“Kuucapkan selamat atas kelahiran putra Anda, Tuan Boman. Sudahkah Anda memberinya nama?”
“Terima kasih Dokter Richard.
“Tentu. Kami sudah memberinya nama.”
“Oh ya? Siapakah gerangan nama bayi beruntung ini?”
“Kami memberinya nama... Osbert Sancho Jorell.”
“Wah! Nama yang gagah sekali.”
“Ya. Kami berharap dia akan menjadi pemimpin besar seperti kakek moyangnya.”
Soa terdiam terpaku mengamati di tempatnya berdiri. Itu adalah percakapan pertama yang Soa dengar disaat kegelapan menerjang penglihatannya. Walau matanya tidak dapat melihat apa pun, namun perasaannya jauh lebih tenang sekarang. Sama sekali tak ada kerisauan di hati Soa menghadapi kegelapan kali ini. Dalam hati ia bahkan bersungguh-sungguh, memasang pendengarannya dengan baik untuk mendapatkan lagi suara-suara asing dari sana.
“Ibu...! Ibu...!”
“Jauhi Ibumu, Sancho!!! Dia hanyalah pengkhianat untuk keluarga ini!!!”
“LEPASKAN ANAKKU!!! AKU AKAN MEMBAWANYA MENJAUH DARI KELUARGA KEJAM INI!”
“JIKA KAU INGIN PERGI BERSAMA KEKASIHMU, PERGILAH!!! TAPI TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU MEMBAWA SANCHO-KU!”
“APA KAU KIRA AKU AKAN MENURUTIMU!!! MINGGIR, BOMAN!!!”
“DASAR WANITA SIALAN!!!”
Kali ini suara gaduh pun tak karuan terdengar. Bunyi beberapa benda pecah berjatuhan beriring dengan jeritan suara sang wanita. Lelaki yang dipanggil Boman pun terus memaki-maki. Tak ketinggalan tangisan bocah seraya memanggil-manggil ibu pun semakin menjadi-jadi.
Soa lantas menutup telinganya. Ia merasa ngeri tidak sanggup mendengar pertengkaran itu lagi. Ia berusaha menerka-nerka apa yang sebetulnya mereka ributkan sampai-sampai harus bertengkar begitu hebat.
“Hu... hu... hu...! Ayah... aku mohon jangan sakiti ibu....”
Seketika kalimat di dalam tangisan itu menusuk perasaan Soa. Ucapan itu terasa tidak jauh darinya, bahkan ia pun merasa pernah memohonkan hal yang sama.
Perlahan namun pasti, satu persatu ingatan-ingatan tentang kejadian itu melintas di pikiran Soa. Membubung bagaikan kepulan asap dari sebuah api unggun. Soa ingat sekarang, ia pernah mengalami hal itu, hal yang sangat melukai di kehidupannya. Saat itu ia hanyalah seorang anak taman kanak-kanak yang sedang memohon kepada ayahnya agar tidak memukuli sang ibu.
Ia ingat bagaimana ayahnya dulu membiarkan ibunya tersungkur lemah tanpa merasa bersalah. Lalu menarik dirinya dengan keras untuk segera menjauhi wanita itu. Sebagai bocah yang dipisahkan dari ibunya ia terus menangis, meronta, seraya memohon agar bisa membantu sang ibu. Namun ayahnya tetap saja tidak melepaskannya walau ia sudah mengemis.
Siapa sangka setelahnya? Kejadian buruk itu adalah pertemuan terakhir Soa dengan ibunya.
Tangisan Soa seketika pecah. Pengalaman itu adalah nasib yang ia dapatkan ratusan tahun yang lalu. Saat di mana tubuhnya menjadi anak laki-laki dan orang-orang memanggilnya dengan nama Sancho Jorell.
Sampai sekarang pun, walau tubuhnya telah berbeda ia tetaplah tidak tahu Ibu lampaunya di mana. Dari kenangan buruk itu yang tersisa hanyalah kesedihan atas kehilangan, sekaligus kesedihan atas alasan yang memedihkan hati bahwa sang ibu telah memilih lelaki lain di banding ia dan ayahnya.
“Sancho! Sancho! Sancho!”
“Ayo, Sancho! Robohkan dia! Buat dia meminta ampun di kakimu!”
“Sancho! Sancho! Sancho!”
“Pukul terus dia, Sancho! Dia sudah membicarakan hal buruk di belakangmu!”
“Sancho! Sancho! Sancho!”
“Hajar dia, Sancho! Orang miskin tidak pantas berada di sekolah ini!!!”
Kali ini suara yang Soa dengar jauh lebih bising dari sebelumnya. Teriakan anak-anak terdengar jelas ramai memberi provokasi.
“BERANINYA KAU BILANG DIBELAKANGKU KALAU AYAHKU LINTAH DARAT!!!”
“MEMANG ITU KENYATAANNYA, BODOH!!!”
“AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU, AMO!!!”
Ya, Soa juga mengingat kejadian itu. Sewaktu menjadi Sancho ia pernah menghajar seorang anak habis-habisan. Sampai-sampai anak lelaki itu harus di bawa ke rumah sakit karena mengalami cedera di bagian kepala. Ia yang saat itu masih menjadi Sancho sekolah dasar sangat-sangat merasa ketakutan atas kesalahannya.
Anak lelaki itu bernama Amo. Teman sekelas sekaligus teman dekat Soa alias Sancho di sekolah. Soa ingat masa kelam itu dengan pasti. Setelah ia kehilangan Ibu lampaunya, sebagai Sancho ia menjadi pribadi yang tertutup, semena-mena, dan sangat sulit bergaul. Bahkan ia pernah mengalami masa berpindah-pindah sekolah karena ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Saat itu yang ada di dalam pikirannya hanyalah amarah terhadap keadaan. Sebagai Sancho kecil ia tak memiliki semangat sama sekali dalam menjalani pendidikan. Hingga akhirnya ia bertemu Amo di sekolah baru. Berawal dari sebuah pertolongan yang diberikan anak itu kepadanya saat sedang dihukum guru. Ia mulai bisa membuka hati untuk menjalin pertemanan dengan orang asing.
Satu tahun dalam pertemanan mereka, suatu hari ia mendengar dari anak lain bahwa Amo menyebutnya sebagai keturunan lintah darat. Amo bilang jika Sancho besar nanti, ia akan menjadi laki-laki dewasa yang akan mencekik siapa saja dengan jerat hutang seperti yang dilakukan ayahnya. Maka dari itu mulai sekarang Amo merasa sudah harus berhati-hati terhadap Sancho bahkan mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang sama.
Sebagai Sancho Soa sungguh kecewa mendengar pengaduan itu. Ia tidak suka teman dekatnya menjelek-jelekkan ia di belakang. Baginya Amo bukan teman yang setia kawan. Ia baik di depan tetapi menjadi lawan di belakang.
Dan sebagai Sancho yang memiliki pengalaman pahit dengan ibunya ia sangat membenci ketidaksetiaan.
Akhirnya Soa alias Sancho bertanya penjelasan dari Amo secara langsung. Namun sayangnya pertanyaan itu malah berakhir dengan emosi yang tidak terkendali. Ia yang saat itu bersama Amo masih sama-sama berusia sepuluh tahun pun terlibat perkelahian besar hingga membuahkan Amo masuk rumah sakit.
Ada ketakutan yang sampai detik ini menghantui perasaan Soa dari kejadian itu. Ia melihat bagaimana Amo mengeluarkan banyak darah. Namun kedua tangannya tetap saja terus bergerak berkali-kali menghajar dan hatinya enggan mengampuni. Kalaulah saja seorang guru tidak datang menahannya pastilah Amo sudah mati saat itu juga.
Soa meringis menumpahkan air mata lagi. Tangannya mengepal kesal mengingat kejadian itu. Andai saja ia lebih bisa mengendalikan diri tentu ia tidak perlu menjatuhkan Amo. Soa juga masih menyimpan memori bagaimana Ayah Amo datang marah-marah ke rumahnya dan meminta pertanggungjawaban dari ayah masa lalunya.
Akan tetapi entah apa yang para orang tua itu bicarakan di luar sepengetahuan Soa sebagai Sancho kecil. Ia pun akhirnya bebas dari tuntutan pertanggung jawaban. Dewan sekolah pun menutup kasus ini sehingga ia bisa kembali menjalani pendidikan seperti biasa. Hanya saja beberapa hari kemudian akhirnya ia menyadari bahwa perkelahiannya dengan Amo ternyata adalah hari perjumpaan terakhir mereka. Seorang teman memberi tahu bahwa Amo sudah tidak lagi tinggal di kota Melvin karena harus pindah keluar negeri.
Disaat itulah Soa alias si Sancho kecil merasa kehilangan sekaligus merasa tak peduli dengan keputusan keluarga Amo.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagusssss
09/05/2025
0bagus
05/05/2025
0cerita yg bagus
25/03/2025
0Lihat Semua