Bab 33 Pemuda Sholeh

“Mau keluar? Kita ke Kota Tanjung Pura kalau antum mau?” tanya Naufal kepada Daffa.
“Boleh juga, Bang. Ana ingin ke Masjid Azizi. Kita salat Isya di sana saja,” jawab Daffa.
“Oke. Ana izin dulu dengan Kakek Bulan.”
Daffa mengangguk. Ia bersiap mengganti pakaiannya begitu melihat Naufal keluar dari kamar.
“Bono dan Banu tinggal di rumah saja ya. Nanti malah jadi aneh kalau kalian ikut kami,” ucap Daffa sambil menukar sarung dan baju yang dikenakan dengan yang lebih rapi.
Miaw.
Daffa tertawa kecil. “Nanti aku usahakan ya, kalau nggak repot pasti aku bawakan pisang,” katanya dengan nada geli melihat tingkah Banu.
“Bono mau titip apa?”
Meong.
“Hehehe... perhatian banget, sih. Iya, aku akan hati-hati dan jaga kesehatan,” ucap Daffa.
“Ana sudah izin ke Kakek Bulan,” kata Naufal tiba-tiba sembari masuk ke kamar. “Sudah siap?”
Daffa mengangguk.
“Ayo, kita berangkat. Kucing antum nggak dibawa,” goda Naufal sambil tertawa kecil.
Daffa menggeleng sambil tersenyum.
Mereka pun bergerak keluar menuju lapangan parkir di depan Nosah, masjid bersejarah kebanggaan masyarakat Besilam. Di sana mobil Naufal terparkir.
“Silakan, Ustaz,” ucap Naufal sambil membuka pintu mobil dengan kunci otomatis.
Daffa hanya tersenyum kecil dan membuka pintu depan bagian penumpang.
“Sebaiknya panggil ana dengan panggilan nama saja, Bang,” ujar Daffa ketika mereka sudah duduk di bangku mobil.
Naufal hanya tertawa kecil dan bersiap untuk menjalankan mobil yang sudah dihidupkannya.
Pemuda itu menjalankan mobil perlahan, keluar dari lapangan parkir yang mulai sepi. Biasanya, lapangan parkir itu ramai oleh pengunjung dari pagi hingga menjelang Ashar.
Di dalam mobil, Naufal bertanya mengenai hal-hal kecil seputar Daffa. Meskipun bertetangga, mereka tak pernah menyadari keberadaan satu sama lain. Naufal memang jarang keluar rumah. Sementara Daffa lebih banyak menghabiskan waktu di pesantren.
Naufal merasa kagum dengan akhlak Daffa yang santun, lembut, dan penuh adab. Sesekali mereka tertawa bersama saat Daffa menceritakan hal-hal lucu. Dalam diam, Naufal mencoba menafsirkan ke mana sebenarnya takdir sedang menggiring mereka berdua.
Perjalanan hanya memakan waktu lima belas menit dengan menggunakan mobil. Mereka pun tiba di kota kecil Tanjung Pura. Tanpa membuang waktu, keduanya langsung menuju Masjid Azizi untuk salat Isya berjamaah. Shalawat menggema dari muazin yang bertugas, menandakan waktu salat telah tiba. Mereka memarkir kendaraan di halaman luas masjid.
Masjid Azizi yang meruupakan kebanggaan warga Tanjung Pura—indah, sungguh indah. Nuansa arsitektur Eropa begitu terasa dari bentuk bangunannya. Meninggalkan kesan sejarah yang mendalam.
™*™
Usai dari Masjid Azizi, Naufal mengajak Daffa makan malam di salah satu restoran dekat masjid. Restoran itu dibangun dari bangunan rumah tua yang telah dipugar dan kini tampak mewah. Tempat ini dulunya adalah lokasi Daffa diculik—dan Naufal tentu saja meminta izin terlebih dahulu sebelum membawa Daffa ke sana.
Daffa menyetujui, ia sendiri ingin melihat seperti apa kondisi bangunan tua itu sekarang. Awalnya, ekspresinya terlihat tegang, mengingat kembali memori sepuluh tahun silam. Gapura depan rumah masih sama, tapi lantainya telah disemen dan dikeramik. Tak tampak lagi rerumputan liar yang dulu menjalar ke mana-mana. Halaman depannya kini bersih, dihiasi beberapa spot foto bagi pelanggan. Restoran itu terlihat sangat mewah, sesuai namanya yang sudah mulai dikenal.
Daffa meminta izin kepada Naufal untuk berkeliling. Mereka masuk ke dalam. Daffa melihat ruangan tempat ia pernah disekap telah berubah menjadi ruang makan lesehan. Ia memperhatikan ruang tamu dan ruang makan yang didesain ala Eropa, lengkap dengan meja dan kursi dari kayu mahoni.
Perlahan, Daffa berjalan ke arah dinding antara ruang tamu dan ruang makan. Dulu, di situlah ia pernah mengalami kejadian traumatis. Daun pintu tersembunyi masih ada, tersisip di balik dinding. Pintu itu dulu menjadi portal menghilangnya sang abang saat penculikan terjadi. Namun, kini tak seorang pun menyadari keberadaan pintu itu.
Daffa ingin menyelidiki lebih jauh, tapi waktu tak cukup. Naufal telah memesan makanan dan memanggilnya untuk duduk di teras. Di teras itu, meja dan dua kursi kayu tersusun rapi, tempat mereka menikmati makan malam.
Daffa memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian masa lalu secara terperinci kepada Naufal. Meski mulai mengenal Naufal, ia belum sepenuhnya percaya. Luka lama masih membekas dan ia lebih memilih untuk menyimpannya sendiri.
“Antum tidak apa-apa? Kalau tidak suka tempat ini, kita bisa pindah ke tempat lain,” tanya Naufal serius.
Daffa menarik kursi berwarna cokelat dan duduk. “Enggak kok, Bang. Daffa baik-baik saja. Abang pesan apa?” tanyanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Bebek goreng. Daffa mau makan apa?”
“Ana ingin makan mi kuah. Ada, kan?”
“Mi kuah? Ada sih... tapi banyak menu lain. Kok malah pilih mi kuah?” tanya Naufal heran.
“Lagi pengen aja, Bang.” Nada manja terdengar dari suara Daffa.
“Ya udah, abang pesankan mi kuah spesial ya... pakai udang,” ujar Naufal.
“Ouh, oke tuh, Bang,” jawab Daffa.
Mereka pun berbincang santai. Daffa mengatakan bahwa ia akan pulang besok. Naufal menawarkan diri untuk menjemput dan mengantar pulang. Daffa sangat berterima kasih atas tawaran itu. Tingkahnya masih terlihat manja, meskipun ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan anak kecil lagi.
Di sisi lain, hati Naufal kembali teriris. Ia melihat sosok seseorang dari diri Daffa—seseorang dari masa lalu yang tak ingin ia kenang, tapi terus muncul lewat gestur dan tutur kata pemuda ini.
Daffa juga penasaran tentang latar belakang Naufal—pendidikan, pekerjaan, hingga pengalaman hidupnya. Dari percakapan itu, Daffa menyadari bahwa ia perlu banyak belajar dari Naufal. Ada sesuatu yang istimewa dari diri Naufal yang tidak ia temukan dari orang-orang seusianya.
Jam hampir menunjukkan pukul 22.00 WIB. Naufal mengajak Daffa pulang, khawatir Kakek Bulan akan menunggu terlalu lama.
Dalam perjalanan pulang, mereka melewati rumah masing-masing. Daffa menunjukkan rumah orang tuanya. Naufal pun menunjukkan rumahnya yang ternyata hanya berjarak sekitar dua puluh rumah dari rumah Daffa. Selama ini mereka hidup di jalan yang sama, tapi tidak saling mengenal.
“Kehidupan ini memang lucu,” batin Naufal sambil tersenyum kecil.
Perjalanan ke Desa Besilam tidak memakan waktu lama karena jalanan sudah sepi. Pembicaraan mereka terus mengalir, saling mengenal lebih dalam. Naufal makin yakin, seperti yang dikatakan Ibnu Hajar—pemuda ini memang berbeda.
“Jadi... besok ana jemput setelah Zhuhur ya, Ustaz?” tanya Naufal begitu sampai di depan rumah Kakek Bulan.
“Daffa aja, Bang. Panggil dengan nama saja, nggak usah pakai ‘Ustaz’,” saran Daffa, lagi.
Naufal tertawa kecil. “Oke. Abang nggak turun ya, izin aja langsung ke Kakek Bulan. Abang mau pulang.”
“Oke, Bang. Hati-hati.”
“Eh... ini pisang cavendish buat Banu,” kata Naufal sambil menyerahkan bungkusan dari bangku tengah mobil.
Daffa tertawa kecil. Ia menerima pisang itu dari jendela mobil.
“Terima kasih, Bang. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Daffa melambaikan tangan, melepas kepergian mobil putih yang perlahan menjauh di bawah sinar lampu jalan. Senyum kecil menghiasi bibirnya yang tipis.
 
"Sempurnakan ibadahmu hanya kepada Allah—tanpa sekutu. Dirikan salat, tunaikan zakat, dan rawat silaturahmi dengan orang tua dan saudara. Di situlah letak keberkahan hidup."
Kalimat Bijak, terinspirasi dari H. R Bukhari.
™*™
 
 
 

Komentar Buku (9)

  • avatar
    Wahyu SaputraMas

    lana

    18/09/2025

      0
  • avatar
    NATHANIEL T.

    ceritanya bagus banget, lucu dan seru

    08/09/2025

      0
  • avatar
    Rismaaydn

    SUKAA BANGET SAMA ALUR CERITANYA

    18/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru