logo text

Bab 19 Jebakan untuk Zahra

"Kamu terlalu sibuk dengan pensil dan kertas makannya gak tau siapa saja model kita. Coba kamu tanya Ra ada berapa model dibutik tante pasti ni anak gak tau." kata tante Intan.
"Mama apaan sih kok malah bocorin kebiasaanku." kata Cindy.
"Wah kalau gitu kamu sama kayak Zahra kalau udah berkutat sama kertas dan pensil dia juga gak perduli sama orang lain." kata nenek Tika.
Zidan yang mendengar melihat ke arah Zahra. Dia ingin tau kebiasaan adik kembarnya itu. Zia yang dilihatin Zidan takut kalau ketahuan.
"Kalau Zia gimana nek?" tanya Zidan.
"Zi mah lebih suka dandan dan shoping." kata nenek Tika.
"Mana ada Zi shoping terus." kata Zia yang gak suka dibilangin kalau dia suka shoping.
"Iya iya. Sekarang kan kerja diperusahaan mama kamu." kata nenek Tika.
"Loh bukannya kalian masih kuliah ya?" tanya Zidan yang sedikit tau tentang mereka berdua.
"Iya kami memang masih kuliah. Zahra merintis usaha alhamdulilah sudah mulai berkembang sedangkan aku bantu kak Bian buat urusin perusahaan mama." kata Zia.
"Bener itu Dan. Zi baru hari ini kerja udah tau kalau terjadi masalah diperusahaan." kata Bian.
"Emang masalah apa?" tanya om Bara kaget.
"Ada yang mengelapkan uang pa, Zia masih menyelidiki siapa dalangnya. Untung aja Zia memilih jadi karyawan dibagian keuangan kalau gak mungkin kita akan lambat mengetahui kalau ada yang melakukan kecurangan." kata Bian panjang lebar.
" Tunggu maksutnya Zia jadi karyawan keuangan. Kamu gak langsung memperkenalkan diri sebagai CEO Zi?" tanya Bara.
"Gak om, sebenarnya aku mau merasakan bagaimana kerja dari nol. Tapi gak nyangka aja ada kejadian seperti ini." kata Zia.
"Aku salut sama kamu Zi." kata zidan.
"Om juga salut sama kalian berdua. Om yakin kalian akan jadi wanita yang sukses." kata om Fadil.
"Terimakasih tapi jangan terlalu dipuji. Nanti kami bisa lupa diri." kata Zia yang diberi anggukan oleh zahra.
Saat mereka sedang asik mengobrol hp Zahra berbunyi ternyata itu chat dari Gabriel yang udah kerjasama dengan mama Sandra.
Gabriel mau kerjasama dengan mama Sandra karena dia tau kalau Via itu sama dengan mantan pacarnya. Dia juga melihat kalau Zahra pasti bisa istri yang baik buat Niko.
[Siang bu Zahra, apa ada waktu buat kita bertemu malam ini?]
[Siang juga pak. Memang ada masalah apa pak?]
[Saya ingin membahas tentang rumah yang ingin saya bangun]
[Baik pak, kita mau bertemu dimana?]
[kita bisa bertemu dihotel surya, kebetulan saya ada meeting disana malam ini.]
[Baik pak, jam berapa kita bisa bertemu?]
[Nanti jam 7 bisa bu?]
[Baik pak.]
[Sampai bertemu nanti malam bu.]
"Main hp terus Ra sibuk banget kayaknya?" tanya Zidan.
"Ah gak kok kak. Ini ada pesan dari klien yang ingin bertemu nanti malam." kata Zahra.
"Mau ditemani?" tanya Zidan.
"Gak usah kak. Aku bisa sendiri kok." kata Zahra.
Zidan hanya menanggukan kepala saja. Dia gak mau memaksa Zahra. Walaupun Zahra sudah tau siapa dia tapi yang lain belum takutnya mereka akan curiga.
Setelah pulang dari restaurant tadi entah kenapa perasaan Zidan gak tenang.
Sedangkan diRumah Sakit mama Sandra dan Gabriel merencanakan sesuatu agar Zahra bisa menikah dengan Niko saat itu juga.
Dihotel Zahra sudah duduk dimeja yang dipesan oleh Gabriel tapi Gabriel sendiri belum datang. Dia tadi mengirim pesan kalau akan sedikit terlambat.
"Maaf apa anda menunggu lama?" tanya Gabriel.
"Saya juga baru sampai kok." kata Zahra.
"Sudah pesan makanan atau minuman?" tanya Gabriel.
"Sudah saya pesan minuman saja tadi." kata Zahra.
Sambil menunggu minuman datang mereka mulai membahas tentang desain rumah yang ingin dibangun oleh Gabriel.
Zahra meminum minumannya yang sudah dimasukin obat perangsang didalamnya. Saat Zahra mulai kepanasan Gabriel langsung membawa ke dalam kamar hotel yang sudah mereka pesan.
Saat Gabriel baru saja keluar bertepatan dengan Niko yang datang. Gabriel yang melihat langsung saja bersembunyi agar gak ketahuan oleh Niko.
Niko terkejut saat masuk ke dalam kamar hotel yang dia pesan untuk bertemu dengan Gabriel ternyata didalam ada seorang perempuan.
Niko lebih terkejut lagi saat tau siapa perempuan yang ada didalam. Niko mendekati perempuan itu dan melihat kalau Zahra kepanasan.
"Tolong panas." kata Zahra sambil mendesah.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Niko.
"Tolong saya panas." kata Zahra sambil melepas kemeja yang dia pakai.
"Kamu gila ya." kata Niko.
Niko takut kalau dia gak akan tahan dengan godaan yang ada didepan matanya. Saat dia ingin pergi tangannya dipegang oleh Zahra. Karena berdirinya tidak seimbang dengan sekali setakan oleh Zahra. Niko langsung saja jatuh diatas tubuh Zahra.
Tak butuh waktu lama Zahra mecium bibir Niko karena dia sudah dikuasai oleh obat perangsang. Awalnya Niko menolak tapi lama kelamaan dia tak tahan dengan godaan.
"Shiit kamu masih perawan." kata Niko saat melihat ada darah.
Sebenarnya Niko menyesal tapi nanggung kalau gak diterusin karena dia sendiri udah dipenuhi kabut gairah yang harus dituntaskan.
"Aku akan tanggungjawab lagian mama pasti senang kalau aku menikah denganmu." kata Niko yang teringat kalau mamanya ingin menjadikan gadis yang baru saja dia tiduri ini sebagai menantunya.
Setelah berkata begitu Niko langsung saja tertidur dengan memeluk Zahra. Pagi harinya Zahra bangun dan langsung berteriak.
"Haaahhhh... Apa yang kamu lakukan?" kata Zahra sambil menarik selimut.
Sedangkan Niko bangun dengan santainya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Tidurlah mau apalagi. Oh ya kita semalam juga melakulan hubungan suami istri. Tapi tenang saja aku akan menikahimu bukannya itu yang kamu inginkan?" kata Niko.
"Siapa yang mau menikah denganmu?" kata Zahra.
"Bukannya kamu yang semalam menggodaku?" kata Niko.
"Siapa aku gak menggodamu. Aku gak tau kenapa setelah minum badan aku terasa panas. Aku sendiri juga gak tau siapa yang bawa aku kesini." kata Zahra sambil menangis.
"Siiiit..." kata Niko yang tau kalau semalam itu ada yang memberi obat perangsang ke Zahra dan dengan bodohnya Niko gak bisa menahan diri.
"Dah jangan menangis. Aku akan menikahimu." kata Niko.
"Bukankah kamu punya seorang kekasih?" kata Zahra.
"Pernikahan kita gak perlu dipublikasikan ke orang-orang. Aku cuma menikah karena tanggungjawab aja bukan cinta. Kita menikah selama setahun kalau kamu gak hamil. Kalau kamu hamil aku gak akan cerain kamu tapi kamu harus rela kalau dimadu." kata Niko.
"Kalaupun aku hamil, aku tetap akan minta cerai karena aku gak mau dimadu." kata Zahra.
"Baiklah terserah kamu. Tapi ingat jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing." kata Niko yang hanya diberi anggukan oleh Zahra.
Saat mereka sedang membicarakan perjanjian terdengar suara pintu diketuk sebelum keluar Niko menyuruh Zahra memakai bajunya kembali.
Tok tok tok
"Iya sebentar." kata Niko saat membuka pintu Niko dibuat terkejut karena yang berada diluar adalah petugas KUA.
Pak penghulu dan polisi melihat dua orang didalan kamar hotel tanpa ada ikatan langsung saja menyuruh Zahra dan Niko menelpon keluarga masing-masing.
"Ra apa yang terjadi?" tanya mama Nia yang datang duluan dengan keluarga yang lain sebelum orangtua Niko
"Ma... maafin Zahra ma." kata Zahra sambil menangis memeluk mama Nia.
Bara langsung melihat Niko yang duduk santai disofa. Bara sedikit tau tentang siapa Niko tapi dia gak nyangka kalau keponakannya bisa terjebak dihotel dengannya.
Zia yang melihat langsung saja merasa bersalah. Pasti Niko ingin balas dendam padanya karena kemarin pernah bilang kalau dia calon istri Niko. Tapi yang dia sesali kenapa dia tak mengaku sebagai Zia sendiri kenapa harus Zahra. Sekarang Zahra lah yang harus menanggung permaianan yang dia buat dengan Sesil.
"Kamu ya mama suruh kamu nikah bukan malah merusak anak orang Nik." kata mama Sandra yang langsung memukuli anaknya dengan tas yang dia bawa.
"Ma bukanmya ini maunya mama menjadikan menantu mama. Ya walaupun caranya salah yang penting dia jadi menantu mamakan." kata Niko santai.
"Iya mama emang mau dia jadi menantu mama tapi gak kayak gini." kata mama Sandra pura-pura marah padahal dalam hatinya senang karena rencananya berhasil.
"Maaf pak bu, kita harus segera menikahkan mereka berdua." kata pak penghulu.
"Baiklah pak silahkan." kata mama Sandra.
"Maaf wali dari nak Zahra siapa?" kata pak penghulu.
Semua orang disana bingung. Apalagi dengan mama Nia yang gak tau harus berkata apa kalau dia menelpon papa Danu pasti Zahra akan jadi bulan bulanan. Saat mereka kebingungan masuklah zidan dan juga Gabriel.
Zidan yang baru masuk terkejut siapa perempuan yang dijebak oleh Gabriel dan mama Sandra dia tak tau kalau itu adiknya seandainya dia tau pasti dia akan mencari cara untuk memgagalkan rencana mereka tapi mau bagaimana lagi semua sudah terlambat.
"Maaf siapa yang akan jadi wali nikahnya nak Zahra?" kata pak penghulu yang menyadarkan Zidan.
Bara dan juga Bian memandang Zidan supaya dia mau menjadi wali nikah adiknya.
Zidan yang mengetahui pandangan itu menjadi bingung karena dia belum siap kalau mamanya tau identitasnya. Tapi saat melihat tangisan Zahra dia tak tega.
Zidan mendekati Zahra dan memeluknya untuk memberikan ketenangan. Gabriel dan Niko terkejut pasalnya Zidan selama ini tak tersentuh oleh perempuan alasannya ingin menjaga Mila tapi kenapa sekarang malah memeluk Zahra.
"Maaf kak. Harusnya kemarin aku mau kakak temani bertemu dengan klien." kata Zahra.
"Udah jangan nangis lagi. Kakak yang akan jadi wali kamu. Jangan nangis lagi cantiknya ilang lo nanti." kata Zidan sambil mengusap airmata Zahra.
Bara dan Bian rega tapi yang lain terkejut mendengar perkataan Zidan.
"Boleh mama minta penjelasannya Ra?" kata mama Nia.
"Nanti Zidan jelasin ma tapi sekarang kita nikahkan dulu Zahra dan juga Niko." kata Zidan.
Setelah berkata begitu akad dilakukan disana tanpa Zahra memakai kebaya. Mereka hanya diberi selembar kertas untuk diserakan ke KUA untuk mengesahkan pernikahan itu.

Komentar Buku (148)

  • avatar
    FitriaAlifia

    Bagus bangetttttt ka

    05/06/2025

      0
  • avatar
    Aiss Aiss Aisyahh

    lovee kak

    28/05/2025

      0
  • avatar
    WaliuluAbdullah

    mantap banget

    03/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru