logo text

Bab 4

Pintu ruangan terbuka, Jodie mendahului masuk diikuti Langit juga Lea. Ruangan itu masih sama, tidak ada yang berubah kecuali struktur organisasi. Sudah dapat dipastikan, orang itulah yang sekarang menjabat sebagai pimpinan tertinggi di lembaga kepolisian kantor pusat.
Semua mata tertuju pada mereka bertiga. Tanpa banyak basa basi, mereka ikut bergabung dengan beberapa orang yang sudah lebih dulu menghadiri pertemuan penting ini, ada Asia Singgih Wijanarko juga disana. Tentu saja, yang saat ini duduk di paling ujung sudah menatap Lea tersenyum kecut, meremehkannya, polisi yang dulu pernah menangani kasus ibu Lea, Handoko.
“Jadi END yang anda pilih untuk menangani kasus ini?” dia langsung buka suara, tatapannya kali ini beralih pada Singgih. Singgih lah yang memanggil Langit dan Lea untuk bergabung. Kalau bukan karena Singgih, mungkin mereka tidak akan diperbolehkan masuk. Sekali lagi, kode etik melarang detektif swasta ikut campur dengan kasus yang ditangani pihak kepolisian.
“Saya tidak peduli dengan pembunuhan itu. Yang saya inginkan adalah keponakan saya ditemukan.” Tandas Singgih penuh penekanan, “Dari awal bukankah pihak kepolisian sudah menyerah dengan kasus menghilangnya Lintang juga yang lain dari kasus Pabrik Tua? Dan sekarang kalian akan menyatakan kalau pelaku pembunuhan hari ini lah yang menjadi tersangkanya? Itu artinya kalian akan menyatakan kalau Lintang juga terbunuh? Apa kalian bisa membuktikan itu?” Singgih tersenyum menggeleng tidak percaya, lalu pandangannya mengarah ke Langit dan Lea.
“Apa kalian setuju dengan pernyataan itu?”
“Kami harus menyelidikinya terlebih dulu untuk memastikan.” Sahut Langit yakin.
“Pihak kepolisian melarang keras detektif swasta ikut campur! Saya kira kalian sudah paham! Lagipula tersangka juga sudah mengaku kalau dialah pelaku pembunuhan termasuk kasus Pabrik Tua itu!” bantah Handoko, suaranya mulai meninggi.
“Kami tidak pernah sekalipun ikut campur!” potong Lea akhirnya, dia menarik kursinya sedikit maju untuk bisa melihat semua yang ada di ruangan, memberanikan diri menatap polisi itu. Langit melihatnya, kalimat Lea bergetar, bahkan tangannya mulai keringat dingin. Langit menahan lengan Lea, tapi Lea menggeleng tersenyum meyakinkan Langit kalau dia mampu menghadapinya. Lea sudah berjanji akan bekerja semaksimal mungkin untuk END, dia tidak akan setengah-setengah. Bagi Lea mengungkap kebenaran adalah tujuannya bergabung dengan END.
Lea mengeluarkan dokumen dari tasnya, lalu meminta Jodi untuk menyerahkannya ke polisi itu.
“END ditunjuk Bapak Singgih untuk mencari keberadaan Lintang. Dan polisi juga sudah memutuskan untuk menghentikan pencarian Lintang.” Ucap Lea sembari membuka halaman kedua dari salinan dokumen yang tadi dia berikan.
“Kami berada disini untuk bernegosiasi.” Kalimatnya berhenti. Lea menunggu respon dari mereka semua, dan syukurlah sampai disini belum ada yang memotong ucapannya, Handoko masih membaca rincian dokumen. “Beri kami waktu tiga bulan untuk mencari keberadaan Lintang, kalau sampai dalam waktu itu kami gagal silakan dakwa tersangka itu sebagai dalang menghilangnya Lintang juga 19 perempuan lainnya sejak tahun 1999. Toh kalian juga belum menyelidiki tersangka ini lebih lanjut, kalian hanya ingin segera menutup kasus ini kan hanya berdasarkan keterangan tersangka?” Lea tersenyum sinis. Handoko menggebrak meja murka, berdiri menatap Lea tajam, tangannya mengepal geram. Tidak menyangka bocah ingusan yang dulu dia anggap sepele saat ini sedang mengancam posisinya. Handoko tidak terima.
“Tutup mulut kamu! Bedebah, kurang ajar!”
Lea menaruh kedua tangannya di meja, mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap satu persatu para anggota polisi itu, sekali lagi mengintimidasi mereka, “END tahu kenapa kalian berusaha menutup kasus ini segera, bahkan kasus sejak tahun 1999. Saya tidak peduli dengan kasus pembunuhan ini, bahkan kasus menghilangnya perempuan-perempuan lainnya, tapi disini saya mewakili Bapak Singgih untuk mengajukan pencarian ulang Lintang juga menunda keputusan kalian tentang dakwaan itu. Kalian mau menyatakan kalau Lintang juga jadi korban pembunuhan tersangka ini? Kalian lakukan itu sekarang, END bisa membongkar semuanya saat ini juga apa yang ingin kalian sembunyikan selama ini.”
“KAMU! Kamu berani mengancam saya, hah?” bentak Handoko lagi, kali ini dia lempar dokumen itu ke muka Lea.
Lea hanya tersenyum menggidikkan bahu, memenangkan perdebatan ini. Kalau boleh jujur sebenarnya Lea juga belum tahu apa yang akan dia bongkar seandainya tawarannya ini ditolak.
***
Segera setelah pertemuan itu, pihak kepolisian mengumumkan kepada publik bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Itu sudah jelas, gertakan yang dilontarkan Lea ampuh membuat pihak kepolisian yang bermain-main dengan kasus Pabrik Tua ketakutan.
“Lo berani banget ya? Gimana kalau mereka nolak negosiasi?” Langit memutar mobilnya masuk ke jalan tol, menuju markas END.
“Oh tidak bisa! Gue nggak setolol itu, Lang.” Lea nyengir, mengerlingkan matanya genit ke Langit. Meski itu cuma gertakan, Lea tidak akan pernah bertindak tanpa alasan.
Gerimis kembali turun, mobil memasuki markas END, melindas semak belukar yang memenuhi jalanan. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Lea membuka kaca jendela mobil menengadahkan tangannya keluar, “Kemarin Bang Yos hubungin gue, Angga kasih Bang Yos berkas, bahwa ada barang bukti yang sengaja dihilangkan. Sorry gue nggak langsung cerita ke lo ya, gue harus pastiin itu benar atau nggak,” Lea nyengir, memainkan tetesan gerimis yang mengenai tangannya. Langit yang mendengarnya langsung menoleh ke Lea sekilas, menghela napas kasar tahu kalau Lea hanya alasan. Sebenarnya bukan Lea mau memastikan, tapi Lea memang lupa saja kalau dapat telepon dari Yosie. Pikirannya sudah carut marut saat dapat info mengenai kejadian pagi ini. “Lo tahu apa itu, Lang? Kuas untuk melukis, lo tahu kuas itu milik siapa?” lanjut Lea.
Langit menghentikan mobilnya di parkiran belakang container, dari sana mereka bisa menuju markas END dengan melewati lorong kecil tanpa kehujanan.
“Siapa?”
“Milik perempuan pertama yang menghilang di tahun 1999, dan di kuasnya ada sidik jari Handoko, Lang.” Lea menarik tangannya masuk, menoleh ke Langit menatapnya penuh arti, “Lo tahu artinya kan kenapa negosiasi gue berhasil?”
***

Komentar Buku (421)

  • avatar
    PermataSartika

    bagus ceritanya

    26/08

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    seru ceritanya juga mendebarkan..

    31/05

      0
  • avatar
    Ulpi ManasikHaji

    banyab iklan

    30/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru