logo text

Pengakuan Kalevi

     “Lagi-lagi kau memperlakukanku seperti nyamuk!” protes Kalevi. “Biasanya kau tidak pernah mau kalah.”
 
     Soa lantas melirik Kalevi. “Kau sepertinya menikmati pertengkaran kita.”
 
     Sekarang giliran Kalevi yang terdiam.
 
     Tak lama kemudian Soa teringat sesuatu. “Tuan Besar – jadi langkah apa yang kau ambil sekarang tentang hubunganmu dengan Megha?”
 
     Kalevi tercengang oleh pertanyaan itu. “Aku mau tidur dengan suasana hati yang tenang, lantas kenapa kau merusaknya?”
 
     “Suka tidak suka kau harus menghadapi pertanyaan ini kapan pun!”
 
     “Dasar berisik! Untuk apa kau bertanya sementara kau tahu jawabannya.”
 
     “Ja – jadi. Berakhir begitu saja?”
 
     “Begitu saja kau bilang? Aku sudah sangat berusaha mempertahankannya! Tapi dia tetap saja keras kepala. Dia betul-betul sudah terracuni!”
 
      Soa merasa ada yang mengganjal dalam situasi mereka. “Kalau akhirnya kau dan Megha putus. Berarti – kita tetap bisa mulai mengurus perceraian dan batal menjadi tumbal bukan?”
 
     Kalevi terenyak lagi oleh pertanyaan Soa. Lidahnya kelu, mendadak ketegangan muncul di batinnya.
 
     “Kenapa kau diam?” selidik Soa.
 
     “Ya – aku masih sanggup melawan kakakku agar bisa menceraikanmu.” Kalevi menggaruk belakang telinganya yang sebetulnya tidak gatal sama sekali. “Tapi soal penumbalanmu –“
 
      Soa mulai senang, sekaligus semakin penasaran oleh kata-kata Kalevi yang terhenti. Ia pasang betul-betul pendengarannya, takut ada satu kata saja yang terlewati.
 
      “Soa itu –“ tatapan Kalevi pada Soa tak fokus, ia terkesan takut mengutarakannya.
 
     “Apa?” Soa semakin tak sabar.
 
     “Ma – maafkan aku. Aku tidak bisa membantumu, karna aku tidak mengenal Raja Osbert.”
 
     “APA KAU BILANG?!” suara itu terdengar begitu nyaring. Kalevi sampai menutup telinga dengan satu tangannya.
 
     “Aku tahu aku salah! Aku hanya berniat memperalatmu untuk membantuku menemukan Megha. Tapi nyatanya dia malah meninggalkanku.
 
     “Kupikir jika nantinya perceraian kita bisa membantumu ikut lari dari penumbalan itu, tentu akan baik. Jika tidak – maka aku akan lepas tangan.”
 
     “DENGAN KATA LAIN KAU TIDAK BERSUNGGUH-SUNGGUH INGIN MEMBANTUKU WALAU KAU SUDAH MENDAPATKAN MEGHA?!”
 
     “Be – begitulah.”
 
     “KAU!” Soa langsung menyerang Kalevi. Darahnya yang mendidih ia luapkan dalam bentuk pukulan keras bertubi-tubi pada lengan dan dada pria itu.
 
     “Maafkan aku Soa! Tapi... bukankah tidak seharusnya kau terlalu marah begini? Ada atau tidak perjanjian kita, kau tetap harus menikah denganku, bukan?”
 
     Soa semakin merasa kesal karena Kalevi terkesan hanya setengah hati menyesali. “TANPA PERJANJIAN YANG KAU TAWARKAN, TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN AKU MEMILIH LARI SAAT ITU!!” lagi-lagi ia menyerang Kalevi.
 
     Kalevi yang sudah tak tahan merasakan kesakitan berusaha menghindari pukulan Soa dengan menahan tangan wanita itu. Sorot matanya begitu dalam, menunjukkan permohonan kepada Soa untuk bisa menerima permintaannya. “Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu.
 
     “Ini juga terjadi karena saat itu aku belum terlalu mengenalmu.
 
     “Kupikir kau sama saja dengan mereka yang merasa menjadi korban namun tetap memanfaatkan keadaan. Tapi ternyata aku salah. Kau begitu baik, Soa. Kau berbeda dengan mereka.”
 
     Balasan tatapan Soa masih terlihat keras menunjukkan amarah. Ia tarik kencang tangannya dari Kalevi. Lalu dengan hatinya yang masih panas ia berlalu dari pria itu, bergegas kembali ke ranjangnya lalu menutup seluruh tubuh dan wajahnya dengan selimut. Di dalam kegelapan ia menumpahkan air matanya enggan mendengar alasan apa pun dari Kalevi lagi.
 
     Sementara Kalevi. Ia masih berdiri di tepi balkon hanya bisa menyaksikan sikap marah Soa yang terlihat lewat dinding kaca kamar.
 
 
***
 
   
     Pagi itu Soa berniat berangkat lebih dulu sebelum Kalevi bangun. Sengaja ia melakukan itu karena ia tak mau menyapa pria yang telah membohonginya. Sempat Soa berpapasan dengan empat orang pelayan pria yang terlihat sudah sibuk seperti sedang mempersiapkan sesuatu saat ia menuju mobilnya. Mereka membawa beberapa botol anggur lengkap dengan gelas-gelas kristal.
 
     Anehnya mereka terlihat sangat terkejut mendapati kalau Soa sudah bangun sepagi itu. Lalu buru-buru menundukkan kepala memberi hormat.
 
     “Apa akan ada acara?” tanya Soa menahan  sejenak perjalanan  mereka.
 
     Ke empat pelayan itu terlihat takut-takut menjawab. “Hari ini akan ada acara khusus Nyonya. Kami diminta Nyonya Molly untuk mempersiapkan segala kebutuhan,” ungkap salah satunya. Pelayan yang berkumis meski tipis.
 
     “Acara khusus apa?”
 
     “Hem...” mereka saling memandang lagi. “Perjamuan,” lanjut si kumis tipis.
 
     “Perjamuan katamu?”
 
     Tidak ingin mendengarkan pertanyaan lanjutan dari Soa. Pelayan yang berkumis tipis pun dengan sopannya memohon pamit, sehingga kesan terburu-burunya bisa dirasakan oleh Soa. 
 
     Soa membatin tak puas dengan jawaban pelayan itu. Jawabannya terdengar janggal buat Soa. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Soa yang sudah dirundung oleh rasa penasaran akhirnya nekat  memberanikan diri untuk mengikuti mereka diam-diam.
 
     Mengendap-endap Soa melangkah. Sangat berhati-hati jangan sampai ada satu orang pun yang tahu kalau ia mengikuti ke empat pelayan itu. Hingga tibalah ia melihat mereka di depan sebuah ruang. Ruang yang tak pernah ia masuki sebelumnya karena memang Soa tak pernah tertarik untuk berkeliling melihat-lihat ruang apa saja yang ada di mansion itu.
 
     Ruangan itu ternyata membutuhkan kunci untuk membukanya. Setelah memastikan mereka semua sudah masuk. Soa mencoba mendekati pelan-pelan, lalu mengintip mereka yang terlihat sibuk bekerja. Mereka meletakkan botol-botol berisi anggur beserta gelasnya di atas sebuah meja di sisi ruang. Lalu menyiapkan satu persatu lilin di tengah ruangan yang di bawahnya menunjukkan gambar yang Soa belum tahu bentuk sepenuhnya, yang tampak jelas dari tempatnya berdiri hanyalah sebuah garis lingkaran cukup besar yang mengelilingi.
 
     “Apakah itu sebuah simbol?” pikir Soa di tengah sembunyinya.
 
     Lantas di ujung penglihatannya. Berhadapan lurus dengan gambar di atas lantai itu ada, ia menemukan sebuah peti kaca yang jika diamati penuh saksama terdapat batu Hijau yang begitu indah.
 
     “Benda apa itu?” Soa perhatikan lagi. Ia yakin tak pernah melihat benda itu sebelumnya. Sungguh indah dan ingin sekali ia menyentuhnya. Batu itu seolah menggoda, memanggilnya untuk datang mendekat dan memilikinya.
 
     Hingga tiba-tiba datanglah seseorang membekap mulut Soa lalu menariknya menjauh dari ruangan itu. Soa berusaha melirik siapa orang yang telah mengejutkannya. Ia berontak ingin dilepaskan.
 
     “Apa-apa’an sih!” hardiknya ketika Kalevi telah melepas bekapnya dan berhasil membawa Soa menjauh dari ruang itu.
 
     “Untuk apa kau ke ruang itu?! Itu area rahasia! Tidak semua penghuni boleh masuk ke sana!” gusar Kalevi.
 
     Alis Soa sedikit terangkat. “Memang itu ruang apa?” baliknya lugu.
 
     “Sudahlah! Tidak perlu kau tahu.”
 
     Seketika raut muka Soa berubah masam.
 
     “Kenapa kau sudah rapi sepagi ini?” selidik Kalevi yang curiga saat memperhatikan penampilan Soa.
 
     “Aku banyak pekerjaan,” ucap Soa sambil melengos muka.
 
     “Banyak pekerjaan kau bilang?
 
     “Aku tahu kau sudah tidak mengurus restoran dan peluncuran novelmu hari ini diadakan jam dua siang. Lantas pekerjaan apa yang kau maksud?”
 
     Dahi Soa mengerut kesal mendengar penyelidikan Kalevi. “Suka-suka aku!” suaranya kembali meninggi. “Apa kau harus selalu tahu apa saja urusanku?!”
 
     “Apa kau akan ke taman itu lagi?” Kalevi seolah tak peduli dengan protes keras Soa.
 
     “Tidak! Aku akan ke tempat lain untuk berkencan dengan seseorang! Puas!”
 
     “Wah! Istimewa sekali dia. Sampai-sampai membuatmu jalan sepagi ini,” ada kesan mengejek yang justru keluar dari ucapan dan raut muka Kalevi.
 
     “Bukan urusanmu!”
 
     “Oo... atau jangan-jangan kau memang sengaja ingin menghindariku?!”
 
     DEG – Soa merasa kali ini sudah tak bisa mengelak.
 
 

Komentar Buku (488)

  • avatar
    Heyy Rii

    bagusssss

    09/05/2025

      0
  • avatar
    lidax

    bagus

    05/05/2025

      0
  • avatar
    azzahraindah

    cerita yg bagus

    25/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru