Part 9

Brughhhhhhh!!!!
Terdengar suara pintu terbuka ternyata pintu depan dikunci mungkin itu kak Mahesa karena aku mendengar orang saling pukul.
"Jangan dulu buka pintu Kemala diam saja dikamar si bajingan ini harus aku kasih pelajaran" Teriaknya dia di ruang tamuku entah apa yang akan kak Mahesa lakukan, aku semakin tak enak hati kenapa aku tidak menelpon ibu tadi kenapa aku malah menelpon kak Mahesa merepotkan saja kau Kemala!
"Lagi-lagi kau yang mengganggu aksiku tunggu pembalasanku anak bodoh"
"Pergi kau tua Bangka, fedofil gila anak sekolah kau mau embat juga? dasar tak punya moral pergi!"
Kak Mahesa maafkan Mala.
"Mala kau boleh keluar tak usah takut lagi"
Aku keluar dan berlari menuju kak Mahesa aku memeluknya aku takut dia kenapa-kenapa dan aku merasa bersalah karena telah menelpon kak Mahesa.
"Maafkan Mala kak maafkan" Ucapku dengan sesenggukan karena dari tadi aku hanya bisa menangis.
"Sudah tak apa ayo duduk, jangan menangis lagi kau aman sekarang, ibu belum pulang ya aku temani ya?"
"Makasih ya kak Mahesa maafkan Mala"
Aku dan kak Mahesa berlanjut ngobrol sampai malam karena ibu tak kunjung pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Sebentar ya kak aku mau nelpon ibu"
(ada apasih Mala nanti sebentar lagi juga ibu pulang)
"Cepat ya Bu Mala takut"
(Iya iya sudah sana tidur kunci pintu ibu bawa kunci sendiri)
"Kak Kaka pulang aja gapapa takutnya nanti ibu pulangnya subuh, Mala akan kunci semua pintu"
"Yaudah aku juga gaenak disini sampai malam nanti kamu malah terbawa gosip padahal kita tidak berbuat apa-apa"
"Makasih ya kak sekali lagi"
"Hati-hati ya Mala"
"Kaka yang hati-hati dijalan"
Ahh senyum dia memang selalu membuat jantung ini berdetak lebih cepat seperti lari maraton, baru kali ini aku mempunyai teman lelaki yang terang-terangan bilang menyukaiku.
Setelah kepergian kak Mahesa aku melaksanakan sholat isya, kemudian memakai cream malam yang disarankan Anita tempo hari dan lanjut tidur.
"Mala buatkan ibu air panas ibu mau mandi"
"Hoamm iya Bu sebentar" Jam 4 subuh ibu baru pulang jam 4 subuh ya ampun ibu apa dia tidak apa-apa cepat aku keluar kamar dan melihat ibu sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan hp nya itu hp yang diberi oleh si brengsek itu
"Ibu baru pulang?"
"Iya, sana masa air ibu mau mandi rasanya lelah"
"Iya, Bu tadi om itu kembali lagi menggoda Mala, Mala takut Bu untung teman Mala ka Mahesa bantuin Mala lagi"
"Kok bisa teman kamu kebetulan begitu?"
"Mala yang nelpon sih Bu bukan kebetulan kaya kemarin"
"Ibu bingung sama si Herman ini sudah ibu maki-maki kok masih datang, besok kita pindah rumah, bereskan semua bajumu, biar dia tidak mengganggu hidup kita lagi"
"Pindah kemana Bu? terus rumah ini mau di apakan?"
"Liat nanti saja Mala kalau bisa di kontrakan ya kita kontrakan kalau dibeli juga ya bagus lah ada yang beli, kita pindah ke komplek yang lebih besar dan bagus ga disini pada gosipin ibu hanya karena suaminya suka lirik ibu, bukan salah ibu dong kalau ibu masih cantik iyakan Mala?"
"Iya Buu iyaa"
"Yaudah ahh mau mandi pokoknya nanti bereskan semua kebutuhanmu kita pergi dari rumah kumuh ini"
Untung hari ini hari Minggu jadi aku bisa bebas membereskan pakaian dan peralatan yang mungkin akan kita butuhkan dirumah, tapi ibu melarang membawa kursi, lemari, kasur dan peralatan dapur lainnya ibu bilang sih karena dirumah baru itu sudah tersedia katanya jadi hanya bawa pakaian dan peralatan sekolah yang penting-penting saja.
"Mala pesenin taxi online ya lagian bawaan kita cuma koper biarkan semua ini ada disini saja sudah pada jelek juga"
"Iyaa Bu alamatnya dimana"
"Komplek matahari blok D"
Beberapa menit menunggu taxi online datang tetangga ada yang datang mungkin heran karena kita membawa koper.
"Mau kemana Cha?! pergi sampe bawa tas kaya mau pindahan?" Ucap Bu warung pada ibu, yang dibalas ibu dengan senyuman saja, seperti malas menanggapi mungkin.
"Pindah Bu" Jawabku tak enak hati karena ibu tak kunjung menjawab pertanyaan Bu warung.
"Oh hati-hati kalau begitu"
"Makasih Bu, taxi nya sudah sayang kamu pergi dulu ya Bu assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
***
"Wahhh Bu rumahnya bagus perabotan dirumah ini juga kayaknya mahal-mahal"
"Kamar kamu diatas ya Mala, kamar ibu dibawa disana, itu dapur, itu kamar mandi, dikamarmu juga ada kamar mandi jadi kamu tak perlu keluar kamar ketika ada pelanggan-pelanggan ibu kerumah, dan ya di kamarmu juga ada kulkas kamu boleh beli cemilan apapun agar menghindari lapar seperti yang sudah-sudah karena pelanggan ibu yang tak kunjung pulang" Ucap ibu menjelaskan secara rinci, aku kagum sama rumah ini tidak begitu besar tapi semua yang ada disini sangat mewah, darimana ibu mendapatkan ini semua.
"Bu boleh Mala bertanya?"
"Tanya apa? kalau soal uang untuk rumah ini kamu tidak perlu tau yang pasti ibumu ini masih mampu memberi kamu tempat dan kebutuhan yang layak ibu cape mau ke kamar! kalau mau makan kamu makan saja sudah ibu isi semua kulkas dengan bahan masakan"
"Huft belum bertanya saja sudah tertebak" apa mungkin ibu dikasih sama pria yang waktu itu, pria yang aku baru pertama kali melihatnya, bahkan pakaian pria itu seperti bukan orang biasa terlihat dari gaya dan kendaraan yang dia gunakan, sangat jauh beda dengan pelanggan-pelanggan ibu yang biasanya yang terkadang gendut, bau, ahhh kok ibu bisa bertahan.
Aku duduk di depan teras rumah ada kolam ikan disini sudah tersedia ikannya, seperti sudah di rencanakan jauh-jauh hari dan sudah di persiapkan. Ahh aku senang dan om jahat itu tidak akan menggangguku lagi biarkan saja biar tau rasa dasar para lelaki hidung belang tidak tau diri.
"Kemala..."
"Ehh kak Mahesa kok kak Mahesa ada disini?"
"Aku tinggal disini Mala, itu rumahku 3 rumah dari sini, kamu sedang apa disini?"
"Aku pindah kesini kak, baru aja tadi pagi"
"Wahh bagus dong kita jadi lebih dekat mal"
"Mahessa ayo cepat papi sudah selesai"
"Mala, aku duluan sampai jumpa"
"Iya"
Papi, pria yang bersama ibu itu papi Mahesa? astagfirullah benarkah itu ya Allah? tadi aku tidak salah dengar kalau pria itu mengajak ka Mahesa dan menyebut dirinya papi, apa jangan-jangan ibu sama pria itu? Ah ga mungkin tapi aku hapal betul sosok pria yang tadi bicara dengan ka Mahesa bilang papi.

Komentar Buku (306)

  • avatar
    Cia Wibu

    bguss

    29/05

      0
  • avatar
    Jonni Agian

    menikmati setiap cerita nya, tapi ada beberapa kalimat kata yang tidak lengkap

    14/05

      0
  • avatar
    Dama RaiNgurah

    lanjut dong kak sampai and

    19/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru