logo text

Bab 22 Tentangnya

Yong- In, South Korea
Lelaki itu keluar dari salah satu PC miliknya, harinya dibuat lelah dengan adanya laporan, tentang kerusakan pada beberapa komputer dari salah satu pegawainya. Wajahnya yang terlihat sangat lelah, belum lagi janjinya dengan seseorang membuatnya harus segera pergi menemuinya, atau dia harus menghadapi kemarahan yang sangat tidak diinginkannya. Sehebat itu memang pengaruhnya. Dan dia tak berani untuk menolak. 
Mulai berbaur dengan keramaian lalu lintas yang mulai padat pada jam keluar kerja, lelaki itu beberapa kali melihat pada jam digital di atas dashboard, mendesah lelah karena waktu tersisa sepuluh menit lagi dari yang dia janjikan. 
"Bersiaplah menerima rengekkannya, Kim!" senandikanya pasrah, karena bagaimana pun dia tidak bisa tepat waktu sekarang, "Pasrah saja, Kim." dia kembali mendesah pelan. 
Ya, dia Kim. Kim Young Jin. Laki-laki yang pernah memberi warna pada hidup seseorang, memberi janji pada seseorang dengan indah sebuah pernikahan. Namun, dia juga yang melanggar, bahkan memilih menjadi pecundang dengan membiarkan semua kisah mereka terpendam dalam. Padahal hati dan cintanya tetap tertuju dalam pada gadis itu. Cahaya Kamila. 
Kim memang ingkar, tapi itu bukan inginnya. Kuasa sang ayah mendominasi hidupnya, dia tidak bisa menolak semua titah, hanya menuruti dan pasrah saat harus menikah. 
Dan dengan rasa bersalah yang begitu dalam, Kim tetap membiarkan prasangka yang mungkin akan memenuhi benak gadis tercintanya. Membiarkan gadis itu tanpa keputusan akhir cinta mereka, dia hanya berharap Cahaya masih menunggu. Walau terdengar egois, tapi Kim memang berharap wanita tercintanya itu masih sendiri. 
Kim menyadari dia pasti sudah menorehkan luka yang sangat dalam pada hati Cahaya, namun apa dayanya saat semua akses untuknya menghubungi, dan juga menemui Cahaya terjegal arogansi seorang Kim Young Nam, ayahnya. 
Mengusap pelan wajahnya, Kim kembali melihat penunjuk waktu yang semakin mendekatkannya pada kemarahan seseorang itu, lima menit lagi. Dan dia masih memerlukan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai, dia juga yakin sebentar lagi ibunya pasti menghubungi membawa kabar. 
"Ah, mianhe." 
Dan tepat dugaannya, ponselnya berdering mengantarkan nama sang ibu tertera di layar. 
"Bersiaplah, Kim." memasang headset pada telinga kirinya, Kim mengisi rongga dadanya sebentar sebelum mendengar lengkingan kemarahan. 
"Yoboseo, Mah!" sapa Kim setelah merasa siap dengan segala kemungkinan. 
"Young Jin, kamu di mana? Apa kamu lupa dengan janjimu hari ini?" suara lembut Hana terdengar, namun itu sarat peringatan untuk Kim, karena dia tau ada sepasang telinga yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Sepasang telinga dengan wajah dipasang cemberut, menunjukkan kekesalan karena dia kembali tidak tepat waktu.
"Sepuluh menit lagi sampai, Mah. Tolong bilang padanya."
"Baiklah. Kamu dengarkan sayang? Sebentar lagi sampai," suara Hana semakin lembut saja menyampaikan berita itu pada seseorang, dan Kim tersenyum membayangkan bagaimana kesalnya si penerima kabar. 
"Ya sudah, Sayang. Mamah tunggu. Hati-hati."
"Iya, Mah. Sampaikan maafku."
"Ok."
Kim menginjak dalam pedal gasnya begitu kemacetan terurai, dan dalam hitungan menit kemudian dia sampai di apartemen Hana. 
Tak membuang waktu lagi, Kim langsung keluar mobil dan menderap langkah cepat menuju tempat tinggal Hana, dia berharap seseorang yang sedang menunggunya saat ini tidak akan marah besar. Dengan terus mengingatnya saja Kim sudah merasakan rindu yang begitu kuat. 
Menunggu pintu di depannya terbuka, Kim sudah memasang senyuman terbaik. Dia tak ingin terlihat kacau karena lelah bekerja hari ini di depan seseorang itu. 
Dan begitu pintu perlahan berayun ke dalam, Kim bisa melihat wajah merajuk dan kilauan air mata di mata gadis imut di depannya. Tanpa menunggu lagi, tangan Kim terangkat menyambut tubuh itu yang langsung minta pelukannya.
"Sayang… maaf ya? A Ya jadi menunggu Appa," ucap Kim penuh sesal memeluk dan membelai punggung kecil yang kini ada dalam dekapannya. 
Hana hanya tersenyum dan ikut mengusap punggung gadis kecil itu yang menangis membenamkan wajahnya pada ceruk leher Kim. 
"Maaf, ok?" kembali Kim meminta pengertian gadis yang kini memeluk lehernya kuat.
Kim A Ya, gadis kecil Kim buah pernikahannya dengan Kim Su Ni, saudara sepupunya yang memang sudah diatur orang tua mereka. Gadis kecil yang hadir dalam hidup Kim, setelah Su Ni memberinya minuman dengan obat perangsang yang sudah dicampur di dalamnya, pada enam bulan pernikahan mereka. 
Su Ni yang lelah menunggu kesadaran Kim untuk menerimanya sepenuh hati sebagai istri, akhirnya menyerah pada saran temannya untuk mendapatkan nafkah bathin dari suaminya itu. Dan berhasil. Kim menyentuhnya, memberikan nafkah bathin yang begitu didambanya bahkan dengan sangat penuh gairah, karena pengaruh obat yang ditambahkannya. Namun bukan namanya yang disebut saat puncak percintaan mereka berakhir, tapi nama orang lain yang dengan jelas diucapkan Kim dengan deru napas berkejaran. Aya. 
Kim terbangun saat itu dengan kepala yang terasa pusing, mencoba mengingat apa yang sudah terjadi begitu menyadari dia tidak ada di kamarnya, menoleh pada seseorang yang saat itu menempel ketat di dadanya. Bahu telanjang wanita itu berhias tanda merah yang dia yakin adalah hasil bibirnya. 
Dan Kim hanya bisa menarik napas dalam dan menghembuskan napas pelan, tidak ada yang salah dengan yang sudah mereka lakukan, mereka suami-istri. Wajar dan sudah menjadi kewajiban saling memberikan kenikmatan pada raga masing-masing, namun dengan dia yang di bawah pengaruh obat adalah hal yang Kim sesalkan. Padahal Kim sedang berusaha menerima utuh istrinya itu, namun ternyata Su Ni sudah tidak sabar menunggu. 
Memang tak ada malam-malam selanjutnya setelah itu, bahkan Kim seakan semakin tak tersentuh. Lelaki itu bahkan menghindari apapun makanan dan minuman yang diberikan Su Ni, lebih waspada karena tak ingin terjebak kejadian serupa. Namun rupanya Tuhan memang menginginkan malam itu berbuah seorang manusia, karena dua bulan kemudian Kim menemukan Su Ni muntah-muntah dengan tespeck menunjukkan garis dua. Su Ni hamil. Dan itu, anaknya. Darah dagingnya. Karena Kim-lah pria pertama Su Ni dengan bukti darah yang tertinggal di sprey. 
Namun Su Ni tidak bisa melihat bagaimana anak yang dihadirkannya dengan cara memperdaya Kim, tumbuh dan berkembang setelah dilahirkannya sebelum waktunya. Menginjak tujuh bulan kehamilan, Su Ni terpeleset saat mengejar Kim yang marah padanya. 
Kemarahan Kim langsung menguap saat mendengar Su Ni menjerit kesakitan dengan posisi terjatuh, dan memegangi perutnya yang semakin membesar. 
Kim panik dan memburu Su Ni yang malah tersenyum saat melihat wajah khawatir, dan ketakutan Kim melihat keadaannya, hingga cairan merah terlihat membasahi tempatnya terduduk menahan nyeri. 
"Su Ni, mana yang sakit? Darah? Kamu berdarah Su Ni! Rumah sakit… kita ke rumah sakit sekarang. Bertahanlah!" Kim semakin panik saat cairan itu tersentuh tangannya, dia segera menggendong Su Ni yang terus tersenyum bahagia mendapatkan perhatian suaminya. 
Apa harus dengan cara seperti ini dia mendapatkan perhatian Kim? Namun, Su Ni tidak menyesal, dia bahagia. 
"Aya!" bisik Su Ni lirih, namun Kim masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Su Ni. 
"Apa? Apa yang ingin kamu katakan Su Ni?" tanya Kim heran, dia belum paham dengan maksud perkataan Su Ni di ambang batas kesadarannya. Dia terus menderap langkah membawa tubuh Su Ni keluar dari apartemennya. 
"Berikan nama Aya pada anak kita, Oppa. Dia perempuan. Anak kita berjenis kelamin perempuan. Berikan nama Aya, seperti gadis yang menjadi impianmu selalu. Aya. Kim A ya." dan Su Ni pun pingsan setelah mengatakan itu, membiarkan Kim yang tersentak sendiri merenungi semua perkataannya tadi. 
Kim hanya bisa menunggu dengan rasa khawatir yang begitu besar, sambil menunggu kedatangan orang tuanya juga orang tua Su Ni. 
Pikirannya melayang pada apa yang diucapkan Su Ni tadi, sebegitu abainya dia pada istri sekaligus sepupunya itu, hingga dia baru mengetahui kalau calon anaknya seorang perempuan. Belum lagi nama yang disebutkan Su Ni untuk dia sematkan pada putri mereka nanti. Aya. Kim A Ya. Seakan perpaduan namanya dengan Cahaya. 
Kim seakan baru menyadari semua kesalahannya pada Su Ni, apalagi tadi dokter mengatakan kalau Su Ni harus menjalani operasi untuk menyelamatkan bayi dalam kandungannya. Namun sayang, nyawa Su Ni tak tertolong. Pendarahan hebat pasca operasi membuat Su Ni menyerah untuk mendapatkan cinta Kim, usahanya terhenti oleh campur tangan Tuhan langsung. Dia berpulang setelah dua hari tak sadarkan diri. 
"Appa!" suara A Ya yang belum pasih berbicara memanggil nama Kim, suara yang selalu Kim rindukan memanggilnya. 
"Apa? A Ya mau pergi sekarang?" tanya Kim menjauhkan sedikit tubuh A Ya, melihat wajah gadis kecil itu, perpaduan wajahnya dengan Su Ni, "Mau pergi? Hmm."
A Ya mengangguk, walau belum lancar berbicara, A Ya sudah paham apa yang dikatakan ayahnya itu. 
"Nenek diajak?" Kim melirik pada Hana yang juga menatap A Ya penuh sayang. 
Si kecil A Ya menoleh pada Hana yang langsung memasang wajah memelas, meminta diizinkan ikut bersama ayah dan anak itu. 
A Ya kembali mengangguk setelah menatap wajah sang nenek. 
"Ah, terima kasih, Sayang." Hana mengecup gemas pipi tembem cucunya. 
"Kalau begitu, kita pergi sekarang."
Dan derai tawa dari A Ya terdengar saat Kim menciumi lehernya. 
Hana tersenyum tipis, menatap Kim dengan tatapan yang sarat permintaan maaf, karena tak bisa membantu anaknya itu bersatu dengan kekasih yang dirindu. Kekerasan hati dan prinsip Kim Young Nam bahkan tidak tergoyah dengan kematian Su Ni, suaminya itu tetap tidak memberikan restu untuk Kim dan Cahaya bersatu. 

Komentar Buku (168)

  • avatar
    AmirAmiruddin

    keren

    19/01

      0
  • avatar
    ronanoviana

    kren

    11/09/2025

      0
  • avatar
    ZuswantiniLilik

    save dulu

    17/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru