Dengan menggandeng Rinjani, Arsha membawa sahabatnya itu menuju parkiran rumah sakit. Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil dan Arsha segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. “Sudah, Rin, jangan menangis. Agam baik-baik saja,” ujar Arsha berusaha menenangkan Rinjani. “Tapi kenapa dia nggak ngabarin aku, Sha? Apa aku setidak penting itu?” Ucapan Rinjani seolah menampar Arsha. Namun, mau bagaimana lagi. Semua yang Arsha dan Eisha lakukan adalah agar Rinjani tidak terlalu bergantung kepada Agam. Meski sayangnya itu semua berakhir sia-sia. Arsha berusaha untuk tetap fokus mengendarai, meski pikirannya berkecambuk. Melihat reaksi Rinjani yang begini membuat gadis itu semakin ketakutan. Arsha takut jika hal buruk terjadi pada Agam maka Rinjani juga tidak akan baik-baik saja. Berkali-kali Arsha menggeleng, dia berusaha mengusir segala pikiran buruk yang memenuhi otak. Salah satu tangan Arsha terulur menyentuh pundak Rinjani seraya berkata, “Tenang, Rin. Aku Agam baik-baik aja. Mungkin mereka lupa nggak ngabarin kita. Aku aja tanya dulu baru dikasih tau.” Rinjani menghapus air matanya dan berusaha menormalkan emosi. Dia berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. “Iya, Sha, maaf aku terbawa emosi,” ujar Rinjani tanpa ada ekspresi di wajahnya. Setelahnya tidak ada yang kembali berucap. Perjalanan menuju vila terasa sangat sepi. Dua gadis itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. *** Sesampainya di halaman vila, Rinjani bergegas turun dari mobil. Dengan langkah tergesa-gesa, Rinjani menuju pintu masuk dan mengetuk dengan tidak sabaran. Eisha yang sedang berada di ruang tamu, segera membukakan pintu. Awalnya wanita paruh baya itu sedikit terkejut melihat Rinjani di depannya. Namun, dia segera menormalkan raut wajahnya. “Rinjani—” “Bunda, Agam di mana?” tanya Rinjani dengan raut wajah tanpa ekspresi. Eisha sedikit menyesal telah melakukan percobaan gila ini. Terlebih saat melihat bagaimana perubahan sikap Rinajni terhadapnya. Rinjani tak sehangat biasanya, kini dia dingin dan wajahnya tak berekspresi. “Agam di kamar.” Eisha berkata sambil membuka pintu lebih lebar, mengizinkan Rinjani dan Arsha masuk. Tanpa bertanya lebih lanjut, Rinjani bergegas menaiki tangga menuju kamar Agam. Gadis itu sebenarnya ingin marah kepada Eisha, tetapi dia berusaha menahannya. Dan, seperti inilah cara Rinjani menahan amarahnya, dengan tidak banyak bicara dan tak berekspresi. Namun, hal itu disalah maknakan oleh Eisha. Saat Rinjani melewatinya begitu saja, tanpa banyak kata, wanita paruh baya itu menyesali perbuatannya. Kini Eisha terduduk di sofa ruang tamu sambil menangis dan berkali-kali menggumamkan kata maaf. Wanita itu benar-benar menyesal, karena perbuatannya menyebabkan dia kehilangan seorang putri. Sementara itu, di kamar Agam sedang terjadi perang dingin. Rinjani yang masuk ke kamar pria itu tanpa ekspresi dan mulut terkunci rapat membuat Agam semakin merasa bersalah. Berkali-kali Agam meminta maaf, tetapi Rinjani hanya menatapnya datar. “Rin, mau sampai kapan kamu diam? Tolong maafkan aku. Tolong, Rin …,” ucap Agam terdengar sangat lemah dan putus asa. “Maaf untuk apa?” Hanya tiga kata itu yang terucap dari mulut Rinjani. Namun, nyatanya berhasil membungkam Agam yang hendak berkata. “Maaf, salahku banyak padamu. Aku, aku tidak berniat untuk sembunyi, hanya saja …,” “Hanya saja apa, huh? Sudahlah. Mulai sekarang kamu harus ingat, kamu adalah milikku, ke mana pun dan apa pun yang akan kamu lakukan aku harus tau.” “Iya, aku janji—” “Tidak perlu janji kalau hanya untuk diingkari. Buktikan saja dengan melakukan hal itu,” sahut Rinjani ketus. “Iya, Rin. Akan aku lakukan. Sekarang tolong maafkan aku, ya,” bujuk Agam sambil tersenyum manis. Tatapan Rinjani melunak. Sebuah senyum tipis kembali terbit di wajah gadis itu. “Iya, aku maafkan. Jangan ulangi lagi jika kamu tidak ingin aku mati.” Agam hanya bisa mengangguk meski sebenarnya ada banyak hal yang ingin dia sampaikan. Aku jadi semakin takut, Rin. Takut jika waktuku tidak cukup untuk menemanimu. Aku hanya berharap, jika suatu hari aku pergi, kamu akan baik-baik saja. Melihat bubur di meja nakas hanya dimakan setengah, membuat Rinjani tahu jika Agam sulit makan. “Gam, aku potongkan buah, ya. Katanya mau cepat sembuh, tapi makan pun tidak habis.” “Iya, buah apelnya saja, ya,” sahut Agam sambil tersenyum. Seandainya kamu tau, Rin. Semua itu terasa hambar bagiku. Itu kenapa aku tidak mau memakannya. Dengan telaten, Rinjani menyuapkan potongan demi potongan buah apel itu kepada Agam. Dan pria itu terus saja menerimanya dengan senang hati, seolah-olah apel itu terasa sangat manis. “Rin, aku haus,” ujar Agam. Tangan Rinjani cekatan mengambilkan minum di nakas, dan memberikannya pada pria itu. Agam menerimanya dan langsung meminum air putih itu hingga tandas. “Sebentar, biar aku ambilkan lagi,” ucap Rinjani sambil berlalu keluar dari kamar Agam. Saat Rinjani berada di ujung tangga, mata gadis itu melihat jika Arsha dan Eisha sedang membicarakan hal yang serius. Rinjani berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan bunyi. Gadis itu berdiri di balik pilar dan mencoba untuk mendengarkan pembicaraan Arsha dengan Eisha. “Bunda, sebenarnya bagaimana dengan kondisi Agam? Apakah pendarahan itu cukup parah? Apa akibatnya?” Eisha terlihat menghela napas lelah. “Jika dilihat sekilas, Agam sangat sehat, Sha. Hanya saja, kita tidak tau bagaimana di dalamnya dan apa yang sebenarnya dia rasakan.” “Bunda, kapan akan memberitahu Rinjani tentang—” “Nanti bunda kasih tau ke Rinjani, kalau tiga hari lagi Agam sudah boleh berangkat. Bunda nggak tega juga lihat Rin khawatir banget sama Agam,” potong Eisha dengan cepat, ketika ekor matanya menangkap kelas melayang di dekat pilar. Dia yakin itu adalah Rinjani. Mata Arsha menatap Eisha dengan sorot kebingungan. Namun, saat dia menangkap kode tangan untuk diam dari Eisha, dia menjadi paham kalau Rinjani berada tidak jauh dari mereka. “Baik, Bunda. Kalau gitu aku ke kamar Agam dulu mau lihat sepupu nakalku itu,” sahut Arsha agar Rinjani tidak curiga. Saat melihat Arsha bangkit dari sofa, Rinjani bergegas ke dapur. Dia berusaha menutupi raut khawatir di wajahnya dan fokus pada tujuannya. Setelah selesai mengisi gelas kosong di tangannya, Rinjani bergegas kembali ke kamar. Lagi-lagi dia terhenti di depan pintu masuk yang sedikit terbuka. Telinga Rinjani kembali menangkap sesuatu yang janggal. Tidak biasanya Arsha bertanya dengan penuh kekhawatiran kepada Agam. “Gam, gimana keadaan kamu?” tanya Arsha dengan suara pelan karena menahan tangis. “Nggak usah cengeng. Jelek kamu kalau nangis gitu. Aku baik-baik saja kok. Hanya merasakan kehambaran dunia,” ucap Agam di sela-sela kekehannya. Agam memang merasa kesal dan tidak nyaman dengan kondisinya saat ini. namun, pria itu lebih tidak suka jika orang-orang terkasihnya merasa sedih karenanya. Jadi, Agam harus lebih kuat dari mereka, meski terkadang dia menangis dalam kesunyian malam. “Aku serius, Agam,” geram Arsha sambil menghapus air matanya. Lagi-lagi Agam terkekeh mendengar protes dari sepupunya itu. “Aku juga serius, kok. Kamu tenang aja, sepupumu yang tampan ini bukan pria lemah. Cukup dengan kalian tersenyum dan selalu ada bersamaku, itu bisa membuatku semakin semangat untuk segera pulih. Lagipula, sebentar lagi aku juga akan mulai berangkat kuliah.” “Tapi, Gam, kamu kan belum pulih.” Agam menempelkan jari telunjuknya pada bibir Arsha sambil melirik sebuah bayangan yang berasal dari sela-sela pintu. “Aku sehat. Aku hanya butuh istirahat dan tidur. Besok-besok aku juga sudah lebih baik, oke?” Saat tidak terdengar perdebatan lagi, Rinjani mengetuk pintu kamar dan masuk seolah tidak mendengar apa pun.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus asik
07/07
0good
23/03
0keren
22/01
0Lihat Semua