“Semoga saja Zahra cepat kembali.” Kata nenek Husnah. “Iya nek, ayo lanjut makan lagi.” Kata Zia mengalihkan pembicaraan. Zia takut kalau lama-lama berbicara tentang Zahra, dia akan keceplosan dimana Zahra sekarang berada. Selesai makan Zia langsung pamitan untuk kembali ke kamar. Zia beralasan kalau dia sudah capek padahal dia ingin menelpon Rama yang seharian ini gak ada kabar. Sampai dikamar Zia langsung mengambil hpnya dan menelpon Rama. Sudah beberapa kali dia melakukan panggilan ke Rama tapi tak ada dijawab jugaoleh Rama. Disaat Zia mulai putus asa panggilan yang terakhir diangkat oleh Rama. [Hallo Asalamualaikum Zi, ada apa?] [Walaikumsalam, kamu kemana aja sih Ram? Satu hari ini gak ada kabar sama seekali.] [Maaf sih hari ini aku sibuk banget, hari ini Radit pergi ke solo. Jadi dikantor kerjaannya ketetelan.] [Ngapain Radit ke Solo? Apa ada masalah sama Zahra?] [Gak ada hubungan sama Zahra. Radit ke solo ada urusan keluarga.] [Syukur deh kalau kayak gitu.] [Zi maaf bukannya aku gak mau telponan sama kamu tapi sekarang aku sedang sibuk banget. Gak papakan aku tutup telponnya dulu?] [Ya udah deh kalau gitu, padahal aku masih pengin ngobrol sama kamu.] [Besok kitakan ketemu dikampus.] [Kamu beneran datangkan?] [Iya aku datang, ya sudah aku tutup dulu. Kamu cepat tidur biar besok gak kesiangan bangunnya.] Zia main hp bentar habis menelpon Rama setelah itu dia memutuskan untuk tidur. Pagi-pagi sekali Zia bangun untuk siap-siap. Saat dia turun kebawah ternyata semua keluargannya sudah berkumpul. “Sini sayang kita makan dulu?” panggil mama Nia. “Iya ma, kok yang lain ada disini?” kata Zia. “Kami mau hadiri wisuda kamu.” Kata om Bara. “Kalian gak sibuk?” tanya Zahra. “Buat keponakan om yang cantik ini pasti om akan meluangkan waktu.” Kata om Bara. “Benar apa kata papa Zia. Pekerjaan bisa ditunda tapi wisuda kamu gak bisa. Kamu cantik hari ini Zi.” Kata Bian. “Makasih.” Kata Zia. “Ayo makan nanti kita telat.” Kaa nenek Tika yang sudah gak sabar melihat wisuda Zia. “Oh ya Zi beasiswa S2 Zahra gimana?” kata Bian. “Zahra mengajukan cuti sementara.” Kata Zia. “Bearti beasiswanya masih berlaku walaupun kapan saja Zahra masuk kuliahnya.” Kata Bian. “Iya gitu deh.” Kata Zia. Nia mendengar pembicaraan Zia dan Bian tadi merasa bangga karena dia memiliki anak-anak yang pintar dan tidak merendahkan siapapun. Mereka semua sampai dikampus sudah disambut oleh Sesil dan Ayu tak ketinggalan Rama juga ada disana. “Selamat ya Zi.” Kata Sesil sambil memeluk sahabatnya itu. “Makasih udah mau datang.” Kata Zia.” “Selamat ya tinggal kita berdua Sil yang harus berkutat dengan skripsi.” Kata Ayu. “Iya makasih Yu udh datang. Aku doain semoga kalian cepat nyusul.” Kata Zia. “Selamat ya, Ini bat kamu.” Kata Rama sambil memberikan bunga kepada Zia. “Makasih udah datang.” Kata Zia. “Udah ngobrolnya nanti lagi sekarang kita masuk dulu acaranya segera dimulai.” Kata mama Nia mengingatkan. Tanpa mereka sadari dari adi ada sepasang mata yang memeperhatikan mereka. Tapi Bara tau kalau Danu datang keacara wisuda itu. Setelah mendapatkan toga Zia langsung diajak Rama kesuatu tempat tapi sebelum itu dia minta izin trlebih dahulu pada keluarga Zia. “Ram apa ini?” tanya Zia saat sudah sampai tujuan. ‘Kemarinkan aku sudah bilang kalau aku akan kasih kejutan buat kamu saat kamu wisuda." kata Rama. "Jadi ini kejutannya." kata Zia. “Iya apa kamuu gak suka dengan kejutanku?” kata Rama. “Aku suka kok Ram.” Kata Zia. “Syukurlah kalau gitu. Ayo kita makan dulu habis ini aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Kata Rama. “Kenapa gak sekarang ngomongnya?” kata Zia. “Nanti habis makan aja.” Kata Rama. Mereka berdua menikmai makanan terlebih dahulu. Zia tak tau kalau sebenarnya Rama sedang memantapkan dirinya. “Zi ada yang ingin aku katakan sama kamu.” Kata Rama. “Emang mau bicara apa ngomong aja?” kata Zia. Mendapat lampu ijo dari Zia. Rama bangun dari duduknya dan berlutut disebelah Zia membuat Zia terkejut. “Apa yang kamu lakukan Ram? Ayo bangun?” kata Zia. “Zi... aku...aku suka cinta sama kamu. Kamu mau gak jadi kekasihku?” kata Rama. “Sejak kapan Ram?” kata Zia. “Sejak pertama kali kita kenal aku sudah tertarik padamu.” Kata Rama. “Lalu kenapa kemarin kamu menjauhiku?” tanya Zia. “Aku terpaksa karena aku merasa kalau aku gak pantas buat kamu.” Kata Rama. “Lalu menurut kamu sekarng gimana?” kata Zia. “Sekarang walaupun bisa dikatakan pantas tapi aku bisa menghidupimu kalau kita nikah nanti.” Kata Rama yakin. “Aku gak bisa Ram...” kata Zia. “api kita tetap jadi temankan Zi?” tanya Ram tanpa mendengar perkataan Zia selanjutnya. “Makanya kalau ada orang ngomong dengerin dulu jangan kebiasaan dipotong.” Kata Zia. “Maksutnya Zi?” tanya Rama yang tak mengerti. “Aku gak mau jadi kekasihmu tapi kalau jadi calon istrimu aku mau.” Kata Zia. “Benaan Zi akau gaka salah dengar?” Tanya Rama. “Iya, aku juga cinta sama kamu.” Kata Zia. Rama berjanji akan segera melamar Zia. Saat mereka berpelukan Sesil dan Ayu datang untuk mengganggu mereka berdua.Setelah mengucapkan terimakasih kepada kedua temannya itu Rama mengantar Zia pulang ke rumah. “Tan ada yang ingin aku bicarakan dengan tante?” kata Rama saat sudah berada dirumah Zia dan bertemu dengan mama Nia. “Kamu mau bicara apa Ram?” tanya mama Nia. “Saya ingin melamar Zia secepatnya tante.” Kata Rama membuat mama Nia terkejut. “Kenapa mendadak Ram?” tanya mama Nia. “Zi ingin langsung menikah tan.” Kata Rama. Mama Nia tersenyum mendengar perkataan Rama. Dia tau kalau putrinya tak mau berpacaran lama-lama takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. “Gimana ma apa mama setuju?” tanya Zia karena mamanya tak kunjung menjawab. “Mama akan bicarakan sama nenek dan om kamu dulu. Gak papa kan Ram?” kata mama Nia. “Iya tan, Rama akan tunggu keputusan dari tante dulu.” Kata Rama. “Makasih Ram.” Kata mama Nia. Rama setelah berbicara dengan mama Nia langsung pamit untuk pulang karena sudah sore takut neneknya mencarinya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus bangetttttt ka
05/06/2025
0lovee kak
28/05/2025
0mantap banget
03/05/2025
0Lihat Semua