Beranda/Misteri Bulan Sabit Berdarah/
Bab 9 Keputusan
Keesokan paginya Arwen terbangun dengan kaget ketika Trinita membuka gorden kamarnya. Membuat cahaya matahari jatuh tepat mengenai wajahnya.
“Arwen, cepatlah bangun!” seru Trinita. Dia sedang membuka jendela-jendela kamar.
Arwen menggeliat kemudian bertanya, “memang sekarang jam berapa?”
“Jam sepuluh. Cepatlah bangun dan turun! Bantu aku memasak!” cetusnya kemudian keluar kamar.
Ketika pintu sudah menutup di belakang Trinita, Arwen memejamkan mata lagi. Dia mengingat-ingat mimpinya semalam. Dia melihat ayah dan ibunya menangis di depannya, ketika dia memeluk mereka, Papa memberikan amplop merah kemudian menghilang. Arwen membuka matanya dan merasakan kerinduan yang sangat kepada mereka berdua. Seketika itu Arwen langsung turun dari ranjangnya, dia tak ingin merasakannya berlarut-larut. Dia menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi dia mencari setelan kesukaannya. Celana pendek dan kamus tanpa lengan. Arwen menyisir rambutnya, lalu menggulungnya ke arah luar. Membuat bentuk jabrik kesukaannya.
Bau gurih ayam goreng tercium saat Arwen menyeruduk ke dalam dapur. Dia mengambil segelas susu dari lemari es. Kemudian duduk di meja makan. Trinita sedang mengiris-iris sayur membelakanginya.
“Kamu masak apa? Tak biasanya kamu perlu bantuan” tanya Arwen, tangannya mengambil sekeping roti tawar dan sebotol selai. Matanya memandang punggung Trinita.
“Hanya sayur sup dan ayam goreng.” Jawab Trinita masih memunggungi Arwen.
“Kelihatannya sudah hampir selesai. Kamu masih perlu bantuan?” tanya Arwen sambil mengoles selai banyak-banyak ke rotinya.
Trinita membalikkan badannya kemudia berkata “Sebenarnya aku ingin bicara denganmu tentang urusan pindah ke Jakarta.”
Arwen yang sedari tadi asik memakan rotinya, langsung berhenti mengunyah dan menatap kakaknya. Dia berpikir yang akan mengangkat topik ini pertama kali adalah dirinya tapi dia salah.
“Apa kamu benar-benar ingin pindah ke sana ?” tanya Trinita.
“Iya, tentu saja” dia berhenti sebentar untuk menelan rotinya kemudian melanjutkan “Maksudnya haruskan? Kamu sendiri yang memberiku tanggung jawab atas perusahaan.”
“Aku tahu. Tapi aku punya tanggung jawab di sini Arwen.”
“Tapi kamu kan bisa memindahkan kantormu Trinita. “Aku akan membantumu nanti.” Janji Arwen.
“Tak segampang itu Arwen. Sebenarnya aku masih tak ingin meninggalkan rumah ini.” Jawabnya, wajahnya menyiratkan kesedihan.
“Aku tahu Trinita, aku juga begitu. Tapi ini harus.” Harus ke sana untuk menyelidiki batinnya. “Begini saja, biar aku saja yang pindah ke Jakarta . Kamu tetap di sini …”
“Tidak … tidak.” Sahut Trinita sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tak akan membiarkanmu pindah ke sana sendirian.”
Arwen memandangnya, ”lalu maumu bagaimana?”
Wajah Trinita gelisah, kemudian dia berjalan lalu duduk di sebelah Arwen “Mungkin kamu akan marah jika aku mengatakan ini padamu. Tapi apa tidak sebaiknya kita jual saja perusahaannya?”
“Ku harap kamu tak serius mengucapkannya,” jawab Arwen tak mempercayai pendengarannya sendiri.
“Aku, serius. Dan aku akan benar-benar menjualnya jika kamu setuju.”
Arwen berdiri seketika, darahnya mendidih, walaupun dia tak berminat untuk menjalankannya tapi dia tak ingin menjual perusahaan ayah dan ibunya. “Apa maksudmu dengan menjual perusahaan? Tega-teganya kamu Trinita? Kamu mau menghapus begitu saja usaha Mama dan Papa?” kata Arwen gusar, wajahnya murka.
“Pilihan apalagi yang aku punya Arwen? Bisnisku lancar di sini dan… dan aku tidak bisa membiarkanmu pindah ke sana sendirian.” Bentak Trinita.
“Kamu… Jadi itu alasanmu? Kamu tidak mau bisnismu terganggu? Kamu benar-benar egois Trinita! Aku benar-benar tak percaya kamu bilang begitu. Ku kira kamu serius berkata tak akan menjual perusahaan sewaktu bicara dengan Tante Karin waktu itu. Aku benar-benar kecewa padamu!” Arwen melirihkan suaranya. Tampangnya putus asa.
“Kamu sendiri sebenarnya tak berminat menjalankannya. Aku bisa lihat itu. “Trinita berdiri kemudian menambahkan.” ku tahu kamu menyembunyikan sesuatu Arwen. Kamu terlalu bersemangat ke Jakarta kurasa bukan untuk menjalankan perusahaan.”
“Jangan cari-cari kesalahanku Trinita! Aku … aku” Arwen terdiam sejenak, dia hampir saja memberitahukan segalanya” Aku benar-benar ingin menjalankannya Trinita! “Arwen memandang wajah kakaknya yang menyipit curiga dan membuatnya semakin sebal.
“Begini saja, kalau kamu tidak mau meninggalkan bisnismu, walaupun aku sudah memberi tahumu kamu bisa meneruskannya di sana… diam dulu Trinita jangan menyelaku,” Arwen menambahkan ketika Trinita akan membuka mulutnya, kemudian melanjutkan. ”Biarkan aku pindah ke sana sendiri. Walaupun kamu tak mengijinkanku, aku tetap akan berangkat!” Arwen mengakhiri, kemudian di pergi keluar dapur meninggalkan Trinita terpaku menatapnya dan ketika sampai di anak tangga paling dasar dia menambahkan.
“Kurasa urusan bisnismu buka satu-satunya alasan kamu tak mau pindah Trinita. Aku juga merasa kamu menyembuhkan sesuatu dariku.” Kata Arwen dan kemudian dia melesat ke kamarnya.
Arwen memandangnya sesaat sebelum pergi. Dia yakin sekali Trinita juga menyembunyikan sesuatu darinya, karena ketika dia bicara begini wajah Trinita menegang karena kaget. Sesampai di kamarnya Arwen menyambar jaket putih krem kasualnya dan dompetnya. Mengambil kunci mobil di meja sebelah ranjangnya kemudian mengenakan sandal jepit di kakinya.
Ketika dia sudah berada di kaki tangga, dia tak lagi menoleh ke dapur. Dia mendengar suara Trinita nenanyakan ke mana dia akan pergi tapi tidak menggubrisnya. Dia merasa sangat kecewa akan keputusan kakaknya. Dia tak percaya Trinita tega menjual perusahaan orang tuanya. Apapun yang menjadi dasar Trinita tega memutuskan hal itu, Arwen tak bisa menerimanya.
Arwen mengendarai mobilnya lebih cepat dari biasanya. Dia masih menyesali keputusan kekaknya. Tapi dia sudah bertekad bulat akan pindah ke Jakarta walaupun tanpa Trinita. Dia benar-benar ingin menyelidiki kematian orang tuanya. Jika dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia akan melepaskan kepergian orangtuanya dengan ikhlas.
Jalanan kota Surabaya di Minggu siang masih padat dan macet di beberapa pemberhentian jalan. Arwen terus saja menyetir tanpa arah. Dia membunyikan klakson dengan tak sabar ketika berhenti karena lampu merah dan mobil di depannya tak segera bergerak ketika lampu sudah berubah menjadi hijau. Arwen masih merasa marah sekali sampai ingin menumpahkannya ke arah mobil-mobil yang mendahuluinya sambil membunyikan klakson menyuruhnya sedikit menepi.
Seperempat jam kemudian dia merasa lapar, sudah menjadi ciri Arwen, lapar ketika marah. Dia memarkir mobilnya di sebuah restoran. Dan memesan banyak makanan. Restoran lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang makan di sana . Ketika pesanannya datang beberapa orang memandangnya heran ke arah meja Arwen. Dia balik memandang mereka dengan galak. Tak ada kata ramah untuk saat seperti ini, batinnya.
Setelah selesai menghabiskan makanannya dengan bernafsu, Arwen kembali meluncurkan mobilnya ke jalanan. Dia teringat Dinar. Kemudian merogoh-rogoh sakunya mencari ponselnya. Dia sadar ponselnya ketinggalan dan merasa semakin sebal. Arwen terus saja mengendarai mobilnya memutari kota Surabaya.
Saat matahari menggelincir ke arah barat, Arwen memutuskan pulang ke rumah. Perasaan kesalnya sudah berkurang tapi rasa kecewa akan Trinita masih utuh di hatinya. Diperjalanan pulang dia Mampir ke sebuah restoran siap saji. Arwen membeli makanan untuk makan malam, karena dia sedang tidak ingin makan di rumah.
Garasi kosong ketika Arwen memarkir mobilnya, berarti Trinita sedang tidak ada di rumah. Arwen menghambur ke dalam kamarnya, perasaannya sedikit lega karena dia tak langsung bertemu Trinita. Dia akan merasa kesal lagi jika bertemu dengan kakaknya. Sesampai di kamar Arwen meletakkan bawaannya di meja sebelah tempat tidurnya, menyambar handuk dan berendam di dalam bak mandi. Dia memutuskan langsung memakai piama tidur karena dia berencana tidak turun sampai besok. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang kemudian menyalakan tivi.
Arwen terlelap ketika film terpotong dengan iklan. Dia bermimpi buruk. Perutnya serasa dililit tali dan ditusuk-tusuk dengan pisau. Dia tak tahan lagi kemudian terbangun. Kamarnya gelap, hanya seleret cahaya TV yang rupanya sudah habis tayangannya dan seleret cahaya yang menerangi kaki tempat tidurnya. Arwen menengoknya, ternyata cahaya itu berasal dari jendela yang lupa ditutupnya. Langit hitam cerah bertabur bintang terlihat dari luar jendela.
Dia turun dari ranjang dan merasakan perutnya melilit karena lapar. Arwen menghidupkan lampu kamarnya dan menyambar makanan di sebelah meja kemudian memakannya sembari mengganti-nganti saluran tivi. Setelah menghabiskan makanannya dia melirik jam dinding. Jam menunjukkan pukul satu lebih empat puluh lima menit. Arwen memutuskan untuk turun mengambil minuman.
Dia mengira Trinita sudah tidur. Tapi ketika dia melewati kamar Trinita, dia mendengar suara obrolan dari dalam kamarnya. Arwen tidak menggubrisnya, dia berpikir mungkin hanya suara televisi yang lupa dimatikan. Arwen terus berjalan ke dapur. Dan mengambil segelas air lalu membawanya ke atas. Ketika melewati kembali kamar Trinita dia mendengar potongan suara Trinita.
“…terima kasih sekali kamu mau mengerti aku, karena aku harus melakukannya ….” Arwen mengernyitkan dahinya kemudian masuk ke kamarnya sendiri. Setelah menutup pintu kamarnya dia meminum airnya sambil berpikir, dengan siapa Trinita bicara malam-malam begini? Tapi Arwen tak memikirkannya lagi ketika dia merebahkan tubuhnya di ranjang karena dia langsung terlelap kembali.
Keesokan harinya Arwen turun ke dapur. Trinita sudah duduk di meja makan dan sedang menikmati sarapannya. Arwen duduk agak jauh darinya. Trinita tidak mendongak memandang Arwen, ketika dia mengambil roti dan selai, mereka berdua sarapan dengan diam yang canggung. Ketika roti Arwen hampir habis Trinita menatapnya kemudian berkata.
“Arwen, aku ingin bicara denganmu,” nadanya canggung.
“Bicara saja,” jawab Arwen tanpa mengangkat mukanya dari rotinya. Hatinya ketir-ketir, berharap Trinita tidak membuat dirinya kesal lagi sepagian ini.
“Aku sudah memutuskan…” Trinita diam sesaat kemudian melanjutkan. “Aku akan ikut pindah denganmu ke Jakarta.”
Arwen kaget dan menatapnya tak percaya, ”Apa kamu benar-benar sudah memikirkannya, Trinita?”
“Ya, aku sudah memikirkannya semalam dan aku memutuskan ikut denganmu dan memindahkan bisnisku di sana. “Trinita mengatakannya dengan mantap. “Aku tak bisa membiarkanmu di sana sendirian.”
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya Arwen sambil menyipit curiga memandangnya tapi hatinya terasa lega sekali.
“Ak… aku mempertimbangkannya semalam. Dan menurutku sebaiknya akamu mempertahankan perusahaan dan mendukungmu untuk menjalankannya.” Jawab Trinita salah tingkah.
Arwen masih menyipit memandangnya, dia takut Trinita berubah pikiran lagi.
“Apa kamu tak akan berubah pikiran lagi?” tanya Arwen.
“Aku berjanji padamu, aku tak akan menarik kembali kata-kataku. Aku sudah bertekad dan mempertimbangkannya dengan baik dan kurasa ini adalah jalan yang terbaik. Aku sangat menyesal atas keputusanku kemarin, aku minta maaf Arwen. Ternyata kamu lebih dewasa dalam hal berpikir daripadaku.”
Arwen memandanginya.
“Kamu tahu Trinita, kemarin kamu memang sangat menyebalkan. Tapi terima kasih banyak dan aku juga minta maaf kemarin aku membentakmu.”
“Kamu layak untuk membentakku Arwen.” Kata Trinita tersenyum.
“Dan kapan kita berangkat?”
“Kurasa beberapa minggu lagi setelah aku membereskan semuanya dan kurasa kamu juga cepat-cepatlah mengurus surat-surat pindahmu dari Universitas.” Jawab Trinita.
Arwen langsung bangkit dan mengatakan, “aku akan mengurusnya sekarang juga.” Kemudian dia berjalan keluar dapur lalu memoleh lagi ke Trinita.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (118)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
baguss bangettt kakkk
30/04/2025
0ggggggg
13/01/2025
0cerita sangat bagus
16/07/2024
0Lihat Semua