Baru saja Julian merasa nyaman dengan rumah barunya. Baru saja ia merasa bahwa kehidupannya akan segera berjalan normal. Saat itu pula ayahnya akan dengan senang hati menghancurkannya. Malam itu, mereka bertiga duduk mengitari meja makan. Suasanya hening, tidak ada yang salah dengan makanannya. Semua sudah ditata rapi, semua makanan kesukaan Julian. Sesajen. Ini sesajen yang disediakan Elijah agar anaknya tidak mengamuk. Rey duduk tegak di kursinya. Mulutnya mengunyah tanpa suara. Tidak sekali pun pandangannya terlepas dari piring di hadapannya. Sedang Elijah sama saja. Sejak tadi selalu menunduk, berusaha menikmati santap malam seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi. Julian? Julian sudah kehilangan selera makannya sejak tadi. Julian tidak yakin kenapa, mungkin karena ada seorang perempuan yang masuk ke dalam kamar mandinya saat ia sedang telanjang. Mungkin, karena perempuan paling galak satu sekolahnya ada di kamar mandinya saat ia sedang telanjang. Mungkin… Mungkin karena Rey adalah yang diharapkan Julian ada di kamar mandinya saat ia sedang telanjang. Sial. Julian sulit untuk menjabarkan bagaimana perasaannya saat ini. Julian merasa canggung, nervous, sepertinya ia dapat mendengar suara debar jantungnya sendiri. Rasanya seperti sedang berpidato tentang kebebasan hak asasi manusia di atas panggung stand up komedi. Julian ingin serius, tapi semua penonton datang untuk mendengar lawakan. Aneh bukan? Tentu. Julian sudah berusia delapan belas. Dan selama itu ia belum pernah berpisah dari ayahnya. Dan dalam tiga bulan setelah ibunya meninggal, Julian sudah tidak lagi mengenal ayahnya. Apa isi pikirannya? Apa motif dari semua hal yang Elijah lakukan? Julian yakin kalau ayahnya itu tahu bagaimana caranya mengemukakan pendapat, menyampaikan maksud, bermusyawarah. Itu yang sudah mereka lakukan bertahun-tahun dalam rumah mereka. Bertiga, keluarga kecil mereka. Dan bagaimana mungkin ayahnya dapat membawa seorang gadis yang baru ia kenal fisiknya saja ke dalam rumah mereka? Tanpa sepengetahuan Julian? Baik. Ini rumah milik ayahnya. Julian tidak berhak untuk mendikte apa yang harus ayahnya lakukan. Julian juga tidak berhak untuk menolak atau memberikan ijin, untuk apa pun yang Elijah lakukan. Elijah sudah terlalu dewasa untuk menentukan sikap terhadap apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Tapi, sebegitu sulitkah memberi tahu anaknya bahwa dirinya akan membawa seorang gadis, di bawah umur, untuk tinggal bersama kami? Tidakkah Elijah berpikir tentang orang tua Rey? Tidakkah Elijah ingin tahu bagaimana pendapat polisi jika sesuatu terjadi dan mengancam ketenangan mereka? Siapa yang tahu kalau ternyata orang tua Rey adalah seorang mafia? Siapa yang mau bertanggung jawab kalau nantinya sesuatu terjadi pada Rey? Siapa yang mau tahu kalau ‘amit-amit’ Rey ternyata bekerjasama dengan perampok kelas kakap dan merampok mereka. Apakah ayahnya sudah ingin menikah lagi? Oh tidak! Kenapa harus Rey? Rey masih SMA! Rey punya masa depan! Dan, Rey lebih cocok jadi anaknya Elijah! Kepanikan Julian hanya berlangsung di dalam kepalanya. Julian masih memandangi dua orang di depannya. Sungguh, Julian ingin tahu, sampai berapa lama ayahnya bisa bersikap santai kalau dipelototi begini. Dan sesuai dugaan, Elijah akhirnya tidak tahan. “Baik,” kata lelaki itu sambil menaruh sendoknya. Kemudian mendorong piringnya menjauh. Julian menunggu. Dagunya berpangku pada telapak tangan. Ia sudah tidak sabar mendengar penjelasan ayahnya. "Ini Rey, mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita." Itulah kalimat pertama Elijah. Rey menaruh sendoknya, ia mendorong piringnya menjauh. Menyembunyikan sikap gugupnya. Ia pandangi Julian tanpa ekspresi. Yang membuat Julian bingung adalah, pipinya yang terasa panas. Bukankah seharusnya Julian yang mengintimidasi Rey? Tapi, ia tidak boleh terbakar perasaan sekarang. Rey memang lebih baik tanpa seragam sekolah. Sial. Fokus. Julian menyemangati dirinya. Di bawah meja Julian mencubit pahanya diam-diam. Berusaha mengumpulkan dirinya yang objektif lagi. "Ayah pasti sudah tahu kalau aku mengenalnya. Tapi kenapa dia ada di sini? Dan kenapa dia harus tinggal dengan kita?" Julian bersandar di kursi meja makan, melipat tangannya di dada. “Apa ayah sudah ingin menikah lagi?” “Julian!” bentak Elijah. “Jaga omonganmu!” Julian menaikkan bahunya. “Kalau memang bukan begitu, kenapa Ayah tidak bilang saja alasannya? Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Kenapa Rey harus tinggal dengan kita?” "Karena dia tidak tahu akan tinggal di mana," sahut Elijah. Kini sambil menunduk. Dipikirnya Julian akan dengan mudah merasa kasihan dengan gestur semacam itu. "Ayah yakin rumah kita satu-satunya tempat di kota ini yang bisa Rey tinggali? Ayah, Rey di bawah umur." "Aku akan delapan belas tahun bulan depan." Rey masuk ke dalam pembicaraan anak dan ayah di depannya. Julian nampak tidak tertarik pada jawaban Rey. Ini urusannya dengan sang ayah. Julian juga tidak mau memandang Rey, takut fokusnya hilang. Ia masih memburu Elijah. "Kamu ingat insiden yang ayah ceritakan? Di hari pertama kita pindah ke rumah ini?" tanya Elijah pada anaknya? "Dua minggu lalu,” jawab Julian tanpa berpikir. Tidak yakin juga pembicaraan ini akan ke mana. "Rey adalah gadis yang dipukuli ayahnya itu." Soal itu, tiap kali membicarakannya, Elijah akan jadi seperti mendapat kekuatan. Ia akan menjadi sangat menggebu. Elijah tahu, Julian lemah dengan hal-hal berbau humanisme. Tapi, harusnya Elijah juga tahu, membawa remaja permpuan sembarangan juga melanggar hukum. Untuk alasan itu Julian tidak bisa menerima begitu saja. Ya, Julian memang khawatir. Sedikit. Apalagi karena perempuan yang bernasib malang itu adalah Rey. Sekarang jadi masuk akal kenapa Rey tidak muncul di Jenggala selama dua minggu terakhir. Ia juga tidak terlihat di lingkungan sekolah. Haruskah semuanya penuh dengan kebetulan seperti ini? Julian melirik Rey yang kini menunduk. Gadis itu mungkin merasa malu. Ia mungkin merasa tidak enak karena Elijah menceritakan hal itu pada anaknya. Julian berhak tahu, bagaimana pun juga. "Aku akan membayar sewa. Aku tidak akan merepotkan." Demikian, Rey berusaha mengantisipasi kejujuran Elijah yang berikutnya. Tentang apa, Julian tidak tahu. Tapi lelaki itu bisa merasakannya. "Kamu bisa tinggal sampai benar-benar bisa mengumpulkan uang," kata Elijah. Suaranya halus. Membuat Julian memutar mata. Julian tidak siap dengan drama baru. Ia menggosok wajahnya. Menatap mata Elijah yang dengan jelas memohon. Menatap Rey, tentu, Julian tidak kuat lama-lama melakukannya. Akhirnya ia menyerah. "Oke. Oke." Elijah langsung menarik nafas lega. Sebelum senyum mencuat dari wajahnya, Julian berdiri dari tempat duduknya. "Pastikan ayahmu yang abusive tidak mengganggu kami. Setuju?" Lalu Julian meninggalkan mereka berdua saat Rey mengangguk. Julian berjalan ke arah kulkas, sedetik kemudian berbalik. "Dan jangan mengintipku lagi." Rey mengangguk lagi, telinganya berubah merah seketika. *** Julian tahu Rey sudah berdiri di belakangnya sejak tadi. Ia menaruh buku yang sedang dibacanya. Menyalakan sebatang rokok dan memandang jauh ke depan. Rey memasuki balkoni, menyalakan rokoknya dengan korek milik Julian yang ia temukan di atas meja. Kemudian berdiri di pagar batas tepat di hadapan lelaki itu. Dua menit pertama Julian hanya mendengar suara mereka berdua menghembuskan asap. Mereka tidak yakin harus melakukan apa dan bicara apa. Julian mengambil kembali bukunya dari atas meja. Sebelum sempat membukanya dan bersandar, Rey memutuskan untuk bicara. "Tolong berjanji kalau kamu tidak akan menceritakan apa pun pada siapa pun di sekolah. Terutama pada Frasa,” kata Rey. "Kamu pikir aku seorang penggosip? Apa untungnya buatku?" Julian tidak bisa menyembunyikan sisa kekesalannya pada Elijah. Julian tidak bisa menahan diri untuk tidak menyemburkan api pada Rey. Tapi dia tidak akan minta maaf. Rey menghembuskan asap rokoknya sambil mengangguk. Kemudian berbalik untuk membiarkan Julian lanjut membaca. Julian dapat melihat profil tubuh Rey dari belakang. Si nenek sihir menggulung rambutnya sembarangan, beberapa helai jatuh di tengkuknya yang jenjang. Ia mengenakan kaos berwarna putih yang kebesaran, namun Julian dapat memastikan lingkar pinggang Rey tanpa menyentuhnya. Bakat alaminya sebagai seorang lelaki. Kaki perempuan itu terlihat lebih jenjang dengan celana pendek yang sedang dipakainya. Jauh lebih baik dari rok sekolah di mana Julian lebih sering memperhatikannya. Setelah rokoknya habis, Rey mendatangi meja Julian. Ia menunduk ke arah Julian sambil mematikan rokoknya. Nafasnya menerbangkan beberapa helai rambut yang jatuh ke wajahnya. "Lain kali, aku akan marah jika kamu menilai bentuk badanku lagi. Kali ini kita impas. Karena aku sudah melihat semuanya." Rey menunjuk-nunjuk Julian dengan ujung jarinya. Wajah Julian langsung panas. Mengetahui bahwa apa yang ia lakukan tadi sama tidak bermoralnya dengan apa yang Rey lakukan di kamar mandi padanya. Julian menarik nafas panjang. Menyalakan sebatang lagi rokok sambil berdoa dalam hati. Supaya semua berjalan dengan baik setelah ini.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (27)
Callista
alur bagus banget smp lupa waktu bacanya.. banyak plot twist🥵 tapi endingnya kurang bagus
alur bagus banget smp lupa waktu bacanya.. banyak plot twist🥵 tapi endingnya kurang bagus
30/01
0baguss
24/04/2025
0keren
15/04/2025
0Lihat Semua