logo text

Bab 84 Rasa Yang Salah

Waktu berjalan cepat. Tak terasa sebulan sudah dilewati tanpa ada kendala yang berarti. Selain perasaan rindu yang membelenggu, pada sosok yang setiap malam menemaninya, walau hanya lewat layar semata.
Puas dengan saling bertukar kabar, dan canda mesra, mengungkap tentang perasaan yang harus rela dipisah keadaan yang memaksa.
Choi yang sesekali masih saja mencoba tebar pesona, walau jelas ditanggapi biasa oleh Cahaya. Juga Adrian yang mendadak sangat possesif, menjaga dan melindungi Cahaya dari jerat lelaki, yang selalu saja mengingatkan gadis itu pada sosok masa lalunya.
Iya, kadang terbersit dalam benak Cahaya tentang bagaimana sikapnya saat bertemu Kim satu hari nanti. Harus marah? Bahagia? Atau mengabaikan begitu saja seolah tidak mengenal?
Entahlah, Cahaya hanya berharap andai saat itu benar terjadi, dia sanggup mengangkat kepala, dan tersenyum saja pada lelaki masa lalunya itu. Tak ingin menyimpan dendam atau sesal, atas kandas Cinta yang tak menemukan akhir kata bahagia.
Saat ini ditemani Adrian, Cahaya mencoba mengenali daerah tempatnya tinggal. Selain mencari informasi tentang apa yang Raja pesan padanya, hotel.
Sungguh, Cahaya bahkan harus menahan malu saat mengatakan hal itu pada Adrian, karena tanpa dia jelaskan saja Adrian langsung paham, siapa yang sudah meminta Cahaya untuk mencari tempat persinggahan itu. Untungnya Adrian tidak mengatakan apa-apa, selain tersenyum menggoda.
"Emang kapan pak Raja akan ke Korea, Ya?" tanya Adrian saat dia menyetujui permintaan Cahaya, untuk berkeliling mengenal daerah tempat mereka tinggal kini.
"Belum tau juga, Yan. Dia hanya bilang gitu aja, dia kan masih karyawan baru. Belum bisa mengajukan cuti, entah kalau dikirim untuk tugas seperti waktu itu," jelas Cahaya yang diangguki Adrian.
Melewati deretan toko yang berjajar tak jauh dari apartemen mereka, suasana musim dingin mulai terasa. Hembusan angin yang membuat Cahaya merapatkan jaketnya, juga beberapa kali mengusap hidungnya yang mulai tak mentoleran suhu yang menjadi kelemahannya.
"Itu bukannya tanda kalau ada hotel, ya?!" tunjuk Adrian pada gambar yang terlihat beberapa puluh meter di depan mereka.
Cahaya mengikuti arah yang di tunjuk Adrian, lalu mengangguk meng-iyakan saat dia juga melihatnya. "Benar, Yan."
Cahaya langsung memalingkan muka saat Adrian menoleh padanya, dia malu dengan pikirannya sendiri, saat bayangan Raja dengan senyum jahilnya menggoda.
"Mau coba tanya-tanya?" tanya Adrian, yang bukannya tak mengerti kalau Cahaya saat ini tengah malu.
"Nggak perlu, Yan. Yang penting sudah tau tempatnya aja."
"Yakin? nggak mau tanya soal tarifnya mungkin?"
"Nggak usah. Biar nanti dia aja yang chek-in. Aku nggak ngerti. Dia kan udah biasa," ujar Cahaya yang kembali teringat malam panjangnya dengan Raja, sehari sebelum dia pergi.
Bulu halus di tubuhnya mendadak meremang, mengingat semua yang sudah dilaluinya dengan Raja.
Duh, kenapa jadi kepikiran kesana sih?
"Ya udah, terus sekarang mau kemana lagi? pulang?" Adrian menghentikan langkah dari tempat yang sudah mereka yakini adalah hotel. Menatap Cahaya yang sibuk merapikan rambutnya yang berterbangan, tersapu angin dari mobil yang melintas.
"Ke pusat kota, yuk?! Bosen juga sih di apart. Mau?" usul Cahaya yang terlihat masih enggan kembali ke apartemen.
"Boleh. Tapi kamu kuat? mulai dingin loh," tanya Adrian mengkhawatirkan keadaan Cahaya.
"Kuat. Tenang aja. Aku nggak pa-pa." Cahaya menjawab pasti.
"Tapi kamu belum izin sama pak Raja kalau mau pergi bareng aku untuk main kan? Kalau untuk cari hotel sih aku tau pasti udah." Adrian mengulum senyum, menggoda.
Cahaya mencebik. Namun semburat merah yang menjalari pipinya, jelas terlihat oleh Adrian.
"Nggak usah bilang, dia udah kasih izin kalau aku mau pergi keluar kapanpun, justru nyuruh sama kamu atau Andri. Dia bilang pergi saja, nggak usah izin lagi."
"Gegabah memang pak Raja."
"Loh, maksudnya?" Cahaya menatap Adrian dengan tatapan tak mengerti..
Sedang yang ditatapnya, tak berani beradu mata lama. Hatinya yang masih menyimpan perasaan khusus pada Cahaya, menolak untuk kembali terjerat pesona sang dara.
"Iya, gegabah. Masa percaya sama aku? Gimana kalau aku sampai cinta kembali sama kamu? bukan kembali sih, memang rasa itu belum mati." Adrian jujur mengungkapkan isi hati.
Cahaya terpaku. Semakin dalam melihat pada lelaki yang pernah mengatakan tentang rasanya. Dia tau Adrian masih mencintainya, hanya tak menyangka kalau Adrian berani mengungkapkan lagi perasaannya setelah dia berstatus istri Raja.
Adrian kembali menatap Cahaya, membalas tatapan tak percaya yang jelas terpancar di sana. Salah dia sudah berani jujur?
"Aku dah nikah loh, Yan." Cahaya berkata pelan, namun Adrian bisa dengan jelas mendengar.
"Aku tahu. Dan tidak memungkiri itu. Hanya mengatakan, dan tak berharap kamu membalas. Jangankan sekarang. Dulu pun, aku tak pernah mengharap kamu rasakan apa yang aku rasa."
Cahaya tak bisa menjawab perkataan Adrian. Dia memalingkan muka, menatap pada padat lalu lintas menjelang sore di tempatnya berada.
Terperangkap dalam jerat perkataannya sendiri, Adrian mulai menyadari situasi diantara mereka.
Bodoh!
"Maaf, Ya."
Cahaya menoleh, lalu menggeleng pelan.
"Tidak, Yan. Nggak ada yang salah."
"Ok, terima kasih. Lanjut? Atau pulang?" tanya Adrian mencoba mengembalikan suasana di antara mereka, yang sempat berubah canggung karena pernyataannya.
"Lanjut. Aku belum mau pulang!"
Putus Cahaya yang diangguki Adrian.
Keduanya lantas kembali ke halte dekat apartemen mereka, karena hanya di sana halte terdekat yang tersedia.
Bus yang ditinggal tak lama datang, Adrian membiarkan Cahaya naik lebih dulu, dan menahan tangan Cahaya saat akan memasukan uang untuk membayar ongkos, pada mesin di dekat supir. "Aku saja."
Tak ingin berdebat, Cahaya mengangguk dan melangkah mencari kursi kosong. Setelah mendapatkan tempat, Cahaya duduk tak lama Adrian menyusul duduk di sebelahnya. Keduanya kembali diam, bergelut dengan pikiran masing-masing. Hingga suara ponsel Cahaya mengisi kebisuan di antara mereka.
Cepat gadis itu mengambil ponselnya dari dalam tas, melihat nama Raja terpampang di layar.
My Raja calling.
Adrian tersenyum hambar, saat matanya turut membaca siapa yang menghubungi Cahaya. Dia sudah hilang kesempatan, dan tadi dengan lantang masih mengakui perasaannya pada istri orang. Sungguh tidak masuk akal! Sedangkan dia sendiri juga sudah mengikat hati pada gadis lain, lalu untuk apa pernyataan tadi terucap?
"Halo, Sayang?!"
Adrian menulikan pendengaran, tak ingin membakar hati, dengan percakapan dari seseorang yang masih mengisi hati bersama suaminya. Iya, dia harus sadar itu.
Sementara Cahaya tersenyum malu, saat dengan pelan menjelaskan pada Raja kalau dia sudah menemukan hotel terdekat dengan apartemennya. Hati Cahaya semakin tidak sabar, saat Raja bilang ada kemungkinan dia akan datang bersama para karyawan lain yang sudah lengkap berkasnya, walau untuk kapan waktunya Raja belum bisa mengatakan.
"Tunggu aku, Sayang. Sebentar lagi, kita lanjutkan bulan madu kita."
Dan Cahaya hanya bisa menahan rasa senang yang membuncah dalam dada. Dia tak sabar menunggu saat itu tiba, saat dia dan Raja kembali bertemu untuk saling melepas rindu.
Mengabaikan Adrian yang diam di sebelahnya.
Maaf, Yan.

Komentar Buku (168)

  • avatar
    AmirAmiruddin

    keren

    19/01

      0
  • avatar
    ronanoviana

    kren

    11/09/2025

      0
  • avatar
    ZuswantiniLilik

    save dulu

    17/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru