Aku memperhatikan Sera yang sibuk memasak makan malam. Dapur tampak berantakan; sampah sayur dan buah tergeletak di lantai. Mulutku berulangkali menawarkan bantuan. Namun, wanita itu bersikeras tidak ingin kubantu. "Kapan selesainya kalo terus kayak gini, Ra?" Aku mengambil vacuum cleaner di lemari. "Pokoknya, gak ada penolakan." "Udah, urus aja urusanmu sendiri!" Gadis itu menggelung rambutnya. "Nanti, aku panggil kok kalo udah siap." Karena tidak ingin memperpanjang masalah, aku pun meninggalkannya seorang diri di dapur. Menurutku, lebih baik mengalah, jika lawan bicaranya adalah seorang wanita—terutama Sera. Entah mengapa, setiap wanita sepertinya begitu sulit untuk dipahami. Aku menuju kamar di lantai atas. Kemudian, mengambil lembaran kertas yang kutemukan di perpustakaan, beberapa hari sebelumnya. Kubaca kembali surat usang, dengan tulisan yang nampak apik itu. Satu per satu kata, mulai memecahkan banyak misteri. "Ia memiliki magis keabadian tingkat tinggi. Kalau begitu, burung phoenix sebenarnya tidak pernah mati?" gumamku seorang diri. Jemariku mulai sibuk mencorat-coret kertas itu. Beberapa menit setelahnya, aku pun membandingkan paragraf yang ada di surat itu, dengan surat mendiang ibu. Beberapa kalimat menuliskan hal yang sama. Salah satu di antaranya bertuliskan, "Dasar laut adalah tempat biasa kalian bertemu. Tidak ada cinta tanpa adanya pengorbanan, dari hati yang lain. Ya, akulah yang patah, setelah tahu kamu tidak sepenuhnya cinta." Aku mengacak-acak rambutku, lalu menekan ikon exit pada layar gawai. Aplikasi penerjemah bahasa Darkness—Pure devil translator (Pureev/ lebih dikenal dengan Ev), memiliki keterbatasan akses, karena termasuk aplikasi luncuran baru. Tentu saja, hal itu sangat menyulitkan, untuk mendapatkan informasi lebih detail. Otakku penuh dengan ribuan pertanyaan. Dari mana aplikasi Ev berasal, dan siapa yang menciptakannya? Apakah ia seorang pure devil? Mana mungkin. Di masa itu, seluruh iblis harusnya telah tiada, atau bisa juga disebut musnah. Karena haus, aku pun keluar dari kamar. Lain kali, aku mungkin akan membawa sebotol air mineral sendiri, daripada harus naik turun tangga. "Ca Calvin?" Aku menghentikan langkah, saat tiba di anak tangga paling bawah. Lelaki itu berhasil membuatku merasakan sakit yang luar biasa. Tepat di depanku, Sera dan Calvin berpegangan tangan. Di kepala Calvin terpasang sebuah rangkaian bunga, seperti yang pernah diberikan Sera padaku. Aku mengalihkan pandangan, lalu berjalan kembali ke kamar baruku—beberapa Minggu sebelumnya, Calvin mengusirku dari kamar miliknya. "Tunggu, Achilio! Kamu salah paham." Sera berjalan mengikutiku, dan menghadang pintu. "Hei, dengerin dulu!" "Kenapa kamu kasih aku harapan, Ra?" Aku menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku sakit ...." "Di sini sudah jelas, Sera telah memilihku, Achilio." Calvin mengarahkan pistol ke dahiku. "Selamat tinggal, Pangeran Sorcgard." Aku memegang senjata itu dengan sangat erat. Kemudian, menghancurkannya dalam sekejap mata, dengan magicku. "Calvin, kau terlalu cepat membuka topeng kebusukanmu. Lihatlah! Apa yang kamu lakukan adalah hal yang sia-sia!" Entah mengapa, saat itu kekuatan portalku muncul secara tiba-tiba. Tanpa pikir panjang, aku pun masuk ke dalam pintu dimensi itu. Aku berharap takdir membawaku ke dunia yang berbeda; tanpa merusak kebahagiaan mereka. "Selamat tinggal, Sera. Jaga dirimu," ucapku lirih, sebelum akhirnya penglihatanku dipenuhi dengan cahaya putih, yang sangat terang. * Dor! Aku mengelak dengan cepat. Setelah mengedarkan pandangan ke segala arah, di ujung sana terlihat seorang pria berlari mendekatiku. Dari penampilannya, ia sepertinya bukanlah orang biasa; pakaiannya mirip mafia, dan terdapat dua pistol di pinggangnya. "Kamu gak apa-apa, kan?" Pria itu tersenyum ramah. Namun setelah melihat wajahku, ia sepertinya sedikit terkejut. "Ka kamu ...." "Maaf, ini di mana, ya?" tanyaku, sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Ka kamu sedang berada di ujung Kota Riqueza." Aku memegangi kepalaku, terasa sedikit sakit di sana. Bagaimana bisa portalku hanya mampu memindahkan antar kota? Aku melihat penuh selidik, pada pria di depanku. Kenapa ia memiliki wajah yang hampir sama denganku? "Sebentar lagi sepertinya hujan akan turun. Kita berteduh di rumahku, ya?" Dari bola mata berwarna perak itu, kelihatannya ia tulus menolongku. "Aku bukan orang jahat kok. Jadi, jangan khawatir, oke?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. "Si siapa nama Anda, Tuan?" "Degree. Panggil saja Re." Degree mengajakku masuk ke dalam sebuah jet pribadi, yang terparkir tidak jauh dari tempat itu. "Re?" Aku mengernyitkan dahi. Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa dia tiba-tiba mau menolongku? "Kita bahas diperjalanan aja, ya?" Degree berkata tanpa menoleh ke arahku. "Jangan terlihat bingung seperti itu! Santai aja." Aku membatin, "Apa Degree seorang esper? Kenapa dia tahu apa yang ada dipikiranku?" Di tengah perjalanan, aku canggung untuk mengucapkan sepatah kata. Untuk menghilangkan kejenuhan, aku melirik ke luar jendela; menikmati gedung-gedung yang berjajar rapi. Kota Riqueza sepertinya tidak banyak berubah. Saat melintasi sebuah videotron di alun-alun, aku tidak sengaja melihat potret Calvin dan Sera. "Mereka akan segera menikah." Degree menutup kaca jet, lalu memberikanku sebuah kartu undangan. "Hah?" Aku tersentak kaget. "Kok bisa?" "Tuan muda Calvin melamar Nona Seraphine tiga Minggu yang lalu. Apa Anda tidak tahu?" Apakah portal dimensi itu memakan waktu, hingga berminggu-minggu? Rasanya sangat sulit untuk dipercaya. Namun, apa yang tidak bisa dilakukan oleh sebuah magic? Terutama, portal adalah salah satu sihir tingkat tinggi. Semua hal yang mustahil pun akan menjadi mungkin, jika menggunakan magic semacam itu. Selang beberapa menit setelahnya, kami pun tiba di sebuah rumah mewah, yang di depannya ada tiga bundaran air mancur raksasa. Desain tempat itu merupakan gabungan interior klasik, dengan teknologi canggih. Lebih mirip ke arah masa lalu, dan masa depan yang disatukan dalam sebuah bangunan. Saat kami masuk ke dalam sana, para pelayan pria maupun wanita telah berjajar rapi. Rasanya seperti hidup kembali, di zaman Kerajaan Sorcgard masih berdiri. Kemewahan rumah itu seperti tidak ada batasnya. Seorang wanita berambut putih nampak duduk nyaman di sofa. Degree mengajakku untuk menyapanya. Awalnya aku menolak, tetapi akhirnya aku pun menurut. Sedikit rasa takut, buru-buru kutepis. "Selamat malam, Nyonya. Saya Achilio." Aku membungkuk hormat. "Kamu selalu terlambat. Untunglah, aku masih tetap menunggu." Deg! Jantungku berdetak kencang. Kenapa dia berbicara seolah kami sudah sangat akrab? "Bibi Naya Bonaventura membuatmu tertekan, ya? Maafkan aku." Degree mendekat, lalu memintaku untuk berdiri tegap. "Ke kenapa marganya sama sepertiku?" Bibirku terasa kelu. Tanganku bergetar. "Aku adalah bibimu di masa lalu. Karena aku tidak pernah ditulis dalam sejarah, kamu tidak mengenaliku." Wanita bermata abu-abu itu menyandarkan tubuhnya di sofa. "Dari lahir, kamu dan kembaranmu telah dipisahkan." "Ke kembaran? Bukannya, Ratu Felicia hanya melahirkan seorang putra?" "Kenyataannya, kamu dan Degree adalah anak dari Ratu Felicia." Bibi Naya menunjukkan sebuah foto kepadaku. "Mereka sepakat untuk memisahkan kalian, di ruang waktu yang berbeda." Dalam foto itu terlihat dua bayi laki-laki, yang tertidur pulas digendongan sang ratu. "Untuk mengalahkan dalang di balik semua masalah, ibu meminta Bibi untuk membawaku ke masa depan." Mata perak Degree tampak berkaca-kaca. "Ibu tahu, jika hal ini akan terjadi. Jadi, sebelum maut menjemputnya, beliau menuliskan sebuah surat untuk kita berdua." "Selamat datang kembali ke dalam keluarga Bonaventura, Achilio." Bibi Naya berdiri, lalu mendekapku dengan lembut. "Akhirnya, kita dapat bertemu kembali, Saudaraku." Degree tampak mengembangkan seulas senyum. "Apa ini hanya sebuah mimpi?" ucapku bertanya-tanya dalam hati.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru
27/09/2025
0bagus
10/06/2025
0muito bom adorei
26/01/2025
0Lihat Semua