Pusat kota yang ramai. Keindahan alam yang bersatu dengan kehidupan masyarakat, sangat indah sekali. Andai ponselku tidak hilang, mungkin sudah penuh dengan foto-foto aesthetic di sana. Sangat disayangkan, tidak mengabadikan banyak momen. Aku ditraktir makan mie ayam oleh Satria. Pria itu agaknya mengganggapku sebagai seorang adik. Ya, dia pernah keceplosan, "Aku dari dulu pengen punya adek perempuan, Ra. Boleh nggak aku anggap kamu gitu? Eh, maaf, kita baru kenal, dan nggak sopan kalau aku sampai banyak bicara yang nggak-nggak." Akan tetapi, tujuanku bukanlah untuk bersenang-senang. Ya, karena pertemuan kami pasti akan menemui perpisahan, aku pun sedikit menjaga jarak dengannya. Lagi pula, dia adalah orang baru, dan belum bisa dipastikan, apakah baik dengan maksud terselubung, atau memang benar-benar baik. Aku menghembuskan napas dalam-dalam, setelah menghabiskan dua mangkok mie ayam porsi besar. "Ya ampun, aku kebanyakan makan. Eh, Sat, maafin aku, ya." "Nggak apa-apa kok, Ra. Santai aja." Pria yang mengenakan hoddie hitam, dengan celana jeans berwarna biru itu memberikan boba milk, di depanku. Potongan rambut ala-ala cowok drakor sepertinya sudah merambah ke mana-mana. Dilihat dari gaya rambut Satria, sepertinya dia juga menggemari fashion style Korsel. Bowl cut dengan warna rambut hitam kecokelatan, aku diam-diam menyukai gaya rambut itu. Ketika sudah bertemu denganmu nanti, aku akan meminta, agar kamu mengubah warna rambutmu sepertinya. Kami melanjutkan perjalanan, setelah Satria membayar makan sore kami. Hari hampir menjelang malam, lalu lintas lumayan padat. Karena tidak ingin ada salah paham, dia memutuskan untuk mengajakku menginap, di rumah teman perempuannya. Tidak. Tentu saja, dia tak ikut. Dia hanya mengantarkan, dan esok harinya aku akan dijemput kembali. "Kenapa kamu baik banget sama aku, Sat?" Hal yang begitu mengganjal, akhirnya keluar juga dari mulutku. Satria memperlambat laju kendaraannya. "Emangnya orang baik butuh alasan, kenapa dia mau jadi orang baik?" "Ya, bisa aja, kan, kamu ada udang di balik batu!" seruku. "Kewaspadaan memang harus, bahkan selalu ditingkatkan. Kamu benar, tindak kriminal harus sebisa mungkin dihindari, apalagi pas merantau kayak gini. Tapi aku bukan orang jahat," kilahnya, tak terima dengan pernyataanku. "Terus, kenapa kamu mau nolongin aku?" Aku bersikeras mencari jawabannya. "Kamu mirip dengan mendiang temanku. Aku telat jemput dia malam itu, sampai ...." Satria tidak melanjutkan kata-katanya. Aku menjadi tidak enak hati. "Kalo aku bikin kamu keringat trauma, mending jangan ceritain. Aku tahu, kamu kuat, dan nggak akan kalah sama badai." "Aku egois di masa lalu, Ra. Gara-gara aku, dia pergi untuk selamanya. Andai aku nolong dia, nggak mungkin dia bakalan tewas." "Tewas?" tanyaku penasaran. "Ada banyak begal, dan kami udah dinasehatin sama Anton buat hati-hati. Garry salah satu korbannya. Sebenarnya, sebelum dia kutinggal di sana, aku ribut sampai bawa-bawa hutang. Ya, aku juga lagi butuh uang waktu itu, makanya kutagih. Eh, dianya malah nggak mau bayar, dan bilang, kalau aku jahat." Hati nuraniku begitu tersentuh dengan ceritanya. Karena tak ingin membuka luka di masa lalu, aku memutuskan untuk menanyakan alasannya bersikap baik, di lain kesempatan. Ketika kehilangan seorang teman, yang ditinggalkan akan merasa sedih. Solidaritas adalah bagian penting, selain unsur keluarga. Sayangnya, aku tidak punya teman real life. Walaupun begitu, aku bisa merasakan kesedihan yang dialami Satria. Dia terlihat kuat, tetapi hatinya mungkin lebih rapuh dariku. Hanya karena emosi, dia dan temannya dipisahkan oleh kematian. Trauma yang begitu hebat, aku belum bisa memastikan, apakah dia sudah benar-benar bisa bangkit, ataukah tidak. Ya, semua orang punya cara tersendiri, untuk tetap berdiri di tengah badai. Tanpa terasa, kami akhirnya tiba di sebuah rumah kecil. Halaman depan tempat itu dikelilingi banyak bunga warna-warni. Aku terkesima melihat betapa rajinnya si pemilik merawat tanaman hiasnya. "Mari, turun, Ra," ajak Satria, ketika motornya telah berhenti. Aku mengikuti apa kemauannya. Setelah turun, aku menunggu untuk beberapa saat. "Dia nggak akan marah, kan?" tanyaku ragu. Aku tidak mau merepotkan lebih banyak orang, terutama itu bukan tempat domisili. "Nggak kok, aku udah izin ke dia di messenger tadi sore. Tenang aja, kamu nggak usah takut, Ra. Di sini itu, orangnya baik-baik kok." Satria berjalan tanpa menoleh ke arahku. Tok! Tok! Tok! Dia mengetik pintu perlahan, didominasi dengan suara khasnya, "Permisi. Far, ini aku Satria. Far, Far!" "Mungkin orangnya nggak ada di rumah kali," kataku sambil menunggu di kursi, dekat jendela. "Udah, tunggu aja dulu, Ra. Aku yakin, Farah nggak akan ingkar orangnya," Satria menjawab, mencoba meyakinkanku. Aku menopang dagu. Kulirik kembali arloji di pergelangan tangan kiri. Astaga! Sudah pukul sembilan malam. Biasanya, aku membantu ibu mencuci piring, di jam segitu. Lambat laun, aku kembali teringat masa-masa hangat bersama keluarga. Ya, meski kami bukanlah keluarga yang akur. "Sekarang ibu lagi ngapain, ya? Huh! Aku kok jadi ngerasa bersalah gini. Semoga aja Ganta nggak bohong soal janjinya. Andai aku nggak kecopetan, mungkin masih bisa menghubunginya," aku bergumam seorang diri dengan nada pelan, hampir tak terdengar. Ingin rasanya meneteskan air mata, hingga tak akan ada lagi kesedihan di dalam pelupuk. Kerinduan akan rumah, dan suasananya telah membuat hatiku menjerit ingin kembali. Apakah kamu tahu rasanya? Sesakit itulah memperjuangkan cintamu, Elgin. Kalau saja Dara tidak pernah memberi kabar buruk, aku mungkin tidak bisa berjalan sejauh itu. Aku nekad, dan hanya satu-satunya itu yang kupunya. "Kak Elgin baru bangun dari koma. Maaf, Mbak, bukannya Dara nggak mau kasih tahu. Aku aja baru tahu hari ini. Kakak nggak ke sini, ya?" Perkataan dari gadis berusia lima belas tahun itu begitu mendebarkan dada. Semenjak pesan itu terkirim, aku merasa tidak tenang. Ya, hatiku diliputi oleh rasa bersalah, karena menerima tawaran Ganta. Kurasa hidupku beruntung, karena dia bukanlah orang yang memaksakan keinginan. Kita perlu berterima kasih padanya nanti, Elgin, karena dialah, aku bisa menampakkan kaki di tanah kelahiranmu. Tangan Satria menyentuh pundakku. "Keyra, kok ngelamun?" Aku memasang keterkejutan di wajah. "Eh, astaga!" "Kamu mikirin pacarmu, ya?" godanya sambil menahan tawa. "Oh iya, ini Farah, Ra," lanjutnya kemudian. Aku menoleh. Gadis di ambang pintu itu memberikan respon baik. Seluas senyum dengan lesung pipi di kedua pipinya, membuat kecantikannya seakan bertambah. "Saya Keyra Lilac." Aku berdiri seraya mengulurkan tangan kanan padanya. Farah–yang mengenakan pakaian tidur panjang, menyambut uluran tanganku sambil berkata, "Saya Farah, Mbak. Saya temannya Satria." "Far, aku titip adekku, ya? Ingat, jangan kamu bikin nggak betah, atau macam-macam!" Satria tampak berkacak pinggang. Adik? Aku rasa, dia benar-benar sudah mengganggapku sebagai keluarga sendiri. "Aku nggak pernah jahat ke orang lain. Ada-ada aja." Farah terlihat tak terima dengan pernyataan Satria. "Iya, deh. Kamu mah baik terus. Oh iya, aku mau cari tempat nginep juga. Ra, kamu di sini dulu, besok aku jemput," ucapnya sambil memainkan kunci motor. "Sebelumnya, makasih, ya, Sat." Hanya itu yang bisa kuucapkan. Lain kali, aku akan membalas semua kebaikan pria asli asal Kalteng itu. Setelah dia pergi, Farah mengajakku masuk ke dalam. Rumah yang dari depan terlihat kecil itu, nyatanya berukuran panjang ke belakang. Isi barang-barang di rumahnya sangat mewah. Bisa dikatakan, dia orang kaya yang terlihat sederhana. "Aku tahu dari Satria, Mbak ke sini buat nemuin pacarnya, ya?" Farah memulai percakapan. Aku menyilangkan kaki. Sofa yang kami tempati begitu empuk. Televisi yang dipasang pada dinding, seperti memberikan sensasi kenyamanan tersendiri. "Iya, Far. Eh, Mbak." Aku tidak tahu harus memanggilnya dengan sebutan apa. Dari fisiknya, dia tampak muda, mungkin kelahiran 2004. "Hahaha. Aku sama Satria itu sama umurnya. Kami udah masuk dua empat," pungkasnya. Manusia yang awet muda. Baby face pada wajah mereka mampu membodohi penglihatanku. Menyesal rasanya, karena sudah memanggilnya tanpa sapaan hormat. "Oh iya, nama pacarmu siapa? Barangkali aku kenal, kan, bakal lebih mudah nyarinya ntar." "Elgin Zoidern. Dia itu kerap kali dipanggil ...." Mbak Farah sudah lebih dulu memotong ucapan, bahkan sebelum aku menceritakan tentang ciri-cirimu, "El? Si Elgin?" "Mbak kenal sama dia?" Aku sedikit mendekatkan diri padanya, penasaran apakah dia benar kenal, atau hanya salah orang. "Nggak kok. Aku nggak tahu," elaknya. Gugup. Mbak Farah terlihat gugup. Nada bicaranya sangat jauh dari kata biasa, seperti penuh rahasia. Sebenarnya, ada apa dengannya? Apakah dia kenal denganmu, Elgin?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus ceritanya
04/06/2025
0saya puas
03/06/2025
0critaa yaa baguss dan menarikk
02/05/2025
0Lihat Semua