Selesai acara dan sedikit beramah-tamah dengan para tamu undangan lainnya. Soa akhirnya berpisah dengan Molly. Daniel datang untuk menjemputnya sementara sang kakak ipar langsung menyusul suaminya bersama Marvel.
“Kau langsung pulang?” Molly sempat bertanya pada Soa sebelum mereka menaiki mobil masing-masing.
Agak ragu Soa menjawab, namun sesungguhnya ia penasaran akan reaksi Molly. “Sepertinya... aku ingin menemui temanku terlebih dahulu.”
“Temanmu? Zoe, Hanna, dan Dori?” Tak Soa duga Molly menghafal nama mereka.
“Ya. Tidak apa-apa, kan?”
Molly tersenyum lepas. “Tentu saja itu baik. Bahkan kau bisa membantu mengubah nasib mereka dengan bergabung bersama kita.”
Soa tersentak seketika. Namun ia buru-buru mengaburkan rasa terkejut sekaligus geram dari wajahnya. Sungguh ia berpikir Molly sudah gila, bagaimana mungkin ia akan menjerumuskan ketiga temannya ke dalam api yang membara.
“Oh – ya! Sepertinya aku harus mulai memikirkannya,” balas Soa terpaksa.
“Tentu, Sayang.” Begitulah sedikit percakapan yang terjadi sebelumnya.
Rindu bertubi-tubi mendera Soa. Ia penasaran bagaimana dengan reaksi teman-temannya jika ia datang. Semula Soa tidak berkeyakinan penuh untuk menjumpai mereka, akan tetapi keinginannya telah begitu besar untuk berjumpa sebelum batu terkutuk itu hancur. Ditambah dengan reaksi Molly yang sempat ia dapat, walau jawaban Molly mengesalkan tetapi itu menjadi tanda bahwa Soa kini bisa merasa aman menjumpai mereka. Alhasil ia pun akhirnya memerintahkan Daniel untuk mengantarnya ke rumah Hanna terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan berkunjung ke rumah Zoe dan Dori.
Selang beberapa waktu, Soa sudah melihat Hanna ternganga karena mendapati kehadirannya di depan pintu rumah. Tanpa banyak kata ia langsung mendapat pelukan hangat dari temannya yang bijak itu, dan tentu saja balasan yang sama ia dapatkan. Perjamuan dari Hanna begitu hangat, gadis itu langsung membawa Soa ke ruang santai estetisnya. Tak lupa secangkir teh dan sedikit camilan menyusul terhidang di sana.
“Kami sudah menerima suratmu, Soa. Hanya saja... kami bingung harus bagaimana menghubungimu. Jauh sebelumnya seseorang pernah datang mengancam kami agar tidak mendekatimu lagi.”
“Apa!!! Kalian mendapat ancaman?!!”
Hanna mengangguk lemah. “Para pengancam itu bahkan tak segan-segan membawa-bawa keluarga kami.”
“Keterlaluan!!! Pasti mereka orang suruhan Molly.”
“Kami pun menduga begitu. Maafkan kami, Soa. Dibandingkan dengan keluarga Jorell, kami hanyalah orang kecil. Aku dan yang lainnya tidak berani memaksakan kehendak kami. Hanya dengan melihat berita yang beredar luaslah kami bisa mendapatkan kabar tentangmu. Walau kami sadar, itu tidaklah memuaskan.”
Soa menunduk termenung oleh pengakuan Hanna. Gurat duka memancar dari wajah indahnya. Ia memahami betul posisi sulit ketiga sahabatnya, tentu tidak jauh berbeda seperti yang ia rasa.
Hanna tersenyum tawar. “Ternyata kami tidak sekuat yang kami kira. Dulu kami pikir kami bisa melindungimu, tapi ternyata kami hanyalah teman yang buta dan juga lemah.”
“Hei, Hanna. Kenapa kau berkata begitu? Percayalah padaku. Kalian tidaklah buruk, situasi ini memang sangat sulit untuk kita semua.”
Hanna menatap Soa penuh saksama. Ia masih tidak percaya bahwa kini Soa kembali berbincang hangat bersamanya.
“Kau harus tahu, Soa. Kami sungguh merasa senang karena akhirnya kami menerima surat darimu, dan kami bisa merasakan kalau kau sama berkeinginannya dengan kami untuk dapat menjalin persahabatan lagi.”
“Kau bilang kami, Hanna? Apakah itu berarti... Zoe dan terutama Dori, mereka tidak marah lagi padaku?”
“Bahkan jauh sebelum surat itu datang.”
Soa merasa perasaannya bangkit kembali. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tenanglah, mereka sudah tidak seperti yang kau pikirkan. Zoe dan Dori, mereka sangat-sangat ingin kita bisa kembali seperti dulu. Aku bisa melihat kekhawatiran mereka disaat mengetahui kau tidak sadarkan diri cukup lama di rumah sakit.”
Senyum Soa merekah begitu indah. Setetes air matanya jatuh menandakan keharuan. Sejenak kemudian Soa meminta pada Hanna. “Bisakah kau ikut bersamaku untuk menemui Zoe dan Dori? Aku sangat merindukan mereka,” ungkap wanita itu.
Anehnya Hanna justru memasang muka menyayangkan. “Tidak untuk sekarang, Soa. Kemarin Dori sudah berangkat dan akan tinggal lama di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. Sementara Zoe, dia sedang ada pekerjaan di luar kota.”
“Jadi aku tidak bisa bertemu mereka hari ini?” Soa merasa hatinya kembali harus bersedih.
“Begitulah, tetapi jangan khawatir. Aku akan membantumu membuat janji dengan mereka. Hanya saja... apa tidak akan apa-apa, Soa?”
Soa terdiam akan hal itu. Perasaan penuh kebimbangan bercampur rasa takut menerkam hatinya. Bukan karena ancaman keluarga Jorell yang membuatnya khawatir jika bertemu mereka lagi, akan tetapi ia cemas kalau dirinya tak bisa menepati janji untuk berkumpul dengan mereka di lain waktu.
“Soa? Kau kenapa?”
Soa terkejut oleh tepukan lembut Hanna di atas lututnya. Soa langsung bangkit berdiri tiba-tiba, disusul oleh Hanna yang merasa keheranan.
Tatapan mata Soa begitu sendu Hanna rasa. Sekali lagi Hanna bertanya untuk mencari tahu namun tak ada jawaban pasti di sana.
“Aku sudah cukup senang bisa bertemu denganmu, Hanna.” Terlukis sebuah senyum dari bibir Soa. Ia ingin Hanna tidak mampu membaca kesedihannya. Pelukan hangat pun kembali Soa berikan kepada Hanna. Ia mengucapkan terima kasih, karena selama ini Hanna sudah menjadi sahabat yang begitu baik. Ia juga ingin Hanna menyampaikan salam darinya kepada Zoe dan Dori jika komunikasi mereka sedang tersambung. Kemudian dengan alasan Kalevi sudah cukup lama menunggunya, Soa pun pamit kepada Hanna.
Sesungguhnya Hanna sangat menyayangkan jika harus berpisah dengan Soa secepat itu, mereka sudah sangat lama tidak bertemu. Namun ia mengerti sekali dengan alasan sahabatnya, biar bagaimana pun sekarang Soa sudah menikah dan tentu saja waktu untuk bersama teman-temannya tidak bisa sebebas dulu. Walau dalam diam Hanna sebetulnya masih menyimpan penasaran dari mana sebetulnya wajah sendu Soa berasal? Terlebih Soa berkata seperti mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Ingin Hanna menggali lebih dalam, namun keraguannya ternyata lebih besar dari rasa penasarannya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagusssss
09/05/2025
0bagus
05/05/2025
0cerita yg bagus
25/03/2025
0Lihat Semua