Saat mata Max tertuju pada piano tanpa buku ataupun kertas musik, ketakutan sontak berkobar tak terkendali. Tanpa membuang sedetik pun, pria itu berlari memeriksa seluruh ruang. Malangnya, tidak seorang pun ia temukan, termasuk sang istri. Bahkan, koper yang pernah ia sita juga menghilang tanpa jejak. “Gaby? Gabriella?” teriak Max tidak peduli jika pita suaranya rusak. Malangnya, sekencang apa pun ia memanggil, sang istri tetap tidak menjawab. Sambil menelan ludah dan air mata, Max mencengkeram kepala yang serasa hampir pecah. “Tidak mungkin dia kabur lagi. Tidak,” gelengnya berusaha mengingkari. “Dia sudah berjanji untuk merayakan ulang tahun bersama. Tidak mungkin dia pergi begitu saja.” Selang perenungan singkat, alis pria itu terangkat maksimal. Tanpa membuang waktu, ia berlari menuju pos penjaga. “Di mana istriku?” tanya Max, tidak lagi memikirkan kesopanan. Dua penjaga berwajah pucat pun otomatis berdiri menghadapnya. “Eng ... itu ....” “Di mana!” desak sang CEO membuat para penjaga tersentak. “Begini, Tuan .... Sesuatu telah terjadi.” “Jangan berbelit-belit dan cepat katakan yang sesungguhnya!” hardik pria yang tak pernah semarah itu sebelumnya. Dengan bola mata yang tidak bisa diam, seorang penjaga mulai menyampaikan laporan. “Tadi pagi, di saat semua orang sedang sibuk, Nyonya melakukan sebuah eksperimen. Dia berkata ingin menguji sejauh apa pesawat kertasnya bisa terbang. Dan ternyata, pesawat-pesawat itu melewati pagar. Jadi, Nyonya meminta kami untuk mengizinkannya keluar.” “Dan kalian membiarkannya keluar seorang diri?” bentak Max dengan tangan terkepal erat. “M-maaf, Tuan. Nyonya berkata kalau dia akan segera kembali. Nyonya bahkan menitipkan ini sebagai jaminan. Dia berkata bahwa dirinya tidak mungkin kabur tanpa boneka kesayangannya.” Tanpa menunggu perintah, penjaga yang lain menyerahkan sebuah boneka beruang putih. Kemarahan Max seketika hancur saat melihat Snowy tanpa pemiliknya. “Dia menitipkan ini?” desah pria itu tak percaya. “Ya, Tuan,” angguk salah satu penjaga. Tanpa sadar, air mata meluncur membasahi pipi sang CEO. Ia tidak sanggup lagi menahan pedih. Bagaimana mungkin sang istri tega mengingkari janji? Untuk pertama kali dalam hidupnya, Max Evans menangis karena cinta. “Tidak .... Dia tidak mungkin meninggalkan jimat keberuntungannya. Ini tidak benar,” geleng pria itu sembari menahan sesak dalam dada. Malangnya, semakin sering ia menarik napas, semakin tajam udara dalam paru-parunya. Tiba-tiba, seseorang menyentuh pundaknya. Harapan pria itu seketika melambung tinggi. Tanpa sempat mengeringkan wajah, pria itu berbalik dan mendesah, “Gabriella?” Alih-alih melihat sang istri, Max malah mendapati wajah yang penuh dengan guratan kesedihan. “Maaf, Tuan. Kami tidak berani menghubungi Anda. Sebagai gantinya, kami sendiri yang mencari Nyonya. Tapi, sampai detik ini, kami masih belum menemukannya. Bahkan, di lahan proyek dan pemakaman, Nyonya juga tidak terlihat.” Usai menyampaikan laporan, Minnie menggigit bibir menahan getar keresahan. Ia tahu bahwa kekecewaan dan kekhawatiran yang melanda Max telah berlipat ganda karena ucapannya. “Tapi Gaby tidak mungkin kabur, Bi. Dia sudah berjanji untuk merayakan ulang tahun bersama. Tadi pagi, dia bahkan menyemangatiku untuk bekerja lebih giat, agar bisa pulang lebih awal. Gaby tidak mungkin mengingkari janji,” desah sang pria dengan suara serak. Napas yang tersengal-sengal membuat suaranya tidak terdengar jelas. Namun, semua orang yang mendengar mengerti kekalutan dalam hatinya. Tidak tahu harus berbuat apa, Minnie tertunduk dan berkedip-kedip mencari kalimat penenang. Akan tetapi, belum sempat otaknya menemukan titik terang, sang CEO telah berjalan melewati pundaknya. “Tuan?” “Aku harus menemukan Gabriella. Dia tidak mungkin kabur, Bi. Dia pasti diculik oleh orang-orang jahat itu.” Tanpa berpikir panjang, Max merebut kunci dari tangan sang sopir. Hanya dalam beberapa detik, ia telah memacu mobil menuju rumah sang sekretaris. *** “Sebastian! Sebastian ...! Keluar kau! Kembalikan istriku!” Mendengar teriakan yang tak biasa itu, sang sekretaris keluar menghampiri sepupunya. Belum sempat ia bertanya, sebuah pukulan telah menggeser rahangnya. Pria itu langsung terhuyung-huyung mencari keseimbangan. “Ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba menyerangku?” serunya dengan alis berkerut maksimal. “Jangan sok bodoh! Kau pasti telah menculik Gabriella. Sekarang, di mana dia? Di mana kau sembunyikan istriku?” Sebelum Max melangkah ke dalam rumah, Sebastian menghalangi jalannya. “Apa kau sudah gila? Untuk apa aku menculik istrimu? Aku bahkan tidak punya waktu untuk itu. Bukankah kau tahu sendiri bahwa seharian ini aku berada di kantor?” Dengan rahang berdenyut-denyut, Max menyingkirkan pundak sepupunya. Akan tetapi, baru selangkah ia maju, Sebastian menyentak lengannya hingga mereka saling menghadap. “Tolong jangan gegabah, Max. Jika kau terbawa emosi, kau malah akan semakin jauh dari Gaby.” Selang satu dengusan, sang CEO meruncingkan tatapan. “Singkirkan tanganmu!” ucap pria itu dengan nada dingin dan mencekam. “Istrimu tidak ada di sini. Berhentilah menyia-nyiakan waktumu!” “Kalau memang benar begitu, untuk apa kau menghalangiku? Bukankah ini hanya mengulur waktu?” Sadar bahwa Max sedang tidak rasional, Sebastian akhirnya membiarkan sepupunya bebas. Dengan tampang datar, ia memperhatikan pria yang kacau itu menggeledah rumahnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (252)
Katrin Chaka Khan
bagus banget aku suka aku suka... lanjut terus y semoga karyanya semakin banyak lagi...
26/01/2022
3
Susan Utami
Cerita yg bagus,,, menarik, gak bosan,,happy ending,, the best author good job 👍👍😊
22/12/2021
5
SariRatna
bagusss bangettttt,di awal Uda kerasa daddigugnyaaa. suka banget tentang ceo CEO Kya giniijiii
bagus banget aku suka aku suka... lanjut terus y semoga karyanya semakin banyak lagi...
26/01/2022
3Cerita yg bagus,,, menarik, gak bosan,,happy ending,, the best author good job 👍👍😊
22/12/2021
5bagusss bangettttt,di awal Uda kerasa daddigugnyaaa. suka banget tentang ceo CEO Kya giniijiii
07/06/2025
0Lihat Semua