logo text

Bab 61 Tristan 14 (Penyesalan)

"Sebaiknya sekarang kamu hubungi dia aja dulu," saran Pradit padaku.
"Aku takut kalau aku bakal dapet undangan dari pengadilan buat ngurus perceraian. Kalau aku tahu itu sekarang, aku yakin aku gak akan bisa konsen lagi buat festival ini," terangku.
"Lho? Justru kalau kamu tahu sekarang seandainya dapet undangan pengadilan soal perceraian, kamu jadi bisa nyegah itu kan? Kalau kamu gak bisa dihubungi dan gak pernah dateng di pengadilan, hakim justru jadi bisa mutusin cerai tanpa denger pendapatmu dulu," jelas Pradit.
Aku menoleh dengan kaget. "Kayak gitu??"
"Iya ... kamu ini gak tahu apa-apa soal hukum tapi udah petingkah kayak jaksa yang bakal ngehukum penipu tadi," cibirnya.
Kuhela napas. Aku langsung bangkit dan meraih laptopku di meja, menyambungkannya dengan wifi hotel. Pikiranku jadi bergelayut, hatiku dipenuhi perasaan bersalah dan juga sedih.
Johara, aku benar-benar merasa bersalah padamu sekarang.
Aku sama sekali tak menyangka kalau kamu akan menjual lukisanmu seperti itu.
Apa aku sudah membuatmu trauma pada seni karena sudah memacumu dengan begitu keras? Padahal kamu juga baru saja kembali pada seni.
Mungkin petuah itu memang benar, jika ada seorang anak kehausan yang datang pada kita, beri ia secangkir air dulu. Jika ia masih kehausan, beri ia secangkir lagi dan begitu seterusnya. Namun, jika ketika ia baru datang dan kita sudah menumpahinya dengan satu bak air, ia mungkin akan trauma dan tidak akan kembali lagi.
Ketika kubuka gmail, kudapati sudah ada dua ratusan email dari Johara. Aku semakin digerogoti perasaan bersalah.
Namun, di balik itu aku juga sangat bersyukur karena setidaknya, Johara masih peduli padaku dan berusaha menjelaskannya sampai mengirimiku sangat banyak email. Aku baru membaca email ke dua dari Johara saat sebuah chat online darinya masuk. Untuk beberapa saat, aku belum berani membukanya karena bingung harus mengatakan apa padanya nanti.
Ping!
Ping!
Tristan kamu online?
Johara, aku minta maaf ... aku baru buka email dari kamu.
Gak papa kok.
Tapi jangan dibaca sekarang, Tris.
Eh, oya, apa kamu lagi sibuk sekarang?
Aku bakal baca semuanya, aku janji.
Oya, aku minta maaf udah salah paham sama kamu.
Tristan, sekarang aku ada di bandara Narita.
Apa kamu bisa ke sini?
Tapi ... waktuku di sini cuma tinggal enam jam lagi.
Aku kaget bukan main ketika membaca kelanjutan pesan Johara. Rasanya senang sekaligus juga menyesal karena baru saja membuka email darinya.
Selain itu, aku juga jadi dibuat gelisah dengan kata-kata 'enam jam lagi'. Buru-buru kuambil barang-barang yang kuperlukan. Dompet, kunci mobil, dan handphone. Begitu juga laptopku, segera kututup dan kubawa serta.
"Kenapa, Tris?" Pradit bingung melihatku panik.
"Anter aku ke bandara Chitose sekarang, Dit." Kuberikan kunci mobil padanya dan aku menariknya agar ia segera bangkit.
"Bandara??" Ia bingung.
"Udaaah, cepet." Aku masih memaksanya. "Ntar aku jelasin."
"Kenapa aku yang nyetir sih? Aku gak tahu jalan lho." Ia masih saja kebingungan, sekaligus juga ikut panik ketika melihat tingkahku.
Sementara Pradit mulai menyetir untuk mengeluarkan mobil dari parkiran hotel, kubuka aplikasi navigasi ke bandara Chitose di handphone. "Ini ya." Kupasang smartphone-ku pada holder di samping kemudi.
"Duh, jelasin dong. Gak paham situasi nih aku." Pradit masih kebingungan.
"Johara, dia lagi di Bandara Narita sekarang." Kubuka laptopku dan mencari jadwal keberangkatan penerbangan menuju Bandara Narita yang terletak di prefektur Chiba, dari Bandara Chitose Hokkaido tanpa sempat menanyakan pada Johara kenapa ia berada di Jepang, dan kenapa ia hanya punya waktu enam jam.
"Lho dia di Jepang? Ngapain?" Pradit penasaran.
"Aku juga belum tahu."
"Jadi sekarang kamu mau ke Bandara Narita??" tanya Pradit masih dengan ekspresi tak percaya.
"Iya ... aku harus bisa ketemu sama dia, dia cuma punya waktu enam jam lagi di Narita. Johara pasti mau ke luar negri dan dia lagi transit di sini," ucapku dengan sedih sekaligus khawatir.
Pradit tak menanyakan apa-apa lagi soal Johara. Ia hanya menghela napas dengan prihatin dan menginjak gas semakin dalam, mempercepat laju kemudinya.
"Gimana? Ada gak penerbangan ke Narita? Jam berapa?" ujarnya yang langsung mendukungku.
°°•°°
Aku kesal karena ini jadi begitu dramatis. Aku kalah cepat dengan jadwal keberangkatan ke Bandara Narita yang waktunya terdekat. Aku jadi harus menunggu sekitar dua jam lagi untuk penerbangan selanjutnya.
Penerbangan dari Chitose ke Narita memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menit. Aku khawatir ini tak akan sempat untuk bertemu dengan Johara.
Pradit menyemangatiku untuk tetap menempuh perjalanan ini agar hatiku lega. "Apa pun yang akhirnya terjadi, seenggaknya kamu udah berusaha," ujarnya. "Jadi kamu gak terlalu nyesel dan ngerasa berdosa nantinya."
Johara tersenyum haru hingga menutup mulutnya saat kami mulai tersambung via video call. "Tristaaan!" Johara mulai heboh. Ia terlihat senang.
Namun, aku justru tak bisa menarik garis bibirku untuk membalas senyumnya.
"Kenapa, Tris?" Ia berhenti tersenyum. "Senyum dong," pintanya yang mulai berwajah iba.
Akhirnya aku bisa tersenyum sedikit yang kupaksakan, walaupun masih tak bisa menyembunyikan kesedihanku.
"Kamu gak harus ke sini kok kalau itu gak memungkinkan. Tadi kamu keburu banget sih, gak baca kelanjutan pesanku dulu," keluh Johara.
"Walaupun kamu gak nyuruh aku, Jo, aku tetep bakal langsung ke situ kalau tahu kamu di situ."
"Aku udah seneng banget kok kamu mau ngehubungin aku lagi, mau percaya sama aku. Aku udah lega banget." Ia tersenyum tanpa ada beban. Membuat harga diriku rasanya tercabik-cabik oleh perasaan bersalah.
"Johara ... aku bener-bener minta maaf ...." Mataku mulai berkaca-kaca.
Dengan tatapan tak tega, Johara langsung menggeleng. "Nggak, Tristan ... aku yang mau minta maaf ... kamu gak salah kok, kamu berhak marah sama aku. Kalau aku ada di posisimu, aku juga bakal marah sama sikapku ke kamu waktu itu.
"Kamu udah berjuang sekeras itu demi kebahagiaanku dan juga buat anak-anak, tapi bukannya berterimakasih, aku justru masih aja nyalah-nyalahin kamu.
"Makasih banyak ya ... karena kamu gak nyerah buat ngedeketin aku lagi, juga ... makasih karena udah mau dateng di hidupku lagi ....
"Kalau bukan karena kamu, aku gak bakal bisa sebahagia ini sekarang. Kalau waktu itu kamu nyerah atau gak dateng lagi di hidupku, aku bakalan masih kayak di penjara dunia sekarang.
"Oh ya, Tris ...," Mata Johara mulai berkaca-kaca. "Waktu itu ... waktu aku ninggalin kamu dan mutus komunikasi kita ... gimana kondisimu waktu itu?" Air mata Johara perlahan mulai mengalir yang juga langsung ia seka. "Gimana kamu ngejalani hari-harimu setelah itu?" tanyanya dengan getar pada suaranya.
Hatiku teriris. "Maaf, Jo ... gara-gara aku, kamu jadi ikut ngerasain itu juga."
Johara buru-buru menggeleng. "Nggak, kamu gak perlu minta maaf. Kamu ngelakuin itu karena kamu memang punya alasan, kamu harus fokus buat SIAF, karena selama ini aku selalu ngomongin hal-hal yang bikin kepalamu pusing, jadi pantes aja kalau kamu ngelakuin itu ke aku.
"Apalagi, kita juga sama-sama tahu kalau plagiasi itu dosa banget buat kita. Jadi aku paham kalau kamu pasti marah banget waktu itu karena kamu juga gak tahu apa-apa kalau aku udah jual lukisanku.
"Apalagi kondisiku sekarang ... aku udah jadi istrimu, aku tinggal di rumahmu, dan aku tahu kalau kamu cinta aku. Tapi waktu itu ... aku udah mutus komunikasi kita tanpa alasan dan kamu gak punya salah apa-apa ke aku, aku juga udah jadi istri orang lain. Tristan ... gimana kondisimu waktu itu? Sampai sejauh apa aku bikin kamu terluka waktu itu?" Air mata Johara masih bercucuran meski ia terus menyekanya.
"Gak papa, Jo ... aku tahu kok kondisimu pasti juga berat banget waktu itu. Aku juga mau minta maaf karena waktu itu udah selalu ngegantungin hubungan kita. Kamu gak perlu lagi ngerasa bersalah sama itu, karena pada akhirnya ... kita bisa bareng lagi kayak gini. Aku juga bersyukur masih bisa nyelesein cita-citaku waktu itu." Aku tersenyum menyemangatinya meski mataku juga terasa sembab.
Johara menganggut dengan senyuman haru. "Makasih udah suka sama aku, Tris. Makasih karena kamu udah mau perjuangin lagi hubungan kita. Aku juga sayang banget sama kamu.
"Padahal kamu udah berkorban banyak banget buat hubungan kita dan aku tahu kalau kamu bukan orang mau bersusah payah kayak gitu kalau emang kamu cuma main-main.
"Tapi bisa-bisanya aku masih ngeraguin kamu dan ngira kalau kamu cuma mau main-main sama aku. Waktu itu ... aku bilang kayak gitu karena aku kira kamu cuma nganggep pernikahan kita ini cuma buat sementara aja. Karena kamu gak mau cerita soal hubungan kita ke okasan-mu, aku jadi berpikiran kayak gitu," terang Johara.
°°•°°

Komentar Buku (83)

  • avatar
    S.Fahrudin

    Ceritanya tentang seni dan perjuangan dari titik terendah sampai berhasil meski jatuh bangun

    22/07/2022

      0
  • avatar
    SeutuhnyaManusia

    Tentang seni dan lukisan. bagus

    12/07/2022

      0
  • avatar
    Yourbeutyeyes

    Suka banget ini penuh lika liku perjuangan

    12/07/2022

      2
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru