logo text

Asisten Pribadi

     “Tidak bisa. Aku harus ke restoran dan mengerjakan banyak pekerjaan di sana,” jawab Soa datar.
 
     “Oh, sayang sekali. Semoga di lain waktu kita bisa bersama-sama mendatanginya.”
 
     “Tidak perlu Bibi mengajakku lagi. Aku tidak tertarik dengan hal itu,” ujar Soa cuek. Membuat suasana di sekitarnya agak tegang. “Itu dunia Bibi, dan aku punya duniaku sendiri. Saling tidak mencari tahu seperti orang tak kenal kurasa akan lebih mengasyikkan buat hubungan kita.”
 
     Daiva melirik ke arah istrinya yang mendapati perlakuan kurang nyaman seperti itu. Dilihatnya wajah sang istri yang mulai memerah. Ia tahu betul kalau wanitanya sedang berusaha mengendalikan diri. Sementara Kalevi, tertegun diam namun di dalam hati menertawakan serangan yang diterima kakaknya.
 
     “Maaf – aku harus berangkat sekarang,” Soa bangkit berdiri sambil mengambil tas selempangnya.
 
     “Kau tidak menggunakan pakaian yang sudah kusediakan?” tanya Molly lagi saat ia melihat penampilan tomboy Soa yang belum berubah. Padahal ia sudah mengisi lemari adik iparnya dengan banyak baju-baju indah.
 
     Soa melirik ke pakaiannya sendiri. Lalu dengan percaya diri ia berkata, “Ini gaya yang kusukai.”
 
      “Heff!” Kalevi berusaha menahan tawanya. Hampir-hampir tawa itu pecah di depan mereka. Sebelum akhirnya tertahan oleh tatapan setajam pedang Molly.
 
     “Aku pamit,” beranjak Soa meninggalkan mereka. Lalu menyusul Kalevi yang terburu-buru hendak mendampinginya.
    
     Tentu saja, status Soa sebagai istri Kalevi membuatnya harus terbiasa hidup dengan kemewahan, terlayani, dan disegani. Bukan Cuma Daniel yang akan menemani Soa ke mana pun ia pergi. Kalevi juga menyiapkan seorang asisten pribadi bernama Mona untuk mengurus berbagai keperluan gadis – ups! Lebih tepat jika sekarang ia yang sudah menikah disebut – wanita itu.
 
     “Aku tidak membutuhkan asisten pribadi,” ungkap Soa saat melihat Mona sudah berdiri di samping mobil yang akan dinaikinya bersama Daniel.
 
      “Percayalah. Kau akan membutuhkannya,” balas Kalevi. Tidak ingin Soa menolak pemberiannya.
 
     Soa memandangi Mona penuh saksama. Beberapa pertanyaan dasar juga sempat Soa tanyakan, seperti di mana gadis itu tinggal, berapa usianya, dan sudah berapa lama ia pernah bekerja sebagai asisten.
 
      Asisten pribadi Soa itu sangat cantik, penampilannya terlihat sangat perempuan. Rambutnya ikal sebahu dengan warna agak kecokelatan. Tubuhnya ramping dan kulitnya putih bersih. Ia belum menikah dan usia mereka juga sebaya. Pembawaan gadis itu lembut dan murah senyum. Soa pikir mungkin mereka akan lebih bisa menjadi teman dibandingkan bos dengan bawahan.
 
     Kalevi meletakkan kedua tangannya di pundak Soa dan mendorong lembut wanita itu ke arah pintu mobil.
 
     “Bertanyalah lebih banyak dalam perjalanan kalian. Atau kalian akan kesiangan,” ujar Kalevi menyadarkan Soa untuk tidak lupa waktu.
 
     “Tapi kan aku belum bilang menerimanya,” protes Soa.
 
     “Baiklah, kita bicarakan nanti. Sekarang kau nikmati dulu kehadiran Mona di dekatmu. Jika dia tak berguna, kau boleh menghentikan tugasnya.”
 
     Soa berbalik badan menatap Kalevi.
 
     “Begitu lebih baik kan?” tandas Kalevi sebelum Soa membalikkan kata-katanya lagi.
 
     Satu-dua-tiga-empat-lima. Untuk beberapa detik Soa masih saja membutuhkan waktu untuk berpikir. Hingga akhirnya,
 
    “Baiklah.” Dan jawabannya itu pun menghadirkan senyum di bibir merah muda Kalevi. Perasaan Soa terketuk. Ini Kali pertama ia melihat Kalevi tersenyum lepas begitu ke arahnya. Ternyata menerima Mona bisa membuatnya melihat sesuatu yang berbeda dari diri pria itu.
 
     Soa pun akhirnya berangkat bersama Daniel dan Mona. Meninggalkan Kalevi yang hendak pergi ke kantor dengan mobil berbeda.
 
     “Astaga! Aku sampai lupa memberitahukan soal acara besok,” Kalevi membatin. “Mungkin karena aku menganggap itu bukan acara penting.”
 
***
 
     Masih terngiang-ngiang di dalam pendengarannya. Bagaimana berita itu menggelegar bagai petir yang menyambar. Hati yang teduh bak tanah berbunga seketika hancur oleh ledakan amarah disertai kebencian.
 
     Arandra – mematung terluka kala ia telah mengetahui jati diri Soa. Ia ingat betul apa yang Sally katakan.
 
     “Kau lihat! Betapa bodohnya dirimu yang sudah ditipu olehnya!
 
     “Ini menggelikan sekali. Orang yang kau cintai ternyata orang yang paling kau benci.”
 
     Arandra juga ingat bagaimana sepuas hati Selly menertawakan dirinya yang saat itu tertegun masih tak menyangka.
 
     Arandra semula memang tak percaya, Walaupun ia sadar Selly tak pernah menipunya. Hingga pada akhirnya ia putuskan mendatangi rumah Soa dan menyusup di tengah lelap gadis itu mencari di mana catatan curahan hati miliknya berada.
 
     Dan sampailah ia juga menemukan catatan yang sama. Hatinya langsung hancur menjadi serpihan. Tulisan itu bagaikan tebasan yang melahirkan darah kekecewaan.
 
     Arandra seketika hancur! Cinta dan dendamnya bertempur panas. Ia kalut – tidak tahu bagaimana harus menghadapi kenyataan.
 
     “Hentikan memikirkannya, dia sudah menghianatimu!” tegas Omer yang tak lama kemudian muncul di tengah lamunan Arandra. “Kau sudah tidak perlu memandangnya sebagai Molek lagi. Gunakan rasa dendammu! Biarkan dia mati perlahan-lahan untuk menjadi budak Grazian!”
 
     Kebisuan menimpa Arandra. Saat ini sulit sekali buatnya untuk berpikir.
 
      “Sepertinya sahabatmu masih perlu waktu, Omer.”
 
     Selly tiba-tiba ikut bersuara.
 
     “Mau apa lagi kau di sini?!!” ucap keras Arandra yang terkejut dengan kehadirannya. “Aku tidak ingin melihatmu Selly!!!”
 
     “Ups! Galak sekali. Apa kau sedang menunjukkan rasa kecewamu sekarang?” Selly terdengar mengejek.
 
     “Selly, sebaiknya kau pergi saja,” Omer turut meminta.
 
     “Tidak sebelum aku mengatakan keinginanku.”
 
     Seketika Arandra dan Omer dibuatnya memicingkan mata.
 
     “Dengar Arandra! Biar bagaimanapun aku adalah keturunan Jorell. Tentu aku akan sangat sepihak dengan Raja Osbert yang adalah leluhurku.
 
     “Aku akan mengatakan padanya bahwa aku sudah menemukan keturunan yang dia cari. Dengan begitu aku akan mendapatkan lebih banyak kekuatan dari Raja Osbert.
 
     “Aku akan menjadikan gadis itu hadiah untuk keluarga Grazianku. Tapi di satu sisi... aku juga tidak ingin memiliki pasangan yang tidak punya posisi tinggi di Grazian.”
 
    “Apa maksudmu?! Katakan yang jelas!” hardik Arandra.
 
     “Pikirkanlah jika berita ini kau yang bawa ke hadapan Raja. Tentu dia akan membebaskanmu dari hukuman ini dan mengembalikan semua kekuatanmu.
 
     “Jadi jika kau meninggalkan gadis itu dan memilih bersamaku! Aku akan memberimu kesempatan untukmu membawa berita ini kepada Raja.”
 
     Omer yang turut mendengarnya tergelitik. Baginya itu sungguh penawaran yang menarik yang tak seharusnya Arandra tolak.
 
     “Apa kau pikir aku akan tertarik?! Sebaiknya kau gunakan itu untuk menambah kekuatanmu sendiri!” ketus Arandra.
 
    “Hei Arandra! Jangan bodoh!” Omer memperingati. “Ini kesempatan besar! Apa lagi yang kau harapkan dari gadis itu?!”
 

Komentar Buku (488)

  • avatar
    Heyy Rii

    bagusssss

    09/05/2025

      0
  • avatar
    lidax

    bagus

    05/05/2025

      0
  • avatar
    azzahraindah

    cerita yg bagus

    25/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru