Beranda/Retrouvailles: The Second Chance/
CHAPTER 16: I WILL FIGHT FOR YOU
Ada saat-saat tertentu dimana kita samasekali tidak ingin mempedulikan dunia. Dan itulah yang dirasakan Devan kini, yang sudah tidak lagi peduli pada dunia ketika akhirnya dia menitikkan air matanya.
Seluruh kenangan tentang Dylara berputar dengan jelas dalam kepalanya. Persahabatan mereka sejak kecil, masa pacaran mereka saat SMA, dan perpisahan mereka hingga kini....
Devan benar-benar terluka. Dan berat untuk mengakui bahwa dia telah kalah...
Lalu samar-samar terdengar langkah kaki seseorang. Devan pun menunduk pasrah.
"Aku paling benci melihat pria yang menangis."
Aileen.
"....karena itu berarti simbol kekalahan...."
Devan menghela napasnya berat. Lalu berbalik arah menatap wanita yang kini sedang berdiri angkuh dihadapannya sambil menatapnya dingin. Devan hanya terdiam.
"Dan kuharap bukan berita kekalahan itu yang harus kudengar dengan kau sampai repot-repot memanggilku kesini." sahut Aileen lagi dingin.
Devan menatapnya lirih. "Berhentilah. Kita sudah kalah..."
Aileen terkekeh pelan, meremehkan ucapan Devan barusan. "Kau yang tidak pernah tahu arti hidup. Karena kau tidak pernah berjuang. Kau bahkan masih belum jauh dari garis start, tapi kau sudah lebih dulu memutuskan untuk berhenti. Pria manja sepertimu, tidak punya hak untuk menghalangi langkahku."
Devan menelan ludah. Lalu mulai menatap Aileen dengan serius. "Hanya karena kau adalah orang yang kompetitif, tidak semua hal adalah kompetisi. Apalagi masalah hati. Jangan bermain-main, atau kaulah yang akan tersakiti."
Aileen meliriknya tajam. "Dan hanya karena kau sudah lebih dulu kalah, jangan pernah menyuruhku ikut menyerah."
Devan mendengus kesal. Susah sekali memang untuk meyakinkan wanita keras kepala yang satu ini. "Kalau memang kau ingin terus berjuang, itu urusanmu! Tapi kuingatkan saja, itu sia-sia. Karena cinta memang ditakdirkan hanya untuk dua orang. Kalau ada lagi yang mencoba untuk masuk, akan terbuang. Dan disini kita berdua jelas tahu siapa yang akan terbuang."
"Bahkan kerasnya batu bisa ditaklukkan oleh air. Apalagi hati manusia."
Devan hanya mengangguk. "Itu memang benar. Tapi sayangnya, bukan hati Aiden..."
Aileen terkekeh lagi sambil tetap memandang remeh pada Devan. "Kita lihat saja nanti. Karena aku yakin, cintaku jauh lebih kuat daripada Dylara. Aku sudah jatuh cinta pada Aiden selama sepuluh tahun. Sementara Dylara bahkan baru mulai. Jadi akulah yang lebih berhak atas Aiden!" Aileen masih ngotot tidak mau kalah.
Devan terdiam. Tiba tiba perkataan Dylara melintas sejenak dalam kepalanya.
"Cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu kenal atau siapa yang lebih dulu mencintai. Tapi cinta itu tentang kecocokan jiwa, dan hati yang saling bertaut. Cinta juga bukan soal waktu, tapi hati yang saling menyatu. Kamu pasti merasakannya saat bersama dengan Aileen dulu. Dan itu jugalah yang kurasakan dengan Aiden sekarang. Jadi tolong mengertilah..."
Perlahan-lahan Devan tersenyum meskipun sedikit perih. 'Sekarang aku mengerti, Dylara. Maaf karena terlambat menyadarinya', batinnya lirih. Sementara itu, Aileen masih menatapnya heran.
Devan kembali mengangkat wajahnya, menatap Aileen dalam dalam. "Cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu kenal atau siapa yang lebih dulu mencintai. Tapi cinta itu tentang kecocokan jiwa, dan hati yang saling bertaut,"
Aileen mengerutkan keningnya, masih kebingungan.
"Sepuluh tahun yang lalu, Dylara juga lebih dulu mencintaiku selama bertahun-tahun, jauh lebih lama daripada dirimu. Tapi aku tetap memilihmu padahal kita belum lama kenal,"
Aileen terdiam. Dan Devan berusaha melanjutkan.
"Bahkan saat aku pacaran dengan Dylara pun, kau masih tetap ada dihatiku. Teorimu nggak berlaku untuk soal hati, Aileen,"
Aileen memalingkan wajahnya. Mencoba acuh.
"Kelabilan sifatku dan juga obsesi tidak berperasaanmu, adalah awal dari semua kekacauan ini."
Jantung Aileen mencelos. Dan dia merasa sesak mendengarkan perkataan Devan barusan. Aileen benci mengakui bahwa sesungguhnya apa yang dikatakan Devan itu benar. Dia mulai merasa sesak didalam hatinya.
"Apa aku salah untuk memperjuangkan setelah kami kembali dipertemukan? Tuhan pasti punya maksud lain." Aileen masih berusaha mempertahankan kepingan terakhir harga dirinya.
"Tuhan memang punya maksud lain. Kesempatan kedua. Tapi bukan untukmu mendapatkan cinta Aiden, ataupun untukku mendapatkan cinta Dylara. Kita diberi kesempatan kedua untuk membereskan semua kekacauan yang kita buat!"
Aileen menunduk dan mulai menitikkan air matanya.
"Kau tahu ungkapan apa yang paling kubenci? Bahwa cinta sejati tidak harus memiliki. Hah...sial.. Sekarang aku jadi mengerti rasanya mengorbankan ego pribadi demi orang yang dicintai."
Aileen terpaku mendengar ucapan Devan barusan. Dan sekali lagi, dia sangat benci mengakui bahwa ucapan Devan memang benar. Lalu Aileen tertawa pelan dengan sinis.
"Tiba-tiba aku jadi merindukan seorang Devan yang kukuh, daripada yang tiba-tiba jadi Mario Teguh!" sindirnya.
"Karena sejak dulu kau memang nggak pernah membuatku berjalan ke arah yang benar, Aileen. Berhentilah bermain-main dengan hati..."
"Justru karena aku nggak bermain-main dengan hati makanya aku terus memperjuangkan Aiden! Aku serius dengannya!"
Devan menghela napas berat. Lelah.
"Terserahlah. Tapi, jangan sakiti Dylara!"
Aileen mencibir. " Gimana kalau tiba-tiba aku berminat? Such a good idea!"
"Then you're no longer a woman for me. Mark my words!"," desis Devan tajam sambil menatap kedalam mata Aileen. Aileen terhenyak sesaat, lalu tertawa lirih. "Kenapa kau harus begini Devan? Dylara bahkan sudah menghancurkan hatimu. Kenapa kau masih saja terus membelanya?"
Devan terdiam sesaat, lalu menjawab lirih, "karena pada kenyataannya aku dan Dylara memang tidak bisa lagi cocok. Aku menyadarinya sekarang. Dylara dan Aiden saling memahami satu sama lain. Itu sebabnya bahkan setelah dia melihatmu memeluk Aiden, hubungannya bersama Aiden bukannya hancur tapi justru makin menguat."
Aileen terkesiap, namun tidak menyahut.
"Selama ini aku dan Dylara terbiasa saling meninggalkan saat kami bicara. Bahkan saat pembicaraan itu belum selesai, salah satu dari kami pasti langsung pergi. Nggak pernah ada pembicaraan yang benar-benar selesai. Tapi beda kalau dengan Aiden. Karena saat melihatmu memeluk Aiden, bahkan saat aku menarik tangannya untuk pergi, Dylara nggak bergeming. Dia terus melihat adegan kalian hingga berakhir. Dengan Aiden, Dylara sepertinya nggak akan membiarkan ada sedikit hal pun yang menggantung, yang tidak terjawab, yang bisa merusak hubungannya dengan Aiden. Karena itulah, bukannya marah pada Aiden, tapi dia justru memakai cincin keesokan harinya, dengan wajah berseri-seri."
Aileen tercengang.
"Maaf, tapi kau harus menelan kopi pahit kali ini. Sadarlah, kesempatanmu sudah habis."
Aileen menggeretakkan giginya sambil mengepalkan tangannya, lalu membuang muka. Devan memperhatikan baik-baik reaksinya. Dan tahu bahwa wanita itu tengah mati-matian menahan diri untuk tidak menangis.
"Aku harap kau nggak akan melakukan hal buruk apapun pada Dylara. Tapi kalau memang begitu, maka aku pasti akan berjuang melindunginya darimu, atau dari siapapun yang akan menyakitinya, sekalipun itu Aiden. Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi, mungkin ini satu-satunya hal terbaik yang bisa kulakukan untuk menjaga kebahagiaannya. Hal terakhir yang bisa kulakukan sebagai orang yang sangat mencintainya..."
Aileen menatap Devan nanar. Perasaan terluka Devan juga merupakan cerminan hatinya sekarang.
Devan lalu memberikan tisu untuk Aileen. "Ambil ini. Mungkin kau akan butuh. Nggak perlu menjadi tangguh setiap saat. Paling tidak, kau masih cantik bahkan saat menangis,"
Aileen menggigit bibirnya namun ia sudah tidak kuasa lagi untuk membalas Devan. Sementara itu Devan justru mencoba tersenyum padanya. Senyuman pertama untuk Aileen setelah sepuluh tahun.
"Bye..." ucapnya pelan lalu perlahan-lahan meninggalkan wanita itu sendirian...
*****
Aileen masih mengepalkan tangannya bahkan ketika dia sudah tiba didepan The Rinra Hotel.
Kata-kata Devan tadi masih terus terngiang-ngiang dalam kepalanya. Bahwa Dylara sudah memakai cincin yang pastinya adalah pemberian Aiden. Bahwa bisa saja cincin itu adalah....
'Nggak! Nggak mungkin!' Aileen menggelengkan sendiri kepalanya cepat demi mengenyahkan berbagai kemungkinan yang tidak disukainya itu yang tiba-tiba muncul dalam kepalanya. Aileen mengepalkan tangannya sekali lagi, dan bertekad bahwa hari ini dia akan memastikan hal itu sendiri. Dia akan langsung bertanya pada Aiden. Setelah itu dia akan kembali melanjutkan strateginya. Dengan penuh percaya diri, Aileen pun melangkahkan kakinya mantap memasuki gedung hotel.
"Mencari Aiden?"
Langkah kaki Aileen otomatis terhenti ketika mendengar suara yang selama ini selalu menjadi mimpi buruknya. Dengan berat hati, Aileen pun membalikkan tubuhnya ke sumber suara.
Dylara.
Wanita itu tengah berjalan anggun ke arahnya sambil menatapnya penuh percaya diri. Auranya begitu tenang, tapi cukup mengintimidasi, dan entah kenapa justru ini membuat Aileen gugup. Bagaimana bisa..?
Dylara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sepuluh tahun yang lalu, dia hanya orang yang lemah, sepertinya takut pada Aileen. Dylara sebisa mungkin menghindari Aileen. Makanya dia gampang saja menyerah pada Devan. Tapi kali ini....
"Aku berasumsi bahwa Devan sudah mengatakan semuanya padamu," ucap Dylara. Aileen mengernyit. Dylara tertawa kecil, "ayolah, tidak susah untuk menebak bahwa ada semacam kerjasama diantara kalian, bukan begitu?'
Aileen menghela napas. Tidak menjawab, dan hanya menatap angkuh pada wanita cantik yang tengah berdiri dihadapannya ini.
Dylara masih menatapnya tenang dan sedikit tersenyum. Senyuman yang sedikit mengintimidasi.Dan kemudian, rasa panas dan sesak seluruhnya menjalari hati Aileen ketika melihat Dylara menyampirkan sedikit helai rambutnya ke telinga, dengan cincin bertahtakan berlian biru yang tersemat sempurna di jari manis wanita itu.
"Para reporter biasanya menyukai hal-hal semacam konferensi pers untuk mengonfirmasi sesuatu. Dan yang aku lihat sekarang, kelihatannya kau juga bermaksud sama. Yah, sekedar info bagimu, kekasihku sedang ada urusan diluar hari ini. Jadi, bagaimana kalau kita minum kopi sebentar, 'teman'?"
*******
Suasana restoran yang hening dan tenang nyatanya masih tidak mampu menenangkan degup jantung seorang pelayan yang sedang menghidangkan dua cangkir kopi dihadapan dua wanita cantik yang tampaknya akan mengobarkan perang dunia ketiga sebentar lagi. Kedua wanita itu hanya saling menatap sejak awal kedatangan tadi. Si wanita berambut pendek menatap angkuh, sedangkan wanita yang berambut panjang menatap tenang namun jelas jelas ada aura dingin disana. Aura mencekam begitu terasa disekitar mereka, membuat pelayan itu cepat-cepat melakukan tugasnya lalu mendesah lega ketika berhasil lepas dari area pertempuran itu.
Dylara menyesap kopinya dengan tenang dan anggun, lalu Aileen pun mengikutinya kemudian.
"Jangan rebut Aiden," ucap Dylara memulai percakapan sambil meletakkan cangkir kopinya dengan cukup keras, memecahkan keheningan diantara mereka.
Aileen pun meletakkan cangkirnya dengan cukup keras juga, lalu menatap Dylara penuh tantangan. "Kenapa? Kau takut?"
Dylara tertawa sinis. "Kalau aku takut, aku nggak akan ada disini, menghadapimu."
Aileen mencibir. "Aku mencintai Aiden. Sangat! Jadi kau, atau siapapun, nggak ada yang berhak melarangku!"
"Aku nggak melarangmu untuk jatuh cinta, sekalipun itu pada Aiden. Tapi aku melarangmu, untuk, lagi lagi, merusak hubungan orang lain!"
Aileen mencengkram erat pegangan cangkirnya mendengar perkataan Dylara barusan. Keduanya saling menatap tajam. Baik Dylara ataupun Aileen pernah membayangkan ini, bahwa bisa saja suatu saat nanti mereka berdua akan saling bicara berdua seperti ini, dengan suasana yang tidak menyenangkan pastinya. Persis seperti saat ini.
"Hanya karena sekarang kau berpacaran dengan Aiden, jangan merasa menang dulu, Dylara." ucap Aileen sengit.
"Memangnya ada kompetisi diantara kita? Aku baru tahu!" tukas Dylara dingin. Dan Aileen pun tercengang.
"Ini....." Dylara menunjukkan cincin di jadi manisnya itu tepat dihadapan Aileen, lalu melanjutkan kalimatnya,"...bukan sebuah trofi, tapi bukti cinta sejati kami."
Aileen terkekeh pelan sinis. "Cinta katamu? Jangan bercanda! Kau bahkan baru sebentar menyukai Aiden. Kau cuma beruntung karena Aiden mencintaimu sejak lama, sama sepertiku yang sudah mencintai dia sejak lama. Sepuluh tahun!" tegasnya.
Dylara tersenyum sinis. "Berhentilah selalu mengaitkan cinta dengan masalah waktu! Kelihatannya kau lupa, bahwa cinta memang tak ada logika."
Aileen terperangah. Dia masih memegang erat cangkirnya namun tidak berminat meminumnya. "Kenapa...."
Dylara hanya diam sambil menatap Aileen. Menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Kenapa baru sekarang kau lakukan? Kenapa bukan sejak dulu saat kau masih bersama Devan?!"
Dylara menghela napas berat. "Kau benar. Harusnya kulakukan sejak dulu. Dulu aku memang terlalu lemah dan hanya bisa menunggu. Sayangnya aku kurang bisa bersabar sedikit lagi untuk benar-benar mendapatkan hati Devan. Dan tanpa sadar memberikanmu jalan untuk masuk ." wajah Dylara berubah sendu.
"Kalau begitu penyelesaiannya mudah! Kau hanya perlu memberi kesempatan kedua padanya untuk memperbaiki hubungan kalian lagi," tukas Aileen cepat.
Dylara tersenyum tenang. "Jangan salah sangka. Karena Devan sudah nggak ada lagi didalam sini. Semua masa laluku dengannya sudah berakhir," sahut Dylara sambil menunjuk hatinya. "Hanya Aiden yang paling kucintai sekarang."
"Kau hanya menjadikan Aiden sebagai tameng, bukti gengsimu bahwa kau sudah berhasil move on dari Devan. Kasihan Devan!"
"Dan kasihan sekali dirimu yang terus terjebak masa lalu. Kau lupa bahwa waktu terus berjalan, manusia pun ikut berubah. Aku sudah tidak ada disana lagi."
"Tapi Aiden masih. Karena kau adalah masa lalunya."
"Anggap saja itu bonus, bahwa Aiden sudah mencintaiku sejak lama. Tapi sekarang kami hanya fokus pada saat ini dan juga masa depan. Karena itulah Aiden tidak pernah mempermasalahkan cinta lamaku pada Devan."
Aileen masih menatap wanita yang kelihatannya tidak akan pernah bisa menjadi temannya ini serius. Dia merasa benci dengan situasi yang seolah-olah sudah memenangkan Dylara. Wanita itu terlihat mendominasi sekarang.
"Dan bahkan tupai pun nggak akan mau jatuh ke lubang yang sama. Aku pun tidak akan lagi membiarkan orang lain mencoba merusak hubungan kami. Aku sangat mencintai Aiden, terserah kau mau percaya atau tidak, dan aku akan selalu memperjuangkannya. Tidak peduli meski Devan selalu mengajakku untuk kembali, ataupun kau yang seenaknya memeluk pacarku didepan mataku sendiri!"
Aileen terhenyak. Jemarinya yang masih memegang cangkir kopi mulai bergetar. Hatinya sudah mencelos. Namun Aileen masih tidak mau kalah. Harga dirinya terus menekannya untuk tidak menyerah pada keadaan ini.
"Berhentilah menjadikan Aiden sebagai tamengmu untuk melupakan Devan!"
"Dan berhentilah menjadikan cinta sepuluh tahunmu itu sebagai tameng untuk merusak hubungan orang lain!"
Aileen menatapnya gusar namun dengan mata yang mulai memerah, dan air mata yang sepertinya sebentar lagi akan tumpah. Sementara itu Dylara hanya masih menatapnya tenang.
"Berhentilah melakukan sesuatu yang hanya akan menghancurkan hatimu sendiri..." ucap Dylara pelan.
"Jangan sok mengasihaniku! Kau bukan temanku!" kilah Aileen penuh kebencian.
"Aku hanya bosan membencimu!"
Aileen menarik napasnya yang mulai terasa sesak.
"Aku rasa konfirmasinya cukup. Apa masih ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
Aileen meneguk habis sisa kopinya lalu meletakkan cangkirnya dengan dengan hentakan yang cukup keras, dan pergi meninggalkam Dylara tanpa menoleh pada wanita itu lagi. Sebuah senyuman kecil terbit di sudut bibir Dylara. Wanita itu menghabiskan sisa kopinya dengan tenang, mengeluarkan beberapa lembar uangnya lalu meletakkannya diatas meja, dan pergi meninggalkan area pertempuran itu dengan langkah percaya diri, dan tersenyum karena berhasil menang dari mengalahkan ketakutannya untuk bicara langsung pada seorang wanita yang selama ini selalu menjadi momok yang menyakitkan didalam hatinya...
****
Aiden berjalan santai sambil tersenyum-senyum sendiri. Hari ini diam-diam dia mengikuti Dylara. Tadinya dia berniat memberi kejutan pada wanita itu dengan kedatangan dadakannya. Tapi begitu sampai sana Aiden melihat Dylara yang terlihat buru-buru keluar rumah, dan itu membuatnya penasaran, hingga akhirnya membuat Aiden memutuskan mengikuti kemana Dylara pergi.
Pertama, ternyata Dylara pergi menemui Devan. Aiden berusaha keras menahan kecemburuannya sambil tetap diam diam memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka. Hingga akhirnya Aiden merasa sangat terharu mendengar kata-kata Dylara. Wanita itu bahkan tetap memakai cincinnya yang kebesaran itu tanpa rasa malu.
Lalu Dylara menelponnya kemudian, menanyakan aktivitasnya. Dan Aiden hanya menjawab bahwa dia sedang sibuk. Lalu dia masih mengikuti Dylara. Hingga akhirnya ketika wanita itu menemui Aileen. Pun lagi-lagi Aiden dibuat terkesan olehnya. Selama ini Aiden pikir, tidak masalah jika ia harus sendirian memperjuangkan hubungan mereka. Asalkan Dylara tetap bersamanya, dan mencintainya. Itu sudah cukup. Namun ternyata wanita itu menginginkan keseimbangan dalam hubungan mereka, saling berjuang dan melindungi, agar dapat saling melengkapi.
Aiden tersenyum lagi ketika mengingat hal itu. Dia bahagia bahwa dia memang tidak salah pilih. Langkahnya seketika terhenti saat melihat sekumpulan buket bunga cantik yang dijual dipinggir jalan. Aiden langsung teringat Dylara. Bunga itu pasti cocok untuknya. Dan akhirnya Aiden pun memutuskan untuk membelinya.
****
Dylara sedang menyusun bahan-bahan masakannya didapur ketika ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Dylara mengernyitkan keningnya. Seingatnya, dia tidak membuat janji dengan siapapun hari ini. Namun akhirnya dia membukanya juga.
"I love you!" seru Aiden ceria begitu Dylara membuka pintu dan langsung menyambut wanita itu dengan sebuket bunga cantik ke hadapannya. Wanita itu terpana sesaat, tidak menyangka akan mendapat kejutan dadakan yang manis seperti ini. Namun tak urung akhirnya dia tersenyum juga. Dan membuat hati Aiden kian berbunga-bunga. Pacarnya ini bahkan tetap saja cantik meski dengan penampilan sederhana, yang hanya mengenakan kaus kasual bergaris, rambut dikuncir tinggi, dan seulas lipstik tipis dibibirnya.
"Eh, ayo langsung masuk. Aku lagi masak nih" ujar Dylara sambil membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan Aiden masuk.
"Masak apa?"
"Bubur Bassang."
"Bubur Bassang?"
"Ya, kan kamu sendiri yang bilang kalau makanan kesukaan ibumu!" Dylara kemudian masuk kekamarnya untuk memajang bunga itu disana. Sementara itu Aiden teringat kembali percakapan mereka waktu itu, saat Dylara memintanya bercerita tentang keluarganya.
"Apa makanan kesukaan keluargamu?"
"Hmmm....sebagai orang Makassar asli, tentunya mereka suka Coto Makassar."
"Kalau gitu aku akan belajar membuat coto Makassar yang paling enak!" sahut Dylara cepat, dan membuat Aiden langsung tersenyum sambil mengelus kepalanya. Namun senyumnya mulai berhenti ketika pikirannya sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Ada apa? Ada masalah?"
Aiden menggeleng pelan sambil tersenyum. "Bukan apa-apa. Cuma aku mendadak teringat cerita mama tentang makanan kenangannya sama papa saat kencan pertama mereka dulu."
"Oh ya? Apa itu?"
"Bubur Bassang."
"Bubur Bassang? Bukannya makanan itu cukup langka sekarang?"
"Begitulah. Mama bilang, makanan itu sangat bersejarah buatnya. Saat itu mama dan papa masih kuliah, masih belum resmi pacaran. Hanya masih dalam tahap pendekatan. Jadi suatu hari, mama dan papa yang pulang kuliah bareng terus kehujanan. Lalu mereka berteduh di sebuah warung kecil tua yang menjual bubur Bassang. Penjualnya seorang nenek tua yang ramah. Mereka pun membeli bubur itu. Dan saat sedang makan, tiba-tiba papa mengucapkan cinta pada mama. Terlontar begitu saja. Mama terkejut. Tapi tetap saja mama sangat bahagia dan menganggap itu sangat manis untuk ukuran orang pendiam seperti papa. Dan tentu saja mama menerima cinta papa. Jadi sejak saat itulah mama dan papa berpacaran. Dan bagi mama, saat itu adalah kencan pertama mereka. Ditambah lagi, nenek penjual bubur itu menggratiskan makanan itu untuk mereka berdua, katanya sebagai hadiah untuk pasangan baru. Nenek itu juga mengatakan bahwa mama dan papa sangat serasi, dan mendoakan supaya mereka berjodoh."
"Wahh....romantis sekali ya," ucap Dylara dengan mata berbinar-binar.
"Ya. Kemudian saat kencan pertama mereka, mama ngotot ingin makan ditempat itu saja. Katanya tempat itu tempat bersejarah atas kisah cinta mereka. Dan papa pun setuju. Sejak saat itu, mereka langganan makan bubur Bassang ditempat itu. Tapi sayangnya, akhirnya nenek itu meninggal dunia, dan nggak ada lagi yang mewarisi usaha warung itu. Hingga akhirnya warung itu ditutup, tanahnya dijual, dan warung itu dihancurkan untuk dibangun perumahan. Warung itu memang akhirnya punah, namun tidak dengan kisah cinta mama dan papa."
"Jadi, apa akhirnya orang tuamu mencari tempat langganan lain?"
"Mama sudah mencicipi ke semua tempat yang menjual bubur Bassang itu, namun mama bilang, nggak ada yang menyerupai rasanya. Mama bahkan mencoba memasaknya sendiri, atau meminta pembantu dirumah untuk memasaknya, tapi tetap saja kata mama rasanya beda. Mama terus mencari-cari rasa yang dapat kembali mengingatkannya pada kenangan manis yang nggak akan pernah bisa dilupakannya itu. Tapi percuma saja, hasilnya nihil. Tentu saja, karena kenangan tidak bisa dibeli..."
Keduanya hening sesaat. Dylara merasa sangat tersentuh mendengar cerita itu.
"Apa kamu tahu dimana lokasi warung itu dulu?"
Aiden berpikir sebentar. "Hmm....aku lupa. Tapi nanti aku akan coba tanya papa."
Aiden langsung tersadar dari lamunannya ketika Dylara memeluknya sambil mengecup pipinya. Aiden terkejut.
"Pasti melamun lagi!" Dylara merengut manja. Aiden tersenyum sambil mengelus kepalanya.
"Pasti kamu nggak dengar perkataanku tadi."
"Hah? Yang mana?"
Dylara mendengus kesal. "Tuh kan! Tadi aku bilang, 'terima kasih bunganya, sayangku. I love it!. Bunganya cantik!"
Aiden langsung tertawa, dan mengecup kening Dylara. "Baguslah. Aku senang kamu menyukainya."
"Kamu melamunkan apa sih?"
"Oohh. Bukan apa-apa. Hanya teringat pembicaraan kita kemarin tentang bubur Bassang itu."
Dylara hanya mengangguk. Lalu mulai menggiring Aiden untuk berjalan ke arah dapur.
"Berusahalah sepenuh hati. Mamaku sangat kritis kalau tentang bubur itu."
"Jangan khawatir. Itulah gunanya punya pacar seorang anak IT. Keahlian melacakmu juga ikut kupelajari."
"Maksudmu?"
"Kamu bisa begitu lihai mencari segala sesuatu tentangku, bahkan kisah masa laluku. Jadi aku pun mencari jejak keluarga nenek pemilik warung bubur Bassang yang sangat disukai mamamu itu. Aku banyak bertanya pada orang-orang tua yang tinggal di dekat lokasi warung itu dulu. Aku bertanya tentang jejak keluarganya. Kalau memang tidak ada yang mewarisi warung itu, tapi almarhumah nenek itu pasti pernah memasakkan bubur itu untuk anak-anaknya. Lalu aku pergi menemui mereka, dan meminta resepnya. Syukurlah mereka dengan senang hati memberikannya waktu kuceritakan kisah cinta orang tuamu itu."
Aiden tersenyum puas lalu mengelus pipi Dylara. "Senangnya punya pacar jenius begini!"
Dylara tersenyum malu. "Sudahlah. Sebaiknya kamu duduk disana saja. Tunggu sampai masakanku selesai. Aku mau minta pendapatmu tentang rasanya nanti.
"Oke!"
Dylara pun kembali sibuk mempersiapkan bahan-bahan masakannya didapur. Aiden hanya memperhatikannya. Lalu Aiden bangkit dari tempat duduknya. Dan langsung memeluk Dylara dari belakang. "Aku mencintaimu," bisiknya pelan tepat ditelinga Dylara. Membuat wanita itu langsung menghentikan kesibukan tangannya yang sedang mengolah bahan makanan. Dylara tidak menyahut, namun ia langsung memikirkan semuanya. Rasanya tingkah Aiden sedikit ganjil hari ini. Datang tiba-tiba sambil memberinya bunga. Dan berulang kali mengatakan cinta padanya. Dylara lalu terkekeh pelan.
"Aku lupa. Pacarku anak IT. Pasti nggak sulit baginya jadi cctv berjalan hari ini, dan melihat semuanya..."
Aiden tercengang, dan otomatis mengendurkan pelukannya. Membuat Dylara kemudian berbalik dan berdiri menghadap pria itu, lalu menangkup pipinya dengan kedua tangannya, dan menatapnya lembut.
"Apa kamu nggak percaya aku?"
Aiden kembali menarik Dylara kedalam pelukannya. "Aku percaya. Hanya saja aku cemas sewaktu melihatmu buru-buru keluar dari rumah. Aku takut sesuatu yang buruk menimpamu, jadi aku mengikutimu."
"Kalau begitu.....dengan Devan dan Aileen, kamu dengar semuanya...?"
"Ya. Aku melihat dan mendengar semuanya. Dan aku sangat bahagia dan bangga padamu. Karena itu...." Aiden kemudian memegang jari manis Dylara yang masih memakai cincin pemberiannya yang kebesaran itu, "...sebelum kita pergi menemui keluargaku, kita harus lebih dulu mengubah ukuran cincin ini. Aku nggak mau lagi ada yang menertawakannya selain Devan."
Dylara langsung tertawa, namun untuk sesaat wajahnya berubah sedikit sendu. Tapi wanita itu langsung cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya kembali, namun sayang, Aiden masih sempat menangkap ekspresi sedih itu dengan matanya. Dan Aiden tahu pasti apa penyebabnya.
Devan.
"Seingatku kamu bilang akan memakainya setelah masalah ini selesai. Tapi nyatanya...." ujar Aiden agar Dylara segera mengalihkan perhatiannya dengan mencoba menggodanya. Dylara tertawa malu-malu. "Sayangnya aku terlalu menyukai cincin ini untuk bisa mengabaikannya. Maaf, aku terpaksa ingkar janji hari ini."
Aiden tertawa. Sementara itu Dylara masih saja menatap cincin itu dengan tatapan bahagianya yang polos. Membuat Aiden menatapnya penuh arti. Lalu membawa kepala Dylara dalam dekapannya, sambil berbisik pada wanita itu.
"Aku akan berjuang demi kebahagiaanmu. Demi kebahagiaan kita. Aku berjanji."
****Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (192)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
keren
19/01
0inspiratif
17/07/2025
0kerennn
17/06/2025
0Lihat Semua