"Kak lebih baik kita kabur deh sebelum terjadi hal buruk," ucap Hana ketakutan. Tangannya refleks memegang erat lengan Baskara saat mereka tepat berada di hadapan mereka. "Tuan Muda!" ucap salah satu diantara mereka. Lelaki kekar itu menundukkan kepala diikuti yang lainnya. Pemandangan yang sungguh mengherankan bagi Hana. Sebenarnya Baskara ini siapa batinnya. "Gue butuh pengawalan," perintah Baskara singkat. Intruksi tersebut langsung di iyakan oleh para ajudannya. Bak seorang bos pada anak buahnya, mereka mengangguk paham akan perintahnya. Dua orang wanita berjas hitam dengan kaca mata hitam menggandeng Hana. Mereka berdua tak berbicara apa pun selain memberikan kode tangan untuk terus berjalan. "Kak! Aku diculik ini tolong ...!" teriak Hana. Baskara tertawa geli mendengarnya. Bahkan ia sempat melambaikan tangan pada Hana yang tengah ketakutan itu. Tingkahnya yang menggemaskan membuat Baskara tak henti tertawa di dalam hatinya. "Tuan Muda, maaf apa gadis itu perlu kami make over?" tanya salah satu body guard wanita. "Nggak perlu, selesai belanja bawa ke ruangan gue," ungkapannya. Mereka langsung paham dan bergegas membawa Hana pergi. Di sisi lain Hana sedang kebingungan dengan perlakuan dua ajudan wanita yang tengah bersamanya. Mereka tidak menjelaskan apa pun selain memilihkan baju, tas, sepatu, dan make-up. "Mbak maaf saya nggak ada duit buat bayar semua ini, mana harganya seharga duit semesteran saya lagi," gerutu Hana. Ia tak habis pikir dengan orang-orang ini. Bisa-bisanya membawanya tanpa bertanya apakah Hana memiliki uang atau tidak. "Nona tinggal pilih saja," jawab salah satu diantaranya. Semakin Hana memusingkan hal itu semakin ia di jejali banyak belanjaan branded di sana. Tidak hanya satu toko melainkan hampir seluruh toko di lantai itu mereka masuki. Semua penjaga kasir tidak menyebutkan harga yang biasa mereka lakukan. Mereka hanya memasukkan barang tersebut ke dalam paper bag dan langsung memberikannya pada Hana. “Apa sudah tidak ada lagi yang mau dibeli Nona?" "Enggak ini udah cukup, sekarang anterin saya ke Kak Baskara lagi ya," ucap Hana sedikit kesal. Salah satu dari mereka seperti tengah berkomunikasi melalui hands free di telinganya. "Oke siap!" ucapnya. Hana kembali digiring menuju lift. Kantong belanjaannya pun mereka bawakan. Hana seperti putri konglomerat sehabis berbelanja. Ting Pintu lift terbuka. Hana terkejut saat melihat lorong di hadapannya bukan seperti lantai mall pada umumnya. Lorong itu mirip sekali dengan hotel. Lebih tepatnya mirip dengan rumah Baskara yang berada di dalam rumah sakit waktu itu. "Silakan masuk," ucap wanita di sebelahnya. Saat membuka pintu betapa terkejutnya Hana bahwa itu adalah rumah mewah mirip seperti milik Baskara. Rumah di dalam pusat perbelanjaan? Batin Hana mulai bertanya-tanya. Sekaya apakah Baskara ini hingga memiliki segala properti yang tak masuk di akal. "Tuan, semua sudah selesai," ucap salah satu diantara mereka. Tanpa menjawab, Baskara hanya memberi isyarat tangan untuk menyuruh mereka pergi. Hana masih tercengang. Di hadapannya kini berdiri lelaki misterius yang susah ditebak. Ia tengah menuangkan segelas wine dari mini barnya. "Gimana? Udah dapet baju yang kamu suka?" tanyanya tanpa menatap. "Coba Kakak jelasin, sebenarnya ini semua apa? Kenapa Kakak nggak jelasin apapun ke aku?" cerocos Hana. "Gue cuman mau bikin lu seneng itu doang," jawabnya meneguk wine. "Seneng? Dengan banyaknya hal yang aneh Kakak bilang mau nyenengin aku?" Baskara meletakkan gelas wine-nya di atas meja. Sekali lagi ia menarik napas dalam. Menoleh pada Hana yang berdiri terpaku di dekat televisi ruang tamu. Perlahan ia menghampiri gadis yang telah membuatnya tak henti memikirkannya. "Lu mau apaan sih? Tinggal bilang, mau uang? Mobil? Perhiasan? Apa rumah? Sebut aja," ucapnya menatap Hana tajam. "Mau Kakak apa sih?" Hana mulai mundur perlahan. Kini Hana benar-benar ketakutan akan sosok lelaki itu. "Mau gue? Mau gue lu stop ada di pikiran gue! Jangan muter-muter di kepala gue tiap detik bisa nggak hah?" bentak Baskara. Kini tubuh Hana terpojok pada sebuah sofa di belakangnya. Ia menelan ludah sesaat setelah Baskara ambruk tepat di atas tubuhnya. "Aahh!" pekik Hana tak mampu menopang berat Baskara. Lelaki itu menyandarkan satu tangannya untuk menyangga agar tubuhnya tak ambruk. Efek minuman membuatnya sedikit mabuk. Wajahnya memerah. Tatapannya sayu. Lirih ia berbisik di telinga Hana "Gue kayaknya lagi stress mikirin elu." Deeggg Jantung Hana berdetak kencang mendengarnya. Disusul dengan ambruknya tubuh Baskara tepat di atas tubuhnya. Ia dapat merasakan detak jantung Baskara tepat di dadanya. Berpadu dengan detaknya yang tak kalah memburu bak detik waktu. "Kak bangun Kak!" ucap Hana mengguncang tubuhnya. Tidak ada respons apa pun selain napas yang mulai memelan perlahan. Dengan susah payah ia menggeser tubuh Baskara dari tubuhnya. "Ni orang makan apaan sih berat banget, apa keberatan dosa kali ya," gumam Hana. "Kak bangun dong ini udah sore, aku mau pulang dan aku nggak tahu pulangnya gimana ini," ucap Hana menepuk pelan pipi Baskara. Tak mendapat jawaban, Hana kembali menepuk lebih kencang pipinya. "Mmhhh, kamu di sini aja temenin aku," ucapnya masih terpejam. "Hah ngigo apa ya ni orang," batin Hana. Secepat kilat Baskara menyahut tangan Hana. Mendekapkan pada dada bidangnya. Sesekali ia menyiumi tangan Hana dengan gemas. Membuatnya terbelalak tak percaya. Seorang lelaki tampan dan terkenal di kampusnya kini mengigau menyiumi tangan seorang gadis yang bukan siapa-siapa. "Kak please bangun, aku mau pulang," rengek Hana. Tak mendapat jawaban apa pun, akhirnya Hana mendapat ide lain. Di pencetnya hidung Baskara hingga ia tak dapat bernapas. "Uhuk uhuk ...." "Nah bangun akhirnya, Kak anterin aku pulang," rengeknya kembali. "Lah lu ngapain di sini?" tanyanya heran. "Lah ‘kan Kakak yang ngajak aku ke sini, terus belanjain aku banyak kek gitu, sekarang malah tidur meluk tanganku," jelas Hana seraya menarik tangan yang masih berada di dada Baskara. "Cari kesempatan ya lu!" Baskara menarik tubuhnya menjauh. Kini ia terduduk dengan wajah memerah. Mungkin saja ia tadi tengah mengigau karena efek mabuk. Baskara mencoba mengingat-ingat kembali hal apa yang ia lakukan selama mabuk tadi. "Udah Kak nggak usah di pikirin, aku nggak akan bilang ke orang lain kok santai," goda Hana menaik turunkan alisnya. "Aaarrgghh ... ngapain gue minum banyak tadi," racau Baskara mengacak-acak rambutnya. Hana tertawa kecil melihatnya. Lelaki itu bangkit menuju kamarnya. Seolah ingin menyembunyikan rasa malu yang tak tertahan. ~••~ "Gue harap hal tadi nggak bikin lo seneng," celetuknya saat mobil berhenti tepat di depan kos Hana. Tanpa menengok ke arah Hana, Baskara terlihat malu karena kejadian tadi. "Ya tergantung sih," jawab Hana menggoda. "Lu mau apa jadinya, biar bisa amnesia sama kejadian tadi," ucap Baskara sedikit kesal. Ia menatap Hana dengan wajah yang masih memerah tersebut. "Aku mau waktu Kakak satu hari weekend nanti," jawab Hana. "Nggak usah ngaco, gue sibuk di kampus," elaknya. "Oh ya udah," Hana mengakhiri ucapannya dan membuka pintu mobil. Saat ia akan turun Baskara menutup kembali pintunya. "Oke jam lima sore," ucapnya seraya menutup pintu. Hana terdiam sesaat. Kini gilirannya yang menarik napas dalam mirip lelaki di sampingnya. Baskara yang mulai geram akhirnya berkata "Oke terserah elu deh mau kapan, kasih tahu gue aja!" “Oke, jadi kalo aku chat harus di bales ya," ucapnya memberikan jari kelingking di hadapan Baskara.Senyum kemenangan mulai terpancar dari wajah Hana. Akhirnya ada hal yang bisa membalikkan keadaan mereka. Hal yang dari awal selalu di rasakan Hana kini berbalik harus di rasakan Baskara. "Iya iya, udah nggak usah kayak gitu gitu deh gue bukan anak kecil," jawabnya. Hana tak menjawab. Jarinya masih berada tepat di hadapan Baskara. Dengan terpaksa lelaki itu menyahut dengan kelingking juga. "Oke see you on weekend," pungkasnya. Hana berjalan menuju ke dalam kosannya. Dengan hati sumeringah ia memberi lambaian tangan sebelum benar-benar masuk. Tanpa membalasnya Baskara menancapkan gas pergi dari sana. Di sepanjang jalan lelaki tampan itu menjadi salah tingkah. “Anjir ngapain sih gue harus mabok tadi. Bego bego!” umpatnya memukul stir mobil sport-nya. Bersamaan dengan itu, sebuah notifikasi dari ponselnya terdengar. Pesan itu dari ibunya. Isinya seperti biasa mengingatkan Baskara untuk tidak telat makan dan minum vitamin. Hal itu membuat Baskara bosan dan terkesan menyepelekan perhatian ibu yang melahirkan dirinya. *** "Fia ... Fi ...!" teriak Hana mencari keberadaan sahabatnya. "Ya ampun apaan sih kek tarzan aja lu," jawab Fia keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya. "Nih buat lu," Hana memberikan dua kantong besar pakaian yang ia dapat tadi siang. Dengan antusias Fia mulai membuka kantong belanjaan Hana. "Hah lu abis dapet warisan? Gila banyak banget belanjaan lu, mana branded semua," ucap Fia terkejut melihat isi belanjaan Hana. Baju, celana, tas, sepatu, hingga kaca mata ia dapatkan dengan cuma-cuma. "Nggak usah banyak bicit udah ambil aja yang lu suka," ucap Hana merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam dihiasi senyum bahagia bak telah mendapatkan jakpot. Fia yang masih heran hanya terbelalak saat membuka satu persatu barang dari dalam bungkusnya. "Na, lu nggak open BO, ‘kan?" seketika mata Hana terbelalak. Mendengar Fia yang mulai mengarang bebas akan barang-barang mahal yang ia dapat. "Anjir nggak lah, iman gue masih tebel kali!" "Lu dapet ini semu dari mana ya Tuhan," Fia tak henti mengagumi baju-baju mahal itu. Hana mulai menggoda Fia dengan tidak mengatakan yang sesungguhnya. “Ciye keppo banget.” Hana menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Meninggalkan Fia yang masih penasaran dengan barang yang ia dapatkan. “Sialan lu, awas aja ya gue cari tau sendiri tar,” balas Fia tak mau kalah. Hana membalasnya dengan bernyanyi kencang dari dalam kamar mandi seolah meledek Fia. Bersambung ...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss
12/06/2025
0ᵏᵉʳᵉⁿ
01/12/2024
0mantul banget ceritanya❤
22/10/2024
0Lihat Semua