"Das*r anak nggak berguna! Apa selama ini papa biayai pendidikan kamu hanya untuk mencoreng nama baik keluarga, ha?. Memalukan!". Marlina terperangah, yang ia takutkan ternyata benar-benar terjadi. Mata Evan membulat, terkejut setelah mendapatkan respon buruk dari papanya. Lelaki bertubuh tegap itu memegangi pipi kirinya yang terasa panas sekaligus nyeri dengan pandangan nanar. "Papa nggak nyangka kamu bisa melakukan hal serendah itu, Evan!" bentak Bayu seraya menatap Evan tajam. Bayu menarik pergelangan tangan Meisya. "Lihat istri kamu! Lihat!. Apa yang kurang dari dirinya?. Papa nikahkan kamu dengan gadis setulus dia biar sifat kamu bisa berubah!. Tapi kenyataannya kamu malah menyakitinya. Papa malu punya anak seperti kamu!" Bayu menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan air matanya yang menggenang. "Aku nggak pernah minta papa nikahkan aku sama dia, kan?" celetuk Evan. Mata Bayu sontak membulat. Ucapan Evan kembali membuatnya tersulut emosi. Tanpa sadar tangannya terangkat lagi. "Kurang aj*r!" Marlina mencekal pergelangan tangan suaminya. "Cukup, Pa! Anak kita sedang dalam masalah!. Apa masalah Evan akan selesai dengan sebuah tamparan?!" bentak Marlina berusaha menengahi. Wanita paruh baya itu berdiri memunggungi Evan. Seolah tak ingin Bayu menyakitinya lagi. "Mama minta sekarang juga papa bayar uang jaminannya. Setelah itu kita bawa Evan pulang ke rumah. Dengan begitu masalah ini selesai!" titah Marlina penuh penegasan. Meisya mengusap kasar air matanya. Ia sudah menduga bahwa mama mertuanya takkan tinggal diam melihat Evan di penjara. Seketika rahang kokoh Bayu mengeras. Gejolak amarahnya kian memuncak. Dari dulu Marlina selalu menutupi kesalahan Evan. Sejak kecil Evan selalu dimanja hingga akhirnya saat dewasa ia memiliki sifat tidak bertanggung jawab. "Jangan harap aku akan membayar uang jaminan untuk Evan!. Ayo kita pulang," tandas Bayu dengan tatapan tajam. Bayu menarik pergelangan tangan Marlina. Tapi, langkahnya dihentikan oleh tangan Evan. Evan memegangi tangan papanya dengan raut muka memelas. "Evan mohon keluarkan Evan dari sini, Pa. Evan nggak sanggup tinggal di penjara," ucap Evan. Seketika Bayu menghempas tangan Evan kasar. Kemudian berlalu meninggalkan ruangan sembari menarik pergelangan tangan Marlina yang masih saja memberontak. "Lepas!" bentak Marlina setelah bethasil melepas tangan dari Bayu. "Pokoknya aku nggak akan biarin Evan di penjara!" serunya seraya berbalik badan, melangkah kembali ke arah pintu kantor polisi. Namun segera terhenti karena Bayu kembali menarik paksa Marlina. "Jangan coba-coba, Ma. Atau kamu akan terima akibatnya nanti!" ancam Bayu sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah Marlina. Marlina sontak terdiam. Ia paham betul arti ancaman dari suaminya itu. Bayu sering mengatakan akan menghapus dirinya dan Evan dari daftar ahli waris jika mereka membuat masalah. Marlina benar-benar mati kutu, tak bisa berbuat apapun. Ia terpaksa harus diam dan mengalah, jika tak ingin kehilangan harta yang selama ini menjadi kebanggaannya. "Ayo, masuk!" titah Bayu sembari mendorong Marlina masuk ke dalam mobil. 🍓🍓🍓🍓🍓 Evan kembali memasuki ruang sempit berukuran 3 x 3 meter. Di dalamnya terdapat lima orang yang telah lama datang sebelum dirinya. Setelah petugas berlalu pergi, Evan duduk di pojokan. Di atas lantai dingin tanpa alas. Evan meringkuk memeluk lutut. Bayangan kejadian beberapa menit yang lalu kembali berputar di pikirannya. Tadinya ia berharap Bayu akan membebaskannya dari penjara. Tapi kenyataannya berbeda. Evan tak menyangka jika papanya lebih memihak pada Meisya. Satu kekhilafan yang Evan perbuat berakibat fatal. Karir, kekayaan dan masa depannya terancam hancur. Hanya karena telah jatuh cinta pada wanita lain. Evan mengacak rambut frustasi. Terisak, menangisi nasibnya yang sial. Empat orang penghuni penjara yang lain saling tatap setelah melihat Evan. Salah satu dari mereka menertawakan Evan. "Kenapa, Woy? Penjahat kok cengeng," ledeknya lantas terkekeh bersama yang lain. Evan seketika mengalihkan pandangan pada mereka. Kemudian berjalan mendekat. Satu tangannya mencengkeram kerah kaos laki-laki kekar yang meledeknya tadi. "Apa kamu bilang tadi? Penjahat cengeng?. Kamu belum tahu siapa saya. Saya ini pengusaha terkenal di kota ini!. Jangan macam-macam kamu sama saya!" Evan dan lelaki itu saling menatap tajam dengan jarak dekat. Segera laki-laki itu melepaskan cengkeraman Evan lantas memelintir tangan Evan ke belakang. Lelaki kekar itu medesak tubuh Evan pada dinding. "Gue nggak butuh tahu status lo!. Lo orang baru di sini, jadi jangan coba-coba cari gara-gara. Kalau nggak, gue hajar lo!" ancam lelaki itu tegas. Lelaki gondrong itu menghempas tangan Evan kasar. Kemudian duduk di atas tikar. "Pijitin gue," titah lelaki itu sembari melirik Evan. Evan membuang muka. "Nggak mau." Tak lama lelaki kekar itu mendekati Evan lantas memukuli perut dan wajah Evan hingga babak belur. Sialnya petugas baru datang setelah Evan terjatuh lemas. 🍓🍓🍓🍓🍓 "Papa minta maaf, nak. Gara-gara papa, kamu harus mengalami masalah ini. Kalau saja papa tidak meminta kamu menikah dengan Evan dulu. Mungkin semua ini nggak akan terjadi," tutur Bayu dengan wajah sedikit menunduk. Marlina membuang muka kesal sembari menekuk sebelah bibir. Menurut Marlina sikap Bayu berlebihan. Bayu hanya membesar-besarkan masalah kecil. "Nggak, Pa. Ini bukan kesalahan papa. Kita sama-sama nggak tahu kalau hal ini akan terjadi," sahut Meisya. Hati Marlina mencelos. Ia akui, jika Meisya adalah seorang aktris. Maka ia akan mendapat penghargaan atas bakat akting yang dimilikinya. "Papa nikahkan kamu dengan Evan dengan niat baik. Papa ingin Evan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Papa bener-bener malu, Mei!" ungkap Bayu penuh kekecewaan. Meisya mengusap bulir bening yang terjatuh sebelum ada yang melihatnya. Ia berusaha bersikap tenang menghadapi masalah. Mulai saat ini Meisya harus memikirkan keputusan penting untuk menata masa depannya nanti, tanpa Evan. Meisya berpikir akan mengurus surat perceraian dengan Evan dan mencari tempat tinggal lain. Ia tak ingin bayangan Evan menghalangi jalannya untuk hidup bahagia. "Papa serahkan semua keputusan sama kamu, Nak. Kamu berhak menentukan sendiri. Papa tak akan menghalangimu jika ingin bercerai dari Evan," ujar Bayu. Meisya terdiam. "Tapi papa mohon tetaplah tinggal di sini. Papa sudah memutuskan akan mengalihkan tanggung jawab Evan mengurus perusahaan itu pada kamu, Meisya. Papa minta kamu jangan menolak permintaan ini," tutur Bayu sembari menatap ke arah menantunya. Marlina terperangah kaget mendengar pernyataan Bayu. Begitu juga Meisya. "Kamu nggak usah khawatir, Mei. Papa tahu kamu belum begitu paham mengenai bisnis ini. Jadi papa akan siapkan partner buat kamu. Papa punya kenalan pebisnis handal," tambah Bayu seraya tersenyum. "Nggak bisa gini dong, Pa!. Bisa-bisanya papa buat keputusan ngasal kayak gitu!. Anak kita itu Evan, bukannya Meisya!" protes Marlina.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus ceritanya...kasian pak bayu dpt istri.licik
31/07/2022
1lanjutkan
07/12
0seruuu
26/09/2025
0Lihat Semua