Cuaca kota Paris pagi itu sangat cerah. Diana bersemangat dan menarik tangan Mike untuk bergegas jalan-jalan keluar. “Ke mana kita akan pergi pagi ini?” tanya Mike yang sama antusiasnya. Diana mengeluarkan senjata andalan, sebuah peta kota Paris dari tas tangan. Mike mengernyit menatap peta yang Diana pegang. “Diana, kenapa kau membawa benda itu?” tanya Mike tak suka. “Tentu saja untuk keliling Paris agar tidak tersesat,” sungutnya pada Mike. Mike menggeleng melihat kepolosan istrinya. “Diana, aku ini Parisian. Lahir dan tumbuh di kota ini, kita tak mungkin tersesat, karena aku yang akan menjadi tour guidemu,” katanya, menatap Diana nanar. Diana menertawakan kebodohannya. Wajahnya merona, malu dengan dirinya. “Bagaimana aku bisa lupa kalau suamiku orang Paris.” Diana hanya nyengir kuda mendapati tatapan prihatin Mike. “Baiklah. Ke mana kau membawaku?” tanyanya. “Kita akan keliling tempat-tempat bersejarah di Paris.” Mike membawa Diana ke halaman. Ada sepeda motor Ducati berwarna metalik terparkir manis di sana. “Kita naik Motor?” tanya Diana heran. Mike mengangguk, membuat Diana ragu menaikinya. Mike memasangkan helm ke kepala Diana. Memastikan pengamannya terpasang sempurna. “Kau sangat manis memakai itu,” pujinya, dan menoel hidung Diana. “Ayo!” serunya bersemangat. Mike membawa Ducatinya di jalan raya sepanjang suangai Seine. Terlihat banyak pejalan kaki dan mereka yang menikmati indahnya pemandangan sungai yang membelah Paris. Mereka melaju dengan kecepatan rendah, agar bisa menikmati suasana. Diana memejamkan mata sambil mengeratkan rangkulannya di pinggang Mike, dan menempelkan wajah di punggung pria itu. Dia berharap waktu berhenti sejenak. Aku ingin setidaknya merasakan kehangatan punggung-mu yang selalu menjadi sandaranku. Merasakan debar jantung-mu yang senada dengan milikku.Tanpa kau sadari cinta yang kita miliki telah bermetamorfosis lebih indah dari apa yang pernah aku bayangkan. Aku merasa hidup saat berada di dekatmu. Kau yang memberikan kenyamanan, kau yang menawarkan cinta hingga aku lupa rasanya sakit, kaulah satu-satunya pria yang menjagaku di sisimu. Akan menjadi satu-satunya pria hingga napas terakhirku. Diana semakin mengeratkan rangkulan dan menyelami pikirannya. Menandai setiap momen yang telah dilalui bersama pria yang saat ini dicintainya. “Kumohon jaga aku di sisimu dan bawa ke mana pun kau melangkahkan kakimu,” bisiknya pada punggung Mike, namun pria itu tentu tidak akan mendengar bisikan tersebut. * Mereka terus berkendara, terlihat menara Eiffel yang tak jauh dari jalan yang mereka lewati. Diana mengernyit heran saat Mike melewatinya begitu saja. Kini mereka juga melewati Grand Palais, merupakan bangunan bekas istana yang dirubah menjadi tempat pameran dan museum ilmiah. Mike terus membawa Diana di sepanjang sungai Seine tanpa singgah di suatu tempat. Diana membiarkan saja, dan menikmati kebersamaan mereka sembari hatinya mengakui Paris memang indah dengan gaya arsitekturnya. Kota itu didominasi bangunan besar berwarna kuning tanah, memberi kesan klasik kental. Mike berhenti di pelataran parkir museum De Lovre. Piramida Lovre atau piramida terbalik menjadi pemandangan yang pertama kali dilihat di luar museum sebagai pintu masuk utama museum, juga ada air mancur di sana. Diana menatap bangunan bekas istana Perancis itu. Dia terkagum-kagum melihat keindahannya. “Kita akan memulai tour dari sini,” kata Mike memandang Diana dengan binar matanya. “Aku tidak suka museum!” ujar Diana ketus. Mike menatap Diana sambil berpikir. “Kau tidak ingin melihat berbagai macam karya seni seperti lukisan Monalisa? Tempat ini sangat menarik dan banyak karya seni yang indah.” tanya Mike datar. “Tidak. Aku ingin sesuatu yang romantis.” Diana bersidekap. Pertanda tidak mau dibantah. Mike mengusap kepalanya dengan kasar. Bingung ingin mengajak Diana ke mana. Diana melihat sebuah jembatan yang di sisi-sisinya penuh dengan gembok, tak jauh dari tempatnya berdiri. “Apa itu?” tunjuknya pada jembatan yang melintasi sungai Seine. Menghubungkan museum dengan Instute de France. “Itu Pont des Arts, tempat memasangkan gembok cinta bagi pasangan kekasih,” jawab Mike tenang. Mike tidak menyadari mata Diana yang membulat mendengar perkataannya. Wanita itu langsung menyeret Mike ke sana. “Kenapa kau tidak bilang kalau ada tempat seperti ini di Paris?” sungutnya sambil membeli sepasang gembok pada penjual kaki lima di sana. “Ada tiga tempat seperti ini di Paris, dan kurasa hal seperti itu sangat konyol.” Mike terlihat tak berminat. Diana menatap Mike dengan perasaan sedih. “Kau memang bukan suami yang romantis,” ucap Diana sebal. Mike hanya menghela napas, hal yang sama pernah ia dengar dari mulut sahabatnya, Jake. “Tulis harapanmu dan aku juga akan melakukan hal yang sama.” Diana memberikan sebuah gembok pada Mike, dan wanita itu kini sibuk menuliskan sesuatu, membuat Mike tergerak melakukan hal yang sama meski dirinya menolak untuk itu. “Apa yang kau tulis?” tanya Mike ingin tahu. “Hanya permintaan kecil.” Diana mencari tempat untuk memasang gembok mereka. “Selesai,” katanya puas saat melihat gembok Mike dan dirinya terpasang di sana. “Hanya seperti ini saja?” Mike menatap dua gembok yang saling mengait di tepi jembatan dengan pandangan tidak percaya, baginya itu terlalu sederhana, dan ... buang-buang waktu. Diana mengangguk, kemudian melemparkan kunci gembok mereka ke sungai Seine. Mike lagi-lagi menggeleng, dan memilih diam. Dari tempatnya berdiri, Diana dapat melihat Katedral Notre Dame dengan arsitektur bergaya Gothic. Terletak di sebuah pulau Ile De La Cite di tengah sungai Seine. “Ada taman bunga di sana. Kau mau melihatnya?” bisik Mike sembari memeluk Diana dari belakang. Hanya anggukan yang Mike dapat sebagai jawaban. Mike membawa Diana ke palau Ile De La Cite, mereka berada di bagian belakang bangunan Notre Dame Chatedral, tampak taman nan indah terbentang hingga ke bagian samping bangunan dan deretan pohon limau juga elm yang menaungi bangku-bangku taman. Dari tempatnya duduk, Diana bisa melihat pemandangan katedral, keindahan sungai Seine yang membentang, dan juga suasana taman yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Ada fountain kecil di tengah taman tepat di depan mereka. Berkali-kali Diana menatap Mike yang memejamkan mata menikmati udara musim semi dipenuhi wangi bunga bertebaran, serta suara kicau burung nan merdu menambah romantis suasana di taman itu. Pandangan Diana terkunci pada sepasang muda-mudi yang sedang berciuman tak jauh dari bangku mereka, membuatnya merona dan membuang pandangan tepat ke wajah Mike. “Kau ingin seperti itu?” tanya Mike geli melihat pipi memerah Diana. Wanita itu menggeleng cepat, membuat Mike khawatir lehernya patah. Diana memainkan jari-jarinya, pertanda gugup. Dia malu mengatakannya. “Diana, lihat ke mari!” seru Mike hingga membuat Diana mengangkat wajah dan mendapati wajah Mike yang hanya satu centi di depan wajahnya. Mike menahan tawa saat melihat keterkejutan di mata Diana. “Tidak lucu, kalau kau berniat ingin menciumku lakukan saja!” dengusnya kesal. “Kau terlihat lucu seperti ini.” Mike menekan pipi Diana hingga bibir mungilnya maju ke depan, tanpa aba-aba Mike langsung mengecupnya pelan. “Sudahkan,” ucap Mike, mengulas senyum dan menatap Diana yang malah menekuk wajah kesalnya. “Kenapa wajahmu begitu?” tanya Mike heran. Diana mendorong Mike lalu berdiri dari tempatnya duduk. “Mike bodoh!” teriaknya sambil berjalan menjauh, berkali-kali Diana menghentakkan kaki, pertanda jengkel. Ciuman yang ia maksud bukan seperti itu. Diana merasa diperlakukan seperti anak kecil. “Apa dia tidak bisa bersikap dewasa sekli saja. Itu bukan ciuman, anak-anak saja bisa membedakan mana ciuman dengan menempelkan bibir!” dumelnya. Diana memilih duduk di bangku yang jauh dari tempatnya tadi. Lama menunggu, membuatnya penasaran kenapa Mike tidak mengejar. Diana melihat ke sekeliling taman dan tempatnya tadi, tapi tidak melihat Mike di mana pun. “Mike?” panggilnya panik. “Aku di sini,” sahut Mike dari arah belakang. Diana memutar tubuh sedikit dan memandang Mike sengit yang kini berjalan mendekat dengan dua es krim di tangan. “Ini...!” Mike memberikan es krim rasa cokelat kepada Diana. Wanita itu mengambilnya dengan wajah merengut. “Kenapa kau masih memandangku seperti itu? Apa aku masih melakukan kesalahan?” tanyanya sembari duduk di sebelah Diana. “Bukan ciuman seperti itu yang kuinginkan.” Mike menggaruk kepalanya, lagi-lagi mereka bertengkar karena hal kecil. “Aku akan memenuhi keinginanmu, nanti, tidak di sini.” Diana masih memperlihatkan kekesalannya, namun akhirnya dia diam karena sadar bahwa Mike tidak suka mengumbar kemesraan di depan umum. Diana memakan es krimnya dan sekali-sekali melirik Mike yang tampak santai. Senyum jahil tersungging di wajah cantiknya, dengan sengaja Diana membuat mulutnya belepotan es krim dan menarik lengan jaket kulit Mike. Meminta perhatian. Mike mengalihkan perhatian pada Diana dengan tatapan bingung saat wanita itu menyodorkan wajahnya ke arah Mike dan menunjuk-nunjuk bibirnya yang dilumuri es krim. Ia tersenyum geli melihat kelakuan Diana. Tangan Mike merogoh seseuatu dari celananya, membuat Diana penasaran, dan selembar sapu tangan kini berada di genggaman Mike. Ia membersihkan wajah Diana dengan lembut menggunakan benda itu. Diana menatap kesal pada Mike, dia ingin setidaknya mencakar atau menggigit Mike saat ini juga. Tangan Diana merebut sapu tangan itu dan membuangnya sembarangan. Mike mendelik tajam karena perbuatannya, tapi Diana tidak peduli. Mike menghela napas, lalu membaringkan diri di atas pangkuan Diana. Wanita itu ingin protes karena Mike tidak minta maaf atau melakukan sesuatu untuk membujuknya. “Lebih baik kita nikmati suasana ini, jangan pikirkan yang tadi,” ujar Mike dengan santai. Mata Mike terpejam, mencoba untuk menyatukan hati dengan taman yang tenang. Diana memandang sekitar, mencoba menikmati suasana hingga akhirnya Kepalanya menunduk menatap Mike yang sedang tertidur di pangkuannya. Dia mengelus wajah yang selalu dirindukannya, wajah pria yang dicintainya. Dengkur halus Mike membuat Diana bersyukur bahwa pria itu ada. “Aku sangat mencintaimu. Tetaplah menjadi pilar kokoh dalam kehidupanku.” Diana mendekatkan wajah di atas wajah Mike dan menciumnya dengan hati-hati. “Aku juga mencintaimu!” Mike membuka mata dan menatap Diana. Dia membalas ciuman Diana. “Tetaplah berdiri di sisiku, karena aku bukan pria sempurna yang terus kuat untukmu.” Mike tersenyum dengan rona bahagia di wajahnya. “Ayo, masih banyak yang harus kita lihat.” Mike bangkit dari pangkuan Diana. Dia mengajak Diana berkeliling di pulau itu, melihat tempat-tempat yang banyak dikunjungi wisatawan seperti kawasan penjual bunga dan benda-benda unik di Place Louis Lepine, taman Dauphine, Pont nuf yang merupakan jembatan tertua di Paris, serta yang terakhir Parc du Vert-Galant, taman di hilir sungai Seine. “Aku suka tempat ini,” bisik Diana sebelum mereka meninggalkan pulau tersebut. Mike puas melihat senyum terkembang di wajah Diana. “Ke mana kita akan pergi selanjutnya?” tanya Diana penasaran dengan kelanjutan bulan madu mereka. “Menara Eiffel.” Mike menuntun Diana ke atas motor. Mereka kembali berkendara melewati sungai Seine, tak berapa lama, keduanya tiba di taman Champ de Mars. Meskipun sudah sore dan matahari mulai menyembunyikan sinarnya, tempat itu masih terlihat padat oleh wiasatawan. Selama di taman yang ada di dekat menara, Mike selalu menggenggam tangan Diana, mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang baru saja meresmikan hubungan. Sengaja Mike membawa Diana duduk di atas rumput yang ada di taman, di bawah menara Eiffel. Dari sana terlihat sungai Seine yang berada di depan mereka serta beberapa pohon berjejer rapi membentuk barisan. “Aku harap kita bisa tinggal di sini,” ucap Diana pada Mike sambil menengadah menatap semburat merah di langit, pertanda matahari akan kembali ke peraduan. “Kau benar-benar ingin tinggal di tempat ini?” tanya Mike tak percaya. Sebenarnya sudah lama ia ingin bertanya pada Diana apakah mereka bisa menetap di Paris, dan perkataan Diana memberikan harapan padanya. “Ya, aku tidak keberatan asal kau selalu di sisiku.” Diana merangkul tangan Mike. “Mike mengelus kepala Diana lembut sembari berbisik, “Terima kasih, aku memilikimu dan juga kota kelahiranku. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini.” Diana mendongak, mengadu pandangan dengan Mike. “Tidak ada yang lebih membahagikan dari aku dan Paris?” Mike mengangguk pasti. “Apakah ...” Diana terdiam. Dia ingin menanyakan perihal anak, tapi sepertinya sekarang bukan saat yang tepat. Dia tidak ingin acara bulan madu mereka berakhir dengan perang dingin. Diana mengalihkan perhatian dan melihat pasangan yang sedang melakukan sesi foto Prewedding dengan menara Eiffel sebagai background, dia menatap mereka lekat. Mike menyadari arah pandang Diana, ia tahu apa yang Diana pikirkan. “Kau ingin seperti mereka?” tanyanya menggoda. Diana menyikut pinggang Mike. “Berhenti tersenyum seperti itu, lagi pula kita sudah menikah, untuk apa melakukannya!” sungutnya kesal. Mike menaikkan sebelah alisnya. “Apa kau lupa kalau kita hanya memiliki satu foto pernikahan?” Mike menunjukkan wajah bersalah. Diana menggeleng menanggapi kenyataan itu. “Itu karena kau menikahiku secara paksa, bahkan kau tidak romantis saat melamarku.” Diana ingat kejadian itu, saat Mike tiba-tiba masuk ke kamarnya dan bilang sepuluh hari lagi mereka akan menikah. Mike meringis. “Ya, aku tahu betapa bejatnya aku saat itu. Kuakaui itu bukan lamaran. Maafkan aku,” ucapnya, menatap lurus pada mata Diana. Diana menarik tangan Mike dan menaruhnya di dada kirinya. “Tak perlu minta maaf. Karena kau sudah membayar semuanya dengan memberikan hatimu padaku, itu sudah cukup.” Diana menyunggingkan senyum tulus, membuat Mike luluh dan ingin menarik Diana dalam pelukannya saat itu juga. “Ayo kita naik ke atas, aku tidak sabar untuk melihat kota Paris dari puncak menara.” Diana bangkit dari duduk dan menarik Mike yang tampak malas untuk mengangkat bokongnya sendiri. Diana sangat bersemangat untuk segera tiba di puncak menara. Mereka menaiki lift sampai ke atas. Setibanya di ketinggian 276 meter, Mike menarik Diana di antara kerumunan hingga mereka sampai ke pinggir yang langsung menyuguhkan pemandangan kota Paris, membentang di depan mereka. Diana menahan napas, mengagumi kota Paris yang diterangi lampu di sudut kota. Kota itu terlihat Indah dari atas, lampu yang meneranginya seperti hamparan berlian yang bertebaran di atas kertas hitam, ditambah langit yang dipenuhi bintang seperti bercermin dengan lampu-lampu yang menghiasi kota. “Indah bukan,” bisik Mike yang berdiri di belakang. Diana hanya bisa mengangguk. “Tapi kau lebih indah dari pemandangan ini.” Godanya. Diana menatap Mike dengan merona. Pandangan Diana jauh menerawang ke depan. Merasakan kedamaian hatinya di tempat romantis itu, hingga dirinya merasa sesuatu yang dingin melingkari lehernya, dia menunduk ke bawah dan terkejut saat melihat sebuah kalung berlian yang memanatulkan cahaya kota Paris kini melingkar manis di lehernya yang jenjang. Dengan gerakan cepat Diana berbalik, menatap Mike melewati bulu matanya yang lentik. Pria itu melihat intens ke arahnya. “Untukmu, sebagia hadiah jalan-jalan hari ini.” Tangan Mike merapikan rambut panjang Diana dan memperbaiki letak kalung yang tampak cantik di leher jenjang istrinya. Mata Diana berbinar, tanpa sadar air matanya meluncur melewati pipi. Itu air mata haru atas kebahagain yang telah ia terima. Diana merasa kebahagiaannya tak pernah habis. Mike memberikannya satu per satu secara perlahan. Kejutan demi kejutan dalam hidupnya walau sebelum ini mereka melewati semua dengan langkah sakit nyaris tertatih. “Terima kasih,” katanya serak. Mike menarik wajah Diana hingga tak ada jarak di antara mereka, mengecup apa yang memang menjadi miliknya, dan memeluk tubuh rapuh itu. Mereka berbagi pada apa yang mereka lalui. Rasa sakit, bahagia hingga tak ada rahasia yang disembunyikan antara keduanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Penasaran
06/07/2025
0bagus bgt ceritanya
06/05/2025
0bagusss
19/03/2025
0Lihat Semua