Dengan langkah gontai Natasha berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Air matanya pun kini tak dapat mengalir lagi. Seakan sudah habis karena ia gunakan untuk menangis sepanjang jalan. Sampai di ruang ICU yang merawat Karen senyumannya pun mengembang. Melihat kondisi Karen yang kini sudah lebih baik dari saat ia meninggalkannya tadi. "Karen. Kamu sudah baikan, Nak?" ujarnya sambil berlari ke arah anak perempuan berumur lima tahun yang sedang makan sate lontong kesukaannya itu. Shelin yang sedang menyuapi Karen pun segera beranjak dari tempat duduknya. "Kondisinya membaik sekitar satu jam yang lalu. Karena dia lapar dan minta sate Madura. Aku beliin deh. Untung di depan ada. Habisnya loe lama banget? Kemana aja sih? Malem gini baru sampai?" brondong Shelin dengan wajah khawatir. "Ceritanya panjang Shel," balas Natasha dengan tidak semangat. Tangannya pun mengusap lembut ujung kepala Karen dengan lembut. "Tapi, loe dapet ceknya kan?" tanya Shelin cepat. Natasha pun menunduk pandangannya. Air matanya seketika berkumpul di pelupuk mata. "Cek itu hilang, Shel," balas Natasha lirih. Nyaris tidak terdengar. Segera Natasha pun mengusap air matanya sebelum Karen melihatnya menangis. Shelin menatap Natasha dengan iba. 'Aduh. Kasian banget Natasha. Gue yakin dia pasti hancur banget sekarang,' batin Shelin. "Ehm. Karen maemnya udahan dulu ya? Tante mau bicara sama Bunda sebentar," pamit Shelin. "Iya, Tante. Karen juga sudah kenyang," balas putri semata wayang Natasha itu dengan polos. "Ya, sudah. Kalau begitu Karen minum terus bobok lagi ya. Nih, minumannya." Natasha pun menyodorkan segelas air putih lalu ia berikan pada sang anak. Karen pun meraihnya dengan senang hati "Baik, Bunda. Bunda jangan pergi-pergi lagi ya. Karen tidak mau jauh-jauh dari Bunda," pesan Karen. Lalu ia pun meminum air putih di tangannya beberapa kali. "Iya, sayang. Bunda sama Tante Shelin cuma mau ngobrol di depan kok nggak kemana-mana," sahut Natasha sambil meraih gelas minumannya lagi. Segera ia letakkan gelas itu di atas lemari kecil di samping tempat tidur anaknya. Setelah menyelimuti tubuh Karen. Segera ia pun pergi dari ruangan itu. Blak! Natasha menutup pintu ruang rawat Karen. Di luar Shelin pun sudah menunggunya. "Gimana? Udah tidur?" tanya Shelin. "Iya. Baru aja mau tidur," balas Natasha sambil menganggukkan kepalanya. "Jadi, gimana dengan cek yang dikasih sama Zulfikar waktu itu?" tanya Shelin lirih. "Tadi gue sudah ambil beserta berkas perceraian gue. Tapi, saat gue mau masukin kantong tiba-tiba angin datang lalu menerbangkan kertas kecil itu. Awalnya cek itu jatuh di dalam helm seorang pengendara sepeda motor. Namun, setelah gue kejar dia. Cek itu malah menghilang," cerita Natasha dengan mata yang menerawang entah kemana. Mata Natasha pun kembali berkaca-kaca. "Nat. Loe sabarnya. Loe tuh harus dengerin gue. Pakai dulu uang gue untuk memindah Karen ke rumah sakit yang lebih memadai. Loe lebih butuh daripada gue, Nat," kata Shelin sambil mengusap punggung Natasha pelan. "Nggak, Shel," balas Natasha cepat. "Gue tau banget. Kalau udah dari dulu loe selalu mengidamkan pesta pernikahan ala-ala putri negeri dongeng. Dan sekarang, semuanya ada di depan mata loe. Semuanya hampir terjadi. Gue nggak pengen merusak kebahagiaan elo, Shel," lanjut Natasha mantap. "Tapi, loe lebih butuh daripada gue Nat. Loe harus segera menyembuhkan penyakit Karen," sahut Shelin keukeuh. Natasha pun menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Bener. Loe bener. Gue memang harus segera menyembuhkan penyakit Karen. Tapi, nggak dengan mengorbankan kebahagiaan elo juga, Shel. Gue yakin! Pasti ada cara lain." Natasha pun berkata dengan sungguh-sungguh. "Tunggu! Gue jadi ingat sesuatu," kata Shelin tiba-tiba. "Apa?" tanya Natasha cepat. "Gue baru inget kalau SMA Bunga Bangsa tuh lagi butuh seorang guru BP lho. Pas banget, kan? Loe kan dulu mengambil Fakultas Psikologi. Ya, paling nggak loe bisalah mengatasi hal-hal tentang kenakalan remaja," kata Shelin dengan nada menggebu-gebu. "Guru BP?" gumam Natasha mengeja sambil mengerutkan keningnya. "Heeh. Dan kata temen gue, gajinya tuh cukup besar lho. Jadi, loe bisa ambil Asuransi Kesehatan yang direkomendasikan oleh Dokter Pras. Iya, kan?" "Tapi, gue nggak pernah ada bayangan untuk jadi guru, Shel. Gimana cara gue ngajarnya?" "Hello, sayang. Ini tuh guru BP. Ibaratnya kayak konsultan psikologi di lingkungan sekolah. Palingan ya ngurusin anak-anak bandel," kata Shelin entheng. "Hah?" Natasha pun terlihat syok dengan ucapan Shelin barusan. "Come on. Nggak usah di pikirin gimana ulah sekumpulan bocah ingusan itu. Yang loe harus garis bawahi. Gajinya Gedhe." Shelin pun mengeja ucapan terakhirnya dengan nada yang ia tekan setiap suku katanya. Natasha pun melirik Shelin yang duduk di sebelahnya. Raut wajahnya yang menyedihkan kini berangsur berubah menjadi raut wajah orang kebingungan. "Nggak usah bingung gitu. Syaratnya mudah banget kok. Jadi, loe nggak perlu khawatir untuk mencari berkas persyaratannya," ujar Shelin sambil menaik-naikkan sebelah alisnya. Kerutan di kening Natasha pun tak memudar, justru semakin kelihatan. "Apa?" tanya Natasha pelan tapi pasti. Hatinya merasa ada yang aneh dengan pekerjaan ini. "Syaratnya?" tanya Shelin balik nanya. "Iya. Syaratnya apa?" ujar Natasha tidak sabar. "Syaratnya tangguh," jawab Shelin mantap. "Apa?! Syarat macam apa itu?!" Natasha pun hampir berteriak. Mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya. "Ya, menurut temen gue sih gitu. Kebetulan dia itu anak kepala sekolah di SMA Bunga Bangsa. Jadi, ya dia banyak tau lah tentang sekolahan itu," kata Shelin yang membuat Natasha kembali terdiam. Otaknya pun berpikir keras. "Gimana, Nat? Lumayan lho itu. Jarang-jarang ada pekerjaan semudah ini," ucap Shelin memanas-manasi. 'Bener juga kata Shelin. Tapi, gimana kalau anak-anak badung disana kayak cowok tengil tadi sore. Aduh. Sudah pasti hidup gue bakal semakin susah. Ketemu dia sekali aja bikin cek gue ilang. Kelamaan ketemu dia bisa-bisa harga diri gue yang ilang,' batin Natasha sambil mengacak rambutnya sendiri. "Aaargh…." Natasha pun bergumam sambil menggeleng kepalanya beberapa kali. Shelin yang sedari tadi memperhatikan Natasha pun langsung merubah tatapannya dengan tatapan aneh. Kedua alisnya pun nyaris bertabrakan. "Nat. Loe kenapa? Nggak jadi gila, kan. Gara-gara gue suruh jadi Guru BP?" tanya Shelin dengan raut wajah ketakutan. Ia takut Natasha benar-benar stres dan kehilangan akal sehatnya. Lantaran masalah yang terus menerus menerpa hidupnya. Natasha pun menghentikan gerakan bodohnya. Lalu ia melirik Shelin dari sela-sela rambutnya yang berantakan. Persis seperti orang gila beneran. Shelin pun membalas tatapan Natasha dengan penuh waspada. Perlahan ia menjauhkan diri dari tubuh Natasha. 'Kali aja Natasha akan melompat ke arah gue lalu menerkam gue. Dia kan udah gila sekarang,' batin Shelin. Sambil memundurkan badannya saat badan Natasha semakin mendekat. "Mau ngapain loe?" tanya Shelin ketakutan. Natasha pun terus menatapnya dengan ekspresi datar. Lalu saat badan Shelin sudah terjepit. Tiba-tiba…. "Hahaha. Loe beneran takut gue jadi zombie ya," canda Natasha. "Sialan loe. Bikin gue jantungan aja deh," protesnya sambil mendorong tubuh Natasha menjauh. "Hahaha. Dasar penakut." "Terus gimana tawaran gue mau nggak?" ujar Shelin kembali serius. Natasha pun menghentikan tawanya lalu ia pun mengangguk mantap. "Nah. Gitu dong. Itu baru Natasha yang gue kenal," lanjut Shelin. Sambil merangkul leher Natasha erat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru
13/08
0nice
05/10/2025
0kren sekali ceritanya
10/09/2025
0Lihat Semua