Natasha berjalan tegap menuju ruangan yang merawat Karen. Di tangannya sudah membawa kantong plastik yang berisi buah anggur kesukaan putrinya itu. Natasha pun terus tersenyum membayangkan ekspresi Karen saat melihat buah kesukaannya. Namun, belum sempat langkahnya sampat di depan ruangan Karen. Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang. "Bu. Bu Natasha," panggil seorang perawat. Natasha pun langsung menoleh dan menatap wanita yang terlihat lima tahun lebih muda darinya itu berjalan ke arahnya. "Iya, Sus. Ada apa ya?" tanya Natasha bingung. "Bu Natasha ditunggu di ruang administrasi sekarang," jawabnya yang langsung membuat senyum Natasha memudar. 'Pasti masalah biaya,' ujar Natasha dalam hati. Ia pun berusaha menarik kedua ujung bibirnya bersamaan. "Baik. Saya kesana sekarang," balas Natasha. "Kalau begitu saya permisi dulu," pamit si Suster yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Natasha. Setelah Suster itu pergi, Natasha pun menghembuskan nafas beratnya. Lalu ia memutar arahnya. Dengan gontai ia berjalan ke ruang administrasi. Tok. Tok. Tok. Natasha mengetuk pintu kaca buram yang tertutup rapat itu. "Masuk!" perintah seseorang dari dalam. Natasha pun langsung membuka pintu itu dan segera masuk ke dalam ruangan itu. "Selamat siang, Dok," sapa Natasha sambil menggerakkan kepalanya ke bawah. "Selmaat siang, Bu Natasha. Silahkan duduk," kata wanita yang sedang sibuk dengan buku di depannya itu. "Baik, Bu." Lagi-lagi Natasha langsung melakukan apa yang ia perintahkan. "Bagaimana Bu Natasha? Apa anda sudah memutuskan akan menerima atau menolak rekomendasi dari kami untuk memenuhi pembiayaan perawatan Karen?" tanya wanita itu tanpa basa-basi. "Oh, mengenai Asuransi Kesehatan itu ya, Dok," balas Natasha pelan. "Iya, betul sekali," sahut Dokter itu sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Ehms…. Sebenarnya saya masih bingung. Apa harus saya terima atau saya tolak. Mengingat gaji saya belum tetap. Jadi, saya masih mempertimbangkannya," kata Natasha sambil menundukkan pandangannya. Matanya pun berkaca-kaca mengingat perbuatannya hari ini tidak memikirkan nasib Karen sama sekali. Huft. Terdengar si Dokter pun menghembuskan nafas beratnya. "Begini Bu Natasha. Sebenarnya, Karen sangat membutuhkan perawatan yang lebih baik daripada rumah sakit ini. Selain itu, uang yang kemarin Ibu bayarkan. Hanya mampu membayar biaya rawat inap empat hari pertama Karen dibawa ke sini. Sedangkan sisanya anda belum membayarnya sama sekali. Termasuk saat Karen masuk ruang ICU," jelas Dokter itu dengan nada penuh penekanan. Natasha pun langsung mengangguk mantap. "Iya, Dok. Saya tau. Saya sangat tau itu. Tapi, saya belum memegang uang sekarang. Jadi, saya mohon kebijaksanaan dari pihak rumah sakit." Air mata Natasha pun jebol saat mengatakan hal itu. Ia tidak bisa lagi menahan kesedihannya ini. "Bu Natasha. Saya sangat mengerti keadaan Ibu yang tidak lagi seperti dulu. Namun, saya juga hanya menjalankan tugas disini. Sebenarnya, kemarin ada pasien baru yang akan menempati ruangan yang Karen gunakan sekarang. Jadi, jika anda tidak kunjung melunasi tagihan rumah sakit ini. Saya tidak menjamin Karen masih bisa dirawat di ruangan itu." "Apa, Dok? Kenapa begitu? Saya pasti bayar kok Dok. Saya hanya menunggu waktu untuk mendapatkan uang. Saya tidak akan kabur kemana-mana," timpal Natasha dengan nada tak bersemangat. "Iya. Saya hanya menyarankan agar anda segera melunasi pembayaran itu saja." Natasha pun segera menyeka air mata yang sudah berkumpul di kedua matanya. "Baik, Bu. Saya akan segera mencari uang untuk itu." "Baiklah. Saya hanya ingin memberitahu hal itu. Jika tidak ada pertanyaan lagi. Anda bisa keluar dari ruangan ini," kata Dokter itu. "Terima kasih, Bu. Selamat siang." Natasha pun segera beranjak dari duduknya. "Selamat siang," balas Dokter itu sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Seraya menatap Natasha pergi. Sementara itu, Natasha berjalan dengan gontai keluar ruangan. Kakinya terasa sangat berat dan gemetar untuk digerakkan. Blak! Natasha pun menutup pintu ruangan itu lalu menyandarkan badannya ke dinding yang berada di samping pintu. Air matanya pun seketika mengalir deras. Isak tangisnya pun langsung direda dengan membungkam mulutnya sendiri menggunakan lengan kanannya. 'Ya Allah bantulah aku… hiks… hiks…. Sungguh aku tidak tau harus melakukan apalagi untuk bisa membayar pengobatan Karen. Hiks…. Aku tidak mungkin menerima bantuan Shelin. Hiks. Sementara aku tau uang itu akan dia pakai untuk acara pesta pernikahannya. Hiks…. Hiks…. Tolonglah, Tuhan. Tolonglah…. Hiks…. Hiks…,' batin Natasha di dalam tangisannya. "Bu Natasha," panggil seseorang yang langsung membuat Natasha menghentikan tangisannya. Ia pun segera menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya. Tak mau Dokter yang memanggilnya akan melihat keterpurukannya saat itu. "Iya, Dok. Ada ap_?" Ucapan Natasha pun terhenti saat badannya memutar dan menemukan dua sosok laki-laki berbadan tegap dengan jas dan celana hitam yang terlihat rapi. "Anda siapa?" tanya Natasha dengan kening yang berkerut sempurna. "Bos besar kami ingin menunggu anda di sebuah tempat sekarang," ujar laki-laki berambut cepak dengan tegas. "Bos besar kalian siapa? Untuk apa bertemu dengan saya?" tanya Natasha bingung. "Kami harap anda tidak perlu banyak bicara. Lakukan saya apa yang kami minta. Kami berjanji tidak akan melukai anda sedikit pun," balas laki-laki yang lain. "Enggak. Enggak. Saya tidak mau pergi bersama orang yang tidak saya kenal. Selain itu, siapa orang yang kalian maksud saya juga tidak tau benar. Jadi, maafkan saya," sahut Natasha. Ia pun membalik badannya dan hendak melangkah menjauh. Namun, belum sempat ia melangkah jauh kedua pundaknya ditahan dengan erat. "Kami harap. Anda tidak akan memaksa kami untuk melakukan kekerasan. Jadi, kami mohon kerjasamanya," ujar lelaki pertama. Natasha pun menghempas kedua tangan kekar laki-laki itu. "Baiklah. Saya akan temui Bos anda. Tapi, setelah itu jangan ganggu hidup saya kembali. Mengerti?!!" "Tentu. Silahkan," kata laki-laki kedua sambil mempersilahkan Natasha berjalan melewati mereka berdua. Sedangkan mereka pun segera mengikuti arah Natasha pergi. Natasha berjalan keluar gedung rumah sakit elit itu sambil sesekali menengok ke belakang. Dia yang tidak kenal dengan kedua laki-laki itu. Tentu menaruh rasa curiga dan selalu waspada. Bisa saja dia akan melukai Natasha dari belakang. Sehingga, Natasha pun sesekali menoleh ya. Namun, sampai tiba di depan rumah sakit apa yang dibayangkan Natasha tidak terjadi juga. Malah dengan sigap mereka membukakan pintu mobil mewah berwarna hitam yang sudah menunggu mereka di depan pintu rumah sakit. "Silahkan, Bu Natasha," kata si rambut cepak. Natasha pun menatap kedua orang itu bergiliran. Rasanya ia ingin lari saja daripada harus mengikuti mereka berdua. "Jangan takut. Kami tidak akan melukai anda," kata si rambut ikal dengan tegas. Natasha pun tak punya pilihan lain selain masuk ke dalam mobil itu. Blak! Dan si rambut cepak segera menutup mobilnya kembali. Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Satu duduk di samping sopir satu lagi duduk di samping Natasha. Mobil pun segera melaju meninggalkan tempat itu. Menyusuri jalanan ibukota hingga akhirnya sampai di sebuah gedung apartemen mewah. Lelaki yang duduk di samping sopir pun segera turun dan membukakan mobil untuk Natasha. "Silahkan turun, Bu Natasha," ujarnya. Natasha pun tak langsung melakukan apa yang dia perintahkan. Natasha justru mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan kening yang berkerut sempurna. "Jangan takut. Kita tidak akan berbuat hal-hal buruk pada anda," kata lelaki yang duduk di samping Natasha. Natasha pun berpikir sejenak. Lalu setelah menelan salivanya dengan susah payah. Akhirnya ia pun menurunkan kakinya satu per satu. Mereka kembali mengawal Natasha menuju sebuah unit yang berada di lantai sebelas. Perasaan Natasha pun tak menentu, pikirannya melayang-layang dan jantungnya berdetak tak karuan. Lift pun terbuka lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju salah satu unit di lantai itu. Sampai di depan salah satu pintu si rambut ikal pun membuka pintu itu dengan menempelkan sebuah smart card di tempat yang sudah disediakan. Cekrek! Pintu pun otomatis terbuka. "Silahkan, Bu. Anda sudah ditunggu di dalam," kata lelaki tadi. Dengan ragu Natasha pun masuk ke dalam ruangan mewah itu. "Selamat datang, Bu Natasha," ujar seorang laki-laki yang langsung membuat Natasha menoleh. "Anda?" tanya Natasha dengan pandangan yang membulat seketika.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru
13/08
0nice
05/10/2025
0kren sekali ceritanya
10/09/2025
0Lihat Semua