Restoran milik teman Aldo tidak terlalu jauh dari kantor, Aldo meminta maaf pada Priska karena harus ikut kemari sampai malam seperti ini. Priska tidak keberatan walaupun sebenarnya dia lumayan khawatir akan dipecat dari warteg. Dia mengirim pesan pada Sapuah perihal dia tidak bisa datang hari ini, dengan begini Priska tidak bisa mengambil hari libur kerja sambilannya tersebut sebagai ganti jam bolosnya sekarang. “Enggak apa-apa, kok,” jawab Priska. “Serius?” tanya Aldo sekali lagi. “Iya, Kak.” “Makan malam sekalian kalau gitu, ya?” Aldo membawa Priska ke restoran milik keluarga teman yang bernama Rey Hutomo. Rey terkadang memasak juga di sini, sementara restorannya sendiri sudah dipegang oleh chef profesional kepercayaan. Suasana tempat ini hangat dan menawarkan berbagai menu khas masakan Indonesia. Priska belum pernah datang ke restoran mahal, semua serba baru baginya jika bersama dengan Aldo. Terkadang dalam hati kecilnya ia merasa sangat rendah diri, tetapi terkadang dia juga berharap lebih. Priska berpikir, mungkin bagi Aldo, Priska hanyalah mahasiswa miskin yang butuh uang dan tidak layak untuk menjadi teman kencan. “Pilih salah satu dari menu, Pris. Aku nggak tahu kamu suka makan apa,” kata Aldo ramah. “Aku nggak pilih-pilih makanan, kok.” “Oke,” jawab Aldo santai. Priska sudah tertarik dengan halaman sampul depan menu, ikan nila yang dibakar, daging iga panggang, halaman demi halaman pun gambarnya semakin menggugah selera makan. Ia menelan ludah sendiri karena ingin mencoba semua, dia juga bingung melihat harganya yang fantastis bagi dompet Priska, takut dibilang matre oleh Aldo jika kalap memesan. “Sudah atau belum?” tanya Aldo dengan senyum geli. Priska jadi malu karena ketahuan kelihatan norak memandangi menu-menu yang ada. Seorang pelayan datang ke meja mereka, siap mencatat pesanan. Aldo mengucapkan apa saja yang ingin dia makan, lalu giliran Priska. Pelayan mengulangi menu yang mereka pesan untuk konfirmasi, kemudian undur diri dan meminta mereka menunggu dengan sabar sampai makanan siap. “Kontraknya gimana, Kak?” tanya Priska. Aldo tergelak mendengar hal itu, ia menggerak-gerakkan tangannya meminta Priska sabar. “Tenang, aku janji kasih kamu dua juta secara tunai malam ini juga. Kita makan dulu,” tutur Aldo. “Oh, oke,” jawab Priska dengan malu. “Mulai kerja besok, aku akan kirimkan list materinya.” “Siap!” Malam itu terasa seperti kencan yang ada di film-film romantis bagi Priska, mereka makan makanan mahal dan enak. Aldo terlihat begitu keren di bawah sorot lampu estetik yang menggantung di restoran, Priska dan Aldo banyak tertawa karena membahas apa saja. Keduanya mengobrol sampai lupa waktu. Benar-benar malam yang begitu sempurna bagi Priska, sesuatu yang tidak pernah berani dia bayangkan sebelumnya. Aldo menghilang ke belakang, ingin bertemu seseorang. Kata Aldo, seorang teman yang membayar hutang sekaligus membuatkan surat perjanjian kontrak Priska dan Aldo. Beberapa menit berlalu, Priska melihat jam di ponsel dengan waswas, pukul delapan malam. Aldo tak lama kemudian datang membawa amplop coklat besar, dia tersenyum ketika berjalan kembali ke meja. Dia menyerahkan benda itu ke Priska yang kini terlihat tegang. Priska membukanya dengan hati-hati, ada amplop berisi uang dua juta, satunya lagi adalah beberapa lembar dokumen kontrak perjanjian kesepakatan pekerjaan antara Priska dan Aldo. Total kontrak ada dua rangkap, satu untuk Priska bawa dan satu untuk Aldo. Priska membaca sekilas dan langsung percaya bahwa Aldo tidak akan menipunya. Justru dialah yang merasa sangat terbantu dengan pekerjaan ini. “Persis seperti kontrak kerja sungguhan, kan?” kata Aldo menggodanya. Pipi Priska bersemu merah mendengarnya, ia memang sudah pernah menjalani berbagai macam pekerjaan. Namun, belum pernah satu kali pun tanda tangan seperti ini dan mendapat gaji yang lebih layak. “Sesuai dengan gajinya, Kak,” balas Priska. “Tadinya aku mau langsung transfer kamu sepuluh juta, tapi setelah konsultasi ke temenku, ada baiknya pakai skema seperti ini. Bukannya aku nggak percaya sama kamu, tapi dia bilang … segala sesuatu yang berhubungan dengan uang dengan nominal besar memang perlu ada hitam di atas putih,” ungkap Aldo panjang lebar. “Aku bisa mengerti, Kak. Aku nggak tersinggung, memang akunya aja yang butuh uang, tanpa bantuanku pun Kak Aldo tetap bisa ngerjain tesis, kan?” Priska merendah. “Nggak juga, aku lagi keteteran banyak. Ayo, pulang! Aku antar sampai rumah.” Priska terdiam sejenak memandangi sisa-sisa makanan di atas piring, lalu kembali menatap Aldo yang sedang sibuk membalas pesan. Priska sungguh ingin adik-adik dan bundanya di panti bisa ikut merasakan nikmatnya masakan ini. Rasanya seperti baru saja mengkhianati mereka ketika tersadar telah memakan semua makanan enak ini sendirian tanpa mereka. Mereka keluar dari restoran, udara dingin menusuk kulit, dan Priska beberapa kali merapatkan jaket. Aldo terlihat menggigil sesaat, Priska jadi tidak nyaman mengenakan jaket Aldo sekarang. Pria itu mengantar Priska pulang, dari restoran ini maka akan memakan waktu yang lumayan jauh. Terlebih, kota mereka macet di jalan-jalan raya utama. “Makin banyak pelebaran jalan, makin banyak mobil yang dibeli juga. Nggak efisien, ya, kan?” tanya Aldo. Priska galau, haruskah ikut ke arah pembicaraan yang menggiringnya ke politik. Ia cukup mengenal pemikiran Aldo yang idealis, beberapa artikelnya di koran-koran dan media besar memang riskan. Tidak semua jurnalis seperti Aldo, tetapi Aldo adalah jurnalis. “Kak Aldo beneran sering dapet surat somasi dan sejenisnya?” “Surat cinta? Waduh, semenjak jadi wakil pimpinan udah enggak sebanyak dulu walaupun kadang tangan ini masih gatel pengen nulis kritikan-kritikan,” kata Aldo. Mobil maju sedikit demi sedikit, menggeliat seperti siput. Priska ingin waktu ini tidak pernah berakhir dan bersama Aldo lebih lama. Ketika dia pulang nanti, maka momen indah kebersamaannya bersama Aldo juga sirna. Nasib. *** Aldo berhenti di titik seperti kemarin saat pertama kali mengantar Priska pulang. Selama sesaat, gadis itu kesulitan membuka sabuk pengaman. Kepalanya tertunduk sedih karena kebahagiaan kecil ini berakhir setelah turun dari mobil nanti. “Jaketnya,” ucap Aldo. Priska sontak menatap Aldo dan memegangi jaket yang ia kenakan sekarang, berpikir mengapa tega sekali Aldo menyuruhnya berjalan di kegelapan sendirian dengan dada terbuka. Aldo tertawa kecil melihat Priska panik. “Bukan itu maksudku. Aku tadi mau bilang, bawa aja dulu. Balikin kapan-kapan kalau kita ketemu lagi.” “Iya, Kak.” Priska malu dengan prasangka buruknya pada Aldo. “Selamat malam, ya,” ucap Aldo manis. Priska turun dari mobil dan balas tersenyum pada cinta bertepuk sebelah tangannya ini. “Malam juga, Kak, hati-hati di jalan.” Priska mengangguk sopan. Mobil Aldo memutar dengan mulus. Priska masih berdiri di tempat, dia mengamati mobil sampai benar-benar pergi. Barulah Priska berjalan menuju ke panti. Dua juta ada di tangan, Priska senang karena punya uang. Dia tersenyum sambil berjalan, memikirkan bagaimana caranya semua orang ada di panti besok bisa makan enak, tetapi Priska juga tidak mau Bunda curiga tentang uang ini. Besok dia akan mulai bekerja untuk Aldo, mereka juga sepakat sedikit membantu Aldo di pekerjaannya sebagai jurnalis. “Apa dia pura-pura baik cuma buat pendekatan ke aku, ya? Perasaan, dia fine-fine aja selama ini walaupun sibuk kuliah, kerja, dan jadi Asdos.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren sekali,suka deh
12/09/2025
0bagus
17/06/2025
0mantap
02/06/2025
0Lihat Semua