logo text

Bab 33 Bapak mulai pulih

Adit.
Kondisi bapak mulai membaik setelah satu Minggu berada di bawah perawatan insentif pihak rumah sakit. Hari ini bapak mulai di pindahkan ke ruangan perawatan biasa.
Kehadiranku disini menjadi salah satu penyemangatnya untuk kembali pulih.
Bapak akan tampak sangat bahagia saat aku berada disisinya. Tak kulihat sama sekali sorot kemarahan di dalam matanya. Hanya kerinduan yang besar terlihat begitu jelas dari raut netranya.
Tak seharipun aku melepas penjagaanku dari bapak.
"Bapak makan ya, Adit siapin." ucapku.
Dokter sudah mulai memperbolehkan makan, pihak rumah sakit telah menyiapkan menu sehat yang sesuai untuk bapak.
"Iyaa..." sahut bapak teramat lirih .
Kusendokkan nasi putih dengan sedikit kuah sop dan sepotong wortel diatasnya.
"Ndak enak le." ucap bapak menikmati makanan rumah sakit yang memang untuk orang sehat saja tidak terasa begitu menyenangkan, apalagi bagi pasien yang pasti sedang mengalami masalah dengan selera makannya.
"Pelan-pelan aja pak, kalau Ndak mau makan nanti malah ga pulang -pulang." tuturku lembut.
Kali ini kutambahkan untuk menambah kan sepotong daging berbumbu yang juga tersaji di piring rumah sakit.
"dimakan ya pak, dipaksain dikit biar cepet sembuh." pintaku pada bapak sambil menyendokkan suapan yang ketiga.
Bapak hanya mengangguk pelan berusaha untuk mencerna makana yang kusuapkan.
Sampai suapan ke tujuh, bapak mulai menyerah.
"Sudah le." ucapnya sambil menunjuk kan tanda-tanda mau muntah.
"Yasudah, tapi nanti makan lagi ya pak." ujarku.
"Iya." jawab bapak.
"Sekarang bapak minum dulu." tuturku sambil mendekatkan gelas berisi air bening dengan sebuah sedotan warna putih yang melengkung bagian atasnya.
Kubantu untuk menyanggah punggung dan kepala bapak untuk bisa sedikit membungkuk agar lebih mudah menyedot air bening yang kuberikan.
"Sudah le." ucapnya.
Kubantu bapak kembali ke posisi semula .
"Bapak mau makan pisang?." tawarku.
"Iya le." jawabnya.
Kuambil pisang yang berada di atas nampan rumah sakit. kemudia kukupas, Setelahng kusuapkan ke mulut bapak. Bapak mengunyah pelan buah yang menjadi salah satu menu yang disediakan rumah sakit.
"Assalamualaikum." suara dokter Hafid memecah sunyi, datang bersama beberapa orang mahasiswa Koas dan suster rumah sakit.
"Waalaikumsalam." jawabku sambil beranjak dari kursi jaga .
"Bagaimana kabarnya pak Harun? apa yang sekarang dirasakan?." tanya dokter Hafid ramah.
"lebih baik dok." jawab bapak lemah.
"Saya periksa dulu ya pak, permisi pak." balas dokter Hafid.
Kemudian melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan harian yang diperlukan.
"Bapak makannya dihabiskan ya, nanti kalau gamau makan makin lemes lama pulihnya." Nasehat dokter Hafid.
"Tuh kan pak, denger yang dokter Hafid katakan." sahutku.
"Kalau keadaan nya stabil , beberapa hari lagi sudah boleh pulang." jelas dokter Hafid.
Dokter Hafid dan tim berlalu keluar kamar setelah selesai melaksanakan tugasnya.
Sesuai janji dokter Hafid jika keadaannya terus stabil, maka bapak akan diperbolehkan untuk pulang.
hari ini setelah hampir tiga Minggu aku melakukan penjagaan pada bapak hampir setiap saat, kini bapak sudah diperbolehkan untuk pulang.
Ibu dan Nania mulai mengemasi semua keperluan bapak untuk dibawa pulang. Semua administrasi wajib kuselesaikan sebelum meninggalkan rumah sakit.
"Ini saya kasih resep yang harus di tebus dan diminum pak Harun rutin setiap hari. Jangan lupa untuk kontrol sesuai jadwal yang sudah saya tuliskan disini. " tutur dokter Hafid saat aku dan ibu menemuinya di ruangannya sesaat sebelum kami membawa bapak pulang.
"Baik dok." balasku sambil menerima resep dan kartu pasien.
"Jangan lupa makanan nya dijaga ya Bu, pak dan yang pasti emosinya juga dijaga, jangan buat pasien merasakan euforia perasaan yang terlalu berlebih-lebihan, seperti sedih yang berlebihan ataupun tertawa yang berlebihan. Usahan kondisi mental pak Harun stabil itu lebih baik, agar tidak membuat kerja jantung berpacu lebih cepat." aku dan ibu mendengarkan penuturan dokter Hafid dengan seksama tanpa ada yang terlewat.
"Baik dok." ucapku sambil beranjak dari dudukku untuk berlalu menuju pintu keluar.
Di ruangan bapak sudah bersiap di atas kursi roda, Nania sudah siap dibaliknya untuk mendorong kursi roda bapak. Dokter Hafid ikut mengiringi kami saat berjalan keluar kamar bapak.
"Nanti kalau sudah benar-benar pulih dan sudah kuat untuk beraktivitas, coba bapak di ajak untuk melakukan olahraga ringan ya , kalau bisa coba rutinlan untuk jogging di pagi hari, atau kalau ga kuat jalan aja gpp yang penting ada aktivitas untuk menyelahatkan jantung." ucap dokter Hafid sebelum akhirnya kami berjalan menuju lobi.
Di lobi rumah sakit sudah menunggu pak Parjo , kemudian berusaha mengambil alih semua barang bawaan yang ada di tanganku.
"Gausah pak , biar saya sendiri, minta tolong aja mobilnya diambil kami tunggu disini." pintaku agar kami tidak perlu berjalan ke tempat parkir rumah sakit.
"Baik mas." jawabnya sambil.
Tak sampai lima menit kami berdiri tepat di depan pintu keluar rumah sakit, pak Parjo sudah membawa mobil Ino*a .
Kudorong bapak mendekati pintu mobil penumpang yang sebelumnya sudah dibuka oleh pak Parjo.
"Nania masuk dulu mas." kubiarkan Nania masuk terlebih dahulu untuk duduk di baris ketiga bangku penumpang.
Dibantu pak Parjo , aku mengangkat tubuh bapak agar bisa duduk dengan nyaman di jok tengah. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, disusul ibu duduk disisi nya, kemudian kututup pintu, dan aku menuju pintu penumpang di sisi Pak Parjo.

Komentar Buku (100)

  • avatar
    AsmaraniLetya

    I like that stories

    22/02

      0
  • avatar
    GumawangTuwarno

    baik

    19/11

      0
  • avatar
    Chiffon cake spesialistMavey cake

    suka

    15/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru