logo text

35. The Creature

2008, SW89th St.
"Kenapa kejadian ini terus terulang kembali?"
Ryan berfikir keras, apa yang harus dia lakukan agar bisa kembali ke dimensi asalnya.
Dia masih menatap rumah tua bernomor 111rd itu, "Kali ini aku harus berhasil!" ucapnya.
Meskipun Ryan kesal dengan kejadian yang terus terulang ini, tetapi dia tetap berkeinginan untuk menyelamatkan Rose.
"Setelah Rose mau mempercayaiku dan setuju untuk meninggalkan rumah itu, aku akan pergi dari sini! Apapun yang akan terjadi kepadaku, aku tidak peduli lagi! Dengar itu mahluk sialan?" ucap Ryan kesal.
Dia mulai mencari ide agar Rose dan Ibunya mau menerima dan membiarkannya untuk berbicara dengan Rose.
"Aku akan memaksa masuk ke dalam rumah itu!" Ryan kemudian bangkit dan mengambil sebatang kayu kecil, kemudian menyelipkan kayu itu di pinggangnya.
"Rose!" Ryan menatap tajam pintu rumah itu, "Kali ini aku tidak boleh gagal!"
Ryan kemudian menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu mulai berjalan menuju rumah itu lagi.
...
Tok ... tok ....
Pintu rumah itu mulai diketuk.
Tidak berselang lama, pintu rumah mulai terbuka.
Pintu itu tenyata dibukakan langsung oleh Rose.
"Rose? Syukurlah!" ucap Ryan dalam hatinya.
"Siapa kamu?" tanya Rose penasaran.
Rose sama sekali tidak sadar bahwa itu adalah Ryan dewasa.
"Halo, aku seorang Teknisi Listrik! Seseorang telah meneleponku. Dia mengatakan bahwa rumah ini mengalami kerusakan di bagian kelistrikan! SW89th 111rd," jawab Ryan agak kikuk.
"Benarkah?" tanya Rose. Dia menaruh curiga pada Ryan.
"Aku akan mengeceknya sekarang!" Ryan kemudian langsung masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi.
Rose tentu tidak mampu menghalangi Ryan yang begitu saja masuk ke dalam rumah itu.
Dahlia yang baru saja keluar kamarnya, kemudian kaget melihat ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya, "Siapa orang ini?" teriak Dahlia pada Rose.
Rose hanya menggelengkan kepalanya.
"Here we go!" ucap Ryan dalam hati.
"Polisi! Jangan bergerak!" teriak Ryan, tangannya memegang tongkat kayu dari balik bajunya itu, seakan dia membawa senjata.
"Aku membawa pistol!"
"Sebaiknya jangan gegabah!" Ucapnya lagi sambil sedikit menggertak.
"Kalian berdua adalah buronan yang sedang kami cari! Diam di tempat!"
Dahlia sontak kaget, badannya bergetar tidak karuan saat mendengar gertakan dari Ryan, "Polisi? Bagaimana mungkin!" tanyanya keheranan.
"Rose! Duduklah!" Perintah Ryan.
Rose yang kali ink terlihat mulai ketakutan, menuruti permintaan Ryan. Dia mulai duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Ryan mulai mengalihkan pandangannya pada Dahlia yang masih diam mematung tidak bergerak, "Nenek tua! Merapat ke tembok dan jangan melakukan gerakan apapun!" perintahnya.
Dahlia menurut, dia melangkah mundur dan menyenderkan punggungnya pada tembok rumah itu.
Ryan lalu duduk di samping Rose, "Rose! Rumah ini sudah tidak aman! Cepat atau lambat, mereka pasti akan menemukan tempat ini!" ungkapnya.
Rose memicingkan matanya, "Darimana kamu tahu namaku?" tanyanya penasaran.
Ryan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rose.
"Cepat pergi dari rumah ini, Rose!" Bagi Ryan, yang terpenting Rose bisa selamat.
Ryan menghela nafasnya, "Aku juga ingin meminta maaf kepadamu, aku terus memikirkanmu! Sungguh!" ungkap Ryan.
Rose nampak bingung, "Memangnya Apa yang sudah kamu perbuat kepadaku?" tanyanya.
Pertanyaan itu jelas membuat Ryan sedih, "Aku melakukan banyak kesalahan kepadamu, maafkan aku!" jawabnya.
Tentu saja, Ryan merasa sangat bersalah. Ryan masih berfikir bahwa dialah penyebab Rose tewas bunuh diri. Bahkan, sampai saat ini pun, Ryan tidak pernah tahu dimana Rose dimakamkan.
Ryan mulai mengambil sesuatu dari balik saku celananya, dia lalu mengambil dompetnya, "Ambilah uang ini! Gunakan uang ini untuk biaya hidupmu selama pelarian! Pergi jauh dari kota ini," pinta Ryan. Dia memberikan uang ribuan dollar untuk Rose.
"Orang yang tadi mengunjungimu, dan menanyakan tentang gadis bernama Sherlie itu akan datang lagi kesini!" Ryan melanjutkan, "Jangan hiraukan dia!"
Ryan menatap dalam mata Rose, "Dia adalah mata-mata polisi!" ucap Ryan berbohong.
Wajah Rose langsung dipenuhi banyak tanda tanya, "Maksudmu Allan?"
Ryan mengangguk, "Ya!"  dia kemudian melanjutkan, "Berjanjilah Rose! Berjanji kepadaku untuk segera pergi dari kota ini!"
Rose mengangguk, dan mulai tersenyum, "Kenapa kamu begitu baik kepadaku?"
Ryan kembali menatap lembut mata Rose dan mulai memegang tangannya, "Aku menyayangimu, Rose!"
Rose hanya bisa tertegun saat Ryan mengungkapkan semua isi hatinya.
"Oh ya ... Rose! Pria bernama Allan itu sebenarnya adalah ...."
Belum sempat Ryan menjelaskan pada Rose, Tiba-tiba ...
"Jangan sentuh Rose!" teriak Dahlia sambil menghunuskan sebilah pisau pada Ryan.
Ryan yang kaget setengah mati, hanya bisa terdiam. Tongkat kayu yang dia selipkan di pinggangnya, tidak terasa telah jatuh ke lantai saat dia mengambil dompetnya tadi.
Hal itulah yang menyebabkan Dahlia mengetahui bahwa Ryan tidaklah membawa senjata.
...
Pisau itu kini sudah berada tepat menuju tenggorokan Ryan.
"Aku tidak bisa mengelak lagi, mungkin ini akhir dari hidupku!" ucap Ryan sambil memegang erat tangan Rose.
"Ibu! Jangan!" teriak Rose mencoba menahan serangan fatal pada leher Ryan. Namun, usahanya sia-sia.
"Akkhh!!" Teriak Ryan pilu.
....
Bruuummm!!!
Raungan keras dari mesin sebuah sepeda motor Trail berhasil mengagetkannya dan membuat Ryan terbangun seketika. kali ini, matanya terbuka lebar dan langsung dihadapkan pada bentangan langit luas berawan.
Dengan agak kikuk, Ryan mencoba bangkit dan duduk di tempat dia berbaring tadi.
Ryan mulai memegangi lehernya, tidak ada bekas luka apapun di lehernya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dalam hati.
"Aku ... Selamat?" ucap Ryan tertawa bahagia.
Dia membaringkan kembali tubuhnya di atas rerumputan hijau sambil memejamkan mata.
"Mahluk sial! Aku terus terjebak di dalam alur yang kamu buat! Tapi, aku tidak peduli lagi! Setidaknya, aku telah berhasil menyelamatkan Rose!" gerutunya pelan.
"Apa yang akan kamu lakukan padaku selanjutnya? Mahluk sial!" gerutunya lagi.
"Benarkah?" Sebuah suara dengan nada meledek terdengar di kepalanya.
Ryan bangkit, dan mulai memperhatikan sekeliling, "Mahluk sial, apa kamu yang sedang berbicara?" ledeknya balik.
"Ya!" Suara itu terdengar makin jelas.
Ryan mulai merinding, "Holly sh*t! Apa kamu sejenis mahluk seperti "Venom"? ucapnya terbata-bata.
Suara kasar dan meninggi makin terdengar, "Who is fuck*ng Venom?" jawabnya yang membuat Ryan kemudian menelan ludahnya. Ryan kemudian berkata, "Apa aku telah kerasukan roh leluhur?"
...

Komentar Buku (30)

  • avatar
    maira

    bagus dan menarik

    31/01/2025

      0
  • avatar
    salvatoresherry

    cerita yg sgt menarik so far

    30/06/2024

      0
  • avatar
    Asis Rahim

    cerita ini sangat best

    29/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru