Wajah ceria yang beberapa hari lalu terlihat di wajah Raja, hari ini tak terlihat lagi. Lelaki itu lebih banyak memasang wajah datar, bahkan terkesan dingin. Perpisahan dengan Cahaya semalam, membuatnya enggan tersenyum tanpa terpaksa hari ini. Hingga beberapa rekan kantornya, hanya berani menyapa seperlunya saja saat berpapasan dengannya. Begitu pula Wila yang biasanya berani menggoda, memilih hanya tersenyum sungkan. Beberapa kali Raja melihat penunjuk waktu, membandingkan dengan waktu dimana bumi yang dipijak kekasih hatinya sekarang. Menghitung jam berapa pesawat yang ditumpangi Cahaya mendarat, mengira berapa lama dari bandara mereka sampai ke apartemen, juga menebak apa yang sedang dilakukan oleh istrinya itu saat ini. Rindu. Bahkan sesaat setelah pelukan mereka terlepas semalam saja, Raja langsung merasakan sepi yang menyelimuti hati. Tidurnya yang kemarin malam begitu nyaman, malam tadi justru sangat sulit untuk terlelap, bayangan indah saat memadu kasih, terus membayang di ingatan Raja. Raja sampai di rumah Khadijah jam sebelas malam bersama Binar, sedang Mukta dan Denni kembali ke rumah di Bandung. Binar tadinya akan langsung pulang, namun Raja menahan adik iparnya itu, karena khawatir sudah larut malam. Jadi Binar menempati kamar tamu, yang dipakai oleh Mukta sebelumnya. Dan tadi pagi, kehebohan terjadi saat Binar pamit untuk pulang, tapi Syena melarang Binar dengan tangis yang tidak bisa didiamkan. Namun, ajaib. Saat Binar membisikkan sesuatu, gadis kecil itu langsung mengangguk setuju dengan mata menyorot penuh bahagia. Wila mendekat ke meja kerja Raja, di tangannya dua lembar kertas siap berpindah tempat. Gadis itu ragu untuk menyapa, namun pekerjaan harus diutamakan. "Pak Raja." Raja menoleh cepat, tersenyum canggung pada Wila. "Eh, iya, Bu?" "Melamun ya?! Maaf, ini list urgent juga data barang yang dikembalikan." "Lagi, Bu?" Raja melihat kertas yang ditunjuk Wila, menatap malas pada kertas yang berisi laporan tentang barang produksi yang gagal. "Iya, Pak. Semoga secepatnya masalah ini terselesaikan." Raja mengangguk pelan, kepergian Cahaya memang sangat dibutuhkan untuk kepentingan perusahaan kedepannya, dan keputusannya merelakan istrinya itu pergi sudahlah sangat tepat. Walau dia harus menahan rindu pada pemilik hatinya itu, menahan segala rasa cinta yang begitu menggebu. "Semoga, Bu. Tapi, mereka baru saja sampai di Korea, dan biasanya tidak langsung kerja. Jadi, mungkin kita akan masih menerima laporan tentang barang yang rusak ini." "Setidaknya harapan sudah ada, Pak." "Iya, Bu." "Mereka sudah sampai ya? Bapak sudah menerima kabar dari Cahaya bukan?" tanya Wila tak bisa menahan rasa penasarannya. "Belum, Bu. Tapi menurut perhitungan saya saja, karena Cahaya belum menghubungi, mungkin kecapean. Tadi saya coba hubungi, tapi hp-nya belum aktif." Wila mengangguk. "Baiklah, saya permisi." "Silahkan, Bu." Wila meninggalkan Raja yang kembali melihat kertas yang dipegangnya, mendesah pelan tanpa semangat melihat tulisan yang jadi penyebab dia berpisah dengan sang pujaan. Ya, karena laporan-laporan itulah Cahaya harus dijauhkan dengannya. Mencoba membangkitkan semangat dalam dirinya, Raja beranjak bangun, lalu melangkah meninggalkan kantor setelah memasukkan ponselnya dalam saku celana. Wila yang diam-diam mengamati perubahan Raja, menoleh ke temannya di belakang meja kerjanya, begitu Raja keluar ruangan. "Sel!" "Ya?!" Selly yang dipanggil menjawab. "Pak Raja murung banget, ya?! Segitu cintanya sama Cahaya, ditinggal pergi sedih banget kayaknya." Wila menghadap ke arah Selly, yang melihat ke arah pintu yang baru ditutup Raja. "Ya pastilah, Wil. Ditinggal calon istri. Jauh lagi. Kalau masih di Indonesia masih bisa disusul, lah ini? Berat diongkos." "Iya juga sih," ujar Wila membenarkan ucapan Selly. "Dah, ah. Kerja, masih pagi udah gosip." Selly mengingatkan, menoleh ke pintu ruangan Presdir. "Bukan ngegosip, cuma kehilangan keceriaan pak Raja aja," sangkal Wila mengikuti arah pandang Selly. "Nanti juga biasa lagi, maklum baru juga pisah." "Iya juga, ya?" Selly mengangguk cepat. "Dah, nanti ketahuan ngegosip dimarahin lagi." Keduanya menghentikan percakapan, kembali fokus pada pekerjaan masing-masing. Menyusuri koridor yang menghubungkan ke tempat kerja Cahaya, Raja merasakan sesak di dada. Seminggu yang lalu, dia menginjakkan kaki di tempat kerja Cahaya, dan melihat gadis pujaannya itu bekerja untuk pertama kalinya. Menyangka kalau sang pujaan sudah bahagia dengan seseorang, yang begitu gadis itu harapkan dulu. Seseorang yang membuat Cahaya dengan sadar menorehkan luka yang sangat dalam. Seseorang yang saat ini sangat besar kemungkinannya bertemu kembali dengan Cahaya, dan mungkin juga menggoyahkan keteguhan cinta yang dimilikinya. Raja menghembuskan napas panjang, kebohongan Cahaya di awal pertemuan mereka kembali, ternyata hanya pengalihan karena perasaan malu gadis itu. Raja yang awalnya bisa berlapang dada dengan menyangka Cahaya sudah menikah dan bahagia dengan Kim, akhirnya merasa kecewa dan marah saat kebohongan itu terbongkar dengan cepat. Hingga tanpa harus menunggu lagi, dia kembali meminta gadis itu menjadi kekasihnya untuk kesekian kali, hingga akhirnya dia resmi memiliki dengan membayar tunai kemarin pagi. Kini, di tempat kerja Cahaya hanya ada Alya, bahkan sahabat istrinya yang kini tengah sedikit kesusahan menggeser box itu, Raja membayangkan kalau Cahaya akan datang membantu Alya. Sungguh Raja rindu sekali dengan Cahaya. Padahal belum dua puluh empat jam mereka berpisah, tapi hatinya sudah merana menahan rasa. Berjalan cepat, Raja menghampiri Alya yang masih berusaha menggeser box berisi hasil kerja. Alya menoleh begitu derap langkah Raja terdengar, di antara bisingnya suara mesin yang sedang beroperasi, senyuman langsung mengembang begitu Raja membantunya. "Makasih, A. Susah banget digesernya." "Jangan sendiri, Al. Ingat kandungan kamu," ingat Raja. Alya mengangguk dan menghembuskan napas panjang. "Iya, A. Aku pikir nggak berat. Nyari barang urgent?" tanya Alya melihat ke kertas yang Raja simpan di atas box. "Iya, sama mau cek barang reject yang baru datang." "Oh, aku udah bawa ke QC buat yang urgent. Mudah-mudahan lulus." "Iya,nanti aku cek ke QC. Emm, Al," ragu Raja ingin menanyakan apakah Andri sudah menghubungi Alya atau belum. "Iya?!" "Kamu sudah dapat kabar dari Andri?" "Oh, belum mungkin belum sempat, atau juga baru sampai apartemen. Kenapa, A? Aya sudah ada ngehubungi?" tanya Alya menatap wajah tampan Raja yang tak secerah biasa, dan Alya bisa mengerti kenapa lelaki yang selalu ceria itu kini bermuram durja. Apalagi mengingat perpisahan sepasang pengantin baru itu tadi malam, Alya pun ikut merasakan kesedihan yang mereka rasakan. "Belum. Aku hubungi juga belum aktif." Raja menyerah bersikap kuat di depan Alya, dia memilih menunjukkan kerapuhannya tanpa perlu menutupi apapun dari Alya. "Kangen ya, A?" pertanyaan Alya malah membuat Raja semakin merasakan duka. Dan Alya menyesali pertanyaan bodohnya itu. "Iya, aneh ya?!" Raja tertawa sumbang, mengalihkan pandangan merasa malu. "Tidak juga sih. Wajar." Alya tertawa pelan, tak ingin Raja merasa tak enak hati. "Kamu … tidak kangen gitu sama Andri?" "Kangenlah, A. Masa iya nggak?! Aa nggak tau aja semalam aku nangis. Nih, liat mata aku," kata Alya menunjuk pada matanya yang terlihat bengkak. Raja tertawa pelan, mengangguk begitu melihat mata Alya. "Kirain nggak sedih, abis terlihat kuat gitu kamu." "Ada-ada aja, Aa. Tapi aku tau kok, apa yang sebenarnya Aa pikirkan. Bukan karena kerinduan pada Cahaya yang jadi pikiran Aa, tapi karena ketakutan Aa Aya di sana ketemu sama dia kan?" tebak Alya telak. Dan Raja tentu saja mengelak tak terima, malu rasanya Alya begitu mudah menebak apa yang dia rasa. "Sok tahu!" "Emang tau! Dan benar, kan?" "Nggak." "Jangan boong, A. Aa tuh kayak buku yang terbuka di mata aku, kebaca dengan jelas." "Semakin ngawur aja kamu, Al." "Sangkal terus!" ejek Alya merasa puas melihat Raja yang tersipu dengan wajah memerah. "Udah, ah. Mau ke QC dulu," kata Raja melangkah pelan meninggalkan Alya yang mengulum senyum. "Lihat suami kamu, Ya! Dia begitu kehilangan kamu, dia begitu merindukan kamu. Tak terbayang apa yang dia rasakan, saat harus melepasmu dulu untuk bersama Kim? Semoga kamu bisa setia padanya sekarang, Ya, saat kamu mungkin bertemu dengan dia nanti," guman Alya pelan, mengiringi langkah Raja yang mencoba membalas sapaan beberapa orang.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren
19/01
0kren
11/09/2025
0save dulu
17/07/2025
0Lihat Semua