
Max hampir tertawa mendengar nada bicara sang istri. Sebelum Gabriella membuatnya bertambah gemas, pria itu berdeham.
“Apakah kau lupa, dulu aku pernah mencari informasi tentang perempuan ini?”
Alis Sebastian sontak berkerut.
“Coba tebak, berapa IQ perempuan yang tampak biasa-biasa ini?”
“Berapa?”
“IQ-nya 142. Cukup untuk mempelajari hal baru dalam waktu singkat.”
Mulut Sebastian seketika menganga, sementara wanita di sampingnya terbelalak tak menyangka. Dari mana sang CEO mendapatkan informasi tentang hal itu?
“Akhirnya, ada seseorang yang kukenal hampir menyaingi IQ-mu,” desah sang sekretaris sebelum membunyikan tawa.
“Hampir. Perlu kau ingat bahwa IQ-ku masih lebih tinggi tiga poin.”
Bibir Gabriella sontak mengerucut mendeteksi kesombongan sang suami. Namun, belum sempat ia berkomentar, tangan Max telah melintang di balik punggungnya.
“Karena rasa penasaranmu sudah teratasi, apakah kami boleh bergegas pergi? Ada agenda penting yang menanti.”
Sang wanita diam-diam melirik ke arah pria di sampingnya. Sandiwara sang CEO tampak sangat alami.
“Ya, tentu. Aku juga harus mengurusi hal lain.”
Setelah menyunggingkan senyum pamit, Max mengajak Gabriella masuk ke lift. Begitu pintu tertutup rapat, wanita itu langsung meluncurkan pertanyaan. “Dari mana kau tahu IQ-ku 142?”
“Dari album yang berisi kumpulan surat penting milikmu.”
Mata Gabriella spontan melebar. “Album biruku? Dari mana kau mendapatkannya?”
“Dari reruntuhan rumahmu.”
Sang wanita berkedip-kedip tak percaya. “Kenapa kau tidak memberikannya kepadaku?”
“Karena belum saatnya.”
Decak kesal sontak membalas jawaban Max.
“Sebenarnya, seberapa banyak barang-barang milikku yang kau temukan? Kau pasti berencana memanfaatkan mereka untuk mendesakku, seperti bagaimana kau memperalat Snowy,” tuduh Gabriella dengan telunjuk meruncing ke wajah suaminya.
Alih-alih menjawab, Max malah melangkah keluar. Padahal, pintu lift baru terbuka setengah.
“Ck, ancaman apa lagi yang akan dia tujukan kepadaku? Seharusnya, aku tidak menikahi pria selicik itu,” gerutu sang wanita sebelum berjalan cepat mengejar suaminya.
“Lalu, kenapa kau mengajakku ke sini hari ini? Agenda penting apa yang kau maksud ketika berbicara dengan Sebastian tadi?”
“Baru sepuluh menit berlalu, kau sudah melupakan agenda kita, hm?” tanya Max seraya menempelkan jari pada sensor di pintu. Senyum miringnya telah menyempurnakan kesan misterius.
Beberapa detik berlalu, kerut alis Gabriella tak kunjung terurai. Hingga ia memasuki ruang CEO pun, otaknya masih bekerja keras.
“Kau tidak menyebutkan masalah pekerjaan kepadaku. Kau pasti salah ingat.”
Belum sempat Gabriella meletakkan tas di atas meja, Max tiba-tiba menarik pinggangnya. Begitu ia mengerjap, dirinya telah terpojok di dinding. Tas yang tadi ia pegang telah tergeletak di lantai.
“Apa yang kau lakukan?” desah wanita yang kini diserang oleh degup jantungnya sendiri.
“Agenda penting kita belum selesai, Nyonya Evans. Sekarang, bantu aku mencapai apa yang tadi hampir kudapat.”
“Apa kau gila? Kita sedang di kantormu. Bagaimana jika ada yang melihat?”
Tiba-tiba, Max menyelipkan tangannya menggapai tombol on sang istri. Sembari menyunggingkan senyum miring, ia berbisik, “Bukankah jika ada yang melihat, suasana akan semakin panas?”
Sedetik kemudian, Gabriella telah terpejam dan terseret dalam kenikmatan. Ia lupa pada tekadnya untuk tidak memberi kesempatan lagi pada Max. Pesona sang CEO telah menaklukkan egonya.

Komentar Buku (252)

  • avatar
    Katrin Chaka Khan

    bagus banget aku suka aku suka... lanjut terus y semoga karyanya semakin banyak lagi...

    26/01/2022

      3
  • avatar
    Susan Utami

    Cerita yg bagus,,, menarik, gak bosan,,happy ending,, the best author good job 👍👍😊

    22/12/2021

      5
  • avatar
    SariRatna

    bagusss bangettttt,di awal Uda kerasa daddigugnyaaa. suka banget tentang ceo CEO Kya giniijiii

    07/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru