Beranda/The Seven Phoenix Shards/
Bab 50 Terpisah Dari Tim
"Hahaha. Jokesnya benaran gak lucu, tahu!" Aku melemparkan sebuah gumpalan kertas ke arah Degree.
"Aku sedang tidak bercanda." Degree menjawab dengan nada beraksen dingin. Tangan pria itu mengambil kertas yang kulempar, lalu memasukkannya ke dalam keranjang sampah.
Aku menyobekkan kertas lagi, dan mengulangi hal yang sama. Namun, pria bermata abu-abu itu tidak terlihat marah sama sekali. Kenapa dia selalu bisa menahan emosinya? Aku benar-benar dibuat bingung oleh perubahannya.
"Sayangi pohon dan alam, Lio! Jangan buang-buang kertas seperti ini!" Degree menegurku dengan suara yang terdengar seperti berbisik. Karena usil, aku pun berpura-pura tidak mendengarkan ucapannya.
"Kita lihat sampai mana batas kesabarannya," ucapku dalam hati. Mataku terus memantau pria yang duduk di sofa itu.
"Kalian ngapain?" Calvin masuk ke dalam ruangan dengan pakaian tidur. Bunny hat di atas kepalanya tampak menggemaskan. Aku pun berniat untuk meminjamkannya sebentar.
"Vin, boleh pinjam gak?" Aku menyentuh telinga kelinci di atas topi itu. "Lo keknya senang banget pake barang-barang cute gini?"
"Aku gak tertarik." Degree melepaskan bunny hat-nya, lalu memberikan topi itu padaku. "Lima menit."
"Ekspresi wajahmu tadi gak bisa membohongiku, Vin!" Aku menyangkal pernyataan dari pria itu.
"Itu hadiah dari ibu, sebelum kematian merenggut nyawanya." Calvin menyadarkan tubuhnya di sofa. Pria itu terlihat memejamkan matanya, seakan menahan air mata yang akan jatuh.
"Aku yakin, ibumu pasti bangga memiliki putra sebaik kamu, Calvin." Degree ikut menyandarkan tubuhnya di samping pria itu. "Kita sama-sama memiliki masa lalu yang kelam."
Aku mengisi gelas dengan air teh. "Kalian mau minum, gak?"
"Kalo Achilio jangan ditanya tentang masa lalunya." Degree sepertinya tidak tertarik dengan tawaranku.
"Aku belum pernah mendengar kisah masa lalumu, Ar. Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku?" Calvin tiba-tiba bertanya. Mata hijau itu menatap dengan penuh selidik.
Aku bergeming untuk beberapa saat, sambil menyipitkan mata pada dua pria di depan sana. Apakah mereka akan mengerti, tentang semua penderitaan yang terjadi padaku?
"Jangan diam doang dong, Ar!" Calvin berjalan mendekat. Menepuk pundak, lalu duduk di sampingku.
Aku mengangkat gelas dengan sedikit bergetar. Jantung terasa berdetak kencang, dan napasku terasa berat.
"Kamu kenapa, Lio?" Degree sepertinya mengkhawatirkanku.
"Aku ... gak bisa cerita." Aku membuang muka ke arah lain. Entah mengapa rasanya benar-benar menyakitkan. "Jangan memintaku untuk mengingat sesuatu, yang hanya akan membuatku trauma sepanjang malam."
"Hum, oke. Kamu bisa cerita tentang masa lalumu suatu hari nanti." Calvin sepertinya memaklumi kondisiku.
Sera yang telah selesai menghabiskan makan malamnya ikut bergabung. Gadis itu duduk di ujung meja. "Kita akan memulai pembahasan selanjutnya."
Aku mengangguk. "Ya, silahkan, Nona."
"Seperti yang sudah kita ketahui, Perusahaan SSM adalah biang dari masalah ini. Aku berpikir sebaiknya kita bekerja sama dengan mereka."
Mendengar Sera berkata seperti itu, sontak aku mengingatkannya tentang bahaya yang kemungkinan timbul. "Kenapa harus bekerja sama dengan pihak musuh? Itu sama aja kayak menyerahkan diri untuk mati."
"Kasih tau kami apa alasannya, Ra." Calvin berkata sambil terus mengunyah permen karet. Aku sudah bosan menasehatinya, agar tidak memakan sesuatu yang manis secara berlebih.
"Kita akan mengkhianati mereka, setelah tujuan kita tercapai," kata Sera dengan sorot mata seakan ingin membunuh.
"Sangat beresiko. Gak ada cara lain?" Degree merapikan meja yang tampak berantakan, dengan sampah-sampah sobekan kertas. "Kalo bisa jangan sampai bekerja sama dengan pihak SSM."
"Kita dalam situasi terkepung. Sebentar lagi, media di Scramble maupun di Riqueza bakalan sebar hoax." Sera memutar sebuah video amatir. Entah dari mana gadis itu mendapatkannya. Namun, di sana dapat terlihat dengan jelas pertempuran kami di atas langit.
"Gawat! Sihir kalian bakalan jadi topik nomor satu." Calvin berkata dengan keterkejutan di wajahnya. "Bagaimana ini?"
"Hum, kita sepertinya akan menjadi buronan negara." Aku berdiri, lalu berjalan mendekat ke arah layar itu. "Siapa yang merekam video ini, Ra?"
"Kamera pengawas di perbatasan. Udah kesebar ke beberapa media sosial atas akun menteri pertahanan yang baru." Sera menunjuk ke sebuah nama akun, yang memiliki centang biru.
"Siapa menteri pertahanan yang baru?" Degree berhenti bersih-bersih. "Bukannya kamera pengawas udah kita cek ya kemarin?"
"Kayaknya ada salinan video, yang langsung diteruskan dari aplikasi." Calvin memperhatikan dengan lekat video itu. "Kita terlalu lengah."
"Menteri pertahanan itu sepertinya memiliki otak yang cerdas." Sera mencoba mengakses akun itu. Namun, kesalahan sistem membuat layar selalu menampilkan tulisan error.
"Aku dapat pesan dari penjaga di bawah." Calvin menutup ponselnya. "Banyak wartawan yang memadati halaman rumahku."
Aku buru-buru menyibakkan gorden, dan mendapati banyak orang di bawah sana. "Sial! Kita gak akan punya banyak waktu untuk keluar dari sini."
Calvin menepuk pundakku. Wajah pria itu seakan tenang-tenang saja, dalam menghadapi keadaan mencekam seperti itu.
"Kita harus segera mencari jalan keluar." Degree merapikan semua benda-benda, yang berantakan di lantai. "Calvin, pikirkan sesuatu!"
"Jangan memasang wajah seakan kamu akan diselamatkan seorang penyelamat, Calvin!" Aku meninggalkan pria itu, lalu membantu Degree meletakkan buku-buku yang berserakan.
"Perusahaan TM memiliki teknologi di atas rata-rata." Calvin menyalahkan mode protector di layar—dekat pintu. "Kita bakalan aman tapi gak selamanya, sih."
Sera mencabut kabel dari stop kontak. Kemudian, gadis itu terlihat memutuskan koneksi jaringan dengan WiFi.
"Kekuatan magic-ku hampir mencapai setengah. Kalian cepatlah berkumpul, dan jangan lupa membawa hal penting!" Degree memberikan instruksi, sambil membantuku membawa banyak stok makanan di dalam tas. "Jangan bawa yang nggak penting!"
"Kalian yakin mau kabur dalam keadaan gini?" Calvin menyusulku. "Ar?"
Sorot mata hijau milik pria di depanku itu, seakan meminta jawaban. Aku sebenarnya ingin menjelaskan semuanya, tetapi waktu yang semakin menipis sepertinya tidak memungkinkan.
"Udah kamu ikut aja, Vin! Jangan banyak tanya!" Sera menarik tangan Calvin. "Kamu bawa koper yang berisi perangkat komunikasi ini!"
Kami membentuk pola lingkaran. Tidak lama setelahnya, Degree membuka sebuah pintu portal. "Bayangkan tempat yang sama!"
Suara berat pria itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku mencoba untuk tetap fokus memikirkan rumah Bibi Naya. Namun, pikiranku tiba-tiba memutar tentang kebersamaan dengan Eunoia. Kenapa harus gadis itu, yang selalu merasuki alam bawah sadarku?
Secercah cahaya terang di depan sana membuat mataku menutup. Setelahnya, aku tidak mengingat apa pun lagi.
"Achilio?" Ketika aku membuka mata, Eunoia yang mengenakan pakaian tidur telah berdiri di depanku. Mata biru gelap bak dasar lautan itu menatapku kebingungan. Jantungku hampir lepas dari rongga dada, karena perlakuannya itu.
"Achilio, ini kamu, kan?" Eunoia bertanya dengan nada yang terdengar sangat lembut. Wujud kasih sayang mungkin menyatu, di dalam diri gadis itu. Sebelumnya, aku belum pernah setakjub itu, pada gadis-gadis yang pernah dekat denganku.
Aku mengangguk pelan. "Tunggu, ini bukan mimpi, ya?" Aku menoleh ke sekeliling kami. Kenapa benda-benda yang ada di sana seakan tidak asing?
"Kecilkan suaramu, Achilio!" Tangan gadis itu menutup mulutku. "Mereka pasti akan curiga denganku."
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Mencoba meminimalisir rasa gugup. Sekitar beberapa menit setelahnya, gadis itu memberikan kami jarak. Tangannya perlahan menjauh, dan hal itu membuatku dapat kembali berbicara secara leluasa.
"Kamu adalah ahli magic, kan?" Eunoia bertanya dengan volume suara yang sangat kecil. Hampir tidak terdengar, tetapi aku mencoba untuk mengartikan gerakan bibir itu, dengan cepat.
"Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk membahas itu." Aku mengambil ponsel dari saku. "Nanti aku jelasin semuanya sama kamu, Eun."
"Aku gak butuh penjelasan. Sekarang, kamu harus segera masuk ke dalam lemari itu." Eunoia menunjuk ke arah sebuah lemari besar di dekat cermin. "Ibu akan mengucapkan selamat tidur padaku sebentar lagi."
Aku tidak tau, jika nyonya besar keluarga Selenic memiliki kebiasaan manis seperti itu. Karena mendengar suara handle pintu yang terbuka, aku pun dengan cepat bersembunyi di lemari itu.
Celah-celah lubang itu memberikanku sedikit rasa lega untuk menghirup oksigen. Aku mengintip apa saja yang dilakukan dua orang anak-ibu itu. Nyonya Flora terlihat memberikan segelas susu pada Eunoia, dan membacakan dongeng pada putri semata wayangnya itu.
Aku membatin, "Eunoia adalah gadis yang beruntung."
"Selamat malam, Eunoia sayang," ucap Nyonya Flora, sebelum akhirnya pintu tertutup dengan rapat.
"Achilio, keluarlah!" Eunoia yang duduk di atas ranjang berteriak dengan nada kecil. Namun, masih dapat terdengar dengan jelas olehku.
Aku mendorong pintu lemari dari dalam, lalu berhasil keluar dari tempat penyimpanan gaun Eunoia itu. "Makasih, ya, Eun."
"Ada yang ingin kubicarakan padamu, Achilio." Gadis berambut biru dengan wave di ujung-ujungnya itu, turun dari tempat tidurnya. "Sebelum aku mengucapkannya, kamu harus berjanji sesuatu dulu padaku."
"Apa?" Aku melangkahkan kaki mendekati gadis itu. "Eun, jangan pernah mencoba menipuku lagi!"
"Aku gak pernah membohongi siapa pun. Kamu sendiri yang terlalu merasa tersakiti," timpal Eunoia dengan nada sombongnya.
Kenapa aku harus berhadapan dengan gadis keras kepala itu lagi? Andai aku tidak terpisah dari rombongan Sera, pasti tidak begitu akhirnya.
"Aku ingin kamu gak marah, dan gak akan nolak setelah aku sampein apa keinginanku. Bagaimana?"
Aku mundur beberapa langkah, lalu menyilangkan tangan. Aku berusaha keras untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat. Tidak boleh ada kata gegabah lagi di dalam pilihan.
Gadis itu bertanya lagi. Namun, kali itu nadanya terdengar seakan memaksa. "Kamu mau atau tidak? Aku gak akan berbaik hati untuk yang kedua kalinya, Achilio."
"Aku gak akan bilang ya, jika nantinya akan menyulitkan diriku." Aku mempertahankan prinsip. "Aku gak akan bekerja sama dengan musuh."
"Mu musuh? Siapa yang kamu sebut dengan musuh, hah!?" Mata biru itu tampak menatap dengan tajam.
Aku sedikit bergidik melihat perubahan ekspresinya. Namun, aku mencoba untuk mengendalikan suasana. Bersikap tenang mungkin akan membawa kedamaian sementara.
"Bukan kamu, dan bukan siapa pun," sahutku.
"Baiklah, aku akan membantumu menghancurkan Perusahaan SSM."
Mendengar ucapannya, aku sontak terkejut. Apakah yang dia katakan hanyalah sebuah mimpi? Aku menampar wajah, lalu meminta gadis itu untuk mengulangi perkataannya.
"Aku akan membantumu." Eunoia setengah berbisik di telingaku. "Asalkan kamu mau berjanji satu hal juga padaku."
"Apa? Katakanlah apa pertukarannya?" Aku memegang bahu gadis itu. Tidak sabar untuk mengetahui penawaran barter seperti apa, yang gadis itu inginkan.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (49)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
seru
27/09/2025
0bagus
10/06/2025
0muito bom adorei
26/01/2025
0Lihat Semua