“Sampai bertemu nanti malam,” ucap Max berpamitan dengan sang istri. Gabriella pun mengangguk dengan senyum terkulum. Saat sang suami mengecup keningnya, ia terpejam menikmati sentuhan terakhir yang akan sangat dirindukan. “Semoga masalah di Quebracha segera teratasi. Kau harus bisa melindungi jabatan dan impianmu,” ujar wanita itu dengan suara bergetar. “Aku akan melakukan yang terbaik demimu,” sahut Max sebelum menelusuri rambut panjang istrinya. Setelah melebarkan senyuman, sang CEO mulai melangkah menuju mobil. Melihat punggung pria yang dicintainya menjauh, dada Gabriella semakin sesak. Wanita itu sadar bahwa dirinya masih belum siap berpisah. Tepat sebelum sang suami masuk ke mobil, ia berteriak memanggil, “Max!” Begitu membalikkan badan, sang pria langsung menyambut dekapan Gabriella. Alisnya sontak berkerut mencerna situasi. “Ada apa, Gaby?” Sang wanita menggeleng sembari mengeratkan dekapan. Selama tiga detik, ia menyerap kehangatan untuk mengatasi kerinduannya nanti. Setelah ketakutannya berhasil dikendalikan, Gabriella melepaskan kuncian lengannya dengan perlahan. “Aku hanya ingin memberimu semangat,” bohongnya tanpa terdeteksi. Senyum Max seketika mengembang. “Kau memang paling tahu cara untuk mencerahkan hariku. Terima kasih, Gaby.” Sembari meremas jemari di balik punggung, wanita itu memaksakan diri untuk mengangguk. Dengan lengkung bibir yang terancam musnah, ia menyaksikan sang suami masuk ke mobil, melambaikan tangan, dan menghilang dari pandangan. Perasaan hampa seketika memenuhi ruang hatinya. “Selamat tinggal, Max,” ucap Gabriella lirih. Setelah menarik napas berat, ia berbalik masuk ke rumah. “Sekarang saatnya untuk berpamitan dengan yang lain,” angguk wanita itu dengan tangan terkepal erat. Namun, begitu memasuki dapur, Gabriella terdiam menyaksikan keriuhan yang sedang berlangsung. Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan, si kepala pelayan turun tangan membuatkan adonan kue. “Nyonya? Ada apa datang kemari?” tanya Minnie saat dirinya mendapati Gabriella termenung di ambang pintu. Mendengar sapaan itu, si wanita pucat otomatis mengerjap. Selang satu tarikan napas, ia melangkah masuk dengan tangan yang saling meremas. “Apakah Bibi punya waktu? Aku ingin berbincang sebentar,” ucapnya kaku. “Apa yang ingin Nyonya bicarakan? Katakan saja sekarang,” ucap perempuan tua itu sebelum menyalakan mixer. Gabriella spontan meringis mendengar bunyi berisik dari mesin itu. Sadar bahwa pemilihan waktunya tidak tepat, ia pun menggeleng dan melambaikan tangan. “Tidak apa-apa, Bi,” ujarnya sambil mengencangkan suara. Setelah melihat anggukan sang pelayan, si wanita muda keluar dari dapur. Dengan langkah gontai dan wajah sendu, ia berjalan menaiki tangga. “Sepertinya, aku memang ditakdirkan untuk pergi tanpa pamit,” gumamnya dengan kepala tertunduk. Setibanya di kamar, Gabriella langsung membuka koper dan mulai mengisinya. Begitu semua perbekalan siap, ia dengan sigap melipat beberapa lembar kertas, membentuknya menjadi pesawat. “Kuharap, kau bisa terbang tinggi,” bisiknya kepada origami yang akan membawanya pergi. *** “Selamat pagi, Mia,” sapa Max dengan nada ceria. Wanita muda di balik meja sontak terbelalak. Dengan anggukan kaku, ia membalas sapaan sang CEO. “Selamat pagi, Tuan. Apakah ada kabar baik hari ini? Wajah Anda tampak sangat cerah.” Senyum terkulum langsung menjawab pertanyaan si sekretaris kedua. “Belum ada kabar baik. Aku masih belum menemukan pembelaan yang tepat.” Lengkung alis Mia seketika berubah menjadi kerutan. Melihat ekspresi itu, sang CEO mendengus geli. “Hari ini adalah ulang tahun istriku. Nanti malam, kami mengadakan pesta kecil di rumah. Datanglah kalau kau sempat,” ucap Max sukses meredakan kebingungan si wanita. “Oh, pantas saja Anda terlihat bahagia. Ternyata, Nona Gabriella sedang berulang tahun,” angguk Mia sambil memajukan bibir. “Bukan Nona Gabriella, tapi Nyonya Evans,” koreksi sang pria dengan mata menyipit. Hanya dalam sekejap, sang wanita mengangkat tangan menutupi mulutnya. “Maaf, Tuan. Saya sudah terbiasa memanggilnya begitu.” Max sontak melebarkan senyum, memaklumi. Dua detik kemudian, ia menarik napas cepat dan memasang tampang ragu. “Mia, apa boleh aku menanyakan sesuatu?” Si wanita muda otomatis mengangkat alis dan menyimak. “Begini ...,” ucap Max sembari mengetuk-ngetuk meja dengan jari, “aku masih belum tahu kado apa yang harus kuberikan kepadanya.” Tawa kecil hampir terlepas dari mulut si wanita muda. “Apakah Tuan ingin meminta saran dariku?” terkanya dengan mata yang dilebarkan. Sang pria mengangguk dengan alis melengkung tinggi. “Ya. Apa yang biasanya disukai wanita? Aku sudah mencari dari berbagai sumber, tapi butuh klarifikasi.” “Apa saja yang sudah Tuan ketahui?” tanya Mia seperti sedang menguji. “Bunga, perhiasan, boneka, pakaian mahal? Masalahnya, aku sudah pernah memberikan semua itu kepadanya.” Bibir si sekretaris sontak mengerucut. “Bagaimana dengan makan malam romantis?” “Tentu saja sudah pernah.” Mia otomatis memiringkan kepala dan menyudutkan mata ke atas. “Kalau begitu, berikan saja apa yang paling dia butuhkan. Atau mungkin, Tuan bisa membuat sesuatu untuk istri Anda.” “Membuat sesuatu?” Si sekretaris mengangguk. “Itu akan lebih romantis jika Anda memberinya kado yang dibuat sendiri dengan penuh cinta dan ketulusan.” Mendengar gagasan itu, Max mulai merenung. “Sesuatu yang bisa kubuat sendiri? Maket?” Tiba-tiba, mata pria itu melebar bersamaan dengan lengkung bibirnya. “Kau memang cerdas, Mia. Terima kasih.” Dengan langkah yang cepat, Max berjalan menuju ruang kerja. Bukannya mengurusi pekerjaan, sang CEO malah mulai membuat sketsa. Sesekali, ia bergeming, mencoba mengingat bentuk rumah Gabriella yang telah rata dengan tanah. Selang beberapa saat, rumah mini mulai terbentuk. “Kenapa aku baru mendapat ide ini sekarang? Aku bisa membuat yang lebih kompleks jika mulai lebih awal,” desah pria yang sama sekali belum menyentuh dokumen ataupun desktop. Ia seolah tidak peduli jika pekerjaannya terbengkalai. Kado untuk sang istri merupakan prioritas tertinggi bagi Max. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka. Sosok yang tidak terduga pun masuk dan membekukan wajah sang CEO. Kehangatan dalam hati Max sontak memudar.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (252)
Katrin Chaka Khan
bagus banget aku suka aku suka... lanjut terus y semoga karyanya semakin banyak lagi...
26/01/2022
3
Susan Utami
Cerita yg bagus,,, menarik, gak bosan,,happy ending,, the best author good job 👍👍😊
22/12/2021
5
SariRatna
bagusss bangettttt,di awal Uda kerasa daddigugnyaaa. suka banget tentang ceo CEO Kya giniijiii
bagus banget aku suka aku suka... lanjut terus y semoga karyanya semakin banyak lagi...
26/01/2022
3Cerita yg bagus,,, menarik, gak bosan,,happy ending,, the best author good job 👍👍😊
22/12/2021
5bagusss bangettttt,di awal Uda kerasa daddigugnyaaa. suka banget tentang ceo CEO Kya giniijiii
07/06/2025
0Lihat Semua