"Ya. Kau juga akan dapat kesempatan nanti. Mungkin sebelum aku memberikannya pada lelaki itu." "Kau yakin akan melakukannya?" tanya Erick memastikan. Sebelunya ia belum pernah melakukan hal segila ini. "Kenapa tidak? Lakukan seolah-olah mereka memang sengaja bertemu!" ucap perempuan itu mantap. "Bisa di atur. Asal ...?" Lagi-lagi Riska memutar kedua bola matanya malas. Dasar pria mata duitan! "Masalah uang kau tak perlu khawatir. Apa kau tak mengenal siapa aku?" Riska menyombongkan diri. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompet dan menyerahkannya pada Erick. "Wowww ....!" Kedua mata Erick menatap takjub perempuan yang ada di depannya. Ia tidak menyangka jika Riksa adalah pewaris dari salah satu perusahaan besar di negara ini. "Apa kau menyanggupinya?" tanya Riska sekali lagi. Rencananya besok ia baru akan memulai melakukan misi itu. "Deal!!" Keduanya berjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan. Tidak masalah bagi Erick jika malam ini tidak bisa merasakan tubuh indah itu. Toh masih banyak kesempatan untuknya mencari wanita lain di tempat itu yang bisa memuaskannya. " Di tempat lain. Sudah dua hari Airin terus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Setiap hari ia hanya di ijinkan keluar untuk berjalan-jalan sebentar, selanjutnya harus kembali ke rumah dan beristirahat lagi. Hal itu membuatnya bosan, hingga hari ketiga ia memaksa untuk pergi dan mengunjungi cafe milik sahabatanya lagi. Meski ia harus sedikit memaksa Alex agar memberinya ijin. Namun usaha kerasnya akhirnya membuahkan hasil, Alex memberinya ijin asalkan ia tidak mengerjakan sesuatu yang bisa membuatnya kelelahan. "Oke, aku janji." Airin menyanggupinya. Lagipula siapa yang mau memaksakan diri. Aku 'kan hanya membantu saja, bisik gadis itu dalam hati. "Ingat, jangan memaksakan diri. Kau baru saja sembuh." Alex kembali mengulang kata-katanya lagi, lelaki itu sembari melangkah menuju mobil. Saat ini Alex sudah menyiapkan mobil serta supir pribadi untuk Airin. Jadi, ia tidak perlu menggunakan taksi lagi jika hendak ke mana–pun. "Iya. Kenapa sekarang kamu bawel sekali?" Airin meliriknya sekilas. Lantas timbul ide jahil di kepalanya, "Apa itu tandanya kamu sudah mencintaiku?" selorohnya begitu saja. Airin sengaja mencondongkan wajahnya ke arah Alex. Alex yang baru akan membuka pintu mobil langsung menghentikan gerakannya, "Kau itu istriku. Aku hanya peduli. Jika sesuatu terjadi padamu, aku–lah yang bertanggungjawab." Menunjuk kening Airin. Selanjutnya Alex membuka pintu mobil cepat dan menutupnya kembali. Airin hanya menghembuskan napas sesaat. "Ya, ya. Hanya peduli. Kau dengar sendiri bukan? Dia hanya peduli. Jangan berlebihan mengartikan sikapnya padamu." Ia berbicara pada dirinya sendiri. Tak ingin berlama-lama, Airin lantas masuk mobil yang telah siap di depannya sejak tadi dan meminta pada supir untuk mengantarnya menuju cafe milik Nana. Tiba di cafe, Airin langsung berpapasan dengan Nana yang saat ini sedang mengecek para pegawai. Gadis itu tersenyum senang mendapati sahabatnya sudah sembuh dan terlihat lebih segar. "Bagaimana kabarmu?" tanya Nana basa-basi. Ia mengikuti langkah Airin menuju ruangannya. "Baik. Kamu tak perlu khawatir." Melihat Airin yang sudah baik, Nana tersenyum lega. Syukurlah, ia pikir gadis itu tidak akan menyambanginya lagi karena tidak di beri ijin oleh suaminya. "Bagaimana keadaan cafe selama aku tidak ada?" Airin sudah menukar pakaiaannya dengan seragam cafe, bersiap keluar dari ruangan itu menuju dapur. "Cafe juga baik-baik saja. Emm ... Rin?" Nana sedikit ragu untuk mengucapkan. Sebenarnya ia sama sekali tak keberatan jika gadis itu tetap membantunya di sini. Tapi, apa pantas jika Airin yang merupakan putri tunggal dari salah satu pemilik perusahaan besar malah bekerja dengannya. "Apa? Kamu ingin bilang apa?" Gadis itu menanggapinya dengan santai. Airin menebak jika Nana pasti akan menanyakan apa saja kegiatannya selama dua hari berada di runah. "Apa kedua orang tuamu tidak marah jika suatu hari mengetahui kamu masih membantuku di sini?" tanya Nana kemudian. Ia ingin memastikan jika suatu saat ia tidak di salahkan karena memperkerjakan Airin. "Memangnya kenapa? Aku di sini hanya membantu, bukan semata-mata ingin mencari uang, kan?" Jawaban Airin cukup santai. Memang seperti itu kan tujuannya. "Ya. Kuharap kedua orang tuamu juga tidak menyalahkanku, karena ini keinginanmu sendiri." Tidak banyak yang mereka bicarakan karena tamu di depan sana mulai banyak. Airin beranjak cepat untuk ikut melayani para pelanggang yang baru saja datang. Sedangkan Nana sibuk di belakang, mengawasi para pekerjanya yang tengah mempersiapkan makanan untuk tamu-tamu di depan sana. "Maaf, apa Anda yang bernama Airin?" Seorang wanita yang mungkin seumuran dengannya baru saja masuk dan langsung mendekatinya. Airin yang baru saja ingin ke belakang setelah mencatat pesanan salah satu tamu–pun akhirnya mengurungkan niatnya. "Ya. Saya Airin. Anda siapa?" Merasa tidak mengenal sebelumnya, Airin memperhatikan wanita itu secara seksama. "Saya hanya di titipi pesan agar di sampaikan pada Anda." Tak lama seorang pria menghampiri wanita itu. Dari caranya memperlakukan sepertinya mereka sepasang kekasih yang hendak makan di cafe itu. "Pesan? Siapa yang menitip pesan? Dan, Anda ini siapa?" Sekali lagi Airin ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita itu. "Saya hanya pelanggan yang kebetulan ingin makan di sini, dan tak sengaja bertemu dengan seorang perempuan yang menitipkan pesan untuk Anda." Ia menjelaskan lagi. "Perempuan?" Dahi Airin membentuk lipatan. Ia sungguh bingung. Selain Nana, ia hanya kenal Elisa sebagai teman wanitanya. Namun, sesaat ia kembali teringat pada sosok wanita cantik yang beberapa hari lalu mendatanginya. Apa mungkin Rengganis? Ah, rasanya tidak mungkin. Untuk apa ia menitipkan pesan. Bukankan lebih baik datang menemuinya langsung. "Sekarang perempuan itu tengah menunggu Anda di depan sana." Menunjuk arah parkiran restoran. Airin hanya mengikutinya. Melihat ke arah luar sana. Tapi ia tidak melihat sia–pun. "Mana?" tanyanya kembali. "Dia ada di samping mobil berwarna hitam itu, Nona." Wanita itu kembali menjelaskan. Tak lama ia pamit karena sang kekasih sepertinya tidak nyaman lagi dengan obrolan keduanya. Airin masih bertanya-tanya, siapa sebenarnya perempuan yang tengah mencarinya saat ini. Tidak ingin semakin penasaran, ia bergegas cepat menuju dapur, dan menyerahkan catatan pesanan tamu pada pegawai yang ada di sana. Tanpa melepas seragam, Airin melangkah menuju parkiran untuk melihat sendiri siapa orang yang mencarinya. Perlahan langkahnya menuju salah satu mobil yang tadi wanita itu tunjukkan. Dan kedua matanya membulat sempurna tatkala mengetahui siapa sosok yang tengah menunggunya sejak tadi. "Kau ...!" "Hai .....!" Tanpa di sangka perempuan itu tersenyum ke arahnya. Mendekat, lantas berdiri tepat di depan matanya "Bisakah kita berbicara sebentar?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
29/06/2025
0bagus
16/04/2025
0mntp
04/03/2025
0Lihat Semua