logo text

Bab 10 Maafkan Abang, Sayang

Setelah kiai Nawawi pulang, Hafiz masuk ke dalam kamar. Dia menjumpai Azizah tengah memberikan ASI untuk Ibrahim. Alhamdulillah, setelah beberapa hari akhirnya payudara milik Azizah bisa memproduksi ASI dengan lancar, sehingga Ibrahim tidak perlu lagi minum susu formula.
"Apakah kiai Nawawi sudah pulang, Bang?" tanya Azizah. Perempuan itu menatap sang suami yang tengah berdiri di dekatnya.
"Iya, beliau sudah pulang," jawabnya sembari duduk di samping Azizah. Tangannya bergerak mengusap ubun-ubun bayi mungil itu.
"Anak Ayah sudah bobo ya?" Hafiz tersenyum ketika Azizah perlahan melepaskan ujung payudaranya yang masih menempel di mulut kecil Ibrahim.
"Sudah kenyang dia, makanya tidur." Azizah menyerahkan Ibrahim pada Hafiz yang segera merebahkan bayi mungil itu ke tempat tidurnya.
Ibrahim menggeliat sesaat, tetapi setelah itu dia kembali tenang di dalam tidurnya. Hafiz mendudukkan diri di pinggir ranjang, di samping Azizah. Dia merangkul wanita itu dengan penuh sayang.
"Ada yang ingin Abang bicarakan denganmu, Sayang."
"Iya, Abang mau bicara apa? Soal Naura lagi?" Azizah menebak. Hafiz menganggukan kepala.
"Iya, Sayang. Maaf ya, tampaknya pernikahan antara Abang dengan Naura memang tidak bisa dihindari."
"Adek harus percaya bahwa di hati Abang tidak ada niat sedikitpun untuk berpoligami dan Abang sama sekali tidak menginginkan semua ini."
"Adek baru saja melahirkan, Bang." lirih suara Azizah.
"Abang tahu dan Abang akan menunggu sampai kamu siap dan kondisimu pulih kembali. Percayalah, Abang tak akan membuatmu kekurangan perhatian. Abang akan berusaha sekuatnya untuk terus mencurahkan kasih sayang Abang kepadamu dan Ibrahim," ucapnya. Hafiz membiarkan kepala sang istri bersandar di bahunya.
"Sebelumnya Abang pernah berjanji untuk tidak mengambil istri lagi setelah Abang menceraikan Yasmin," gugat Azizah.
"Maafkan Abang ya. Abang tidak bisa menepati janji,"
"Apapun yang terjadi, Abang akan selalu mencintaimu. Jangan khawatir, Dek. Adek adalah cinta pertama Abang sampai kapanpun."
Tangannya bergerak meraih wajah cantik itu. Mendekatkan wajah nan sendu itu dengan wajahnya. Mereka saling menatap. Mencoba menyelami isi hati masing-masing. Hafiz mulai menyusuri wajah Azizah dengan jemarinya. Menyeka tetes bening yang jatuh di pipi mulus Azizah.
"Tunggu Adek pulih ya, Bang. Jangan nikah dulu." Azizah terisak. Tubuhnya bahkan terguncang karena tangisannya.
"Iya." Hafiz menepuk pundaknya.
"Bukan cuma kamu yang terluka. Abang pun lebih terbuka. Kita akan sama-sama berusaha untuk menghadapi kenyataan ini. Kamu yang kuat ya, Sayang."
Ekor matanya menangkap kehadiran Bibi Sarah yang tengah melangkah menghampiri mereka.
Hafiz mengangkat wajahnya. Terlihat wajah perempuan setengah tua itu begitu murung. Lantas ia duduk di samping mereka.
"Tunda dulu rencana pernikahanmu dengan Naura, Hafiz, sampai Azizah pulih. Setidaknya 3 atau 4 bulan lagi," ucap bibi Sarah.
"Iya, Bi. Nanti akan Hafiz bilang ke Naura. Dia pasti mengerti kok. Bibi tidak usah khawatir."
"Bagaimana Bibi tidak khawatir? Azizah adalah keponakan Bibi dan ia tidak memiliki siapa-siapa, kecuali Bibi. Hanya Bibi yang menjadi tumpuannya sekarang." Raut wajahnya berubah memelas.
Hafiz membaca kecemasan yang mendalam dari raut wajah bibi Sarah.
"Hafiz mengerti, Bibi. Semuanya tidak seburuk yang dipikirkan," ucapnya. Hafiz berdiri dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Baru beberapa langkah dia berjalan, suara bibi Sarah menghentikan langkahnya.
"Tunggu, Hafiz. Bibi mau bicara," cegahnya. Hafiz kembali melangkah menghampirinya.
"Ada apa, Bi?"
"Bibi tidak mengerti kenapa kiai Nawawi begitu teguh dan kuat dengan pendiriannya ingin menikahkanmu dengan putri bungsunya. Sebenarnya ada apa ini? Beliau itu seorang ulama yang seharusnya memiliki welas asih, tapi kenapa beliau seakan tidak mau mendengar penjelasan Bibi dan tidak pernah berfikir bagaimana perasaan seorang wanita yang suaminya harus menikah dengan putrinya?" Nada bicaranya terdengar ketus.
Hafiz tercenung dan mengerutkan kening, karena sampai sekarang dia sendiri tidak tahu apa alasan sebenarnya, kenapa Kiai Nawawi melakukan hal ini padanya.
"Hafiz berpikir kiai Nawawi melakukan ini karena memiliki sebuah alasan yang kuat. Hanya saja, kita tidak tahu sampai saat ini. Hafiz juga tidak mengerti apa alasannya, karena beliau tidak pernah menyampaikannya secara langsung. Entahlah." Laki-laki muda itu mengangkat bahu.
"Semua akhirnya menjadi misteri dan penuh teka teki." Bibi Sarah mengeluh.
"Maafkan Hafiz, Bibi."
"Tak perlu mreminta maaf, Nak. Bibi hanya penasaran. Tidak mungkin orang sekelas kiai Nawawi bersikap seperti itu. Bibi serasa tak percaya." Perempuan setengah tua itu menggelengkan kepala.
"Kita akan mengetahui pada saatnya," ujarnya.
*****
Hafiz tahu, saat itu akan segera tiba. Bulan demi bulan telah berlalu. Kondisi Azizah semakin lama semakin membaik. Dia sudah begitu terampil mengasuh Ibrahim sendirian meskipun ada Bibi Sarah di rumah ini. Hafiz sengaja meminta Bibi Sarah untuk tetap tinggal di rumah ini menemani Azizah dan Ibrahim.
Sekarang dia tidak bisa mengelak lagi. Mengingat kondisi Azizah dan kegembiraan yang sudah didapatnya dengan kehadiran Ibrahim di antara mereka, tak ada alasan lagi baginya untuk menolak menikahi Naura. Dia sudah berjanji pada Naura dan ayahnya. Janji adalah hutang. Janji bagi seorang laki-laki adalah harga mati, meskipun pada akhir dan kenyataannya, dia tetap tidak bisa menepati janjinya kepada Azizah untuk tidak mengambil istri yang lain.
Ya, sudahlah. Boleh jadi memang Hafiz yang terlalu lemah dan tidak mungkin bagi dirinya untuk memuaskan semua pihak. Pasti harus ada yang terluka. Harus ada yang mesti di korbankan dari sebuah keputusan. Hafiz harus memilih di antara dua pilihan, menyaksikan Azizah terluka atau seluruh keluarga besar kiai Nawawi menanggung malu dan kecewa karena mereka sudah terlanjur berharap kepadanya.
Malam sudah semakin larut. Hafiz baru saja menginjakkan kaki di teras rumah saat Azizah menyongsong kedatangannya.
"Tumben Abang pulang larut malam," tegurnya.
"Maafkan Abang, Sayang. Tadi di majelis banyak santri yang bertanya, sehingga Abang pulang larut malam," ujarnya.
"Memangnya kenapa? Kenapa Adek belum tidur? Ibrahim rewel ya?"
"Tidak, Bang. Adek cuma menunggu kedatangan Abang, hanya khawatir," balas Azizah.
Hafiz mengangguk, lantas mendaratkan kecupan di kening Azizah. "Jangan khawatir, Sayang. Abang baik-baik saja. Mana Ibrahim? Apakah dia sudah tidur?"
"Ada di kamar, Bang. Sudah tidur dia. Tumben hari ini dia pinter banget, nggak rewel seperti biasanya." Azizah tertawa kecil.
"Anak Ayah pasti pintar," jawab Hafiz.
Mereka melangkah beriringan menuju kamar, setelah memastikan pintu depan rumah sudah terkunci rapat.
"Ada yang ingin Abang sampaikan kepadamu, Sayang," ucap Hafiz setelah mereka duduk bersisian di pinggir ranjang.
*****

Komentar Buku (137)

  • avatar
    SolehahUmmu

    Cerita yang bagus mengenai kehidupan pesantren dan sisi lain tentang poligami.

    13/08/2022

      0
  • avatar
    AlzenaaPutrii

    sangat bagus

    15/07/2025

      0
  • avatar
    ArumFatin

    bagus dan keren ceritanya

    06/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru