Matahari sudah meninggi, dan panasnya mulai terasa menyengat. Di sepanjang jalan setapak desa, Yang Hanrui melangkah cepat, wajahnya ditekuk dan bibirnya tak henti-hentinya mengomel. Di belakangnya, Yang Bowen berjalan sedikit terburu-buru, mencoba menyusul langkah kakaknya yang panjang. Keranjang kue mereka kini kosong, menandakan semua sudah terjual. "Dasar cowok aneh!" Hanrui mendesis, suaranya pelan tapi penuh emosi. "Muka udah kayak singa kelaparan, eh masih aja bisa ngejek masakan orang! Dibilang ada pasirnya lah, terlalu banyak bumbu kampung lah! Emangnya dia kira semua makanan harus kayak di restoran bintang lima di Jakarta?!" Bowen menghela napas. Ia tahu kakaknya ini kalau sudah kesal, omelannya bisa panjang sekali. "Sabar, Kak. Kan cuma Kak Qihan doang yang begitu. Yang lain kan biasa aja." "Biasa aja apanya?! Si Yiran juga sama aja! Sok-sokan nggak mau belajar masak dari kita, padahal jelas-jelas nggak bisa apa-apa!" Hanrui masih saja mengoceh. "Terus si Guiyuan itu, mukanya datar banget! Kayak tembok! Nggak ada ekspresi sama sekali!" "Ya kan emang gitu Kakaknya," Bowen mencoba membela. "Mungkin emang udah bawaan dari sananya." "Bawaan apaan?! Bawaan kesombongan! Mereka pikir mereka siapa sih?! Seenaknya aja merendahkan kita di desa ini! Udah numpang, nyusahin Kakek, terus mulutnya nggak disaring!" Hanrui terus saja mengomel, tangannya bergerak-gerak ekspresif. "Untung ada Kakek, kalau nggak, udah aku labrak tadi di meja makan!" Bowen hanya tersenyum tipis. Ia tahu Hanrui memang selalu garang di luar, tapi hatinya baik. Ia marah karena adiknya sempat menangis kemarin. "Udahlah, Kak. Jangan dipikirin terus. Nanti malah jadi beban pikiran." "Gimana nggak dipikirin, Wen?! Ini harga diri kita tahu nggak?!" Hanrui berbalik, menatap adiknya dengan mata menyala-nyala. "Mereka itu tamu, harusnya sopan! Ini malah kayak raja! Seenaknya sendiri! Aku sumpahin deh, besok mereka disuruh nyangkul sampai kakinya kapalan!" Bowen hanya tertawa kecil. "Kakak nih, ada-ada aja doanya." "Ini bukan doa, Wen! Ini kutukan! Biar mereka tahu rasa!" Hanrui membalikkan badannya lagi, melanjutkan langkah cepatnya dengan bibir yang masih komat-kamit mengomel. Mereka berdua berjalan melewati jalan utama desa. Tiba-tiba, dari kejauhan, Wang Lujie terlihat sedang berjalan santai ke arah mereka. Ia membawa sebuah bola sepak di tangannya, sepertinya baru selesai bermain. Wajahnya yang biasanya datar, kini terlihat sedikit bersemangat, seolah ada yang ingin ia ceritakan. Melihat Hanrui dan Bowen, Lujie langsung tersenyum dan melambaikan tangan. "Hanrui! Bowen! Dari mana aja kalian? Tumben jam segini baru pulang?" Hanrui, yang sedang dalam mode bad mood parah, melirik Lujie sekilas dengan tatapan malas. "Pulang dari neraka!" jawabnya ketus, tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. Lujie sedikit terkejut dengan jawaban Hanrui yang tidak biasa. Ia mempercepat langkahnya, berusaha menyejajarkan diri. "Waduh, kenapa nih? Pagi-pagi udah bete aja. Ada apa sih?" "Nggak usah banyak tanya! Minggir!" Hanrui menyahut, tangannya mengibas seolah mengusir lalat. Lujie sedikit tersinggung, tapi ia tahu Hanrui kalau sedang kesal memang suka begitu. "Ih, kok galak banget sih! Aku kan cuma mau cerita." "Cerita apa?!" Hanrui menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Lujie dengan wajah masam. "Nggak ada cerita apa-apa! Hidupku lagi banyak masalah gara-gara orang-orang kota sombong itu!" "Loh, kenapa lagi sih? Mereka bikin ulah apa lagi?" Lujie bertanya, matanya membesar karena penasaran. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam lingkaran bad mood Hanrui. "Mereka itu ya!" Hanrui sudah siap melampiaskan semua kekesalannya. "Si Qihan itu ya! Udah minta maaf nggak tulus, terus di meja makan masih aja ngejelekin masakan kita! Bilang ada pasirnya lah, bumbu kampung lah! Dasar nggak tahu diri! Nggak tahu terima kasih! Udah dimasakin, eh malah ngeluh! Nggak sopan banget! Kan udah dibilang kalau nggak suka nggak usah makan! Jangan cuma bisa ngeluh doang! Bisanya cuma nyusahin orang tua sama nyusahin kita doang!" Hanrui meluapkan semua emosinya, kata-kata mengalir deras tanpa henti, dengan nada tinggi dan ekspresi wajah yang dramatis. Lujie hanya bisa melongo, tak bisa berkata-kata. Ia kaget mendengar rentetan omelan Hanrui yang tiba-tiba meluap padanya. Ia merasa seperti disemprot air dingin di tengah terik siang. "Udah, kak Rui... Udah..." Bowen mencoba menenangkan Hanrui, menarik-narik lengan kakaknya. "Kak Lujie nggak salah apa-apa." Hanrui melirik Lujie yang masih terdiam membatu, wajahnya terlihat syok. "Kamu juga! Kenapa sih pagi-pagi udah nyari masalah! Aku lagi nggak mood diajak ngobrol! Jadi nggak usah sok akrab! Minggir!" Lujie hanya bisa diam, merasa bingung dan sedikit sakit hati. Ia kan cuma mau menyapa dan berbagi cerita. Kenapa jadi kena semprot begini? "Maaf ya, Kak Lujie," Bowen buru-buru mendekati Lujie, wajahnya penuh penyesalan. "Kak Hanrui lagi bad mood banget. Jangan diambil hati ya. Dia memang gitu kalau lagi kesal." "Dia kenapa sih? Parah banget marahnya," Lujie berbisik pada Bowen, matanya masih terbelalak. "Nggak apa-apa, Kak. Nanti juga baik lagi," Bowen tersenyum canggung. Ia melirik Hanrui yang sudah berbalik dan berjalan cepat lagi, menjauh. "Aduh, aku susul Kakak dulu ya! Hati-hati di jalan, Kak Lujie!" Bowen pun bergegas menyusul Hanrui yang sudah semakin jauh. Lujie ditinggalkan sendirian di tengah jalan setapak, dengan bola sepak di tangannya, dan ekspresi yang masih syok. Ia menatap punggung Hanrui dan Bowen yang semakin menjauh. "Emang gue salah apa?" gumam Lujie, bingung sendiri. Ia menggaruk kepalanya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia kan cuma mau cerita kalau tadi pagi ia melihat dua ekor anak kucing baru di belakang rumahnya, atau mungkin mau cerita tentang skor pertandingan semalam. Tapi kenapa malah jadi sasaran empuk omelan Hanrui? Ia tidak tahu bahwa ia hanya berada di waktu dan tempat yang salah. Lujie menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak pulang dulu, melainkan pergi ke rumah Chen Yiheng dan Li Jiasen, mungkin mereka bisa sedikit menghiburnya. Tak lama, ia sudah tiba di depan rumah Yiheng. Kebetulan Yiheng dan Jiasen sedang duduk santai di teras, bermain gitar dan menyanyi. "Yiheng! Jiasen!" panggil Lujie, suaranya masih sedikit loyo. "Loh, Lujie? Kenapa muka lo kayak baru dilempar tai ayam gitu?" Yiheng langsung menyadari ekspresi aneh Lujie. "Tau nih! Muka ditekuk gitu. Habis diputusin pacar ya?" Jiasen bercanda. Lujie langsung terduduk di samping mereka. "Bukan! Ini lebih parah dari diputusin pacar! Gue baru aja kena semprot sama Hanrui!" Yiheng dan Jiasen saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Pasti lo gangguin dia pas lagi bad mood kan?" Yiheng menepuk bahu Lujie. "Kan udah sering kejadian kayak gini, Lujie. Lo nggak kapok-kapok," tambah Jiasen. Lujie mendengus kesal. "Ya tapi ini parah banget! Gue kan cuma mau nyapa! Terus dia langsung ngomel panjang lebar kayak kereta api! Ngatain si Qihan, terus nyambung ke Yiran, terus ke Guiyuan, terus ke gue juga!" Yiheng tertawa lagi. "Wajar. Hanrui itu kan emang paling suka ngomel kalau udah kesel. Apalagi sama anak-anak kota itu. Dia kan paling nggak suka Bowen diganggu." "Dia tadi ngomel soal si Qihan yang ngejelekin masakan Yiran yang Hanrui sama Bowen bantuin masak," jelas Lujie. "Terus dia bilang Qihan itu nggak tulus minta maafnya." "Oh, jadi tadi dia beneran minta maaf ya?" Jiasen mengangkat alis. "Nggak nyangka cowok kota itu bisa minta maaf. Walaupun nggak tulus." "Itu juga karena dipaksa Kakek Huang Long kayaknya," Yiheng menebak. "Kayaknya dia tipe orang yang mana mau minta maaf kalau nggak dipaksa." "Pokoknya, gue pusing deh sama Hanrui. Dia kalau udah bad mood bisa bikin kuping budek," Lujie mengeluh. "Terus Bowen juga cuma bisa minta maaf doang, nggak ngebela gue." "Ya wajar lah, Bowen kan nggak enakan. Dia juga nggak mau memperkeruh suasana," kata Yiheng. "Lagian, lo sih! Udah tahu Hanrui lagi sensi sama anak kota itu, malah lo ajak ngobrol." "Ya gue mana tahu! Gue kan cuma mau cerita hal baik!" Lujie membela diri. Jiasen menepuk punggung Lujie. "Udah, sabar aja. Nanti juga Hanrui baik lagi. Dia kan cuma melampiaskan. Anggap aja dia lagi PMS." Lujie hanya mendengus, tapi ia tahu ada benarnya perkataan teman-temannya. Ia hanya harus lebih berhati-hati lain kali saat berhadapan dengan Hanrui yang sedang 'on fife.'
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lanjutttt jiee
19/07
0kapannn lanjutnyaaaaa jieeee nunggu nihhhh btww bagusss bgttt ceritanyaaaaa
14/07
0bagus banget jie
02/06
0Lihat Semua