Kaina malam ini tidak bisa tidur nyenyak, ia memikirkan keadaan Rangga. Rasa penasaran nya semakin besar terhadap kepergian Rangga ke London. Kaina menduga bahwa kepergian Rangga tidak lain ada hubungan nya dengan Brian. Kaina mencoba untuk tidur namun rasa gelisah membuat dirinya tidak bisa tertidur dengan tenang. Miring kanan lalu miring kiri mencoba agar dia bisa tertidur namun tetap saja tidak bisa. Kaina langsung bangun dari tidurnya, duduk di atas ranjang sambil lalu mengusap wajah nya. "Hm, semoga saja tidak terjadi apapun terhadap Rangga di sana, semoga dia baik baik saja," ucap Kaina dengan penuh harapan. "Hebat sekali keluarga ini, bisa keluar negeri dengan bahasa Inggris yang sudah sangat fasih dalam berbicara. Keluarga kaya, rasanya malu sekali aku berada di bagian keluarga ini juga meskipun tidak pernah di anggap oleh Mas Brian dan juga orang tuanya masih belum tau pernikahan ini. Menyedihkan sekali diriku" tutur nya. Kaina diam beberapa detik. Dia menatap sekeliling nya, mewah dan terkesan indah. Rumah yang sebelumnya belum pernah ia miliki dan di rasakan nya. "Andai pernikahan ini benar-benar saling mencintai satu sama lain mungkin pernikahan ini akan indah sekali namun itu hanya khayalan aku saja, heh!" Kaina melihat ke arah sebelahnya, tempat yang pernah Brian tempati pada malam kemarin, senyuman timbul di bibirnya. Pelukan Brian di waktu itu masih berhasil membuat Kaina termabuk asmara. Dia mengusap usap lembut tempat itu dengan senyuman. Kaina ingin sekali merasakan pelukan itu lagi, kehangatan yang sangat luar biasa ia rasakan walaupun hanya sekejap saja. "Aku sayang sama kamu Mas Brian, entah kenapa kamu masih belum bisa menganggap aku sebagai istri kamu. Aku sadar bahwa pernikahan kita hanya sebuah jalan untuk membalaskan dendam saja kepada Kak Tita." Kaina tersenyum pasrah. Sebenarnya dia sangat lelah berada di balik permainan Brian itu, ingin sekali rasanya ia lari dari lingkaran hitam yang di buat oleh Brian lalu menjauh hingga dia tenang. Kaina menyibak selimutnya lalu bangun, jam masih menunjukkan pukul tengah malam. Kaina berjalan keluar pintu untuk mengambil minuman terlebih dahulu baru setelah itu dia akan kembali tidur lagi. Kaina menutup pintunya lalu lanjut berjalan ke arah dapur. Saat dia sudah berada di dapur, dia terkejut melihat lampu di dapur tiba tiba hidup dengan sendirinys lalu dia juga melihat Brian yang sepertinya sedang mencari sesuatu di dalam kulkas. Kaina bingung dengan itu, bisa bisanya Brian tidak tidur di jam ini bukannya besok Brian harus bekerja. Kaina menghampiri Brian yang sibuk mencari sesuatu di dalam kulkas tersebut. "Mas Brian cari sesuatu?" tanya Kaina pelan berusaha untuk tidak membuat Brian kaget dengan kehadirannya itu. Brian langsungbmelihat ke arah sumber suara. "Kamu masih belum tidur?" tanyanya balik. Kaina menggeleng-geleng kan kepala nya. "Enggak aku gak bisa tidur Mas," jawab Kaina. "Terus ngapain ke sini?" tanya Brian dengan nada tidak suka. "Aku haus mas mau mengambil air minum. Kalau mas Brian ngapain malam begini di dapur?" "Aku sedang mencari buah pisang tapi gak ada, apa kamu gak beli buah tadi ke pasar?" tanya Brian kesal. "Aku beli kok Mas, ada di situ Mas, sini biar aku yang mencarinya." Kaina mendekat ke arah Kulkas itu juga sementara Brian melangkah untuk menjauh dari sebelah Kaina. Isi di dalam kulkas itu sudah berantakan karena Brian mencarinya dengan mengacak acak semua isi di kulkas, jadinya Kaina juga sedikit kesusahan untuk mencari semua buah yang telah di tata rapi tadi termasuk buah pisang yang di cari Brian itu. "Mana katanya beli!" Brian sudah sangat kesal. "Tadi aku beli kok Mas! Tapi karena kamu telah mengacak acak semua isi kulkas ini jadinya berantakan dan sedikit kesusahan aku mencarinya," balas Kaina. "Hedeh, bilang saja kalau kamu tadi gak beli pisang tapi malah pacaran di pinggir jalan." cibir Brian sambil melipat kedua tangan nya di depan dada dengan sangat angkuh nya. Kaina sontak melihat ke arah Brian. "Maksudnya Mas Brian apa? Aku bingung dan tidak mengerti sama sekali." Kaina bingung. "Kamu tadi pagi pacaran kan di pinggir jalan sama laki laki? Sepertinya laki laki itu seumuran dengan kamu kalau bukan pacar kamu siapa lagi? Ngaku aja kamu!" Brian tiba-tiba tidak terima dengan itu. "Siapa Mas? Aku gak tau, lagian aku gak pacaran dengan siapapun!" bantah Kaina langsung. Brian menatap wajah Kaina. Dia menutup pintu kulkas tersebut dengan sangat kasar. "Gak usah pura pura polos kamu, jangan kira aku bodoh bisa kamu bodohi seperti ini! Aku tau kamu itu punya pacar kan namun kamu umpetin dari aku, iya kan?!" Kaina mengerutkan kedua alisnya, dia sangat terkejut dengan tuduhan itu padahal yang sebenarnya Kaina tidak pernah mempunyai hubungan dengan siapapun. "Kamu jangan menuduh aku Mas! Aku gak pernah pacaran dengan siapapun dari waktu aku kecil hingga menikah dengan kamu, aku gak pernah merasakan seperti apa itu pacaran! Sumpah Mas!" Kaina membantah tuduhan itu dengan keras. Brian tersenyum sinis kepada Kaina. "Masih gak mau mengaku juga kamu, ah? Sudah jelas aku melihat kamu tadi pagi di pinggir jalan. Kamu mengelus ngelus kepala si cowok itu iya kan?" "Oh itu, iya itu ak___." Ucapan itu langsung di comot seenaknya oleh Brian. "Iya ngaku kan kamu sekarang! Tadi aja sok sok an gak mau mengaku, dasar munafik." Kaina sudah menyangka kalau Brian akan salah paham dengan kejadian di tadi pagi itu. Dia sekarang bingung ingin menjelaskan dari mana sebab Brian sudah tidak mungkin percaya terhadap dirinya. Brian akan terus salah paham dengan kejadian itu. [Aduh, Mas Brian salah paham dengan kejadian itu. Sebenarnya kan aku dan dia gak ada hubungan apapun bahkan kami tidak saling mengenal,] tutur Kaina di dalam hati. "Mas dengerin aku dulu aku itu___." "Stop! Sdah gak usah banyak berbicara atau pun menjelaskan hal apapun lagi, aku sudah tau dengan perempuan seperti kamu. Perempuan yang berpura pura polos namun hati nya busuk bahkan munafik sekali." Brian terlihat marah sekali, Kaina yang melihat itu sangat terkejut sebenarnya sangat sulit sekali untuk Kaina terus diam dan mengalah namun mungkin jika dia melawan Brian tidak akan segan segan memukulnya. "Kenapa? Kenapa menatap aku seperti itu? Gak suka, ah?" "Aku capek Mas, capek sekali! Diam dan terus mengalah capek Mas. Aku juga manusia buka benda mati yang bisa kamu pukul dengan seenaknya, aku perempuan Mas." Kaina berusaha untuk menahan air mata yang sudah membendung di kedua mata nya. "Aku sebenarnya capek dengan ini namun aku yakin kamu akan berubah Mas, kamu itu baik tetapi mungkin ah, sudahlah aku tidak ingin memaksa ini. Aku memang bukan siapa siapa di sini, aku hanya gadis tolol yang mau saja di nikahi hanya untuk balas dendam." Brian memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia sekarang sedang mengontrol emosinya yang sudah pecah di kepalanya. Brian juga bingung kenapa tiba tiba dirinya mendadak terbakar api cemburu terhadap Kaina yang tidak pernah ia anggap sebagai istrinya. "Gapapa jika Mas Brian mau menjual atau pun membunuh aku malam ini, aku ikhlas Mas tapi dengan satu hal aku hanya ingin di terakhir aku pergi, aku hanya ingin tidur di sebelah kamu Mas walaupun sebentar saja di satu malam sebelum aku pergi." tutur Kaina. Air mata berhasil lolos di pipi nya, terasa hancur hati Kaina ketika mengucapkan itu dengan berusaha tegar seolah kuat untuk pergi namun aslinya tidak bisa. * Hujan di pagi hari membuat semua orang merasa enggan untuk keluar rumah atau pun beraktivitas, termasuk Kai Jordan yang tidak lain adalah sahabat Rangga. Sekarang dia dengan duduk santai dengan kaki di angkat ke atas meja, tangan kanannya memegang satu batang rokok yang terus mengeluarkan asap. Kai menyandarkan kepala nya di sofa berharga miliyaran itu. Dia memejamkan mata nya sebentar, berusaha menenangkan pikiran nya yang sangat kacau. "Gue bingung dengan hidup ini, kapan rasanya gue bisa di pertemukan dengan dokter kecil gue! Sudah bela belain datang ke Surabaya seminggu yang lalu untuk bertemu dengan dokter kecilnya namun tetap saja gak ada, kenapa sulit sekali rasanya bisa menemui dia," tutur Kai berbicara sendirian. Kai menghisap rokok nya lalu melempar batang rokok yang sudah kecil itu di atas meja. "Mungkin gue yang bodoh mencintai dokter kecil itu hingga terlalu dalam seperti ini, selalu memikirkan dia dan bahkan rela tidak menjalin hubungan dengan siapapun." Kai diam beberapa detik lalu mengacak acak rambut nya. "Heh, membosankan sekali! Tapi gue gak boleh putus asa bukan nya gue sudah berjanji pada diri gue sendiri kalau gue gak boleh menyerah, gue yakin kalau gue bisa bertemu dengan dokter kecil itu, iya gue gak boleh menyerah." Kai mencoba memberikan semangat kepada dirinya sendiri agar tidak menyerah begitu saja. "Boss," Seseorang memanggil nama Kai namun Kai tidak menjawabnya. Orang itu adalah salah satu anak buah Kai. Ia membawa sebuah berkas di tangan nya untuk di berikan kepada Kai, orang itu mendekati Kai. "Ini Boss." Orang tersebut menjulurkan berkas itu kepada Kai. "Berkas apalagi?" tanya Kai tidak mau menerima berkas tersebut. "Ini berkas lanjutan yang kemarin bos tentang informasi Brian Wilson dan ini lebih detai informasi nya di bandingkan yang kemarin," tuturnya. Kai langsung menerima berkas tersebut lalu ia membuka berkas tersebut dan membaca nya. Berkas yang berisikan biodata lengkap seorang pengusaha mudah blasteran Indonesia-London. Dia adalah Brian Wilson putra sulung dari Tuan Wilson. Kai membaca itu dengan sangat teliti. "Berkas itu di dapat dari kekasih nya Ken bos. Dia bekerja di perusahaan Wilson company, sudah 3 tahun lebih berkerja di perusahaan itu jadi bagaimana bos? Mau kita bunuh sekarang?" Kai tersenyum sinis melihat itu. "Gue mau habisin ini orang sendirian juga bisa tapi masalahnya Rangga masih ada di London. Gue masih butuh keseriusan dulu dari Rangga kalau sudah yakin baru gue bunuh, " ucap nya. "Jadi Rangga masih ragu bos? Bukan nya dia sudah bilang kalau dia sudah sangat yakin sekali dengan permintaan nya itu." "Rangga sekarang sedang berduka, Oma tercinta nya yang berada di London meninggal dan dia juga masih tidak memikirkan tentang ini, jadi gue niat untuk mengundur permintaan Rangga dulu baru kalau dia sudah datang gue akan tanyakan ke dia lagi serius jadi atau tidak. Sekalian aku cari informasi sendiri tentang Brian Wilson ini." tutur Kai. * Brian hari ini sangat malas sekali untuk pergi ke kantor, ia dari tadi pagi terus tiduran di balik selimut. Dia menatap ke sekeliling nya yang terlihat sangat berantakan hingga terkesan jorok sekali. "Aku malas melihat kondisi kamar aku!" Brian menutup wajah nya dengan selimut. "MEMBOSANKAN SEKALI! BANGSAT!" teriak Brian melepaskan kekesalan nya. Brian langsung duduk, rambut nya sudah berantakan sekali habis bangun tidur. Hari ini dia tidak seperti di hari hari biasanya yang semangat dalam bekerja namun untuk hari ini dia malas sekali untuk melakukan apapun. Dia terkenal dengan pria yang suka dalam kebersihan dan aroma yang nyaman namun untuk saat ini semua itu tidak berlaku untuk Brian, rasanya ia sangat malas untuk mandi bahkan malas sekali beraktivitas di cuaca yang kurang mendukung seperti ini. Dring...dring..dring... Hp Brian tiba tiba berbunyi. Di siang ini dia mendapatkan panggilan dari sang sekretaris pribadinya. "Hedeh ada apalagi ini, gak tau apa kalau aku lagi malas sekali hari ini! Sudahlah bodoamat gak peduli aku," ucap nya lalu merebahkan tubuh nya lagi di ranjang kesayangannya. Dring...dring...dring... Hp Brian terus berbunyi membuat Brian langsung menutup wajah nya dengan bantal. Dia mulai kesal dengan seseorang yang memaksa menelfon dirinya siang ini. "Itu orang sangat menganggu! Siapa sih?" Brian langsung bangun lalu mengambil hpnya. Ayah Wilson... Brian kaget setelah mengetahui bahwa yang menelfon dirinya itu adalah bukan sekretaris tadi melainkan Ayah nya, Tuan Wilson. "Ya ampun ini Ayah! Bisa bisa di omelin aku kalau gak diangkat!" ujarnya dengan sangat terburu-buru mengangkat panggilan masuk tersebut. "Hello Daddy, how are you?" sapa Brian basa basi menanyakan kabar sang Ayah tercinta agar tidak memarahi dirinya. "I am good my dear. why did you take so long to pick up a call from dad?" tanya Tuan Wilson. "Sorry Ayah, Brian masih ada meeting tadi." Brian lebih baik memilih untuk berbohong kepada sang Ayah dari pada dia kena marah oleh Tuan Wilson karena tidak berangkat ke kantor. Tuan Wilson terkenal dengan seorang pria pekerja keras dan tidak pernah mengenal kata lelah maka dari itu dia sangat melarang anak anaknya untuk bermalas malasan. "Oh ada kerjaan, yasudah tapi sekarang daddy tidak mengganggu kan?" "Tidak Ayah Brian sedang santai sekarang, ada apa memangnya?" tanya Brian. "Tidak apa apa hanya saja daddy ingin menanyakan kabar kamu karena kamu sendirian di rumah kan? Mengurus semuanya sendiri." cemas tuan Wilson. "No problem Dad, I can manage everything alone here and I'm fine. So you don't have to worry." ujar Brian dengan lembut. "Ayah mendengar dari Rangga bahwa kamu sudah menikah Brian? Dan Rangga bilang kalau pernikahan itu hanya untuk membalaskan dendam dengan mantan kekasih kamu, apa benar begitu?" Pertanyaan itu berhasil membuat Brian tidak berkutik, dia seakan akan tertusuk paku tajam hingga melukai kepala nya. Brian langsung bingung untuk memberikan jawaban sebab kedua orang tuanya itu tidak pernah tau tentang masalah pernikahan tersebut. "Brian are you okay?" tanya Tuan Wilson karena Brian tiba-tiba langsung diam. "Ah, it's okay. Mn pernikahan itu hanya tipuan saja untuk Rangga Ayah. Kami sama sama bercanda dan pernikahan itu tidak ada dan Brian juga masih belum menikah. Bisa saja Rangga berbohong kan!" utur Brian membohongi ayahnya tentang pernikahan nya tersebut. Brian tidak mau kedua orang tuanya tau tentang rencananya, biarkan Brian saja yang menjalaninya tanpa sepengetahuan orang tuanya. [Awas saja nanti kamu Rangga. Berani sekali kamu memberitahu ini kepada Ayah dan Mama! Tunggu saja balasan aku nanti, aku yakin permainan ini akan jauh lebih seru lagi jika aku menarik kamu untuk berperan juga di dalamnya,] batin Brian.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus tapi masih gantung..
22/03
0mantap, novel nya Seru dibaca
31/08/2025
0Kali kedua membacanya
29/08/2025
0Lihat Semua