Beranda/Bukan Aku Tak Setia/
Bab 8 Salah Paham
Tanpa disadari mata Cahaya memanas, dia merasa Raja sudah membohonginya. Dia tahu sudah pernah menyakiti hati Raja, sangat membuatnya terluka hati, tapi haruskah Raja bohong dengan statusnya kalau dia sebenarnya sudah menikah? Bahkan sudah mempunyai anak?
Cahaya mematung melihat adegan di depan matanya. Sekerat daging di dalam dada, kembali terkoyak melihat kenyataan yang tidak disangka nya sama sekali. Raja yang disangkanya adalah jawaban dari do'anya. Raja yang dia kira akan membawanya keluar dari masa kesendirian, ternyata sudah membohonginya. Raja sudah menikah!
Sakit!
Tapi siapa dia? Dia bukan siapa-siapa. Hanya bagian masa lalu yang kembali hadir, dan tadi menawarkan hal indah, Cinta.
Cinta yang ternyata hanyalah kebohongan. Atau... Raja tengah membalas dendam atas perlakuannya dulu?
Dan kini, dia melihat Raja tengah menatap penuh kasih pada anak perempuan yang begitu menggemaskan, dengan mata besar sama dengan punya Raja. Jelas dia anaknya. Mata mereka sama! Belum habis keterkejutan Cahaya dengan apa yang terjadi di depan matanya, muncul seorang wanita menggunakan gamis warna merah maroon dengan hijab lebar, menghampiri Raja dan anak itu.
Raja langsung menggendong anak itu saat wanita berhijab itu semakin dekat ke arah mereka. Wanita itu tengah... hamil besar.
Hati Cahaya semakin tercabik. Tak menyangka begitu sakit kenyataan yang dilihatnya sekarang ini.
Cahaya ingin berlalu dari sana, tapi kakinya seakan menghujam bumi dengan kuat tanpa bisa dia meninggalkan tempat itu. Bulir bening luruh perlahan di pipinya. Seperti inikah rasanya dibohongi oleh seseorang yang dicintai?
Cinta?
Iya! Cahaya mencintai Raja, dan itu yang menjadi alasannya menerima Raja kembali.
Seperti inikah perasaan Raja saat melihat dia dan Kim dulu?
Sakit... sesak. Merasa tidak berarti.
"Sudah? Susunya merk apa yang biasa diminum?" kembali suara Raja terdengar.
"Sudah. Yang itu!" wanita itu menunjuk ke arah produk susu yang ada di belakang Raja. "Tolong ambilkan yang rasa Vanilla." Raja berbalik ke arah yang ditunjuk. Cahaya langsung berbalik badan. Tubuhnya yang sedari tadi kaku tidak bisa digerakkan, mendadak mendukungnya sebelum Raja menyadari keberadaannya di sana.
Cahaya langsung pergi menjauh dari keluarga kecil yang terlihat bahagia itu, melangkah gontai dengan hati yang berdenyut nyeri. Hilang sudah harapan yang tadi bergelora di hati.
Alis Raja bertaut melihat seseorang yang berjalan menjauh, dia seperti mengenal sosok itu.
"A!" Suara wanita di depannya menyadarkan Raja.
"Eh, iya?" Raja menoleh.
"Kenapa?"
"Nggak. Aku cuma ngerasa kenal sama orang itu." Raja kembali melihat ke arah Cahaya yang tergesa menjauh.
"Gadis itu? Dari tadi loh dia di sana. Ngeliatin kamu sama Syena pelukan tadi. Tapi wajahnya kayak yang sedih gitu, kayak yang mau nangis, emang kamu kenal?"
"Masa? Aku nggak tahu malah ada yang ngeliatin. Dia mirip... seseorang." Raja menoleh ke arah Cahaya yang kini sudah tidak tampak lagi.
"Siapa?"
"Cahaya... tapi, sepertinya bukan."
"Cahaya? Gadis yang udah nolak kamu itu?" Raja membulatkan matanya yang dibalas kekehan oleh wanita tersebut.
"Papa, ayo cepetan. Syena pengen es krim!" Syena yang dalam gendongan Raja, menggoyangkan tubuh kecilnya, memprotes lamanya Raja berbincang dengan wanita di depannya.
"Oh, iya. Sebentar ngambil susu buat Bunda dulu," ujar Raja meraih kotak susu yang diminta, lalu menyerahkannya dua kotak. "Cukup?"
"Sudah, A."
"Sudah, sekarang tinggal beli ice cream buat si Cantiknya Papa!"
"Yeayy!" gadis kecil itu memekik girang dengan melabuhkan kecupan di pipi Raja, wanita yang bersama mereka ikut tertawa senang, melihat tawa keduanya.
*****
Alya berkali-kali menelepon Cahaya, tapi gadis itu tidak menjawab panggilannya sama sekali, Alya mulai bingung dengan tidak adanya respon dari Cahaya. Saat ini Alya dan Andri tengah berjalan ke arah kasir, dengan Andri mendorong troli yang penuh dengan belanjaan mereka.
"Alya?!" suara panggilan menghentikan langkah mereka, keduanya menoleh ke arah sumber suara. Alya dan Andri langsung tertegun melihat seorang lelaki yang sangat mereka kenal, tengah menggendong seorang anak perempuan dengan wanita berhijab tengah hamil besar di sampingnya. Pertanyaan muncul di benak keduanya.
Bukankah dia belum menikah?
Lalu, siapa mereka yang saat ini bersamanya?
Atau... dia telah berbohong dengan statusnya?
"Pak Raja?" Guman keduanya, lalu saling pandang penuh tanda tanya.
Raja dan wanita itu semakin mendekat, senyum mengembang di wajah keduanya, tapi tidak dengan Alya. Entah kenapa dia merasa Raja sudah berbohong. Untung saja Cahaya tidak ada bersamanya, kalau ada pastilah Cahaya shock melihat hal ini. Ada rasa benci di hati Alya, yang sudah menyangka Raja bohong pada sahabatnya mengenai status dirinya.
"Kalian belanja?" sapa Raja setelah berada di dekat Alya dan Andri.
"Iya, Pak." jawab Andri dengan wajah bingung, sementara Alya membuang muka menunjukkan ketidaksukaannya pada sesuatu yang belum dia ketahui.
"Berdua saja?" lanjut Raja, sedangkan wanita yang di sampingnya tetap tersenyum manis dengan sesekali mengusap perut besarnya. Sementara anak yang ada dalam gendongannya, sibuk bernyanyi kecil sambil bertepuk tangan.
"Tadi sama Cahaya, tapi nggak tau kemana. Bilangnya mau nyari susu, tapi belum juga datang." sambung Andri.
Mendengar nama gadis yang menjadi pemilik hatinya disebut, Raja langsung menoleh ke kiri dan kanan mencari sosok yang semakin dia rindukan.
"Wah, kebetulan dong, A!" Wanita itu langsung terpekik senang saat mendengar itu.
"Maksudnya?"
"Papa, ayo... Syena mau es krim!" belum sempat Andri menuntaskan pertanyaannya, anak dalam gendongan Raja merengek.
"Sebentar, Sayang... sama bunda aja, ya? Papa mau bicara dulu sama Om dan Tante ini. Nggak apa-apa kan?" melihat cara Raja berbicara dengan anak itu, membuat Alya semakin yakin kalau Raja sudah berbohong, apalagi panggilan papa yang disematkan pada Raja, Alya semakin yakin dan membenci Raja.
'Dasar Raja brengs*k! Sudah punya anak ngakunya masih bujangan. Awas aja nanti!' Rutuk Alya dalam hati.
"Nggak mau! Pengen sama Papa!"
"Sayang sama Bunda aja ya? Papanya ada perlu sama Om, Syena-kan anak pintar." wanita itu mencoba membujuk Syena. Akhirnya Syena pun mengangguk, dan merosot turun dari gendongan Raja, yang langsung menunduk agar Syena bisa dengan mudah turun.
"Aku tunggu di sini ya, Dek. Syena, jangan lari-lari ya, kasihan Bunda bawa adek bayi di perut." pesan Raja lalu mencium gemas pipi gembil Syena.
"Ok, Papa!" wanita itu mengangguk ke arah Andri dan Alya, sebelum melangkah ke food counter sambil menuntun Syena.
"Aku nggak nyangka Aa udah bohong sama kami, terutama Cahaya" kata Alya sambil menatap tajam penuh kebencian ke arah Raja.
Raja yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Alya, menautkan kedua alisnya. Andri mencoba menenangkan Alya dengan mengusap tangan istrinya.
"Tenang, Yang!"
"Maksudnya, Al?"
"Aa sudah nikah, punya anak, bahkan sekarang istrinya lagi hamil besar masih mengaku lajang sama Aya, apa maksudnya, A? Aa tega, ya! Nyesel aku tadi bilang sama Aya kalau dia harus memberi Aa kesempatan, Aa nggak ada bedanya sama playboy!" murka Alya yang merasa sahabatnya sudah dipermainkan oleh Raja.
Raja yang mulai paham arah pembicaraan Alya, langsung tersenyum dan manggut-manggut.
"Dia? Wanita dan anak kecil tadi?"
"Jangan sok polos deh, A. Nggak kena sama aku." Alya semakin kesal melihat Raja, yang malah tersenyum tanpa merasa salah.
"Untung Cahaya tidak melihat. Kalau lihat pasti dia juga salah sangka sama kayak kamu, Al."
"Lebih baik Cahaya nggak tahu. Tapi aku pasti bilang sama dia nanti." Alya berlalu meninggalkan Raja dan Andri melangkah lebih dulu.
"Yang, kamu mau kemana?" melihat istrinya pergi, Andri berteriak memanggil.
"Ke toilet dulu, perutku mules liat laki-laki pembohong!" jawab Alya sambil melirik ke arah Raja.
"Aku antar?"
"Nggak usah, kamu bayar aja. Nanti tunggu aku di depan, sekalian telepon Cahaya, tanya di mana dia sekarang."
"Pak..! Jadi bapak sudah menikah?" Andri langsung bertanya pada Raja setelah Alya menjauh.
"Aku belum nikah, Ndri."
"Tapi anak tadi manggil Bapak, papa. Bapak nggak bohong kan?"
Raja menarik napasnya, berusaha tenang setelah tadi mendengar kata-kata Alya, yang membuat hatinya sedikit tersinggung.
"Dia keponakan aku. Ibunya adikku, namanya Khadijah. Syena memanggilku Papa, karena sudah terbiasa. Bahkan kami datang ke sini pun dengan suaminya," terang Raja, lalu tak lama seorang lelaki dengan perawakan tidak jauh beda dengan Raja, datang menghampiri.
"Ja, kemana mereka?" tanya lelaki itu.
"Nah, ini suaminya. Kenalkan Ndri, ini Farhat adik iparku, Papanya Syena. Hat, kenalkan teman aku." Raja mengenalkan keduanya, Farhat langsung mengulurkan tangan yang disambut oleh Andri.
"Farhat."
"Andri."
"Syena mana, Ja?"
"Beli es krim. Kamu susul mereka saja. Ada yang harus aku luruskan dengan temanku," ujar Raja yang diikuti tatapan heran Farhat.
"Ada apa, Ja? Boleh tahu? Sepertinya penting," tanya Farhat penasaran.
"Sangat penting. Menyangkut masa depanku... yang hampir saja hancur karena Syena panggil aku papa," jawab Raja diikuti kekehan dan senyum samar Andri.
"Wah, kok bisa? Ada apa?" Farhat semakin dibuat penasaran, saat nama anak tersayangnya disebut.
"Dia teman Cahaya."
"Apa? Cahaya yang itu... yang nolak kamu? Mana sekarang? Aku pengen ketemu sama gadis yang berhasil membuat kakak iparku ini tidak mau nikah." Farhat melihat sekeliling mencari sosok yang sudah membuat Raja bertahan dengan status lajangnya.
Raja melotot ke arah Farhat, yang sudah membuka rahasia hatinya. Andri hanya melongo tidak percaya mendengarnya.
"Diam kamu! Bikin aku malu saja. Sana susul anak dan istrimu. Kasihan kalau sampai Syena nggak mau diam!" usir Raja yang merasa malu melihat Andri lalu terkekeh.
"Baiklah." Farhat berlalu menyusul Khadijah dan Syena.
Farhat pun berlalu. Andri yang seakan menunggu penjelasan dari Raja, menatap penuh tanya.
"Kamu sudah paham kan, Dri? Aku belum menikah, dan alasannya mungkin kamu sudah bisa tebak dari apa yang dikatakan Farhat tadi. Sebenarnya bukan karena menunggu Cahaya juga sih, hanya saja aku belum bisa menemukan yang cocok setelah perpisahan aku dan Cahaya. Aku bahkan sempat berpikir kalau Cahaya sudah bahagia dengan Kim. Sekarang setelah tahu kalau Cahaya belum menikah, tentu saja aku berharap dia akan menjadi milikku. Dan, kamu bisa bantu jelaskan pada Alya."
Andri menganggukkan kepala menanggapi penjelasan Raja.
"Sekarang Cahayanya di mana ya, Dri?"
"Kurang tahu tuh, Pak"
"Atau jangan-jangan yang dikatakan dan aku lihat tadi beneran dia?"
"Maksudnya?"
"Tadi waktu di tempat susu aku seperti lihat Cahaya. Kata Khadijah, dia lama melihat aku sama Syena. Hmm, tampaknya akan panjang urusan ini." Raja memijat pelipisnya pelan, tampak kegelisahan di wajahnya.
"Bisa jadi, Pak. Coba telepon saja. Bapak ada nomor hpnya kan?"
Raja langsung merogoh saku celananya mengambil ponsel, dan segera menekan nomor Cahaya.
Terdengar nada panggil, tapi sampai nada panggilan berakhir sambungan tidak di-respon Cahaya.
Raja pun mengulang panggilan namun tetap tak dijawab.
"Yakin aku, kalau yang tadi memang Cahaya, Dri! Dia sudah salah paham dengan apa yang dilihatnya." Raja terlihat frustasi.
"Susul aja ke tempat kost nya, Pak. Tahu kan?" usul Andri yang merasa kasihan dengan Raja yang kebingungan.
Raja mengangguk. "Tau, tadi aku nganterin dia. Baiklah. Duluan, ya!"
Tanpa menunggu lagi Raja langsung pergi dari hadapan Andri dengan ponsel menempel di telinga menghubungi Khadijah.
"Dek, Aa duluan ya. Yang tadi beneran Cahaya!"
"Wah, bisa gawat tuh, A!" Raja mendengar suara kekehan yang berasal dari Farhat.
Sial.
Kalau saja Farhat ada di depannya, sekarang mungkin Raja akan memukul adik ipar sekaligus sahabatnya itu.
"Makanya aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini."
"Sip, sukses ya, A!" Raja memutus panggilan dan bergegas keluar dari tempat perbelanjaan itu.
'Cahaya, Sayang... Tolong jangan salah paham.'Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (168)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
keren
19/01
0kren
11/09/2025
0save dulu
17/07/2025
0Lihat Semua