logo text

Chapter 30: Sadarilah, Aku Juga Mencintainya

Jika ada yang bilang, bidadari hanya ada di surga, maka Mike bisa pastikan bahwa orang itu salah. Karena pada kenyataannya ada satu bidadari yang kini terlelap dalam dekapannya. Dia bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi bidadarinya, karena sejak sejam yang lalu Mike tetap mempertahankan posisi dengan tubuh menyamping, melilitkan tangan di sekitar tubuh Diana, menjaganya agar tidak terbangun sembari memandangi wajah cantik yang mampu menundukkan pandangannya untuk selalu menatap wajah itu. Mike beregerak sehalus mungkin untuk bisa menyentuh wajah Diana, menjalankan jari-jemarinya di sepanjang pipi, menyelipkan anak rambut yang menghalangi kecantikan istrinya.
Seulas senyum mengumbar manis di sudut bibir Mike ketika Diana menggeliat semakin merapat. Sengaja dia melonggarkan dekapan agar Diana lebih leluasa bergerak, mencari kenyamanan yang dibutuhkannya. Detak jam yang menunjukkan pukul empat pagi tidak lagi menjadi patokan seorang Mike Hill yang sangat disiplin waktu. Ini kali pertama baginya, mengabaikan jam tidur yang sangat dijaga hanya untuk bersama wanita yang kini melingkarkan tangan di tubuh setengah telanjangnya dan bernapas tepat di lehernya, mengirimkan gelenyar di setiap inti selnya.
Oh GOD! Aku harus pergi dari sini. Batinnya sembari mengurai pelukan Diana dan bergerak hati-hati, menuruni tempat tidur dan berjalan tanpa suara ke dalam kamar mandi, meninggalkan Diana yang masih terlelap di atas tempat tidur dengan tubuh hanya berbalut selimut.
***
Diana mengerjabkan mata, melirik jam di dinding. Pukul tujuh lewat dua puluh tiga. Dia menggeliat, meringis merasakan sesuatu di antara pangkal paha dan juga sekujur tubuhnya. Ingatan tadi malam menyadarkan Diana dengan apa yang sudah terjadi. Dia menutupi wajah dengan bantal dan menjerit, merasa malu dengan sikap konyolnya yang dengan berani merayu suaminya. Ya Tuhan, Mike itu pria normal. Wajar saja dia juga mau melakukannya. Rutuk Diana sembari berguling di atas tempat tidur, namun dia pun tersadar saat melihat ruangan yang ditempatinya saat ini bukanlah kamarnya sendiri. Diana segera bangkit dan melihat sekitar.
Dia menatap hampa pada sisi di mana seharusnya Mike berbaring, karena ternyata suaminya tidak ada di sana. Menyisakan space kosong yang terasa dingin dalam sentuhan jari-jemarinya, mengisyaratkan bahwa tempat itu sudah lama ditinggalkan. Diana melirik kamar mandi, berharap Mike ada di sana, tetapi dia tahu pria itu sudah pergi meninggalkannya sejak tadi, membuat Diana merasa sedih. Tanpa sadar air matanya turun membasahi pipi. Ini kali pertama bagi Diana, dan tidak bisakah pria itu menunggunya sampai dia terjaga, dan menanyakan bagaimana perasaannya, atau mungkin menemaninya sedikit lebih lama.
Harga diri Diana benar-benar terluka. Dia bukan seorang wanita murahan yang ditinggal begitu saja setelah menghabiskan satu malam bersama pria hidung belang. Mike itu suaminya, bagaimana mungkin suaminya tega membiarkannya begitu saja setelah menghabiskan malam bersama.
“Aku membencimu!” Diana terisak, menangis sembari memukul bantal dan melemparinya ke segala arah, menumpahkan rasa sakitnya karena ditinggal begitu saja. “Kau tega melakukan ini padaku,” tangisnya sembari mengusap kedua matanya yang basah. ”Ayah... Ayah...,” ratapnya dengan suara parau. “Dasar Mike jelek, jahat, menyebalkan! Kau pria tidak berhati! Aku benar-benar membencimu!”
“Aku sudah tahu, kau mengatakannya berkali-kali hingga membuatku bosan.”
Diana mengangkat wajahnya, terkejut saat mendengar suara Mike yang kini berada di ambang pintu, menatapnya datar. Diana bisa merasakan pipinya memerah, panas menjalar di tubuh hingga membuat dia ingin bersembunyi dari pria di hadapannya.
Mike berjalan gontai menuju meja di tengah ruangan, mengambil MacBook, kunci mobil dan dompet. Dia berbalik, menatap Diana yang kini tampak tersipu malu-malu, tetapi masih ada sisa kemarahan di mata bulat jernih istrinya.
“Kau ingin melakukan protes padaku? Katakan saja sekarang sebelum aku pergi untuk bisnis keluar kota selama dua hari,” katanya dengan ketenangan yang membuat Diana gelisah.
Wanita itu menggeleng. “Aku ... tidak ...,“ rasanya lidahnya begitu kaku dan sulit untuk digerakkan.
“Lucu, tadi kau memaki di belakangku dan setelah aku berada di hadapanmu, tidak sedikit pun suaramu keluar mengajukan protes dan menjelek-jelekkan diriku.”
Diana merasa emosinya tersulut. Berani-beraninya Mike mengatakan hal itu dengan suara yang jelas merendahkan. Baru tadi malam mereka melakukan ... ah, sudahlah, pada akhirnya dia merasa usahanya kali ini sia-sia. Pernikahan normal yang diharapkannya masih jauh dari jangkauan.
“Aku tidak perlu mengatakannya bukan, karena kau juga sudah mendengarnya tadi,” ucap Diana sembari melilitkan selimut di sekitar tubuhnya dan bergerak menuruni tempat tidur dengan susah payah. Dia sudah seperti ulat bulu gendut dalam balutan selimut yang lumayan besar dan tebal. Langkahnya teramat pelan menuju pintu. Mike yang tidak sabar melihat gerakan Diana seperti siput akhirnya buka suara dari tempatnya berdiri tadi.
“Butuh bantuan?”
Diana berhenti, melemparkan tatapan tajam pada Mike dan membuang wajah, kembali melanjutkan langkah siputnya. Mike menggeleng, tersenyum geli melihat sikap menggemaskan Diana yang jual mahal. Dia tahu Diana sangat ingin dibantu, tetapi bukan Mike Hill namanya jika dia membantu Diana tanpa wanita itu meminta lebih dahulu, egonya menahan dirinya melakukan hal itu. Setelah sampai di pintu, Diana menahan selimut yang melilit tubuhnya dan berusaha memutar gagang pintu.
Dia terkejut saat melihat seorang pria tengah berdiri di hadapannya dengan satu tangan menggantung di udara, seperti hendak mengetuk. Jeritan kecil lolos dari bibir Diana. Mike melintasi ruangan dengan langkah lebar, menarik istrinya ke dalam dekapannya dan berbalik memunggungi orang yang berada di luar untuk menutupi tubuh istrinya yang hanya dibalut selimut.
“Jake!” bentaknya kesal.
Jake yang masih berada di depan pintu, mengerjabkan mata, dan akhirnya menutup pintu dan berbalik.
“Maaf Mike, aku tidak tahu,” katanya dari luar.
Mike menggeram, dan melihat Diana yang masih berada di dalam dekapannya. Wanita itu tampak malu. Tentu saja, selimut itu hanya menutupi sebatas dada ke bawah, menyisakan bahu telanjangnya. Bukan hanya itu, Jake pasti tahu apa yang sudah mereka lakukan dari apa yang Diana pakai, dan hal itu jugalah yang membuat Diana merasa malu.
“Tunggu di sini!” ucap Mike tegas. Diana mengangguk kaku.
Suara pintu ditutup menandakan Mike baru saja keluar dari kamar. Diana meremas kedua tangannya dan bergerak gelisah menuju tempat tidur. Masih dalam balutan selimut, dia berbaring. Menunggu Mike datang. Diana takut menyentuh pakaian pria itu, sehingga dia tidak punya pilihan. Gaun malamnya sudah tidak ada di kamar, sepertinya Mike sudah membuangnya tanpa sepengetahuan dirinya. Tentu saja. Pria itu Mr. Almost Perfect, selalu menjaga miliknya sebersih mungkin. Baju-bajunya pasti sudah melayang di tong sampah.
***
“Maaf Mike, aku benar-benar tidak tahu,” kata Jake, merasa bersalah. Terutama saat dia melihat wajah terkejut Diana ketika mata mereka bertemu pandang. Kini mereka berada di perpustakaan pribadi Mike. Keduanya duduk saling berhadapan.
Mike hanya mengangguk. “Jadi, kenapa kau datang sepagi ini tanpa memberitahuku lebih dahulu?” tanyanya tanpa memperpanjang perkara.
Jake mengeluarkan sebuah map. “Kau harus menandatangani ini sebelum pergi.” Dia memberikan kertas kontrak kerja sama yang sudah mereka sepakati kemarin dengan salah satu perusahaan konstruksi yang akan membantu pembangunan resort di bawah kaki Bukit Canang.
“Mereka sudah merevisi sesuai kesepakatan?”
Jake mengangguk. “Aku sudah melihat detailnya, tidak ada yang terlewat, sesuai kesepakatan kerja sama, tetapi jika kau tidak puas, kita bisa melakukan rapat ulang.”
Mike membacanya dengan seksama, tentunya dia tidak ingin kerugian hanya karena ada kesalahan dalam surat kontrak tersebut. Setelah merasa yakin, dia pun menandatanganinya dan memberikanya pada Jake.
“Aku titipkan perusahaan padamu selama dua hari ini,” kata Mike sembari merapikan dasi dan letak jam tangannya.
Jake menatap Mike lekat, dia meneliti wajah sahabatnya yang jauh lebih bersemangat dari bisanya dan Jake tahu alasannya. Dia menggeleng dan menatap Mike dengan tajam. Menyadari pandangan Jake barusan, Mike pun berdehem.
“Apa?” tanyanya ketus.
Jake tersenyum simpul. “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.”
Alis Mike bertaut dengan kening berkerut. “Katakan dengan jelas, jangan membuatku menebak maksud perkataanmu.”
Jake merubah posisinya dan menjawab dengan suara tenang. “Kau menidurinya.”
Mike tertawa mendengar itu. “Tentu saja, dia istriku Jake.”
“Bukan itu maksudku Mike,” sela Jake. Mike menatap Jake dengan tidak sabar.
“Lalu apa?”
“Aku sudah mengamatimu sejak kau memintaku membawa Diana ke rumahmu. Awalnya kau benar-benar bersemangat ingin menyakitinya, tetapi dari apa yang kulihat selama ini kau sangat menjaganya.”
“Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Sekarang apa yang membuatmu tidak puas?”
Jake menatap Mike yang mengatupkan bibir dengan rahang mengeras, tanda tidak senang dengan topik pembahasan mereka.
“Mike, dengarkan aku. Kau mencintai Diana, tetapi kau tidak mengakuinya.”
Tatapan Mike menggelap. “Cukup! Aku tidak mau memahas tentang Diana lagi.”
“Lalu mengapa kau begitu menjaganya? Jika kau benar-benar ingin menyakitinya, mengapa kau tidak melakukan hal itu? Kau bahkan nyaris gila saat dia sakit, ketika dia terluka, dan rela menghabiskan uangmu dengan cuma-cuma hanya untuk melepasnya dari jerat rentenir yang pastinya akan menghancurkan hidupnya. Katakan mengapa kau begitu peduli padanya jika itu bukan cinta.”
Mike benar-benar menahan diri untuk tidak memukul sahabatnya. Dia menutup mata sebentar dan membukanya lagi. Sebuah senyum simpul merangkai kedua sudut bibirnya dengan lengkung sempurna.
“Kau mengenalku dengan baik, Jake. Diana sama halnya dengan benda berhargaku lainnya, seperti halnya Chevi—mobil Chevrolet— yang selalu kujaga, maka seperti itu pula Diana bagiku. Aku tidak ingin memiliki sesuatu yang rusak, dan tidak layak disimpan.”
Jake tertawa sarkartis. “Ya, seperti itulah dirimu. Kau menyamainya dengan benda mati, tetapi kau menidurinya. Sekarang aku hanya tinggal menunggu kapan kau menyadari kesalahan ini. Dan bila saatnya tiba, jangan pinjam bahuku, karena aku sudah menyediakannya untuk mendukung Diana.” Setelah mengatakannya Jake berdiri. “Mengenai perusahaan, aku akan menjaganya.”

Komentar Buku (819)

  • avatar
    Marina Nainggolan

    Penasaran

    06/07/2025

      0
  • avatar
    laudyanadin

    bagus bgt ceritanya

    06/05/2025

      0
  • avatar
    AndiniReva

    bagusss

    19/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru