Di sebuah sudut kota seberang sana. Seorang lelaki menatap jalanan di temani oleh secangkit kopi. Pikirannya melanglang buana, menyeberangi lautan, mendaki gunung, menerjang lembah dan hutan. Hatinya begitu merindu, rindu pada seorang gadis. Mantan istri yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Jika orang berkata, dibalik seorang pria yang hebat ada seorang wanita yang hebat mendampinginya. Ah, Aira ... bagaimana bisa menjadi hebat, jika dirimu tak lagi di samping? Semangat hidup ikut tertinggal bersama dirimu diseberang pulau. Cinta bukan selalu tentang saling memiliki dan bersama. Terkadang cinta memaksa untuk melepaskan. Terkadang juga memaksa untuk merelakan. Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan mengikhlaskan. Kini, lelaki tersebut hanya bisa mengenang dan merenung dari jauh. Berharap Tuhan mengirim hati yang baru untuk mengobati. Hati yang mampu membuat sayap-sayap patah utuh hingga bisa mengepak kembali. Memang, cinta tak bersyarat, karena ia tumbuh di sanubari. Seperti bulan yang mencintai bintang, seperti lautan yang mencintai angin, seperti samudra yang mencintai hamparan pasir putih, semua saling terhubung namun tak pernah bersatu. Cinta ... sebuah kata dan rasa yang mampu menembus hati.Tak tahu kapan kehadirannya, tapi tahu saat kepergiannya. Datang dengan begitu cepat, tapi pergi dengan begitu lambat. Aira ... walaupun kita tak di takdirkan bersama hingga tua, tapi kita punya kenangan yang akan terlupa. Karena itulah, tak pernah ku lupa untuk selalu menyebut namamu dalam doa. Selalu ada pertanyaan setiap mengingat dirimu tentang bagaimana nanti, masa depan? Akhir?. Tapi aku tau, takan ada manusia yang mampu menjawab pertanyaan tersebut, karena semua jawabannya terhubung dengan jalan takdir. Lelaki tersebut meneguk kopi yang tersisa sedikit hingga habis. Lalu dengan langkah gontai meninggalkan tempatnya duduk menjauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota Batu. *** Bu Indarti tampak sibuk mengamati Aira yang mengenakan kebaya putih. Polesan yang tak terlalu tebal, meninggalkan kesan natural. Sangat cantik. "Mbak, foto dong," Bu Indarti meminta penata rias yang sudah selesai memoles dan mendandani Aira untuk mengambil beberapa foto. Aira di dudukkan di tepi ranjang, lalu Bu Indarti merangkulnya dari samping. Keduanya sama-sama memasang senyum dalam arti yang berbeda. Setelah mengambil berapa fose saat duduk, gantian dengan fose saat berdiri. Penata rias tersenyum, sambil menjepretkan kamera di tangannya berkali-kali. "Oke, cukup!" Bu Indarti menyudahi foto-fotonya bersama calon menantu. Penata rias menyerahkan kembali handphone ke tangan Bu Indarti. Ia kembali merapikan sedikit jilbab yang di kenakan Aira. Tak lupa ia merapikan kebaya Aira sampai ujung sebelum membawanya keluar dari kamar. "Bismillah, Ya Allah! Engkau tahu yang terbaik untuk umatnya. Jika ini yang terbaik, hamba ikhlas. Mudahkan segala prosesnya, Ya Allah ...." Sebait doa Aira panjatkan dalam hatinya yang mulai gerimis. Namun, Aira tetap berusaha tegar. Ia sudah bertekad tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Siapapun yang di kirim Tuhan untuk jodohnya yang kedua, Aira sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memperlakukan dan melayani selayaknya suami walaupun belum ada benih cinta untuknya. Mata Niko tak berkedip memandang Aira yang mulai mendekat. Di sebelahnya tampak Bu Indarti menggandeng dengan senyum bahagia. Bu Indarti mengantarkan Aira hingga duduk berdampingan dengan Niko. Lalu ia turut duduk di samping keduanya. Serangkaian acara umumnya segera di mulai. Terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an di bacakan. Dilanjutkan dengan pembacaan khutbah nikah. Setelah membaca khutbah nikah, Penghulu bertanya kepada mempelai pria tentang statusnya, bentuk dan jumlah mas kawinnya. Sampai pada tahap tersakral dalam hidup seseorang, yaitu proses ijab qobul. Penghulu bersiap-siap menjabat tangan Niko di atas meja kecil. Tiiiiit ... tiiiittt .... tiiiiiit .... Tedengar suara klakson mobil berhenti tepat di depan rumah Bu Indarti. Sontak semua mata memandang keluar. Tampak seorang lelaki berperawakan tinggi besar, dengan kumis tipis turun dari mobil dan langsung melangkah menuju rumah Bu Indarti yang sudah siap melakukan ijab qobul. "Kamu!" Hardik lelaki tersebut dengan wajah berang menunjuk langsung pada Niko. Tangan Niko yang sudah siap, terlepas dari genggaman Penghulu. Pak Margono beranjak dari duduknya mendekati lelaki tampak begitu marah. Sementara Aira dan Bu Indarti saling merapatkan tubuh tak mengerti dengan apa yang terjadi. "Ada apa ini? Bapak ini siapa? Kenapa marah-marah di acara pernikahan anak Saya?" Pak Margono langsung menyambut lelaki tersebut dengan pertanyaan. "Tanyakan pada putra bapak yang bernama Niko ini! Apa selama kuliah dia mengenal Davina!" Teriak Bapak tersebut sambil menunjuk Niko. Raut wajah Niko berubah memerah ketika mendengar nama Davina. Niko beranjak dari duduknya dan menghampiri lelaki tersebut. "Bapak siapanya Davina?" Suara Niko terdengar sumbang dan gugup. "Aku ayahnya, brengsek! Aku ayah dari anak yang kamu hamili, anakku berjuang sendiri untuk melahirkan dan membesarkan anakmu, Brengsek!" Serasa petir menyambar, Bu Indarti menahan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Aira menjerit dan memeluk tubuh Bu Indarti. Beberapa orang saksi yang di siapkan mengangkat tubuh Bu Indarti ke kamar. Aira mengikuti sambil menangis. Sesampai di kamar, Aira langsung menyodorkan segelas air putih. "Aira ... Aira ... apa ini Aira! Bilang kalau aku cuma mimpi! Aira." Aira memeluk Bu Indarti dengan erat. Ia tak tahu harus berkata apa karena memang ia tak tahu apa yang terjadi. Aira hanya bisa menyabarkan Bu Indarti sambil terus memeluknya. Sementara di luar terjadi keributan. Niko yang menjadi sasaran kemarahan Bapak tadi, di amankan ke kamar. Pak Margono dan orang-orang berusaha menenangkan orang asing tersebut. Hingga akhirnya ia lemas karena terlalu banyak mengeluarkan energi untuk marah. "Anakku ... anakku ...." lelaki asing itu tiba-tiba menangis di hadapan semua orang. "Bapak, tenang dulu pak. Kita bicarakan baik-baik. Semua akan kita selesaikan baik-baik," Pak Margono menyodorkan segelas air putih kepada orang asing tersebut. "Saya ... saya ingin meminta pertanggung jawaban Niko untuk anak saya, Davina. Mereka ini sama-sama saat kuliah di Luar Negeri. Davina baru saja melahirkan anaknya Niko sebulan yang lalu. Beberapa kali kami mencoba menghubungi Niko baik-baik, tapi Niko tak pernah mau menerima panggilan telpon kami," terang Lelaki tersebut dengan suara parau. Ia tak perduli lagi dengan pandangan dan cibiran beberapa orang di sekitarnya. "Baik, semua akan kita bicarakan baik-baik. Tapi bapak jangan emosi, akan kita bicarakan secara kekeluargaan. Mohon maaf semuanya, sepertinya untuk akad hari ini, tidak bisa di lanjutkan," Pak Margono berbicara sambil menunduk menahan malu. Napasnya terdengar memburu. Semua yang ada di situ mengerti akan situasi yang mereka hadapi. Mereka akhirnya pamit undur diri, memberikan ruang pada dua keluarga tersebut menyelesaikan persoalan mereka. Setelah semua saksi dan penghulu meninggalkan kediaman Bu Indarti, dua orang wanita langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah Bu Indarti. Seorang wanita muda masuk bukan dengan tangan kosong, melainkan sambil menggendong seorang bayi mungil yang tertidur pulas. Benar yang di katakan bapaknya, kemungkinan dia melahirkan sebulan yang lalu. "Ini Davina putri saya Pak," ucap sang Ayah memperkenalkan putrinya. "Maaf, Pak, Bapak siapa namanya? Saya Margono." Pak Margono menyodorkan tangan. "Eh, iya. Saya Yosef. Ini istri saya Vera," Bapak yang mengaku bernama Yosef mulai melunak. "Akan saya panggilkan Niko, dan istri saya!" Pak Margono beranjak memanggil Niko dan Bu Indarti. Tak berapa lama Niko datang dengan langkah yang sangat dipaksakan. Pikirannya bercabang, ingin marah pada keluarga Davina, malu dan bersalah pada Aira dan orang tuanya. Sementara Bu Indarti keluar dengan wajah sembab di temani oleh Aira. Mereka semua berkumpul di ruang yang semula di jadikan tempat akad Niko dan Aira. "Niko, katakan apa benar yang dikatakan Pak Yosef? Apa kau benar ada hubungan dengan dia?" Tunjuk Pak Margono pada Davina. Niko menggeleng, sementara Davina menunduk. "Davina, benar kau mengandung dan melahirkan anaknya?" Pak Yosef bergantian menunjuk ke arah Niko. Davina mengangguk. "Bagaimana aku yakin itu anakku, Vina? Sementara aku melakukannya hanya sekali?" Sentak Niko sambil berdiri membuat seisi ruangan terperangan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bahus
27/07/2025
0bagus Flim nya
24/04/2025
0Bagus banget
14/04/2025
0Lihat Semua